Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Dan, terjadi lagi...


__ADS_3

Seminar hari kedua di malam minggu ini telah berlangsung dua jam yang lalu. Para narasumber telah silih berganti memaparkan materi masing-masing. Walau peserta seminar banyak, tetapi kali ini yang menjadi pembicara hanya lima orang. Restu Mapendra hari kedua ini mendapat kesempatan sebagai narasumber di urutan pertama, setelah sebelumnya pada hari pertama kemarin dia di tunjuk sebagai pembicara yang ke sepuluh, urutan terakhir sebelum acara sesi tanya-jawab dengan para audiens diadakan.


Sejak hari pertama, Restu begitu piawai memaparkan ide-ide brilian tentang tantangan yang akan di hadapi para pengusaha lokal, entrepreneur dalam era globalisasi yang sudah bergeser ke teknologi digital ini. Ia menitik-beratkan untuk lebih memaksimalkan marketing internet bagi perusahaan-perusahaan dalam memasarkan sebuah produk agar mampu bersaing dengan arus pengusaha asing yang sudah mulai masuk ke dalam negeri dan meng-akuisisi sejumlah brand lokal. Serta, menyarankan pula untuk saling membentuk kerjasama antar pengusaha, bukan menjadi ajang sebuah persaingan, yang selama ini terjadi.


Segala gerak gerik Restu tadi dimulai dari jadi narator sampai saat sekarang acara hiburan yang menampilkan seorang penyanyi wanita ternama Ibu Kota sebagai acara penutup, tak lepas dari sorot pandangan kagum Farada di pojok arah belakang. Masih ada rasa tanya di hati, siapa perempuan yang kemarin malam mendatangi dan berbincang akrab dengan Restu di kamarnya, dan kini terjawab sudah!


Farada jalan perlahan menuju meja bundar tempat para undangan seminar duduk. Lampu yang sengaja dibuat redup di bagian audiens, berganti sorot cahaya terfokus di panggung, kearah penyanyi. Dia melihat Restu tengah berbicara mendekatkan gesture kearah seorang wanita yang juga mencondongkan badannya untuk mendengarkan. Entah apa yang mereka bicarakan tapi yang pasti, mereka terlihat akrab.


Tak salah lagi, itu suara perempuan yang kemarin malam di kamar mas Restu!


Farada tertegun, pria yang dia gambarkan adalah manusia kutub, irit bicara ini, terlihat begitu santai dan menikmati obrolannya dengan wanita itu. Dan, semakin dia mendekat, Farada semakin jelas mendengar bagaimana wanita yang terlihat sepadan dengan pria yang dikaguminya, sesekali tertawa menimpali. Farada merasakan dadanya sesak.


Tepat di saat Farada ingin membuka suara menyapa Restu, tiba-tiba tangannya di tarik seseorang. Molan!


Ya, Molan tadinya meminta copy-an rundown pada seorang EO yang pegang kendali acara, kebetulan tak memegangnya karena dia letakan di belakang panggung. Tapi niatnya dia urungkan ketika matanya menangkap sosok Farada sedang berjalan perlahan menuju sebuah meja. Nalurinya mengatakan ada sesuatu...


"Lepasin!..." Farada berontak sambil menarik sikutnya yang di tarik Molan. Namun Molan tetap memaksanya.


"Kamu tak akan mau melihat itu, ikut aku sekarang!"


"Sakit..." lirih Farada sambil mengikuti langkah Molan dengan sedikit di seret.


Molan berhenti, lalu menoleh ke Farada, dia baru sadar cengkramannya di siku gadis itu terlalu kuat dan kemudian tangannya berpindah menarik pergelangan tangan berjalan cepat menuju pintu keluar ballroom.


"Eh, Tuan Muda?...Farada?, mau kemana?" tanya Tissa yang hendak masuk ke dalam ballroom hampir menabrak Molan. Gadis itu untung cepat menahan tangannya di dada, agar tak bertubrukan.

__ADS_1


Molan hanya melengos tetap berjalan cepat, seolah tak terjadi hal yang hampir membuat Tissa terjerembab ke belakang.


"Ada apa?" tanya Tissa pada Farada sebelum gadis itu berlalu menjauh mengikuti langkah kaki Molan. Dia hanya mengedik-kan bahunya tanda dia pun tidak mengerti. Tissa menatap heran...nggak di Jepang, nggak di Bali monolognya sambil geleng-geleng kepala.


Tissa kembali terperanjat kaget ketika tiba-tiba untuk kedua kalinya seorang pria terlihat setengah berlari keluar dari ruangan hampir menubruknya.


"Maaf..." ucap pria itu melirik Tissa sebentar dan kemudian mengalihkan matanya ke belakang Tissa, seperti mencari seseorang.


Tissa menatap heran pria tersebut...apa dia mencari Farada dan tuan muda tadi ya? tapi gadis itu akhirnya mengambil sikap tak peduli dan terus masuk ke dalam ruangan.


"Kita mau kemana sih?...ini masih jam kerja lho!" ketus Farada sebal, dia kembali memberontak untuk melepaskan tangannya yang sedari tadi di cekal hingga sekarang, di lantai basement parkir mobil. Farada meringis mengusap pergelangan tangannya yang memerah.


"Nggak ada yang akan memarahi kamu, ayo masuk!" perintah Molan dari depan stir, dan membuka pintu mobil sportnya, menyuruh Farada masuk.


Farada masih ragu-ragu, tapi setelah perintah kedua kalinya dari Molan, akhirnya dia menuruti juga masuk ke dalam mobil yang hanya bisa di isi dua orang tersebut. "Ck..., kita mau kemana, sih?" tanya Farada mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.


Farada mencebik-kan mulutnya, "Sok tau!" cicitnya dan melihat keatas kap mobil sport yang perlahan terbuka menampakan udara bebas.


***


Disini mereka sekarang, di pantai Tegal Wangi. Sebuah pantai yang tersembunyi di kawasan Jimbaran Bali.


Farada memandang takjub suasana pantai yang tidak begitu ramai tapi terlihat terang di waktu malam hari oleh penerangan lampu yang berjejer di sepanjang tepi pantai tersebut. Sejenak dia melupakan gundah hatinya.


"Tak banyak yang mengetahui keberadaan kawasan ini, disana ada goa-goa yang tersembunyi loh" terang Molan sambil menunjuk ke jejeran batu-batu karang.

__ADS_1


"Oh ya?"


"Iya, justru oleh wisatawan asing pantai ini lebih dikenal, dan mereka menyebutnya Jimbaran Hidden Beach," imbuh Molan dan kemudian mengajak Farada untuk melihat lokasi goa karang yang tersembunyi di balik sana. Hanya karena mereka kesitu di waktu malam, jadi tidak bisa melihat lebih ke dalam lagi.


"Wah, keren tempat ini" Farada melihat pemandangan pantai eksotik dengan pasir putihnya, aroma laut begitu menenangkan. "Coba kesini siang atau sore hari, pasti seru deh, pasti keindahannya lebih terlihat lagi," seru Farada antusias, Dia berdiri di tepi goa karang agak ke dalam dan bertolak pinggang melihat ke arah pantai.


"Besok kita kesini..."


"Eh, nggak...nggak, nggak mau!" tolak Farada cepat mengibaskan tangan, baru tersadar bahwa perkataannya tadi jadi memancing Molan untuk terus bersamanya. Dia tak mau itu.


Molan hanya tersenyum tipis menanggapi. Ia melihat anak rambut Farada lengket di pelipisnya, tangannya gatal ingin menyingkirkan, tapi dia tak ingin membuat gadis itu murka. "Kita kesitu...!" tunjuk Molan kemudian kearah sebuah kafe rakyat pinggir pantai yang cukup banyak berjejer di sepanjang pantai.


"Mie?" tanya Molan heran, gadis ini begitu suka dengan mie ketika mereka memesan makanan setelah sampai di kafe rakyat. "kamu jangan sering-sering makan mie, nanti lambung atau usus kamu bisa bermasalah, Farada"


"Ya, nggak sering-sering juga kali, cuma pas kepengen aja. Apa karena lihat muka kamu ya, aku jadi kepengen makan mie?" guyon Farada lalu tertawa, suasana pantai membuat perasaannya menjadi tenang. "Tapi...Tuan Muda nggak suka makan mie kan ya?, pantesan ngomongnya kayak gitu..." sambungnya dengan mimik muka konyol.


Momen sekilas tersebut membuat Molan ini mencubit hidung mancung Farada. Kata-katanya terkesan ledekan, tapi Ia bersyukur gadis itu sudah kembali ceria.


Keduanya kemudian terlibat perbincangan santai. Farada lebih banyak bercerita. Dan, disini pula Molan mengetahui awal dia kenal dengan Restu serta akhirnya bagaimana mereka di jodohkan.


"Oh, jadi kamu waktu ke Jepang dan kita ketemu disana itu, kamu tadinya harusnya ketemuan sama si Restu?"


"Iya, lucu kejadiannya. Aku nggak mau dijodoh-jodohkan kan? trus aku dapat tiket gratis ke Jepang, jadi bersamaan waktunya. Aku juga nggak tahu kalau yang dijodohkan itu, pak Restu...ya, aku batalin ketemuannya trus aku berangkat ke Jepang deh. Tapi...akhirnya jadi juga sih, ketemuannya..." tutur Farada lirih, teringat wajah Restu


Molan menangkap sinyal sedih Farada, " itu mie nya di makan dong, nanti keburu dingin, nggak enak" imbuhnya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


-


Bersambung


__ADS_2