Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Tangisan Farada


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, suasana berubah menjadi canggung. Beberapa saat tak ada yang mau membuka suara. Farada yang sedang sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk dan Molan yang dilanda kebingungan melihat perubahan Farada yang tiba - tiba murung setelah komunikasi dengan mamanya tadi. Bahkan, gudeg yang katanya salah makanan favorit gadis itu malah tidak disentuh dan harus di bungkus.


Hari semakin larut malam, Molan melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melirik Farada yang pandangannya tak bergeming melihat kaca menatap lalu lalang kendaraan yang sudah mulai sepi. Butir - butir bening menyelinap ke luar dari sudut matanya, lalu bergulir pelan menelusuri lekuk wajahnya.


"Fara-"


Farada buru - buru menyeka air matanya, "Maaf, aku-"


"Kamu nggak apa - apa?" tanya Molan


"Ya, aku baik - baik aja," jawab Farada dan berusaha mengendalikan hati dan pikiran yang berkecamuk.


"Aha!...gimana kalau kita pergi ke suatu tempat dulu, aku tahu tempat yang paling tepat untuk melihat keindahan Merapi di malam hari..." Molan menjeda, dia melihat ke arah atas lewat kaca depan, "...kebetulan cuaca lagi cerah, ma-" ucapan Molan terhenti.


Tangisan Farada justru semakin menjadi. Dia tersedu - sedu dengan suara lirih. Kepalanya di tundukkan. Bahunya berguncang - guncang.


Molan tertegun seperti orang dungu disampingnya, makin bingung. Dia segera menepikan mobil dan berhenti. Apa omongan gue ada yang salah?


Lalu, dengan kikuk Molan mengulurkan tangannya menggapai lengan Farada yang masih tersedu dan menarik bahu gadis itu kemudian mengusap kepalanya dengan lembut. Alhasil, tangis Farada pun makin pecah, bukan tersedu lagi.


Ada apa sebenarnya? Mengapa tiba - tiba dia menangis? Mengapa pula gue ikut merasa pilu?


Sejenak Molan membiarkan Farada menangis dalam rengkuhannya. Cukup lama itu berlangsung, sampai perlahan akhirnya emosi Farada surut dan isak pun memudar. Dia mengangkat wajahnya yang masih dalam pelukan Molan, membuat pandangan mereka bertemu. Ingin rasanya Molan mengecup lembut bibir Farada tapi itu tak Ia lakukan. Ia tak ingin mengambil kesempatan disaat gadis itu bersedih.


Farada kemudian tersenyum tipis dan menyeka sisa air matanya, "Trima kasih, Tuan Muda, kamu baik sekali." Gadis itu kemudian melepaskan diri dari rengkuhan Molan dengan sopan, lalu kembali ke posisi duduknya, "Kita kembali ke hotel aja ya. Aku ngantuk pengen tidur, nggak apa - apa kan?"


Molan berdehem, berusaha menutupi perasaan canggung yang menyergapnya tiba - tiba. Ia mengangguk serta menjalankan mobilnya kembali menuju hotel.

__ADS_1


Baru saja mobil bergerak maju, ponsel Molan bergetar. Awalnya dia mengabaikan panggilan itu, tapi setelah berulang kali, baru tangannya meraih gawainya tersebut di kantong. Om Herwanto! gumamnya pelan. Molan pun memasang earphone nya.


"Halo Om?"


"Malam Tuan Muda, kemana saja Tuan dari tadi di cari - cari pegawai hotel?"


"Di cari siapa Om? Nggak ada siapa - siapa yang menghubungi dari tadi? Ada apa Om nelpon malam - malam gini?" Molan mencoba melihat layar jikalau ada yang menghubunginya, tapi tak ada satu pun dari pihak hotel.


"Om mau kasih tahu dua poin penting. Satu berita dari hotel, bahwa besok malam tidak jadi pertemuan dengan Mr. Colin Ferdinand karena mendadak malam ini juga beliau harus terbang ke Australia, sebab anaknya kecelakaan dua jam yang lalu. Tadi beliau dan utusannya menemui Tuan Muda ke kamar untuk pamit tapi nggak ada, akhirnya beliau menghubungi saya dan Tuan Besar tadi. Jadi, besok Farada dan Tissa, pagi jam sepuluh sudah take off ke Bali." Kata Herwanto, "nah...khusus Tuan Muda, maaf ini perintah langsung dari Tuan Besar...besok pagi - pagi jam sepuluh juga, Tuan Muda harus segera berangkat ke Jakarta, beliau menunggu di mansion."


Molan Berdecak kesal, "Ah! Kenapa harus Om sih yang jadi juru bicara papa? kenapa papa nggak ngabari aku langsung? Ribet amat!"


"Maaf, Tuan Muda...mungkin Tuan bisa tanya langsung ke beliau ya. So-"


Molan langsung mematikan sambungan telepon. Ia meletakkan earphone dengan kasar.


Molan tak menanggapi omelan Farada dia hanya diam saja. Wajah kesalnya begitu kentara.


"Oh ya, besok kamu dan Tissa harus segera terbang ke Bali, jam sepuluh. Anaknya Mr. Ferdinand kecelakaan, jadi dia harus kembali malam ini. Besok pelatihan tidak di lanjutkan." ujarnya di sela rasa kesal.


"Ya ampun, kasihan sekali mentor itu...trus, kamu gimana?" tanya Farada.


"Itu dia, makanya aku kesal sama papa, besok aku harus ke Jakarta, papa menunggu, penting katanya," jawab Molan, "Ngapain coba beritahunya lewat Om Herwanto, langsung telpon kan bisa!" dengusnya kemudian.


"Nggak baik begitu, mungkin Tuan Besar udah menghubungi kamu tapi kamu nya nggak sadar, coba cek handphone dulu!"


Molan tak bersuara, dia berikan ponsel bergambar apel tergigit separuh nya pada Farada, "Coba kamu aja yang cek."

__ADS_1


Farada menerimanya dan melihat notifikasi - notifikasi. "Ini banyak notifikasi di ponsel kamu, hm...nggak ada sih, tapi panggilan tak terjawab dari nama Big Boss ini, siapa?"


Molan langsung menoleh, " Ya itu...papa! notifikasi aku mute, hehe" cengirnya tanpa rasa bersalah.


Farada langsung melayangkan cubitan di lengan Molan. "Ish...Anak durhaka!"


"Aduh, kamu andalannya kenapa cubitan sih, sakit tau! Aku lagi nyetir, ntar kenapa - kenapa, kita nggak bisa nikah lho!"


Seketika, muka Farada langsung berubah murung kembali.


***


Farada berjalan lesu di lorong menuju kamarnya di lantai sembilan, sedangkan Molan masih berada dibawah karena ada yang mau ditanyakan ke pihak hotel mengenai Mr. Ferdinand tadi. Sebelum masuk kamar, gadis itu menoleh terlebih dahulu ke kamar Molan yang tepat di seberang kamarnya, seolah pria itu ada di depan pintu. Ia berdiri lunglai, punggungnya disandarkan ke dinding dekat pintu masuk, butiran bening pun kembali menganak di matanya.


Benarkah dia akan segera menikah dengan Restu? Benarkah dia menginginkan pria itu atau hanya sekedar mengaguminya saja? Lalu bagaimana dengan Molan yang mulai mengisi hatinya ini? Dilema. Ya Tuhan, tolonglah hambaMu ini


Setelah cukup puas merenung, dia menyeka air matanya dan menepuk - nepuk kedua pipi agar raut mukanya tidak terlihat habis menangis. Dia belum ingin Tissa, sahabatnya itu mengetahui apa yang dia alami saat ini. Farada kemudian mengambil kunci kamar dan melangkah masuk. Dan gadis itu tidak menyadari, bahwa di ujung lorong depan lift di balik tiang besar, Molan sedang berdiam diri memperhatikannya.


Farada sampai di dalam langsung di sambut Tissa yang mencak - mencak karena menunggunya. Sahabatnya itu baru saja selesai berbenah karena besok harus kembali ke Bali.


"Ya ampun Fara...dari tadi di tungguin, tau nggak besok pagi kita harus kembali ke Bali, tadi kamu di cariin, Hp ku low bat jadi nggak bisa ngabari kamu. Cepat, beresin barang - barang ka-" Tissa langsung berhenti berkata - kata, dia melihat ada yang aneh di wajah Farada, mukanya sembab, seperti habis menangis. Apa ada sesuatu yang terjadi?


"Aku udah tau," jawab Farada pendek.


Tissa justru menangkup kedua pipi Farada, "Katakan! Kamu di apain sama Tuan Muda? Kamu habis menangis?" Pikiran negatif menghampiri benak Tissa.


Farada menepis tangan Tissa dengan perlahan, "Nggak di apa-apain, jangan mikir aneh - aneh deh!"

__ADS_1


Kemudian Farada menuju kamar untuk bersiap mandi air hangat. Dia butuh air untuk menenangkan isi kepalanya.


__ADS_2