
Sebelumnya...
Sejak dari semalam, Farada tak berhenti memikirkan kejadian pukul memukul antara Restu dengan Molan di kediaman Molan yang berakhir dengan penamparan oleh Farada. Pikirannya menjadi tidak tenang. Masih membayang di benaknya Molan menatap nanar dirinya, mungkin tak percaya dengan tindakan dia yang terkesan membela Restu. Padahal bukan. Dia melakukan karena spontanitas semata untuk menghentikan perkelahian kakak - adik itu. Ya, dia harus menghentikannya sebelum semua menjadi tak terkendali.
Tapi, apa yang dilakukannya itu berlebihan dengan menampar Molan? Itu yang menjadi bebannya sekarang ini. Padahal dia tahu, Restu lah yang memprovokasi terlebih dahulu dengan melayangkan tamparan terhadap Molan.
"Mau kemana pagi - pagi, Dek?" tanya sang Mama baru keluar dari halaman belakang rumah. Ia melihat putri bungsu nya tengah bersiap untuk pergi.
Farada yang hendak ke dapur, karena menyangka Mama nya disana, memutar badannya, "Eh..Mama, aku kira lagi di dapur, adek mau pergi mengecek keadaan toko dulu ya," jawabnya sambil melongok ke arah kamar, "Papa kemana, Ma?"
Ibu Herlina yang baru selesai menggunting bunga kemudian meletakkan sarung tangan nya di laci tempat peralatan. "Papa kamu lagi ada urusan di Hankam katanya, baru aja pergi."
"Oh, ya sudah. Adek pamit ya Ma" Farada lalu mencium tangan Mama nya dan pergi dengan langkah terburu - buru karena taksi online sudah berada di depan pagar rumah.
"Kamu sudah sarapan?" teriak Ibu Herlina dari depan pintu.
Farada mengangguk dan mengangkat tangan tanda sudah makan.
Pagi ini, Farada rencananya mau langsung pergi ke kafe miliknya yang sudah tiga hari ini semenjak sampai di Jakarta belum sekali pun dia kunjungi. Tapi, karena dari semalam pikirannya masih terganggu tentang insiden tempo hari, dia pikir sebaiknya mampir dulu ke tempat Molan, dan kebetulan jalan yang akan dilalui pun searah.
"Mas, kita mampir dulu ke tempat teman saya di jalan Niaga Hijau Pondok Indah, bisa kan ya? Nanti saya tambahkan ongkosnya deh." lalu Farada memberikan sebuah alamat pada sang sopir.
"Oh, baik mbak, bisa" ujar si sopir setelah membacanya dan melirik Farada dari balik kaca spion, "berarti kita lewat Narogong aja ya, biar lebih dekat."
__ADS_1
Farada pun mengangguk meng-iyakannya.
Apa kabarnya dia sekarang? batin Farada bicara. Dia menyadari bahwa tindakan yang akan dilakukannya sekarang ini untuk menemui Molan adalah sebuah kesalahan. Tapi di hati, Ia tak bisa mengingkari bahwa keinginannya untuk bertemu walau sekedar mengucapkan kata maaf, jauh lebih besar dari rasa bersalah itu sendiri. Seharusnya dia sudah mulai menjaga jarak. Namun, perjodohan dengan Restu yang terkesan dipaksakan dan serba mendadak, pikiran Farada menjadi kacau. Seharusnya dia senang bukan? Bukankah Restu adalah pria yang dikaguminya dulu, yang sebentar lagi akan menjadi miliknya? Tapi, entah mengapa justru sekarang ini dia tidak merasa senang dan tenang.
Ia tak menampik, hatinya sudah terbagi. Walau Molan tidak pernah berkata, tapi dia tahu pria itu sangat mencintainya. Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan?
"Mbak, ini rumahnya bukan? Kita sudah sampai."
Suara sopir taksi online menyentakkan lamunan Farada. Gadis itu terkesiap, lalu "Oh, iya Mas. Gini aja, mungkin saya agak lama, gimana kalau saya ditinggal aja disini, tapi harganya tetap saya bayar sesuai tujuan yang di aplikasi, dan saya lebihkan, boleh nggak?" Kata Farada penuh harap. Terlintas di benaknya mungkin akan bicara banyak nantinya dengan Molan dan, dia merasa tak enak hati jika sopir taksi ini akan menunggu lama.
"Oh gitu ya? Ya sudah Mbak, nggak apa - apa kalau gitu, kebetulan saya ada keperluan didekat sini," ujar sopir tersebut sambil menerima uang dua ratus ribu dari Farada.
Tapi, apa yang terjadi setelah itu? Kerongkongan Farada justru tercekat ketika bertemu dengan Molan. Pria yang terluka itu justru memberikan senyum manis dengan segala pesona yang dimilikinya. Ia tak sanggup untuk mengeluarkan kata - kata lebih banyak lagi. Bahkan bukan hanya itu saja, Farada harus mengurungkan niatnya berlama - lama berada ditempat itu ketika dia melihat seseorang yang muncul dari dalam rumah Molan dan berdiri begitu anggun disamping lelaki konyol tersebut. Seorang wanita cantik yang begitu dikenalnya. Sita Angelina.
Disinilah dia sekarang, di pinggir jalan raya menunggu taksi yang lewat untuk mengantarkannya kembali ke tujuan dia semula.
***
Molan menarik napasnya perlahan. Ia tak ingin menahan kepergian gadis itu, yang dia sadari akan berefek tidak baik bagi dirinya. Dia lalu teringat tujuannya semula, "Kamu udah sarapan? Saya belum, kalau mau, ayo sekalian," ajak Molan pada Sita beberapa saat setelah Farada pergi. Ia melewati begitu saja gadis yang masih berdiri di pintu tersebut.
Sita pun kemudian mengikuti langkah Molan menuju ruang makan sambil berkata, "Kakak, berantem dengan Mas Restu?" Gadis itu sempat tadi mendengar perkataan Farada tentang adanya aksi pukul memukul.
Molan langsung berbalik, langkahnya terhenti mendengar Sita menyebut nama Restu. "Kamu, kenal dengan Restu?" cetus Molan dengan nada heran.
__ADS_1
Sita tersenyum, dia sudah menduganya Molan akan bertanya seperti itu, "Sangat mengenal, Restu kakak tingkatan aku sewaktu kuliah di London. Aku adik sepupunya Samantha."
Dan, Molan pun makin terheran, "Samantha? Siapa lagi tuh?" tanyanya sambil menatap tajam.
"Teman dekatnya Restu," jawab Sita santai tapi sukses memancing reaksi Molan untuk bicara lebih banyak.
"Tunggu, sepertinya...kamu tahu banyak tentang keluarga saya?"
"Tepatnya baru mengetahui, bahwa Kak Molan dengan Mas Restu adalah adik - kakak yang baru bertemu, dan sama - sama 'terjebak' dengan satu orang wanita yang sama." Sita menantang manik mata Molan yang menyipit melihatnya.
Molan membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada meja bundar dihadapannya, lalu tertawa sumbang. Fix! gadis ini memang orang suruhan Papanya. "Untuk itu, kamu diutus oleh Tuan Besar untuk mendekati saya, hm?" tanyanya dengan nada sarkas. Setelah itu kembali berjalan menuju dapur.
Sita tak terkejut dengan kalimat menusuk dari Molan. Raut wajahnya tetap datar dan tenang, menunjukkan pengendalian emosi yang stabil. "Mendekati bukan berarti ingin mendapati, bukan?" Sita berkata sambil tersenyum penuh misteri ketika Molan kembali berhenti dan menoleh padanya.
"Saya sedang tak ada minat untuk menjawab teka teki. Saya mau tanya satu hal...Restu dan Samantha sedang menjalin sebuah hubungan?" dia bertanya penuh penekanan, mencoba melontarkan apa yang terlintas di benaknya.
Gadis itu menggeleng, "Bukan. Samantha memang menyukai Restu, aku tahu persis itu. Tapi, kalau Restu, sepertinya, nggak! Tepatnya...belum." Sita menjawab ragu - ragu. Ya, karena dia sudah lama sekali tidak bertemu dengan Restu. Dia hanya mendengar cerita dari Samantha, itu pun tiga bulan yang lalu, sebelum Sita memutuskan komunikasi karena ada pertengkaran kecil antara dia dengan Samantha.
"Ya sudah kita sarapan dulu kalau begitu, saya sedang tidak dalam mode main tebak - tebakan."
Molan kemudian memanggil Bik Minah untuk segera menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Gue harus mencari tahu. Kok gue merasa ada yang aneh ya? Ada apa sebenarnya Restu, Samantha dan Sita ini, pikiran Molan bermonolog.
__ADS_1