
Sinar mentari telah merangsek masuk melalui ventilasi kamar yang masih terlihat gelap, horden jendela kaca masih tertutup rapat menandakan sang penghuninya masih terlelap tidur.
Ting tong!..Ting tong!..Ting tong!
Molan tersentak kaget dan segera bangun. Suara nyaring bel kamarnya berbunyi sampai tiga kali. Siapa sih?
Selimut dia sibak pakai kaki secara asal, dengan langkah di seret dia pun membuka pintu.
Mata Molan terbelalak! Donna memasang wajah sumringah tengah berdiri di depannya lalu menerobos masuk, dan...di belakang, sohib karibnya Tommy tengah berdiri dengan wajah merasa bersalah.
Molan tak menghiraukan Donna yang menerobos masuk, dia justru menatap tajam ke arah Tommy seperti ingin membunuhnya.
"Dia menguntit gue terus beberapa hari ini bro...makanya gue telat kesini. Tahunya setelah gue di bandara mau check-in, ehh...ternyata dia udah ada. Satu pesawat, duduknya bersebelahan pula" ujar Tommy perlahan menekan suaranya, wajah putus asa takut Molan murka. "Koneksinya kan banyak, bro!" Terang Tommy lagi meminta pengertian.
Molan masih berdiri mengusap wajahnya dengan kasar, "Lu udah gue bilangin!" Molan kemudian menendang betis Tommy perlahan, lalu berbalik masuk karena dia baru menyadari hanya memakai celana boxer.
"Kalian ngomong apa sih?" tanya Donna dari dalam, karena kedua pria itu berbisik-bisik di depan pintu.
"Kamu, ngapain kesini?" Molan balik bertanya, sambil berjalan menuju kamar untuk ganti celananya.
"Ya ampun, sayaang...aku baru datang bukannya di tawarin minum atau apa kek gitu? Malah ngomel...huh!" Donna memasang wajah cemberut.
Tommy mendesis mendengar Donna merajuk pada Molan.
"Udah berapa kali sih di bilangin, jangan panggil-panggil sayang? Aku bukan yayang-nya kamu, ngerti nggak?" bentak Molan baru keluar dari kamar, "Kalau mau panggil sayang, tuh...dia yang jomblo karatan!" tunjuk Molan pada Tommy.
"Enak aja lu... ogah!" sanggah Tommy memasang gesture geli.
"Eh...siapa yang mau sama kamu?, sori wai" ujar Donna tak mau kalah gesture.
Molan terbahak, "Nah, berantem deh lo berdua, gue mau mandi!" ucapnya meninggalkan kedua orang yang masih terdengar sahut-sahutan.
Sementara itu, di tempat lain...
__ADS_1
"Fara, kamu nanti ikut kan ke pertemuan dengan perwakilan pariwisata NTB? tadi aku sudah konfirmasi lagi untuk memastikan, meeting jadinya jam 11.00." tanya Tissa baru masuk ke ruang marketing. Hari ini tim marketing akan melakukan negosiasi dengan pihak Pemda NTB bagian pariwisata sehubungan dengan rencana Pemda tersebut akan melakukan rapat kerja dengan Pemda Bali selama tiga hari.
"Ikut dong, nanti dengan Wayan dan Joko juga kalau nggak salah," jawab Farada sambil membenahi beberapa berkas yang tercecer di meja.
"Tapi, tuan muda kemana? kok belum kelihatan dari tadi?, atau jangan-jangan belum masuk kerja?" Tissa melirik jam tangannya sudah menunjukan pukul 09.00 pagi.
Farada mengedik-kan bahu, "Dia mungkin masih tidur."
"Siapa yang masih tidur?" Seseorang dengan suara berat tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu. Pak Herwanto. "Molan Pangestu?" sambungnya lagi.
Tissa dan Farada serentak mengangguk, "Iya, pak Direktur."
"Ck...anak ini!" Herwanto berdecak, "Farada coba kamu hubungi dia, atau datangi kamarnya, bangunkan ya, bilang saya yang suruh kamu." sambung Herwanto setelah itu, dan langsung pergi untuk melanjutkan inspeksinya ke setiap bagian.
"Oh..ba..baik pak Direktur" jawab Farada terbata. Duh! gue lagi yang bangunin...hadeehh, batinnya seraya menoleh pada Tissa minta bantuan.
Tissa justru angkat kedua bahunya, "Kamu aja, Fara. Kalau sama kamu dia nggak bisa marah," jawab Tissa pendek, dengan mengedipkan sebelah matanya pada sahabatnya itu.
Dia kan sepertinya masih marah sama gue? Apa nanti nggak tambah marah ya kalau di datangi begini? Kalau dia cuekin gue gimana? malu kan? arrrgh...
Sepertinya dia lagi ada tamu? batinnya lagi.
Farada ragu-ragu antara kembali atau meneruskan niatnya. Ah...tapi ini perintah pak Direktur, masuk ajalah! Dia lihat pintu agak terbuka dan ada suara- suara percakapan.
Tapi, tunggu...ada suara perempuan? hatinya berdesir.
"Permisi..." Sapa Farada sopan, tapi seketika terkejut, ada wanita sangat familiar tengah duduk di sofa, juga ada lelaki yang juga dia kenali, Tommy!
"Eh...kamu?" Mata Donna membola melihat siapa yang datang, berpakaian kerja memakai logo hotel ini, tanda karyawan, "kamu, kerja disini?" tanya Donna lagi dan menoleh pada Molan, seolah minta jawaban.
Sedangkan Tommy tertawa sambil gelengkan kepalanya dan matanya juga tertuju pada Molan.
Molan sendiri tak menanggapi isyarat Donna. Dia justru terkesima melihat kedatangan Farada, baru kali ini gadis itu menemuinya. Rindu menjahili wanita ini Tapi, mengingat kejadian waktu itu, dia tahan gengsi. "Ada apa?" tanyanya se-datar mungkin.
__ADS_1
Farada menahan kesalnya, karena Molan seolah lupa ini hari kerja, hampir jam sepuluh masih berpakaian santai, tapi dia mencoba profesional menjelaskan kedatangannya, agar Donna tak salah paham, "Saya di suruh pak Direktur memanggil Anda, Tuan Muda."
Mendengar Farada seperti itu Molan justru menahan tawa karena sangat formil kali ini, "Kenapa pak Herwanto suruh kamu? biasanya dia juga telpon langsung."
"Loh, mana aku tahu? Kamu tanya aja pak direktur sana!...lagi pula, kenapa jam segini kamu masih santai? Kamu tahu nggak hari ini ada meeting jam sebelas dengan Pemda NTB? Dan, anak buah kamu di ruangan marketing lagi tunggu arahan kamu disana, kamu disini malah asyik-asyik pacaran! Nggak profesional banget sih kamu!..." Omel Farada dengan suara lantang, lalu tanpa hiraukan lagi, dia berbalik sambil menghentakkan kaki berjalan kembali ke kantor.
Molan melongo, begitu juga dengan Donna yang dari tadi ingin bertanya banyak pada Farada tapi tak ada kesempatan. Sedangkan Tommy justru tertawa terbahak, seolah tengah menonton drama komedi.
Ya Tuhan...gue lupa ada rapat hari ini! Molan baru tersadar, dan dia langsung berlari ke kamar untuk segera berganti kostum meninggalkan dua orang yang berseteru itu sedang berpandangan tak mengerti.
Farada berjalan cepat kembali ke kantor. Ia merutuki kebodohannya sendiri mengapa harus emosi bicara pada Molan. Padahal tadi itu ya, dia sudah mengatur napas agar intonasi yang keluar dari mulutnya terdengar datar dan terlihat profesional. Bodoh banget sih Fara?
"Eh...gimana? sudah ketemu sama tuan muda?" tanya Tissa pelan setelah Farada kembali ke ruangannya.
"Sudah."
"Terus...tuan mudanya lagi ngapain? Masih tidur?" tanya Tissa lagi, tak puas dengan jawaban Farada.
"Dia malah asyik pacaran!" ketus Farada menoleh dengan wajah terlihat marah.
"Hah? Serius?...pacaran sama siapa?" Setahu Tissa, Molan sudah lama tidak terdengar berpacaran, kecuali..."ada Donna ya?" imbuhnya.
Farada mengangguk, "Siapa lagi?" jawabnya tanpa menoleh, gadis itu seperti tengah mencari sesuatu di meja.
Mata Tissa menyipit memperhatikan gerak-gerik Farada, Ia tak ingin bertanya lagi, sepertinya mood temannya ini sedang tidak bagus."Ya sudah, kalau gitu aku keluar dulu sebentar, nanti balik lagi kalau sudah mau pergi meeting."
Tanpa menunggu jawaban, Tissa berlalu pergi dari ruangan marketing. Ada urusan lain yang ingin dikerjakannya. Ia tersenyum tipis. Farada terlihat seperti orang cemburu.
-
-
Bersambung
__ADS_1