
Tiga hari setelah itu...
Molan terbangun dari tidurnya ketika beberapa kali gedoran di pintu kamarnya terdengar sangat kencang. Sial! Siapa yang berani - berani berbuat seperti itu di rumah gue? gumamnya sambil melangkah ke pintu. Dan, tubuhnya menjadi lemas seketika. Dua orang tengah berdiri di depan kamarnya dengan wajah tak merasa bersalah telah mengganggu tidurnya, justru cengiran yang dia dapat, bukan kata maaf.
"Ngapain lo! Ganggu orang tidur aja lo!" Molan membentak Tommy, sahabat kentalnya itu hanya tertawa saja.
"Kak, ganti celananya!" Suara Donna yang ternyata juga ada disitu sempat terlupakan, membuat Molan kaget. Gadis itu memalingkan wajah.
"Hadeehh! Kalian ini, tunggu dibawah, sana!" Usir Molan sambil menutup pintu untuk mengganti celana boxer dengan celana training kebesarannya.
Selang beberapa saat,
"Ada berita apa nih tumben pagi - pagi kalian kesini?" tanya Molan ketika menuruni anak tangga menghampiri Tommy dan Donna yang duduk di sofa ruang tengah.
"Oh iya, Bik Minah, nanti kalau si Tommy ini datang, jangan langsung bukain pintu ya. Ganggu orang tidur aja," seloroh Molan pada Art nya yang terlihat dari arah belakang membawakan minuman untuk kedua temannya itu.
"Jangan dengerin Tuan Muda itu Bik, udah jam delapan masih tidur aja, aturan dari mana itu?"
Bik Minah hanya senyum - senyum saja melihat interaksi dua sahabat itu, dia sudah biasa lihat mereka ini selalu ribut sejak dari remaja dulu.
"Kenapa lo yang ngatur di rumah gue, sih!"
"Bodo amat!... lagian ntar lo udah nggak gue ganggu lagi, ntar juga lo kangen sama gue!"
"Hah!?" Molan langsung melongo mendengar tuturan kalimat ambigu sahabatnya itu, dia mencoba mencernanya. "Maksud lo...apa sih?"
Suasana langsung berubah serius. Tommy ingin bicara tapi tenggorokannya seperti tercekat, akhirnya Donna mengambil alih, gadis yang sedari tadi cuma diam itu kemudian berkata, "Tommy akan pindah ke Singapura, Kak!"
Untuk kedua kalinya Molan melongo, "Bener Tom? Maksudnya apa sih ini? gue nggak ngerti," Molan memundurkan punggungnya bersandar ke sofa. Tatapan tajamnya bergantian berpindah kearah Donna dan Tommy.
"Iya Bro...gue akan menikah dengan Donna bulan depan," Tommy lalu menggenggam tangan Donna, "Dan, gue pindah ke Singapura atas permintaan kedua orang tua Donna. Gue diminta untuk memegang salah satu perusahaan Papanya disana."
__ADS_1
Molan melirik kearah Donna yang dijawab anggukan oleh gadis tersebut tanda meng-iya-kan. Dia beralih ke Tommy, memandang lekat wajah sahabat yang sudah dikenalnya puluhan tahun lamanya itu dengan sedih. Sahabat dari remaja yang satu-satunya menganggap dirinya bukan siapa - siapa. Sahabat yang selalu berbagi suka dan duka. Kini, dia pun akan menikah dan akan mempunyai kehidupannya sendiri. Kehidupan yang tidak akan pernah sama lagi dengan waktu masih lajang. Lalu, dia? Masih berkutat dengan problema kehidupan yang pelik.
Suasana berubah hening.
Molan tak tahu harus berkata apa, pun begitu juga dengan Tommy, keduanya membisu beberapa saat. Tuan Muda itu menarik napas dengan berat lalu menghembuskannya perlahan. Satu persatu orang di sekelilingnya akan pergi, Farada, Tommy dan Donna. Mengingat itu, dadanya terasa sesak.
Tommy berdehem memecah keheningan, "Elo, gimana? Gue dengar lo lagi dekat dengan General Manager hotel yang di Jogja, namanya...Sita, bener?"
"Ha? Enggak!... Lo kata siapa?" Molan menggelengkan kepala, dia mengibaskan tangan.
"Farada yang ngomong, aku bertemu dengannya semalam di sebuah mini market dekat rumahnya, aku nggak nyangka ketemu dia disitu," Donna angkat bicara. Pertemuan yang tidak di sengaja dengan Farada membuat Donna mengetahui apa yang sedang terjadi.
Mendengar nama Farada disebut-sebut, perasaan Molan pun berubah tak karuan, "Farada? Kamu ngapain sampai didekat rumah Farada?" Ia langsung curiga, mengingat dulu Donna beberapa kali melabrak gadis itu.
"Eits, Kakak jangan salah paham dulu, aku dari tempat Kak Tommy, pulangnya pas lewat arah rumah Farada, mau mampir beli cemilan, nah...ketemulah sama Farada disitu, dia mau beli pembalut."
"Trus, dia cerita apa sama kamu?"
Donna lalu menceritakan awal pertemuannya yang berlanjut dengan obrolan di sebuah kafe kecil.
***
Donna pamit pulang pada Tommy setelah pertemuan mereka di rumah calon suaminya itu yang membahas rencana pernikahan mereka bulan depan. Dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang saja sambil mendengarkan musik. Kebetulan cuaca habis hujan, jadi lalu lalang kendaraan tidak begitu ramai.
Donna tak menyangka pada akhirnya akan melabuhkan cintanya pada Tommy, bahkan akhirnya menuju jenjang pernikahan. Mengingat itu, dia tersenyum simpul. Bagaimana tidak? perkenalan mereka dari awal sudah bagaikan 'Tom & Jerry' yang selalu ribut setiap bertemu. Dia sangat membenci Tommy, begitu pun sebaliknya. Dia membenci karena sahabat Molan tersebut selalu bicara ketus dan menunjukkan sikap permusuhan. Tapi, lucunya mungkin karena peran semesta juga, mereka selalu bertemu dan selalu bersama dengan tujuan yang sama, menemui Molan!
Molan? Menyebut nama itu, Donna terkekeh sendiri. Ah ya! bagaimana kabar pria yang pernah menjadi obsesinya itu sekarang? Apa masih tetap berjuang mendapatkan cinta Farada?
Sedang asyik dengan pikirannya itu, tiba-tiba perut Donna sakit, dia memang punya riwayat sakit maag semenjak di bangku sekolah. Lalu, Donna membelokkan setir mobilnya ke sebuah mini market untuk membeli roti sekedar mengganjal perut. Dia menyesali sewaktu di rumah Tommy tak mau di ajak makan oleh calon mertuanya.
Setelah memilih beberapa roti, dia menghampiri kasir untuk membayar. Dan, dari arah luar dia melihat seseorang yang dia kenal turun dari sepeda motor matik lalu masuk ke mini market seperti terburu - buru. Farada! dia tak melihat Donna di depan meja kasir, gadis itu langsung saja berjalan menuju rak belakang toko. Sepertinya dia sudah hapal area mini market ini.
__ADS_1
Setelah membayar, Donna kemudian menghampiri Farada. Dia ingin memperbaiki hubungan dengan orang yang pernah menjadi rival nya itu.
"Farada?" Sapa Donna perlahan, lalu mengulurkan jabatan tangan.
Farada menoleh ke sumber suara, dan dia terkejut Donna tiba - tiba ada disitu. Gadis itu segera bersikap waspada. Terakhir bertemu di Bali, pertengkaran mereka hampir fatal, Farada hampir menggunakan kekerasan karena Donna sudah beberapa kali melabraknya. Namun, melihat sikap Donna yang ramah akhirnya dia terima juga uluran tangan Donna tersebut.
Dan, disinilah mereka sekarang. Terlibat perbincangan duduk di kafe kecil depan mini market. Kebetulan malam itu tidak begitu ramai, jadi mereka bisa bebas bicara. Awal obrolan terlihat masih kikuk dan kaku, maklum kedua mantan pesaing. Tetapi karena sikap Donna yang terbuka dan welcome membuat Farada menghilangkan pikiran negatif nya terhadap gadis itu. Akhirnya perbincangan pun menghangat.
"Serius kamu mau menikah dengan Tommy? Bulan depan?"
Donna anggukkan kepala, "Iya, kamu nggak nyangka kan? Aku aja bingung," Donna tertawa pelan, "Mungkin karena kami selalu bersama. Kebersamaan itu akan menimbulkan rasa cinta, bukan?" Donna menjeda, "lalu, kamu gimana dengan Molan?"
Mendengar nama Molan disebut, Farada terdiam dan wajahnya berubah sendu.
"Kenapa?" Donna mencondongkan badannya ke depan.
Dan, akhirnya mengalirlah cerita dari mulut mungil Farada. Gadis yang berparas lembut bagaikan personil Twice dari Korea bernama Tzuyu itu hanya menceritakan poin-poin intinya saja. Mulai dari rahasia yang terkuak dari masa lalu Restu, tentang cinta segitiga nya dengan Molan, masalah perjodohannya sampai berakhir ke rencana pernikahannya dengan Restu. Dia tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati seorang Molan.
Mendengar cerita Farada, Tubuh Donna menegang, dia memang pernah mendengar omongan dari mulut Molan sewaktu menjemput pria itu di bandara, Molan mengatakan dia terlibat cinta segi tiga tapi, tak menyangka sama sekali akan terjadi seperti itu.
Cuma, kalau Donna perhatikan ketika Farada menceritakan Molan, gadis itu selalu terbata dan airmatanya tergenang sesudahnya. Menandakan bahwa sebenarnya dia mencintai Molan, tetapi mungkin takdir berkehendak lain.
"Jujur, kamu mencintai Molan?" tanya Donna langsung ke inti perasaan Farada.
Namun Farada hanya diam dan menatapnya sendu dengan air mata menganak di pelupuk matanya. Itu sudah merupakan sebuah jawaban bagi Donna.
"Farada, aku hanya menasehati, seperti halnya yang telah aku lakukan...Cinta Itu Harus Memilih!"
Flash back Off.
***
__ADS_1
Tommy berdiri dan memberikan sebuah undangan ke tangan Molan. Sahabatnya itu melihat undangan tersebut dengan senyum miris, beberapa kali dia menggelengkan kepalanya tak percaya temannya itu akan menikah.
"Awas lo nggak datang!" telunjuk Tommy menekan dada Molan, matanya berkaca-kaca lalu memeluk sahabat kentalnya tersebut. Ia sangat merasakan apa yang dirasakan Molan. Tetap semangat, kawan! bisiknya.