
Sementara itu...
Nun jauh di seberang sana, tepatnya di Jakarta. Restu menjalani hari - hari nya dengan seperti biasa. Setelah beberapa hari yang lalu, batalnya pertemuan dengan seorang wanita atas desakan sang Ibu tak mengganggu pikirannya. Walau wanita itu berjanji akan bertemu di lain waktu, tapi itu tak membuatnya berharap terjadi. Bukankah dia hanya ingin menuruti keinginan Ibunya?. Sementara ini, lebih baik Ia fokus saja dengan pekerjaannya. Walau, sang Ibu masih menyuruh untuk coba menghubungi gadis itu, karena menurut Ibu nya gadis tersebut karena sesuatu hal harus pergi ke luar kota. Terkadang dia tak habis pikir, kenapa sang Ibu begitu ngotot ingin menjodohkannya dengan gadis itu. Apa sih istimewa nya?, kalo emang cewek itu memang mau di jodohkan, kenapa justru membatalkan?
Hari ini, dia sedang mempelajari sebuah dokumen yang di berikan Artika untuk di tanda tangani, sebuah proposal pengerjaan proyek yang di ajukan oleh pimpro.
Beberapa saat kemudian, dia mengetuk kaca yang menghubungi ruangannya dengan Artika, sang sekretaris. Restu memberi kode dengan tangannya menyuruh Artika menemuinya.
"Ya pak, ada apa?".
"Bilang sama bagian audit untuk pelajari biaya yang diajukan ini...", Restu lalu melingkari bagian yang akan dikoreksi dengan pensil, "saya belum tanda tangani ini, kayaknya angka - angka biaya harus ada yang di koreksi", lanjutnya kemudian.
"Baik pak Restu", Artika mengambil bundelan dokumen di meja dan bersiap pergi dari situ.
"Tika...nanti saya mau makan siang di luar, pesanan yang dari katering itu jadi kamu order?", tanyanya menghentikan langkah Artika. "Oh udah pak, gimana yang buat pak Restu mau dibatalin aja?, masih bisa sih", Artika melirik jam tangannya, masih satu jam lagi jam istirahat siang.
"Nggak usah, nanti kasih siapa gitu, si Bimo atau siapa yang nggak ikut pesan", Restu kemudian melirik jam tangannya juga, "kamu pesannya ke katering yang biasa kan?, kok yang biasa nganter itu nggak kelihatan lagi", sambung Restu.
"Kata anak buahnya, mbak Fara itu lagi keluar kota pak".
"Oo, namanya Fara...ya sudah kalo gitu, kamu lanjutin lagi kerjanya, saya mau keluar makan siang dengan Ibu saya".
"Baik pak Restu", Artika melangkah keluar kembali ke ruangannya.
Ponsel Restu berbunyi dari atas meja, sebuah pesan masuk. Pesan dari Ibunda yang mengatakan bahwa Ibunya berdua dengan Bulik Gendis sudah menuju ke sebuah tempat makan dan tak lupa mengirimkan alamatnya. Restu membacanya sebentar, lalu menghubungi Ibu nya tersebut, "bu, kita makan siang nggak di tempat restoran besar aja? biar Restu pilihin tempatnya, ada sebuah restoran di mall xxx yang enak loh bu".
"Kali ini, biar Ibu aja yang pilih ya, lagian tantemu ada perlu juga di dekat situ, jadi biar sekalian".
"Ooh... ya sudah, sebentar lagi Restu kesana, ini udah siap - siap", jawab Restu lalu membuka jas kerjanya dan meraih kunci mobil dari atas meja.
Selang beberapa menit, Bimo datang ke ruangan General Manager, dan mengetuk pintu kaca Artika. "Pak Restu kemana?, tadi aku liat di depan lift?", tanya nya pada sekretaris itu yang cantik ini.
"Pak Restu makan siang di luar, kenapa Bim?".
"Aku mau keluar kantor, ada perlu mungkin agak telat, jadi mau ijin dulu, tolong sampein ya".
"Mau ngapain?, urusan kantor?", tanya Tika.
__ADS_1
"Ada deh...bukan urusan kantor", jawab Bimo berlalu sambil mengedipkan sebelah matanya pada Tika. "Urusan cewek kamu yah?, awas kalo telat!", teriak Tika sambil menutup pintu ruangannya kembali. Bimo hanya memberi kode dengan jari membentuk huruf O.
***
Ibu Iin dan ibu Gendis sudah sampai terlebih dahulu di tempat makan favorit mereka.
"Mbak, sini deh sebentar..", Ibu Iin mengangkat jarinya memanggil Dian yang baru selesai membereskan pesanan yang akan di antar kang Asep ke perusahaan DomTrav.
"Ibu panggil saya..?".
"Iya, saya mau pesan makanan ini...", kata bu Iin sambil menunjukan kertas menu, menu soto kesukaannya. "Saya, samain aja", sahut bu Gendis kemudian. "sekalian saya mau tanya...teman kamu yang tempo hari saya tanyain, sudah kembali dari luar kota?".
"Oh..itu kak Fara, belum bu, perkiraan tiga hari lagi sudah kembali, kenapa bu?", tanya Dian selanjutnya.
"Nggak apa - apa, cuma nanya..", bu Iin menjeda sebentar, lalu menulis sesuatu di kertas memo yang dia ambil dari meja, "nanti kalo Fara sudah kembali, bisa tolong hubungi saya di nomor ini ya", ujar bu Iin setelah itu.
"Baik bu..maaf tempo hari saya lupa nanya,...dengan Ibu siapa?", tanya Dian sambil mengambil kertas dari tangan bu Iin.
"Saya Ibu Iin, dan ini adik saya bu Gendis. Dan bu Gendis ini teman baiknya mama nya Fara, sama - sama istri prajurit".
"Oh iya, maaf ya bu...", Dian mengangguk hormat kemudian mengulurkan tangannya, bersalaman dengan bu Gendis.
"Ibu dan Bulik sudah lama sampai?", tanya Restu dan mencium kening Ibu Iin serta mencium tangan bu Gendis setelah itu.
Gantengnyaa...Dian membatin terpana melihat sosok pria yang baru bergabung itu.
"Kenalin, ini anak Ibu...namanya Restu".
Restu yang di perkenalkan lalu mengangguk sedikit dengan senyum yang juga sedikit di paksakannya. Apa ini cewek yang mau dijodohkan Ibu sama gue?
"Halo, saya Dian", sambut Dian dengan sedikit anggukan kepala, tadinya ingin menjabat tangan pria ganteng itu, tapi di urungkannya karena di lihat respon dari Restu datar saja.
"Kamu mau makan apa bang?", tanya bu Gendis pada Restu sambil menyodorkan menu makanan. "Apa aja sih aku Bulik", sambut Restu, "....disini yang spesial apa?", lanjutnya pada Dian tetap dengan muka datarnya.
Kayak balok es deh ini orang..batin Dian, lalu, "disini ada..."
"Ehh...saya pesan yang ini aja, Chicken Katsu", potong Restu menunjuk sebuah paket menu yang familiar di makannya, "trus, pembukanya pancake, topingnya pake susu ya, dan minumnya juice alpukat".
__ADS_1
"Baik..", Dian lalu mencatat menu yang dipesan berikut minumannya, kemudian pamit pada bu Iin dan bu Gendis, "saya permisi ya bu", ucapnya tanpa melirik ke arah Restu.
Setelah Dian berlalu, Ibu Iin berbisik pada anaknya, "teman dari cewek itu yang mau Ibu kenalin sama kamu".
"Ooh...", Restu lalu melihat ke arah Dian yang sibuk mengatur pesanan pada anak buahnya, "pantas Ibu memilih tempat ini, ada udang di balik peyek ternyata", lanjutnya dengan senyum sinis.
"Kamu udah hubungi dia lagi?", kali ini bu Gendis angkat bicara, Restu gelengkan kepala, "belum Bulik, lagian nggak usah aja, dia kan udah batalin janji", jawab Restu tak tertarik dengan pembicaraan itu.
"Ya, dia kan batalin itu karena ada hal mendadak, dia harus keluar kota..coba aja kamu hubungi lagi bang!", sambung bu Iin menimpali, "jangan terlalu perfek dalam menilai perempuan!", nasehat bu Iin melihat anaknya terlalu kaku dalam prinsip.
"Tapi mbak, kata bu Herlina tempo hari, anaknya itu pergi keluar negeri, menang undian wisata ke Jepang...bukan keluar kota", terang bu Gendis.
Restu hanya diam mendengar nasehat Ibunya dan tak hiraukan omongan Buliknya.
Tiba - tiba Restu melihat seseorang yang dia kenal, baru masuk dan tak jauh berdiri dari tempatnya. Seorang pria yang sepertinya sedang mencari sesuatu. Restu lalu menjentikan jarinya memanggil orang tersebut yang ternyata Bimo.
Bimo kaget melihat Restu, lalu menghampiri bos nya tersebut dengan langkah ragu - ragu. "Eh..pak Restu, makan siang disini juga, udah lama pak?", katanya dengan basa basi.
"Udah, kira - kira setengah jam yang lalu...kenalin ini Ibu saya, ini Bulik saya".
Bimo mengangguk hormat pada Ibu Iin dan bu Gendis, yang dibalas dengan senyuman oleh Ibunya Restu.
"Ini karyawan di kantor aku bu, manager personalia, namanya Bimo...".
"Oh, kalo gitu ayo kita gabung aja, sini duduk", ujar bu Gendis menawarkan kursi pada Bimo, lalu mengangkat tangannya memanggil pelayan.
Lalu, Restu berbicara agak pelan, "emang udah biasa kesini Bim?". Bimo gelengkan kepalanya cepat, "baru kali ini pak Res, pengen coba langsung makan siang dari sumbernya, biasanya kan cuma order doang".
"Maksudnya..?", tanya Restu tak mengerti.
"Loh, pak Restu belum tau?...katering yang sering kita pesan untuk makan siang di kantor...", Bimo sejenak menangguhkan kalimatnya sebentar karena pelayan datang mengantarkan menu makanan.
Setelah pelayan itu pergi, "....makanan itu kan dari sini, yang cewek biasa nganterin itu, yang punya nya", lanjut Bimo menerangkan.
"Ouhh...jadi yang Fara cewek inceran kamu itu, yang punya katering ini?, trus kamu pengen ketemu sama dia karena udah beberapa hari nggak datang ke kantor, gitu..?", Restu tersenyum tipis, Ia selentingan dapat kabar dari Artika kalo anak buahnya ini menyukai gadis itu, Farada. "Tapi...??", Restu tiba - tiba terdiam, Ia baru ingat omongan Ibunya tadi, jangan - jangan..teman Dian yang dimaksud Ibu tadi, cewek yang sama?.
"Hah..??", ucap Ibu Iin kaget, sedangkan Ibu Gendis menutup mulutnya, "Gawat!", gumamnya pelan.
__ADS_1
"Kenapa Bulik...?", tatap Restu heran pada adik Ibunya itu.
Sementara, muka Bimo memerah malu, karena omongan bos nya itu agak frontal, dan tanpa saringan, etdah, gue sledding juga nih si bos...batinnya, sementara disitu ada dua orang lagi yang mendengar, dan ibu - ibu di depannya itu seperti terkesiap kaget dengan kepala terdongak menatap mereka berdua.