
"Bang, apa kita nggak terlalu keras terhadap Molan? Setidaknya, beri dulu waktu padanya untuk bisa menerima semua ini. Tentang aku, Restu dan Farada itu cukup memukul perasaannya. Jadi, sebaiknya foto keluarga ini di tunda aja dulu, itu bisa nanti dilakukan setelah Restu menikah."
Pada suatu pagi, di rumah Ibu Iin atau yang sekarang dipanggil Ibu Soraya, Tuan Besar Erick sudah menjambangi rumahnya. Walau status hubungan mereka berdua sudah diresmikan kembali di depan penghulu secara tertutup, tetapi Soraya dengan berbagai pertimbangan, Ia tetap memilih tinggal dirumahnya ini. Pagi ini pula, Tuan Erick kembali meminta Soraya agar sebelum pernikahan Restu dengan Farada terjadi yang direncanakan tiga bulan lagi, mereka melakukan sesi foto bersama dulu. Foto keluarga.
Tuan Erick dengan perawakannya yang tenang hanya menghembuskan napas. Sejenak dia berpikir, perkataan Soraya ada benarnya. Dengan segala kejadian serta keadaan yang berubah secara mendadak ini, tidak mudah bagi putera bungsunya itu menerimanya. Lagi pula, hubungan antara dirinya dengan Molan yang tidak pernah akur sedari awal sudah tentu akan semakin meruncing. Molan juga akan semakin membencinya. Tapi, dia sudah tak punya waktu lagi, penyakitnya semakin hari makin menggerogoti. Saran dokter agar melakukan pengobatan dan perawatan di Amerika, pun tidak dihiraukannya. Dia harus mengambil resiko.
"Aku tak punya waktu lagi, Dek! Aku harus ambil resiko sebelum semua menjadi terlambat!" Tuan Erick menjeda, dia menerawang, "Molan..." kemudian melirik Soraya, "dia suatu saat akan mengerti."
Soraya gelengkan kepala beberapa kali. Erick selalu identik dengan keras kepalanya. Apa yang dia inginkan harus terlaksana, dan kurun waktu tiga puluh tahun ternyata belum cukup untuk merubah karakternya itu.
Seperti dulu yang sering Soraya lakukan, dia hanya pasrah saja atas keinginan Erick yang sekarang kembali menjadi suaminya itu, dia berkata, "Ya sudah, aku menyerahkan sepenuhnya padamu, Bang."
Soraya sebelumnya menyarankan agar fokus terlebih dulu bagaimana agar memberi pengertian kepada anak tiri nya, Molan menerima kenyataan yang terjadi. Bisa menerima Soraya sebagai Ibu sambung serta Restu sebagai kakaknya sendiri. Dan, Jangan lupakan Farada. Ya, gadis yang akan dinikahi Restu itu bukankah wanita yang juga dicintai Molan? Ya Tuhan!...membayangkannya saja Soraya merasa tak sanggup, bagaimana terpukulnya perasaan putera kedua Erick tersebut.
Sekarang, Erick meminta mereka untuk melakukan sesi foto bersama?
"Setelah melakukan foto bersama, aku ingin mengajak kamu pergi berlibur ke Jepang." Perkataan Erick sontak membuat Soraya tercengang. Rencana yang pernah terlontar beberapa waktu yang lalu namun belum sempat di wujudkan. Kini, diungkap kembali oleh Erick di saat waktu yang menurutnya tidak tepat.
Tapi, Soraya lebih memilih untuk diam saja tidak menanggapi, justru dalam benaknya, dia punya kecurigaan lain. Jangan - jangan?
"Boleh aku lihat hasil pemeriksaan dokter yang terakhir?" tanya Soraya mengabaikan kata ajakan Erick.
Dan, Erick pun terdiam.
***
Sementara itu...
__ADS_1
Di sebuah Mal yang besar di bilangan Jakarta Selatan, Molan sedang menemani Sita yang ingin membeli beberapa baju. Setelah pembicaraan kemarin pagi di rumah Molan, Sita kembali mengajak Molan untuk menemaninya. Molan awalnya menolak tetapi Sita dengan kelihaiannya berbicara berhasil membujuk Molan menemani. Seperti siang ini, katanya dia berangkat dari Jogja tempo hari tidak membawa pakaian yang cukup karena terburu - buru. Mengingat punya rencana tersendiri terhadap Sita ini, Molan akhirnya mau juga menuruti kemauan gadis itu.
Entah apa yang kini yang ada dalam benak Molan, menemani Sita ini dia merasa dejavu. Ketika mereka melewati sebuah gerai sepatu, Sita berhenti dan minta pendapatnya tentang sepatu yang di pajang di dalam kaca, terlihat eksklusif.
"Kak, menurutmu, sepatu itu bagus nggak kalo aku yang pakai?"
Molan melirik tapi kemudian menegaskan penglihatannya, Ah...itu bukannya model sepatu yang waktu itu dibeli buat Farada? kata Molan dalam hati sambil melihat tulisan nama toko di plang merek, sama! cuma beda Mal saja.
Lalu, Molan mengusap dagunya yang terbelah seperti sedang berpikir.
"Hmm...kalau saya rasa, kayaknya nggak cocok deh buat kamu, modelnya biasa aja, nggak sesuai dengan style kamu," cetus Molan berlagak seperti seorang pengamat mode. Padahal dia hanya tak ingin Sita punya sepatu yang sama dengan Farada. Itu model yang spesial untuk seseorang yang spesial pula. Setelah mengatakan itu, Molan langsung berjalan kembali agar Sita jangan berlama - lama berdiri disitu dan akhirnya masuk ke dalam toko dan membelinya.
Sita hanya mengangguk saja walau mukanya terlihat kecewa, itu model yang sedang in keluaran designer ternama, dan dia sangat menginginkan sepatu itu. Tapi dia belum sempat mengatakannya, pria itu sudah pergi dari situ.
Setelah beberapa lama menemani Sita berbelanja, Molan kemudian mengajak Sita untuk pergi ke suatu tempat. Ia ingin mempertemukan gadis ini dengan seseorang dan ingin melihat apa yang terjadi.
Sita tentu saja sangat senang menerima ajakan Molan tersebut. Baginya, ini sebuah kemajuan dalam sebuah pendekatan hubungan. Walau tak berharap banyak, tapi permintaan Molan tadi sudah membuatnya senang sebab tidak semudah itu menarik perhatian seseorang yang hatinya sedang terikat dengan orang lain bukan?
"Nanti aja, aku ingin bertemu seseorang." Molan hanya menjawab singkat sambil tersenyum.
"..."
"Omong - omong...sebelum pacaran dengan pria Denmark, kamu pernah punya hubungan dengan seseorang?" Lanjut Molan tiba - tiba.
Sita menolehkan kepala melirik ke wajah tampan bak bintang film itu, dia tak segera langsung menjawab. Kenapa dia bertanya seperti itu? Sita menghela napasnya. Yang dia pikirkan bukan isi pertanyaan Molan tetapi apa maksud pria itu tiba - tiba ingin tahu mengenai masa lalunya, padahal mereka tidak menyinggung tentang sebuah hubungan sebelumnya.
"Ya sudah, kalau kamu nggak mau jawab, nggak apa - apa kok!" Molan tak ingin memaksanya.
__ADS_1
"Bukan, bukan nggak mau jawab Kak, tapi kaget aja tiba - tiba kamu bertanya itu..." Sita menjeda, "ada, tapi aku nggak tau juga itu disebut sebagai hubungan atau bukan...belum ada kepastian, aku sudah keburu kecewa, sebab sepupu aku-"
Sita tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Ponselnya berdering nyaring, dia lupa memindahkan ke mode silent. Dilayar ponselnya terpampang nama, Tuan Besar Erick!
"Kak?..." Sita memperlihatkan siapa yang menelponnya pada Molan, pria itu mengernyitkan dahi membacanya, "aku terima, ya." Molan hanya mengangguk.
"Se..selamat sore, Tuan Besar," Sita menjawab takut - takut, dia menundukkan badannya.
"Sore, Sita kamu lagi dimana? Saya mau tanya, coba kamu hubungi Molan sekarang, saya hubungi nggak di angkat - angkat dari tadi!" Taktis dan perintah. Itulah ciri khas seorang Erick Mahendrata, "atau...kalau dia lagi bersama kamu, berikan handphone kamu ke dia."
Sita mengangguk walau Erick tidak akan melihatnya. Gadis itu melirik Molan dengan wajah bingung, dan memberi kode kalau Tuan Besar ingin bicara dengannya.
Molan berdecak setelah mengerti maksud kode tersebut, lalu mengambil ponsel dari tangan Sita.
"Ya, Pa?"
"Molan, kamu nanti malam jam 20.00, datang ke mansion, Papa tunggu!"
Dengan muka sebal, Molan bertanya, " Ada acara apa Pa?"
"Ada pemotretan foto keluarga. Pokoknya kamu datang saja dulu, pakaian jas hitam resmi, lengkap! Jangan sampai nggak datang, ya!" Erick di seberang sana sengaja memberi tahu Molan dengan kalimat perintah, karena kalau tidak Molan tidak akan datang. Dia sangat tahu tabiat anaknya ini.
"Ha?" Foto keluarga? Berarti? Wajah Molan berubah tegang. Alarm tidak mengenakkan pun berdenging di kepalanya. Mood nya langsung anjlok seketika saat itu juga.
Lalu, tanpa berniat melanjutkan pembicaraan lagi dengan Papanya, dia memutus komunikasi dan memberikan ponsel ke tangan Sita.
Sita memperhatikan ekspresi Molan seperti orang yang sedang marah, dia tak berani bertanya ketika menerima uluran ponsel dari Molan. Pasti ada terjadi sesuatu yang membuat mood nya jadi berubah!
__ADS_1
"Kita nggak jadi ke DomTrav! Kita langsung pulang aja," kata Molan dingin, tanpa menunggu jawaban Sita, dia langsung berputar arah.
Wajah Sita sendiri pun berubah tegang...DomTrav? Berarti tadi Molan ingin mengajaknya kesitu?