
Sapporo, adalah kota cantik yang terletak di bagian utara Jepang. Juga merupakan Ibukota Hokkaido yang memiliki tingkat kepadatan populasi penduduk nomor empat setelah Yokohama, Osaka dan Nagoya. Beberapa wilayah di kota ini sering tertutup salju, maka tak heran kota ini pun terkenal dengan festival saljunya yang rutin diadakan setiap tahun pada bulan februari.
Ya, disinilah tujuan Farada sekarang. Setelah menempuh perjalanan hampir 13 jam lamanya dia sampai di kota Nagoya, untuk melanjutkan perjalanan ke Sapporo.
Farada di jemput oleh pihak hotel yang kebetulan juga diwakili oleh karyawan yang berasal dari Indonesia. Seorang wanita, Tissa namanya, yang di kemudian hari akan menjadi sahabat kental Farada.
Farada celingak celinguk mencari perwakilan yang akan menjemputnya. "Dengan ibu Farada?", tanya Tissa ketika melihat seorang wanita perawakan wajah yang sama dengannya. Farada menengok ke arah sumber suara, tadinya mau pakai bahasa internasional aja, tapi ia urungkan, "Eh iya benar".
"Perkenalkan saya dengan Tissa Baskoro, perwakilan dari hotel xxx yang akan menjemput...".
"Panggil Fara aja..Farada, kayaknya kita seumuran deh", potong Farada kemudian mengulurkan tangannya. Tissa senyum sumringah, entah kenapa ketika kita bertemu dengan orang satu bangsa di negeri orang, semua terasa akrab dan seperti keluarga walau baru mengenal. "Hehe baik, Fara. Aku diutus untuk menjemput kamu, nanti yang akan menemani kamu selama di Sapporo nanti", Tissa menyambut uluran tangan Farada.
"Tissa udah lama kerja disini, di hotel xxx ini?", tanya Farada ketika mereka sudah di dalam mobil jemputan. "Baru memasuki tahun kedua sih, sebelumnya aku kerja di Jakarta, cuma di pindahkan kesini".
"Oh gitu, kok bisa dipindahkan?, emangnya masih satu perusahaan?".
"Iya, masih. Lagian hotel xxx ini kan kepunyaan orang kita, cabangnya ada di beberapa negara...ada di Sapporo Jepang ini, dan di pantai Karibia. Kalo di Indonesia ada di Jakarta dan Bali", ujar Tissa sambil menyerahkan botol air mineral pada Farada.
"Luar biasa!, orang kaya benar dong yah?, asli Indonesia atau keturunan?".
"Campuran kayaknya, owner nya sudah berumur tapi masih kelihatan ganteng, punya anak satu, cowok tapi urakannya ya ampuunnn....tapi ganteng banget hihi", jawab Tissa cekikikan membayangkan anak semata wayang big boss nya. "Maksudnya?", tanya Farada tak mengerti, "ganteng tapi urakan gimana?".
__ADS_1
"Ya gitu deh, orangnya ganteng tapi selenge-an gitu, gonta ganti cewek terus, hobinya party - party, cuek tapi mati kutu kalo ada bokapnya".
Pembawaan Tissa yang humble serta bersahabat membuat mereka berdua cepat akrab. Seperti teman lama yang baru bertemu kembali.
Obrolan pun terus berlanjut, sampai akhirnya mereka sampai di hotel xxx di kota Sapporo. Mereka telah di tunggu oleh beberapa karyawan hotel di depan lobi yang memang telah dipersiapkan ketika tamu hotel datang. Farada pun di sambut dengan ucapan selamat datang serta karangan bunga yang dikalungkan ke lehernya.
Selang beberapa saat ketika Farada mendapat penyambutan, tiba - tiba ada sebuah mobil jeep keluaran terbaru datang. Karyawan hotel yang tadinya menyambut Farada beralih menghampiri mobil tersebut. Seorang pria muda di ikuti seorang temannya turun dari mobil, melemparkan senyum basa basi pada karyawan yang menyambutnya, dan langsung berjalan angkuh memasuki lobi hotel dengan sedikit terburu - buru. Pria itu langsung di sambut Manager hotel yang berumur kira - kira sedikit di atas pria yang baru datang tadi. Sepertinya mereka cukup akrab. Sang manager hotel berbisik - bisik sebentar dengan pria itu lalu mengantarkannya menuju lift.
Kejadian itu tak luput dari perhatian Farada dan Tissa. "Nah, itu yang aku ceritain barusan, pria yang jalan duluan tadi itu anaknya owner hotel ini, ganteng kan?". Farada menyipitkan matanya mendengar bisikan Tissa, "Oh itu, biasa aja sih sebenarnya, kelihatan player nya", jawab Farada cuek. Ia sebenarnya tak tertarik dengan apa yang terlihat barusan. Ia hanya ingin segera menikmati liburan.
***
Di dalam lift, manager yang berkebangsaan Kanada, sedang mengantarkan pria yang bernama Molan ini merupakan putra pemilik hotel menuju kamar penthouse yang memang khusus di peruntukan untuk keluarga. Ada dua kamar penthouse, satu lagi untuk owner. "Sejak kapan dia datang Christ?", tanya Molan dengan muka datar pada Christopher, sang manager hotel. Christ yang awalnya di lobi sudah menceritakan pada Molan bahwa Donna, wanita yang selalu mengejar cinta Molan sedang menunggu di ruang tunggu kamarnya. "Belum lama sih, kira - kira tiga puluh menit yang lalu" jawab Christ sambil menyenggol bahu Tommy, sahabat dari remaja Molan, tepatnya sejak bangku sekolah menengah pertama, di Jakarta. "Gila itu perempuan!, dia datang sendiri langsung dari Tokyo?", tanya Tommy pada Christopher dengan mata mendelik yang di jawab dengan anggukan cepat dari manager tersebut. "Biarin ajalah, kan ada ceweknya, toh dari pada disini cuma ama elu berdua, ntar gue dikira belok lagi", sela Molan memotong omongan Tommy.
Siapa sebenarnya Molan?
Molan adalah anak dari seorang trilyuner dari Indonesia, anak seorang raja hotel dan pengusaha batu bara dan punya kilang minyak di tanah Arab. Molan hidup dalam kesepian, hanya berdua dengan ayahnya. Ibunya sudah lama meninggal, tepatnya sejak dia berumur satu tahun. Dibesarkan seorang diri oleh ayah bukan berarti dia di manja. Ayahnya mendidiknya sangat disiplin. Namun, alih - alih dididik dengan keras agar nanti menjadi penerus tahta kerajaan bisnis, Molan justru tumbuh besar menjadi tipe pemberontak. Urakan dan cenderung liar, seolah menyimpan sebuah dendam pada sang ayah. Molan dan ayahnya sering tak akur, selalu berbeda pendapat dan pandangan dalam hal apapun, terutama tentang keinginan sang ayah yang akan menjadikannya penerus, Molan di masukan ke sekolah bisnis di London, tetapi hanya bertahan dua tahun, Ia kabur dan memilih pulang ke Indonesia.
Pemberontakan Molan terhadap ayahnya bermula dari cerita asmara ayahnya pada waktu muda. Cerita yang dia dapat dari keluarga mamanya. Bahwa ayahnya tersebut lebih mencintai masa lalu nya dari pada mamanya sendiri, hingga berakibat sang mama menjadi sakit sampai akhirnya meninggal. Walau sang ayah tak menikah lagi setelah mamanya meninggal serta memilih untuk membesarkan dirinya tanpa seorang ibu, hal tersebut tak membuat Molan tumbuh menjadi anak yang penurut. Baginya, mamanya meninggal akibat perlakuan sang ayah.
***
__ADS_1
"Kamu kok tau aku kesini?", tanya Molan ketika mereka keluar dari pintu lift yang langsung berhadapan dengan ruang tunggu penthouse, disitu sudah ada Donna yang sedang memainkan ponsel. "Hai sayang...", sapa Donna dengan suara manja tak menghiraukan pertanyaan Molan, langsung berdiri menyapa balik dan menyongsong, Ia ingin merangkul namun tangannya di tepis oleh Molan. "Ih..kok kamu gitu?", tanyanya tanpa menghiraukan keberadaan Christopher dan Tommy.
"Malu di lihat orang, kamu kenapa tau aku kesini?", Molan mengulang tanyanya kembali sambil berjalan mengikuti Chris yang membuka pintu. "Ya tau dong...emang kamu nggak suka aku menemui kamu disini?", Donna pun mengikuti langkah Molan masuk ke dalam penthouse. Molan hanya diam, dia buka jubah hangatnya dan menggantungnya di dekat lemari.
Chris minta ijin pamit setelah itu, untuk kembali melanjutkan tugasnya. Sedangkan Tommy juga beranjak pergi sembari memberi kode pada Molan untuk masuk ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Molan. Ia tak ingin berlama - lama berada di dekat gadis tersebut. Donna pun memberi tatapan sinis pada Tommy yang menatapnya tak suka sebelum pria itu berlalu.
"Si Tommy itu ada dendam apa sih sama aku?, seperti memusuhi deh", tanya Donna dengan gusar, di ruang tamu hanya tinggal mereka berdua. Molan mengangkat bahunya, "nggak tau, mungkin suka sama kamu kali", jawab Molan datar.
"Dih, amit - amit!", Donna mengetuk meja tiga kali.
"Jangan gitu, ntar berbalik loh, kamu jadi suka sama dia, kualat kamu".
"Yank, kok kamu ngomong gitu sih?", kata Donna dengan mimik cemberut, pria di depannya itu tak menunjukan rasa cemburu dalam kalimatnya.
Molan tiba - tiba menatap tajam, "jangan panggil aku 'sayang', aku bukan pacar kamu".
Donna mencelos seketika...
-
-
__ADS_1
Lanjut