Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Menjaga perasaan Molan?


__ADS_3

Farada curiga dengan senyum Molan tersebut, Ia lalu merebut bawaan dari tangan pria itu.


"Ini...?" Farada mendapati dari salah satu tas berisi satu set baju kasual dan celana yang Ia yakini itu celana A-line hitam yang dilihatnya tadi. "Kapan kamu membeli yang ini? Buat siapa?"


Namun yang di tanya sudah melanjutkan langkahnya sambil senyum - senyum. Farada mengejarnya, dia tak peduli tatapan pasang mata orang yang melihat mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


Saat Farada berjalan terburu - buru tersebut, tiba - tiba....Krakk!! Bunyi patahan heels sepatu pantofel terdengar nyaring. Farada hampir terjerembab ke depan jika Molan tidak segera menahan bahunya untuk menopang tubuhnya yang oleng.


"Makanya jangan buru - buru, aku....awh!"


"Diam nggak! Cepat pergi dari sini..." Omel Farada, Ia mencubit halus pinggang Molan yang masih merangkul bahunya.


Molan kemudian melepaskan tangan dan berjalan kembali. Tapi baru beberapa meter dia hentikan langkah dan menoleh ke belakang, dilihatnya Farada jalan sedikit pincang karena heel sepatu yang terlepas tadi. Ia menghampiri, tanpa peduli dengan protes Farada serta tatapan iri orang - orang yang melihat, Molan mengambil sepatu yang patah dari kaki Farada dan meraih pinggang gadis itu.


"Udah, nggak usah protes! Injak sepatu aku." Perintah Molan kemudian mengajaknya berjalan dengan kakinya yang sebelah sebagai pijakan Farada berjalan.


"Nggak usah begini juga! Aku nggak masalah kalau jalan tanpa sepatu...malu!"


Molan tak menggubris gerutuan Farada, Ia makin mengeratkan tangannya di pinggang gadis itu. "Malu-an mana? Kamu terlihat seperti wanita kacau yang ditinggal suaminya dijalan! Dan Aku terlihat sebagai pria tak punya hati disini."


"Bukannya kamu terlihat seperti laki-laki yang sedang mengambil kesempatan?" Farada mendongak ke sebelah membantahnya.


"Tidak! Kamu nggak liat sekeliling? Mereka ingin sekali berada di posisi kamu ini loh! Berarti aku terlihat seperti sua...Aduh! Cubitanmu sakit Fara!" Molan meringis, kali ini benar - benar sakit.


"Bodo amat!"


Mereka pun berbelok dan masuk ke sebuah gerai toko yang menjual sepatu bermerek terkenal.


Farada agak ragu, dia menahan langkahnya. Toko tersebut terlihat mewah dengan pajangan sepatu - sepatu berkelas. Harganya cukup fantastis untuk ukurannya. "Cari tempat lain aja," ujarnya dengan berbisik sambil melihat nominal price tag di bawah pajangan yang hampir seperempat gajinya.


"Toko terdekat cuma disini, ada lagi di lantai atas...kamu mau aku gendong kesana?"


"Ogah!"


"Ya sudah, disini aja kalau gitu..." jawab Molan dengan senyum konyolnya.

__ADS_1


Pengunjung toko cukup ramai. Molan memperhatikan gerak gerik Farada yang kelihatan ragu dalam memilih sepatu - sepatu. Ada dua kali gadis itu bolak-balik melihat sepatu yang sama, sepertinya itu sepatu yang disukai namun memang harganya agak mahal.


Sekitar sepuluh menit Farada belum juga mendapatkan sepatu yang diinginkan, Molan kemudian menghampiri dan menggamit tangan Farada.


"Kamu suka yang ini nggak?" tanya Molan mengambil sepasang sepatu yang dilihat Farada tadi.


"Nggak mau ah! Harganya mahal!"


"Kamu diam aja ya...ikuti aku" Bisik Molan ke telinga Farada. Lalu pria tersebut mengambil sepasang sepatu itu dan menarik pinggang Farada keluar dari toko melewati sekuriti yang kebetulan tidak melihat ke arah mereka.


"Heh!!...kamu ngapain bawa sepatunya? Balikin! Itu mencuri namanya!" Bentak Farada dengan suara ditahan setelah mereka berdua sampai di luar toko, dan berusaha merebut sepatu di tangan Molan.


"Kamu tenang aja!"


"Nggak mau!" Lalu Farada berontak setelah dapat merebut sepatu di tangan Molan dan berbalik kembali.


"Maaf mbak, saya mau kembalikan sepatu ini, yang kebawa oleh teman saya tadi," kata Farada di meja kasir dekat pintu keluar. Ia menundukan wajahnya menahan malu sekaligus geram dengan tindakan Molan yang menurutnya sangat kelewatan. Astaga! Tak bisa di bayangkan bagaimana jadinya jika mereka tertangkap dan ditahan karena kedapatan mencuri. Apa si Molan ini terjangkit penyakit Kleptomania?


"Maksudnya gimana bu? Sepatu ini kan sudah dibayar lunas oleh Tuan tadi...ini bukti print notanya." Sang kasir tersenyum lalu memperlihatkan struk belanja berikut print out pembayaran memakai kartu kredit.


"Pakai dulu sepatunya," ujar Molan datar menahan langkah. Farada tersadar, dengan muka kesal dia berjongkok memakai sepatu yang baru dibeli itu sambil ngedumel tak jelas. Momen itu tak lepas dari pengamatan Molan, baginya tingkah Farada begitu menggemaskan.


"Kok kamu ngerjain aku sih?" kata Farada menoleh kearah Molan dengan raut kesal setelah memakai sepatu barunya. Molan tidak bereaksi, Ia tengah menatap bola mata Farada. Beberapa detik, aksi adu tatap terjadi sampai akhirnya Farada memutuskan kontak mata, Ia grogi. "Ayo, cari makan, lapar aku...eh, balik hotel aja deh!"


***


Sudah hampir dua jam Farada masih tetap belum bisa memejamkan matanya. Beberapa kali ganti posisi, namun rasa kantuk itu belum juga datang, pikirannya menerawang tak menentu. Ia pun memutuskan untuk keluar kamar, sekedar menghirup udara segar.


Farada pun meraih sweater beludrunya dan pilihan berada di pinggir pantai saat ini adalah sebuah pilihan yang tepat. Malam ini sepertinya cuaca sangat cerah. Angin pun bertiup tidak terlalu kencang.


Cukup lama rasanya Farada berdiam diri memandang ke tengah laut, ombak yang tenang membuat dia betah berlama - lama berdiri membiarkan kakinya basah oleh air laut.


"Pantesan telpon aku nggak di angkat, ternyata orangnya disini."


Farada tersentak, Ia menoleh ke arah sumber suara. Molan, pria yang agak mengganggu pikirannya sekarang ini tengah berjalan menghampiri sepertinya sengaja sedang mencarinya. "Kamu dari mana?" tanyanya heran.

__ADS_1


"Tadi aku telpon nggak di angkat - angkat, trus aku ke kamar kamu eh, nggak ada, yaa...aku cari dan ketemunya disini."


"Ada apa mencari aku?"


"Besok jam dua siang, tepatnya 14.30, kita berdua harus terbang ke hotel Luxury Resort Yogyakarta di Kaliurang, penting!" jawab Molan sambil berdiri men-sejajarkan diri dengan Farada menatap ke arah pantai.


Kening Farada berkerut, "Aku?...Kok mendadak? Dan cuma berdua? Tissa kan bisa?" Suaranya meninggi.


"Aishh...kamu kayak orang lagi menembak, beruntun! Satu - satu kalau nanya, kenapa sih?"


"Aku nggak bercanda!...."


Molan menutup mulut dengan tangan. "Itu perintah Om Herwanto, aku juga dapat kabar mendadak satu jam yang lalu," Molan menjeda kalimatnya sejenak, "Aku dikasih pilihan, Tissa atau kamu yang ikut mendampingi. Yaa...Aku pilih kamulah!" ujar Molan tanpa beban.


"Kenapa bukan cowok? Wayan misalnya atau Joko? Mereka yang lebih senior."


"Aku mewakili Papa yang nggak bisa hadir. Masa untuk menjamu tamu dari negara Australia, meeting dan menemaninya makan malam...perginya sama cowok. Nggak elit banget!"


"Dih!" Farada mendesis, Ia tak menanggapinya lagi. Saat ini dia tidak sedang dalam mode mood yang bagus untuk berdebat.


Hening...


"Aku mau tanya satu hal...waktu malam itu, mengapa kamu nggak jadi datang?" tanya Farada tiba-tiba mengalihkan topik bicara. Matanya masih menatap lurus kelaut lepas.


Molan menoleh, "Yang mana?"


"Malam waktu kamu..."


"Oh, yang pacar kamu datang itu?" Potong Molan cepat, lalu dia tertawa pelan dengan kedua tangan berpindah masuk ke kantong celana. Matanya kembali tertuju ke depan.


Farada pun berganti sekarang menoleh kearah Molan, "Kamu tahu dan melihat Mas Restu datang?"


Molan mengangguk, "Dan dia memeluk kamu," jawab Molan tersenyum tipis.


Farada akhirnya tak jadi bertanya banyak. Dia tahu malam itu dari salah satu karyawan hotel bahwa Molan membagi - bagikan ikan yang dia bawa, yang rencananya untuk dibakar berdua. Saat itu dirinya tengah bersedih dan Molan datang ingin menghibur, karena Restu pergi dan memutuskan hubungan mereka tetapi akhirnya kembali lagi.

__ADS_1


Farada memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan mengenai hal itu lagi dengan Molan. Pria itu pasti kecewa saat itu.


__ADS_2