Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Restu sedang bersama siapa?


__ADS_3

Molan berdecak pelan, Ia tengah mempelajari berkas dari Hendro pengacara malam kemarin, baru malam ini dia lihat. Berkas yang seharusnya siang tadi harus sudah di tanda tangani dan berkas copy-an nya dikembalikan, sejak pagi tergeletak begitu saja tanpa disentuh.


Perusahaan dan Kekayaan Papanya sangatlah banyak, hingga Ia harus mencermati kalimat yang tertulis di berkas itu karena ada beberapa hal belum dimengerti. Misalnya, entah apa maksud Papanya, dari seluruh perusahaan yang di wariskan, dia dan Restu selalu terlibat berdua di dalamnya, tidak dipisah, kepemilikannya pun juga berdua. Kecuali, perhotelan boleh dibilang sepenuhnya dilimpahkan padanya, Restu cuma 10 persen dari kepemilikan saham. Walau begitu, dalam klausa tertulis Restu tetap di haruskan terlibat dalam pelaksanaan operasional. Apa maksudnya?


Tak terasa sudah lebih dari dua jam dia berada di atas ranjang mempelajari bundelan berkas itu, perutnya melilit. Dia baru ingat belum makan sejak siang tadi. Padahal, Bik Minah sudah cerewat sejak tadi menyuruhnya untuk segera makan.


Jam sudah menunjukkan pukul 20.00, Molan turun dari ranjang, dia memang tak biasa dilayani agar makanan diantar ke kamar, walau tadi Bik Minah pun menawarkannya. Molan menuruni lantai dua menuju ruang dapur tempat dia biasa makan disitu, tidak di ruang makan keluarga yang besar. Di meja walau sudah ada makanan dan lauk terhidang, tapi dia tak berselera memakannya, biar besok untuk Bik Minah saja, pikir Molan.


Molan membuka salah satu lemari kecil kitchen set yang berisi beberapa stok makanan instan, matanya lalu tertuju pada beberapa cup mie instan berbagai merek yang di tumpuk rapi oleh Bik Minah. Dia tertegun. Dulu, makanan instan ini adalah makanan yang paling dia hindari, tapi sejak kejadian di Sapporo Jepang, ketika dia terjebak di bukit salju dengan Farada, makanan ini menjadi favoritnya.


Farada, ah! Mengingat nama itu, pikirannya langsung berkelana. Ternyata momen kecil pun membuat dia teringat akan gadis yang telah membuatnya jatuh cinta itu. Apa bisa nanti, dia menerima dan hidup berdampingan dengan Farada, sebagai kakak ipar?


Molan terduduk begitu saja di kursi makan tak berbuat apa-apa. Tiba-tiba dia punya ide.


***


Di tempat lain...

__ADS_1


Farada baru saja hendak pulang dari kafe bertemu Dian, setelah siangnya gadis itu bertemu dengan Wedding Organization membahas tentang dekorasi tema pernikahan dirinya dengan Restu. Seharusnya tadi sudah bisa diputuskan namun karena Restu tidak bisa meninggalkan pekerjaannya yang harus bertemu dengan pimpinan partner kerjasama proyek, akhirnya cuma Farada sendiri yang datang. Meeting itu tak bisa Restu tinggalkan karena dia akan menyerahkan pekerjaan tersebut ke penggantinya nanti. Jangan lupakan, bahwa mulai bulan depan Restu segera resign dari DomTrav tersebut. Hal yang nantinya baru diketahui oleh Farada setelah beberapa hari kemudian.


Farada baru mau pesan taksi, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia langsung merogoh tas tangannya, dia pikir Restu yang menghubungi balik, karena tadi sempat dia hubungi namun tak menjawab. Memang, Restu sudah mengabari bahwa dia akan lembur dan kemungkinan sampai malam hari baru selesai.


Tapi, dugaannya salah!


Dia menatap layar gawainya agak lama, nama Si Konyol terpampang jelas disitu. Dia belum berani mengangkat, masih tak percaya Molan akan menelponnya, setelah sekian hari lamanya tak ada komunikasi. Farada mencoba mengatur detak jantungnya yang tak beraturan, walau telah bertemu beberapa kali sebelumnya, tapi ini dalam situasi yang sudah berbeda. Jujur, dia memang merindukan pria konyol yang sempat menyita pikirannya itu, walau hanya sekedar berbincang, tentang apa saja.


Setelah napasnya teratur, dia berniat akan menekan tombol hijau di layar, tapi panggilan sudah keburu di putus oleh Molan. Ish... dimatiin!


Sementara Molan di seberang sana duduk bertopang dagu, dia termangu, ponselnya dia letakkan begitu saja di meja setelah Farada yang dia coba hubungi tak menjawab panggilan. Padahal, dua buah mie instan sudah dia siapkan sedari tadi dan berniat memakannya dengan Farada jika gadis itu mau.


Bodohnya dia masih berpikir kalau Farada mau menerima panggilannya setelah semua ini bakal terjadi. Molan tak berniat lagi untuk menghubungi, mungkin saat ini Farada sedang bersama Restu atau memang gadis itu sudah memberikan batas tinggi dan tak mau berbicara dengannya lagi. Ya sudahlah! Lalu, ponsel di meja dia raih dan kemudian menekan tombol off power, mematikan gawai.


Agar pikirannya tidak melebar kemana-mana, lebih baik dia segera keluar mencari udara segar. Makan roti bakar dan segelas kopi mungkin saat ini adalah solusi yang tepat. Dia kemudian bersiap berganti pakaian dan meraih kunci mobil untuk segera pergi. Tanpa dia ketahui, di tempat lain diseberang sana, Farada sedang mencak-mencak tak karuan setelah gadis itu akhirnya menurunkan ego lalu mencoba menghubungi balik nomor Molan tapi tak bisa terhubung, karena handphone pria itu telah dimatikan.


***

__ADS_1


Molan melajukan kendaraannya membelah arus jalanan yang sudah mulai mengurai dari kepadatan sore hari. Kawasan Mahakam di daerah Blok M adalah tujuannya, merupakan sebuah tempat yang sangat di gandrungi anak-anak muda Jakarta Selatan saat ini untuk sekedar berkumpul di kafe-kafe dan mencicipi berbagai makanan jenis rupa di malam hari.


Entah berapa kali Molan harus berputar-putar untuk mencari tempat parkir mobil, ternyata malam ini memang ramai hingga parkiran penuh sampai ketika sebuah mobil Avanza hitam terlihat keluar, Molan langsung masuk sebelum mobil dari arah depan seperti hendak menyerobotnya.


Dia memarkirkan mobil sport nya disamping mobil sedan Camry hitam. Dan ketika bersiap turun dari mobil, Molan tertegun. Pria itu menajamkan penglihatannya kearah depan berjarak sekitar lima belas meter dari posisinya saat ini. Terlihat seseorang laki-laki yang seperti Restu sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Tapi tunggu! Itu sepertinya bukan Farada.


Molan memastikan lagi penglihatannya, benar itu bukan Farada, tapi siapa? Jelas, pria itu Restu namun dia tak mengenal perempuan yang masih berpakaian blazer kantoran lawan bicaranya. Restu sedang bersama siapa? Molan berdiam diri sejenak, dia menyandarkan punggungnya ke kursi jok sambil tetap tak melepaskan pandangannya memperhatikan gerak gerik mereka berbicara. Mereka mengobrol akrab dan sepertinya pulang kantor langsung ke tempat ini, terlihat dari pakaian Restu yang memakai kemeja putih walau di gulung sedikit ke atas.


Wanita yang di depan Restu itu terlihat lebih banyak berbicara, kedua tangan dia letakkan di meja dengan gestur badan condong ke depan, sedangkan Restu sendiri terlihat hanya manggut-manggut saja, dan sesekali menimpali.


Mungkinkah itu sekretaris atau rekan bisnisnya Restu? Pikir Molan bermonolog sendiri.


Setelah lama berdiam diri, akhirnya Molan keluar dari mobilnya, dan berjalan menghampiri kedua orang yang sedang asyik berbicara tersebut.


"Halo, Res?"


Restu terdongak dan memalingkan wajahnya ke sumber suara di sampingnya. Rona mukanya berubah ketika dia mengetahui siapa yang menegurnya itu.

__ADS_1


__ADS_2