
Sorenya, Farada pulang dari toko dan langsung teriak kegirangan ketika mendapati kedua orang tuanya tersebut sedang duduk di ruang tamu. Mama Farada sampai mengelus dada, anak bungsunya ini masuk tanpa mengucap salam dan berjingkrak dan langsung menghambur ke pahanya, tiduran.
"Kamu kenapa sih dek?...kayak orang kesurupan begini?", ujar sang mama menatap heran serta memukul lengan anak gadisnya itu. Begitu pun papanya, hanya bengong melihat Farada yang nguyel - nguyel tangan mamanya sambil kepala tertangkup di paha. " Makasih mamaaa...", lalu Farada bangkit dan mencium - cium pipi bu Herlina kiri-kanan secara bergantian.
"Ihh..kamu kenapa sih?, mama jadi takut deh!", ulang bu Herlina, lalu bahu Farada di tahan mama agar Farada segera diam. "Aw..sakit mama!", Farada mengaduh kesakitan lalu mengelus bahunya bekas cubitan sang mama.
"Ya kamu kenapa, datang tiba - tiba begini".
"Tau nggak ma, sebenarnya siapa yang mama jodohin sama adek itu?".
"Siapa?", tanya bu Herlina dengan dahi berkerut.
"Pak Restu ma !...pria idaman adek, GM di perusahaan DomTrav. Dia itu langganan adek, hampir tiap hari pesan katering kita", terang Farada dengan wajah berbinar.
Lalu Farada menceritakan asal muasal bertemu dengan Restu, sampai bagaimana dia mengidolakan pria itu. Tak lupa menceritakan bentuk wajah dan tingginya Restu secara detil, walau hanya perkiraan.
"Tuhkan, makanya jangan nolak - nolak, kamu kan awalnya nggak mau, malah kabur ke Jepang, nyeselkan?".
"Nggak nyesel sih, kan dapat liburan dan ketemuan sama pak Restu juga jadi..whee!", jawab Farada mencibir, "kalo waktu itu adek ketemuan, berangkatnya kan batal, ya kaann? awww...sakit mama!, nyubit mulu nih", Farada menjauh dari mamanya sambil mengusap - usap bahunya kembali menahan perih bekas cubitan sang mama.
Ibu dan anak itu kemudian tertawa senang, hanya pak Handoko yang sedari tadi diam tanpa komentar dengan tatapan yang sulit di artikan memandang anaknya.
***
Di tempat lain ..
"Res, gimana hari ini?, lancar?", tanya bu Iin ketika Restu setelah selesai mandi dan baru keluar dari kamarnya.
"Lancar bu...", jawab Restu sambjl duduk di atas karpet berbulu di ruang keluarga. Sedangkan Ibu Iin berada di atas sofa hanya berjarak satu meter dari anaknya itu.
"Trus, kamu sudah hubungi Fara?".
"Hmm...udah, ternyata cewek itu sering ketemu sama abang bu. Dia pemilik katering langganan karyawan di kantor".
__ADS_1
"Iya, kan waktu itu staf kamu itu, si Bimo udah ngomong...eh ya, orangnya baik kan?".
Restu diam sebentar, dia sedang mencari jawaban yang tepat, "baik sih, cantik juga, cuma abang perlu mendalami karakternya, kayaknya dia agresif kalo abang lihat".
"Nah, cocok itu sama sifat kamu yang kuper dan pendiam, jadi bisa saling mengisi nanti", sambung bu Herlina kemudian.
"Ckk..kuper, abang bukan kuper bu tapi..."
"...tapi kamu kurang bergaul!, kamu hanya kerja, kerja dan kerja", potong Ibu nya cepat, "trus, gimana lanjutan omongan tadi, ngomong apa aja sama dia?".
"Aku ajak dia untuk temani abang ke acara resepsi nikahnya rekan bisnis ku di darmawangsa, tiga hari lagi".
"Bagus itu, tapi dia mau kan?", tanya bu Herlina. Restu mengangguk, "mau,...abang ke ruang kerja dulu bu, ada yang mau ku kerjain", jawab Restu sambil berdiri berlalu meninggalkan Ibunya yang kemudian mengambil ponsel berniat hubungi adiknya, Ibu Gendis.
Keesokan hari...
Bimo sekitar jam 9 pagi tanpa di sangka sudah berada di toko Farada. Sedangkan Farada sendiri belum datang, dia hari itu ada urusan di luar hingga telat datang.
"Siang, mau tanya mbak Fara ada?", katanya menghampiri meja Dian. Gadis itu memperhatikan Bimo sejenak, "belum datang mas, ada perlu apa ya?, mau order bisa lewat saya kok", jawab Dian sambil sedikit tersenyum, bukankah dengan konsumen harus ramah?.
"Biasanya sih datang, tapi mungkin on the way, dia nggak ngabarin soalnya, ada apa mas?, oh ya..mas yang tempo hari pernah datang kesini kan?".
"Iya mbak...".
"Panggil saya Dian aja mas".
"Oh ya saya dengan Bimo, nggak ada apa sih mbak Dian, cuma ada perlu, pribadi soalnya", tutur Bimo sambil melirik brosur paket minuman. "Kalo gitu, saya pesan cappucino yang ini aja mbak, saya tunggu aja".
"Oh oke, sebentar kami siapkan, silahkan mas Bimo tunggu duduk disana ya", ujar Dian menunjuk ke sebuah ruangan di bagian pojok. Suasana pengunjung belum terlalu ramai pagi itu.
Selang tak berapa lama kemudian, muncul Farada dengan sedikit tergesa masuk menghampiri meja kasir, ke tempat Dian.
"Kak, di cari tuh!", katanya menyongsong kedatangan Farada. "Siapa?", ujar Farada sambil menengok kearah yang di tunjukkan Dian. "Ngapain pak Bimo mencari gue?", gumamnya pelan sambil mengangguk ke arah Bimo yang melambaikan tangan memanggil Farada.
__ADS_1
"Siapa dia kak?", tanya Dian penasaran.
"Orang kantor DomTrav", Farada lalu menghampiri Bimo.
"Pak Bimo mencari saya?" sapa Farada sopan.
Bimo mengangguk, "Iya, cuma mau ngobrol aja sih, sekalian mau nanya".
"Nanya?...nanya apaan pak?", Farada mengernyitkan dahi, Ia selentingan dapat kabar dari Artika bahwa pria itu naksir dirinya, dia harus hati - hati, karena track record Bimo yang play boy.
"Kalo di luar kantor jangan panggil pak dong...", cengir Bimo melemparkan senyum mautnya, "umur kita nggak begitu jauh, saya masih single, saya merasa tua kalo di panggil bapak hehe, panggil aja mas atau kak".
Farada tak bereaksi, Ia sudah bersiap membentengi dirinya. "Maaf, saya tak bisa berlama - lama, ada apa ya mencari saya?".
"Wah..kamu orangnya nggak suka basa basi ya?", ujar Bimo kemudian, "saya mau tanya, kemarin kamu pergi dengan pak Restu, dia ngomong apa?".
"Oh itu, maksudnya ngomongin pak Bimo?, nggak ada sih?", jawab Farada masih memakai embel - embel pak, "pak Bimo ada masalah dengan pak Restu?".
"Yaa..bapak lagi...panggil mas aja. Bukan masalah sebenarnya, cuma pengen tau aja, soalnya kalo saya lihat pak Restu itu naksir kamu".
Aiihhh...pak eh mas Restu naksir gue? wajah Farada berubah sumringah, "masak sih pak?, pak Bimo tau dari mana?", ujar Farada penasaran.
Lain halnya dengan Bimo, ketika dia melihat perubahan mimik wajah Farada, disitu pria itu sudah bisa menebak, bahwa Farada pun juga suka pada atasannya tersebut. Dan, itu bukan berita yang bagus bagi dirinya.
"Ya tau lah!, emang kamu juga suka sama pak Restu yang kayak kulkas itu?, bahkan saya selama kerja di DomTrav, belum pernah sekalipun pak Restu dekat dengan perempuan, atau ..jangan - jangan dia itu belok", terang Bimo sedang berusaha meyakinkan Farada untuk mundur menyukai pria itu.
Farada tidak menyukai kalimat Bimo, ternyata pak Bimo ini adalah pria yang menyebalkan! pikirnya. "Kok pak Bimo ngomong kayak gitu, nggak baik loh jelekin orang, belum tentu orangnya seperti yang pak Bimo katakan", tutur Farada mulai menunjukkan aura tak suka, "Maaf pak Bimo, saya harus meninggalkan pak Bimo, saya banyak kerjaan di belakang, silahkan di minum kopinya", tunjuk Farada ke arah segelas cappucino yang sudah di antar salah seorang karyawannya. Lalu, tanpa persetujuan Bimo, Farada kemudian berlalu dari situ.
Bimo hanya menatap punggung Farada, dia pikir Farada begitu mudah dia dekati, ternyata tidak! , gue harus taklukan ini cewek, penasaran gue! batinnya.
-
-
__ADS_1
Lanjut