Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Siapa Samantha ?


__ADS_3

Restu memijit pelipisnya berulang kali. Berkat Bimo dan kejelasan dari kejadian siang tadi, malam ini dia baru tahu siapa gadis yang akan di jodohkan Ibu dengan nya.


"Kalo si Fara itu, aku udah sering bertemu dengannya bu".


"Trus..?, gimana menurut kamu, cakep kan anaknya, dan menurut Ibu..dia anak yang baik, anak ceria, cocok jadi pasangan kamu yang seperti balok es ini".


Restu berdecit mendengar kalimat sarkas Ibunya, "kalo cakep iya, cuma kalo baik menurut Ibu, belum tentu..buktinya dia seenaknya aja batalin janji, dan ..".


"Dia batalin janji kan karena ada hal yang mendadak bang, dia menang undian wisata. Kata mama nya pada Bulik mu, itu impiannya, jadi wajar aja dia prioritaskan destinasi itu, lagian kan dia juga hubungi kamu, bukan diam - diam pergi", timpal Ibu Iin memotong kalimat anaknya.


"Tapi, dia batalin janji kan pas mau berangkat Bu, aku udah nunggu 30 menit loh..baru dia kabari. Nah, dari situ kan kita udah tahu sifatnya gimana, menggampangkan sesuatu, atau...dia memang nggak minat di jodohkan", terang Restu masih keras dengan penilaiannya.


"Bang, kita kan juga nggak tahu, alasan apa yang menyebabkan dia batalin mendadak. Kata kamu,...waktu dia mau jelasin, kamu putus langsung komunikasinya, harusnya dengerin dulu penjelasannya".


"Yaa..karena menurut aku, itu udah nggak penting lagi, ngapain?, 30 menit loh Bu, nungguin...", bantah Restu.


Ibu Iin bertolak pinggang sambil gelengkan kepalanya melihat prinsip anaknya yang begitu keras, Ia sudah bingung bagaimana menjelaskan dan bagaimana agar sifat anaknya ini berubah. "Coba kamu hubungi lagi dia, ajak ketemu lagi. Kalo dia batalin lagi atau nanti kamu tanya dia menolak, baru kamu cari yang lain, berarti dia bukan jodoh kamu itu!, tapi Ibu yakin kamu akan kesulitan mencari jodoh kalo sifat kamu kaku begini, yang elastis sedikit", ucap bu Iin dengan nada pasrah. "Ibu sudah tua Nak, kamu sudah waktunya punya keluarga, ada yang ngurusin kamu. Kita nanti hidup itu akan sendiri - sendiri, punya keluarga sendiri, jangan sampai waktunya nanti kamu ingin punya keluarga, semua sudah terlambat, Ibu sudah tak ada", Ibu Iin mengusap air matanya, "Ibu ingin melihat kamu menikah dengan orang yang kamu cintai, ....", Ibu Iin tak sanggup meneruskan kalimatnya, kedua bahunya terguncang, mengingat kisahnya sendiri dahulu.


Restu tersentak seketika melihat Ibu nya menangis, air matanya pun lolos, Ia tak sanggup melihat wanita yang melahirkannya ini menangis. Dengan buru - buru Restu langsung memeluk Ibu nya, "Iya bu, Ibu tenang aja...Restu akan secepatnya menikah, nanti Restu hubungi lagi Fara deh", imbuhnya kemudian menenangkan sang Ibu.


Ibu Iin hanya diam, dan memberi isyarat untuk pergi ke kamar.


Di kantor DomTrav...


Keesokan harinya, Artika mengetuk dan membuka pintu ruangan Restu yang tengah melamun memikirkan kejadian semalam. "Maaf pak, auditor sudah pelajari proposal budget yang dikirimin Pimpro tempo hari, silahkan bapak pelajari lagi, trus siang ini kita juga ada meeting dengan client di restoran xxx", kata Artika sambil membawa satu bundel dokumen yang sudah di koreksi oleh auditor mereka kemarin.


Restu menerima map yang di sodori sekretarisnya itu dengan wajah tak bersemangat, dan kemudian mulai membuka lembaran demi lembaran kertas yang berisi angka - angka tersebut. Artika berdiri di depan meja Restu sambil memandangi wajah tampan bosnya, dia melihat ada guratan kesedihan disitu, "pak Restu, lagi nggak enak badan?".


Restu mendongak lalu menarik napas perlahan, "hm..nggak sih, kenapa Tik?", jawabnya sambil menautkan alis.


Artika perhatikan manik mata bos nya itu, "Nggak apa - apa, soalnya saya lihat wajah bapak agak gimana gitu...maksud saya kalo lagi nggak enak badan, saya bisa undur meeting dengan rekanan nanti", ucap Artika takut sang bos ini salah tanggap dengan perhatiannya.


"Nggak usah dibatalin, saya hanya sedikit lelah aja, semalam kurang tidur", jawab Restu datar. Artika mengangguk mengerti.


Kembali, Restu sibuk mempelajari proposal budget di depannya tersebut, kemudian, " ini kayaknya udah oke, masuk akal", Restu lalu mengambil pulpen menandatanginya, lalu mengembalikan map tersebut pada Artika.


"Oh ya, nanti habis ini, kamu panggilkan Bimo kesini ya".


"Baik pak, saya permisi...", Artika pamit pergi dari ruangan situ.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, Bimo mengetuk pintu dan melongokan kepalanya, "pak Restu memanggil saya?".


"Masuk..", jawab Restu pendek dan memberi kode untuk duduk di depan mejanya. Wajah Bimo sedikit tegang, karena jarang - jarang bos nya ini memanggil khusus ke ruangannya itu.


"Saya mau ngobrol santai sebentar sama kamu, ini tak ada hubungannya dengan urusan kantor, jadi santai aja".


"Baik pak...", ujar Bimo sambil mengangguk.


"Bimo, hm...kamu sudah lama kenal dengan Fara?", tanya Restu, sebenarnya dia merasa tak enak hati, karena menanyakan seorang gadis yang notabene disukai oleh staf nya tersebut.


Bimo agak tersentak dengan pertanyaan Restu yang mengarah ke pribadi, "ng..belum lama sih pak, baru juga..waktu dia nganter - nganter katering kesini aja". Waahh..jangan bilang kalo pak Restu ini juga menyukai Fara, berat nih mah , batin Bimo berkecamuk. "Kenapa pak?", selidik tanya dia coba ajukan pada Restu.


"Dia wanita yang seperti apa menurut kamu?", tanya Restu mengabaikan pertanyaan Bimo.


Kacau!, bener ini..kayaknya pak Restu juga suka sama Fara!


"Yaa..menurut saya sih, dia orang agak susah di tebak pak, rada gaul gitu..mudah akrab dengan orang laki - laki".


"Masa sih?, bukannya kamu suka sama dia?", Restu merasakan ada yang aneh dengan omongan Bimo ini.


Laah..itu tau, pake nanya lagi "Hah?..ehmm, ng..yaa gimana yah?", Bimo blingsatan di todong pertanyaan seperti itu.


Tiba - tiba ponsel Restu berbunyi, Restu melihat layar ponsel tertera nama salah seorang komisaris perusahaan terpampang disitu. Lalu dia mengibaskan tangannya pada Bimo untuk keluar meninggalkannya.


Pria yang akan menjadi saingan nya itu lalu membungkuk sedikit dan pergi tanpa suara.


Bimo yang melangkah keluar dari ruangan Restu berpapasan dengan Artika yang juga baru sedang menuju arah luar, "Eh..mbak Tika, aku mau ngobrol sebentar dong? boleh ya", katanya sambil men-sejajarkan langkahnya. Artika menghentikan langkahnya, "ngobrol apaan Bim?".


"Jangan disini deh, di luar yuk...bisa nggak?".


"Kok di luar?, sebentar lagi aku mau meeting soalnya sama client, sama pak Restu juga diluar kantor, ada apa sih?, masalah pribadi?", tanya Artika sambil berjalan pelan menuju arah lift.


"Ntar aja deh kalo gitu, nggak penting - penting amat sih" Bimo menjeda kalimatnya sebentar karena ada beberapa karyawan lain lewat, "cuma..., ehmmm.. pak Restu itu kayaknya suka sama Fara deh".


Seketika, Artika hentikan langkahnya. Sekilas rona wajahnya berubah tapi itu hanya sebentar, "apa kamu bilang tadi?, pak Restu suka sama Fara, tau dari mana kamu?, jangan bikin gosip aneh - aneh", selisik Artika dengan mata menyipit.


"Ntar aja deh ceritanya, nggak enak disini".


"Oh itu tadi makanya kamu di panggil pak Restu?, ckk...jangan di campur urusan pribadi sama urusan kantor!", kata Artika menasehati Bimo.

__ADS_1


"Loh, omongan mbak Tika itu harusnya disampaikan ke pak Restu, kan dia yang panggil aku tadi...", sanggah Bimo tak terima di nasehati, lalu pamit pergi meninggalkan Artika yang tercenung mengingat perkataan Bimo tadi.


Masa sih? pak Bimo suka sama Fara?...ah nggak mungkin, orang kayak balok es itu bisa suka...ehh...tapi, kan Fara juga memang idolakan pria balok es itu? pikiran Artika bermonolog sendiri sambil mengetuk ponsel ke pahanya berulang kali, dengan wajahnya menegang.


***


Siang itu, Restu dengan cermat mendengarkan paparan calon rekanan perusahaan mengenai rencana pengerjaan sebuah renovasi hotel di Bali. Meeting yang seharusnya di adakan di perusahaan tapi karena baru tahap awal perkenalan, pihak rekanan meminta pertemuan itu diluar agar. Agar terkesan akrab dan santai.


Setelah cukup puas mendengar paparan tersebut, Restu merasa tertarik untuk bekerja sama.


"Sepertinya penawaran pak Hendri cukup menarik, saya juga kenal dengan GM hotel xxx ini, jadi saya mengundang pak Hendri untuk membahas lebih detil lagi dengan tim saya di kantor, bagaimana?", kata Restu sambil tersenyum.


"Oh, boleh..boleh pak Restu, siap..saya sangat berharap justru untuk dapat bekerja sama dengan perusahaan DomTrav ini, yang reputasinya sudah tak di ragukan lagi kapabilitasnya. Dan, saya juga berharap, bukan hanya kerja sama cuma dalam satu proyek, tapi bisa berkesinambungan ke depannya dalam proyek yang lain", ujar pak Hendri bersemangat. Bagaimana tidak, untuk dapat bekerjasama dengan DomTrav itu sangatlah sulit dilakukan, GM nya yaitu Restu Mapendra ini orang yang terkenal dingin dan sangat teliti.


"Hm..kalo gitu..", Restu menjeda kalimatnya dan melirik ke Artika di samping, "coba kamu atur jadwal meeting selanjutnya dengan pak Hendri, tapi dalam minggu depan, jadwal saya ada yang kosong nggak?".


Artika membuka tablet nya dan memeriksa, "ada pak, antara hari Rabu dan Kamis minggu depan bisa", ucapnya sambil memasukan kembali tabletnya ke tas.


"Gimana pak Hendri, minggu depan ada waktu?".


"Bisa pak Restu, sangat bisa...kalo gitu, coba kamu keep jadwal kita untuk minggu depan ya..", ujarnya kemudian mengarah ke sekretarisnya.


Selanjutnya, mereka melanjutkan dengan acara makan siang, sesekali di selingi obrolan santai.


"Oh ya..maaf, pak Restu lulusan universitas xxx di London kan ya?", tanya sekretaris Hendri yang bernama Samantha di tengah obrolan santai tersebut. Semua mata langsung tertuju padanya.


Restu menatap Samantha sejenak, "iya benar, kok kamu tahu?, atau lulusan sana juga?", tanya Restu sambil mengelap mulutnya dengan tissu.


Samantha menatap manik mata Restu sejenak lalu mengangguk, "iya, saya cukup mengenal Anda pak Restu, tapi mungkin Anda lupa dengan saya", ujarnya tersenyum tipis.


"Oh ya?, kita pernah kenal? satu kampus?", Restu berusaha mengingat - ingat sesuatu, tiba - tiba alisnya bertaut.


Ada apakah?


-


-


Lanjut...

__ADS_1


__ADS_2