
Molan melarikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah kafe tempat yang di janjikan oleh Dian. Gadis itu awalnya ingin mengambil ponselnya itu sendiri, tempatnya terserah Molan yang menentukan. Tapi pria itu menolaknya. Ia ingin mengantarnya sendiri. Ia penasaran dengan suara penerima telpon dia semalam, ingin memastikan kembali setelah pria itu mencocokkan nomor ponsel kepunyaan Dian dengan yang tertera di ponselnya.
Molan memasuki komplek pertokoan yang dituju. Sesuai dengan map! batinnya. Ia berhenti tepat di depan sebuah kafe. Sebelum turun dia melihat-lihat dulu dari dalam mobilnya. Namun, ketika hendak turun, sebuah taksi berhenti tepat di belakang mobilnya menurunkan seorang gadis memakai topi putih dengan outfit kaos cream berkerah tinggi, bawahan di padu rok A-line hitam dan sepatu sneakers warna marun, pria itu mengurungkan niatnya.
Hmm...benarkan? Molan bergumam. Gadis itu langsung memasuki kafe yang ingin dia tuju.
"Pagi Kak..." sapa beberapa karyawan menyambut kedatangan bos mereka yang sudah beberapa hari ini kembali hadir di antara mereka bekerja setelah resign dari pekerjaannya.
"Pagi..." balas Farada dengan tersenyum dan langsung mencari sosok Dian.
"Kak, sori...tadi aku langsung berangkat aja soalnya aku ketuk pintu kamarmu beberapa kali, nggak nyahut," ujar Dian yang langsung menghampiri Farada di ruangannya.
"It's Ok, Mbak Dian. Tadi aku lagi keluar sebentar, aku mau ngomong, kamu nya sedang mandi. Oh iya, gimana handphone-nya, udah jadi di ambil?"
"Belum Kak. Katanya, nanti dia sendiri yang mau nganterin kesini."
"Hah!?...serius?" mata Farada membola. Itu berarti rasa penasarannya akan terjawab. Padahal pagi tadi dia ingin bertanya lebih lanjut tentang siapa lelaki yang bersama temannya itu semalam. Dia merasa tidak asing dengan suara pria yang berbicara dengannya di ponsel tadi sebelum dia serahkan pada Dian.
"Iya, serius!" Bukan Dian yang menjawab, tapi suara berat seorang pria yang kini berdiri di depan pintu dan menyerahkan ponsel milik Dian.
"Mas...?"
__ADS_1
"Kak Molan...?"
Farada dan Dian sama-sama terkejut, terutama Dian yang langsung pandangannya beralih ke arah Farada. "Kak Fara...? Kenal dengan Mas ini?" tanyanya pelan memberi kode dengan mata.
"Sangat mengenal malah," jawab Farada lirih dengan tatapan tetap tak beralih dari Molan.
Molan langsung menggamit tangan Farada, "Aku mau bicara sama kamu!"
Farada menepis tangan Molan dan terlepas. Ia sudah bertekad untuk menjauh dan berjanji pada keluarganya untuk tidak lagi berhubungan dengan pria tersebut. "Disini aja!" tolaknya dingin.
Dian pun sadar diri bahwa keberadaannya disitu tidak tepat saat ini. Perlahan dia mundur, "Kak, aku ke depan dulu ya." Gadis itu keluar tanpa menunggu jawaban dari Farada dan Molan. Dia baru ingat kini wajah pria yang semalam mengantarkannya pulang itu ternyata ada kemiripan dengan Restu. Dan, dia pun jadi mengerti kenapa Farada meminta untuk tinggal sementara dengannya di apartemen.
Di satu sisi dia sangat senang atas kedatangan pria yang dalam tempo satu malam tiba-tiba mengganggu pikirannya, tapi sisi lain membuatnya patah hati. "Berarti, itu si tuan muda yang di ceritakan Kak Farada, yang menyebabkan dia membatalkan pernikahannya dengan Restu?"
"Kita bicara disini aja." ulang Farada dengan intonasi datar saja. Gadis itu lalu duduk di kursinya sambil mempersilahkan Molan untuk duduk.
Molan sedikit terkesima dengan perlakuan Farada yang menganggap dirinya layaknya seorang tamu. Walau dia sudah memberikan senyum yang dulu sering mendapat omelan dari gadis itu, senyum yang mampu merobohkan pertahanan para wanita tapi kini senyumnya itu tak berarti apa-apa.
"Kamu, kenapa tak pernah membalas pesan dan telepon aku, Farada?" tanya Molan sambil duduk di hadapan gadis itu, "sengaja?"
Farada mengangguk, "Iya, aku sengaja," tegasnya. "Seperti yang terakhir aku bilang di puncak...demi kebaikan bersama, sebaiknya kita tak ada lagi ada hubungan, tutup komunikasi."
__ADS_1
Molan menghela napas, matanya mencari-cari di manik mata Farada apakah sedang berpura-pura tegar. Tapi Ia tak menemukannya. Gadis itu menyampaikannya kali ini dengan tegas. Tatapannya tak beralih dari wajahnya. "Sampai segitunya?" ujar Molan getir, "ayolah...masih ada jalan lain. Aku akan memperjuangkan kamu, Fara. Aku akan menemukan jalan untuk kita bersama," lanjut Molan kembali penuh harap.
Farada menggeleng cepat, "Aku nggak perlu di perjuangkan Kak, karena memang nggak pantas untukku. Itu akan membuat luka yang baru, luka untukku, untuk kamu, dan keluarga kita. Terlalu terjal jalannya." Farada menjeda, gadis itu menghirup udara dalam-dalam, "aku nggak mau lagi ada yang terluka hanya karena piciknya kita."
Molan tak percaya bahwa kalimat itu yang terlontar dari mulut Farada. Picik? Justru kamu yang memahaminya secara picik, Fara! Tapi itu hanya bantahan dalam hati Molan, dia tak ingin mendebatnya karena itu akan membuat obrolan semakin rumit.
"Aku mau tanya satu hal sama kamu...," Molan menjeda, lalu menghirup udara sebanyaknya sebelum melanjutkan, "...apakah kamu masih mencintaiku?" Dia menanyakan sesuatu hal yang menurutnya itu sangat penting dalam menentukan langkah apa yang akan di ambilnya nanti.
Farada tak segera menjawab, perempuan itu melihat manik mata elang Molan sebelum memutus kontak matanya, Ia tersenyum tipis dengan sudut terangkat sebelah. "Dulu...iya!"
Alis mata Molan tertaut, matanya menyipit, "Sekarang?"
"Aku bertipe perempuan yang tidak melulu di butakan oleh cinta. Logika masih mendominasi atas perasaanku tentang cinta itu sendiri," jawab Farada diplomatis, "jadi...maaf, sekarang perasaanku untuk kamu, menguap." ujarnya sembari kembali menatap mata elang Molan.
Molan terpana dengan jawaban lugas yang meluncur dari mulut wanita di depannya itu. Tak ada keraguan sama sekali terlihat dari wajahnya. Ia merasa gadis yang di hadapannya ini bukan lagi Farada yang dulu dia kenal. Ia merasa asing!
Molan seharusnya malu karena masih mengharapkan Farada yang untuk kesekian kalinya menolaknya. Dia juga seharusnya malu karena hatinya pun sudah mengejeknya seperti itu. Tapi sayangnya, Molan tidak akan pernah menjadi penguasa jaringan bawah tanah saat usia muda dulunya, bukan? Jika penolakan itu akan membuatnya...patah!
Molan terkekeh sumbang. Ia beberapa kali menggelengkan kepalanya. Matanya pun tak beralih menatap mata perempuan yang kini tengah menantang matanya tersebut. "Kalau begitu...selesai!" ujarnya tertawa pelan, kemudian langsung memasang wajah tegas, "Aku memang mencintai kamu Farada, Sangat malah! Dari awal kita bertemu di Sapporo sampai detik ini... masih! Aku akan berjuang untuk kamu. Aku takkan peduli apapun halangannya! Semua akan aku terjang jika ada yang menghadang. Tapi, jika cinta di hati kamu itu sendiri yang sudah hilang, aku ... Mundur!" ujar Molan sambil membentuk jarinya seperti hormat militer.
Itu logika yang sebenarnya Farada! Batin Molan sambil berlalu meninggalkan Farada yang duduk termangu meresapi kalimat Molan dengan perasaan berkecamuk.
__ADS_1
Seketika air matanya lolos tak tertahan, bahunya terguncang dengan kepala menangkup di meja.