Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Hibur diri atau ... membuat kenangan?


__ADS_3

"Serius! kita mau kemana ini?" Farada melihat jalanan, tapi sepertinya bukan jalan arah pulang ke rumahnya.


"Santai, Nona. Kita ambil jalan memutar. Sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini, kan? Sebentar lagi kamu mau menikah, nanti udah nggak bisa he he ...."


Farada menoleh, wajah Molan terlihat santai seperti tidak ada beban mengatakan itu. Kenapa dia tidak suka?


"Hei! kok ngeliatin aku seperti itu? Ada yang aneh dengan mukaku ini?" Molan melirik ke kaca, memastikan di wajahnya tidak ada apa-apa.


Farada buru-buru memalingkan wajahnya ke depan.


"Ayolah! Jangan seperti ini. Calon pengantin itu harus ceria, harus gembira. Dua minggu lagi ... hidup kamu akan berubah. Kehidupan yang tidak akan sama lagi dengan waktu lajang, ya kan?" Molan lalu tersenyum simpul.


"Bisa nggak, kita jangan ngomongin tentang pernikahan?" ujar Farada menoleh dengan tajam. Senyummu ... menyakitkan, Molan! Kenapa dia bisa begitu santai ngomongnya? Apa rasa itu sudah hilang? Farada membatin.


Molan terkekeh, "Ya sudah, kalau gitu sekarang kita senang-senang!" Molan menepikan kendaraannya. "Hari ini, kamu nurut sama aku ya. Sekali ini aja, Oke?" pintanya sambil mengarahkan badannya ke Farada.


Dahi Farada mengernyit, dia segera bersikap waspada, "M-maksud kamu?"


"Aishhh!" Molan ingin menyentil kening Farada tapi tidak jadi dilakukannya. "Sikap kamu itu, kayak mau dilecehkan aja!" cengir Molan kembali tertawa.


Muka Farada bersemu merah, teringat kejadian sewaktu di Sapporo ketika pria tersebut hampir menciumnya karena ingin menghindari Donna. "Ih! Yaudah, apa?" ujar Farada sambil melotot.


Molan meraih ponselnya di nakas mobil, kemudian mematikan powernya, "Hari ini, kita bergembira, kita nikmati hari ini tanpa ada gangguan siapa-siapa, Oke? Sekarang matikan ponsel kamu!"


Farada sejenak memikirkan permintaan Molan yang tergolong aneh itu. Dia merencanakan apa? tapi ... nggak ada salahnya juga menurutinya. Baiklah!


Farada mengambil ponselnya dari dalam tas, kemudian mematikannya. "Sekarang, apa?"


Molan hanya tersenyum dan langsung memacu kendaraannya menuju tol lingkar luar kota.


"Kamu belum jawab, kita ini mau kemana? Kok masuk tol?"


"Tenang aja, kita ke puncak! Kita satu hari ini menyegarkan pikiran, menyegarkan otak!" jawab Molan sambil menambah kecepatan mobilnya meliuk di jalanan yang tidak begitu ramai hari ini.


Farada manggut-manggut. Sebuah ide yang bagus. Bukankah beberapa hari ini pikirannya sangat tersita? kurang tidur juga.


Molan? ... Pria yang selalu punya cara untuk menghiburnya dengan tindakannya yang tak terduga. Rekaman main ski di Sapporo Jepang, jalan-jalan malam di Jogyakarta mencari gudeg, sampai beberapa kali menghiburnya mengajak ke pantai di Bali. Ah ya ... Jangan lupa, pria yang terkadang bisa sangat menyebalkan ini pernah tiba-tiba langsung menceburkan diri di kolam berenang dengan pakaian lengkap, hanya untuk membuatnya kembali tersenyum kala dia bersedih.

__ADS_1


Hatinya mencelos. Dia hanya duduk terdiam melihat jalanan tanpa pedulikan Molan yang membawa kendaraan bak seorang pembalap. Dia pikir, sekarang ini ... Dia tak tahu, apakah Molan saat ini sedang dalam mode menghiburnya, atau ... Mengobati hatinya sendiri dan ingin meninggalkan kenangan?


Tanpa sadar, Farada tertidur. Butiran bening di pinggir kelopak matanya yang tertutup, menggenang.


Molan pun melambatkan laju kendaraannya. Dia menoleh menperhatikan wajah Farada yang begitu damai dalam tidurnya. Lelaki itu bertarung dengan pikirannya sendiri. Apakah bisa nantinya dia menerima gadis di sampingnya ini menjadi 'kakak ipar?'


Dia berusaha berdamai dengan keinginannya, berusaha mengikhlaskan Farada. Untuk itu, dia akan berbuat sesuatu. Dia mengusulkan dirinya yang memimpin persiapan dan segala sesuatunya untuk kelancaran pernikahan Farada. Besok, dia akan terbang ke Bali. Setelah itu? ... Dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan nanti.


"Farada, bangun! Kita sudah sampai." Molan kemudian menepikan kendaraannya di sebuah warung kecil. Datarannya yang tinggi, serta hamparan kebun teh yang luas di sekelilingnya memberikan kesan eksotis pada lokasi warung tersebut.


Farada mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidurnya begitu nyenyak terasa.


"Kita dimana?" katanya sambil melakukan peregangan otot.


"Tuh!" tunjuk Molan ke samping. Warung tersebut berada sedikit diatas. Warung yang menyediakan berbagai makanan tradisional, seperti mie, kacang rebus dan tak ketinggalan jagung bakar.


"Waaahh...disini indah sekali!" Farada menghirup udara dalam-dalam, "kita makan mie, yuk!"


"Memang itu rencananya ha ha, ayo!"


Molan dan Farada memasuki warung itu yang langsung di sambut sang penjaga warung dengan wajah sumringah. Berdua mereka sepakat memesan indomie rebus terlebih dahulu, sebelum lanjut ke makanan lain.


"Jadi ingat waktu makan ramen waktu di Jepang," ujar Molan tersenyum tipis.


"Iya, waktu itu kamu nggak doyan mie, kan?" tunjuk Farada sambil tertawa mengingat kejadian itu. Awal perkenalan mereka yang tak ada romantis-romantisnya.


Molan kembali tersenyum, dia memperhatikan wajah Farada lekat-lekat. "Karena itu pertama kalinya aku makan mie, dulu anti. Eh sekarang malah jadi doyan!"


"Makanya, segala sesuatu itu jangan ditolak dulu, ya kan?"


Molan pun mengangguk.


Tiba-tiba Farada teringat sesuatu, "Oh ya, aku mau tanya satu hal. Dulu ... Malam-malam kamu pernah menelpon aku, ada apa?"


"Hah?" Kening Molan berkerut berusaha mengingat, "Oohh ... Yang telponnya nggak kamu angkat ya?"


"Bukan nggak mau, aku ragu-ragu, tapi ... Setelah itu aku telpon balik, handphone kamu nggak aktif!"

__ADS_1


"Iya, ponselku lowbat setelahnya," ujar Molan berbohong.


"Memangnya, kamu mau ngapain telpon aku?"


"Mau ... Ngajak makan mie he he."


Farada terdiam, dia memperhatikan muka Molan yang tertawa sumbang.


"Kenapa?"


"Maaf ..." lirih gadis itu sambil menunduk.


"Nggak apa-apa, sudah lama juga kan? Lagian, sekarang kita bisa makan mie he he he."


"Bisa nggak, jangan ketawa!" tegas Farada dengan raut menggambarkan kesedihan.


"Hah?" Mata Molan membola. Dia bingung dengan sikap Farada mendadak berubah, "K .. kenapa?"


"Ketawa kamu itu ... menyakitkan, tau nggak?" Air mata Farada menetes. "Aku tau kamu sebenarnya sedih karena aku, kan?"


Molan terdiam, dia mengakui itu. "B..bukan begit_"


"Kenapa ... kamu yang harus mengajukan diri untuk mengurus pernikahan aku! Padahal, kamu sedang terluka?" Farada kemudian berusaha menyeka air matanya, "Kenapa ... Kamu mencintai aku seperti itu? Karna apa ...?" sambung Farada dengan air mata makin bercucuran. Dada gadis itu terasa sesak.


Molan masih diam. Pria itu mengalihkan pandangannya menatap hamparan kebun teh.


"Jawab, Molan!"


"Karena kamu Farada Anastha... Ya, karna kamu!"


Bahu Farada terguncang menahan tangis, mukanya tertunduk dengan air mata tak bisa dia bendung.


Hening terjadi beberapa saat. Molan menggigit bibir bawah, dia membiarkan Farada menumpahkan seluruh emosinya. Lelaki itu mengedarkan pandangan menatap bukit di depannya itu. Sampai akhirnya Farada tenang. Gadis itu menghapus air matanya dengan tisu, hanya isak tangisnya masih tersisa.


"Aishh...Udah ah, kamu membuat aku seperti suami yang sedang melakukan KDRT. Tuh ... liat, ibu warung sampai takut mau nganterin mie kita. Yaah ...jadi mekar dah mie nya!" guyon Molan dengan muka konyolnya.


"Diam!" bentak Farada sambil membuang ingusnya dengan kasar memakai tisu.

__ADS_1


"Dih, jorok!"


"Biarin!"


__ADS_2