Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Berkabung


__ADS_3

"Oh, jadi kamu yang namanya Samantha?" ujar Molan setelah Restu memperkenalkan wanita yang sedang bersamanya, dan tanpa basa basi lalu mengambil salah satu kursi dan duduk bergabung begitu saja disitu.


Samantha tidak langsung menjawab, dia memperbaiki posisi duduknya. "Maaf, Anda mengenal saya?" tanya gadis yang ternyata bernama Samantha itu dengan heran. Seingatnya, dia baru kali ini bertemu dengan lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Molan itu, tapi pria yang wajahnya bak Johnny Depp tersebut seperti pernah mengenalnya, dari caranya bertanya.


Molan meletakkan ponselnya di meja, tersenyum seolah mengerti apa yang dipikirkan wanita di samping kanannya itu. "Saya tahu nama kamu dari seseorang, secara personal kita memang tidak saling mengenal."


Samantha mengernyitkan dahi. Seseorang?


Begitupun halnya dengan Restu, dia juga terkejut dengan cara dan sikap Molan menyebut nama Samantha. Dia melirik kearah adiknya dengan pandangan sinis. "Kau, ada keperluan apa datang kesini?" tanya Restu mengalihkan sikap Molan terhadap Samantha.


"Ini tempat umum brader, santai dong. Siapa saja bisa datang kesini, bukan?" jawab Molan mengerling tajam membalas pandangan mata Restu sambil memajukan badan ke depan meja.


Situasi ini makin membuat Samantha heran bercampur bingung dengan sikap kedua pria yang baru bertemu ini, sepertinya ada sesuatu yang aneh menurutnya. Gadis itu melirik Restu seolah minta jawaban, mengapa pria yang baru datang ini tiba-tiba menunjukkan sikap tidak bersahabat terhadap Restu.


"Dia, adik saya!" tegas Restu seolah menjawab tanya yang ada di benak Samantha.


Mata Samantha membola, tercengang. "Oh, kamu mempunyai adik?" tanya Samantha lalu menyipitkan mata, ini fakta baru yang diketahui, karena setahunya dari dulu, Restu adalah anak tunggal. Kemudian, gadis itu melihat kearah Molan dan Restu secara bergantian, mencari kesamaan dalam rupa. Garis wajahnya ada kemiripan sih tapi mereka terlihat seumuran, tarikan alis mata dan rahang mereka sama, namun Restu terlihat lebih dewasa, mungkin karena perawakannya yang kalem, sedangkan satu lagi lebih ceria dan terbuka, Samantha menilai kedua pria di depannya ini dalam hati.


"Tepatnya, kami pun baru tahu kalau ternyata bersaudara," cetus Molan menggerakkan telunjuk angkat bicara, "Restu ini adalah--"


"Panjang kalau diceritakan disini," ketus Restu memotong kalimat Molan, "intinya kami bersaudara yang baru bertemu."


"Oh gitu," Samantha mengangguk beberapa kali. Walau tak mengerti dengan apa yang dikatakan Restu, tapi baiknya dia sudahi saja dan tak ingin menanyakan lagi tentang hal itu. Sepertinya memang ada 'polemik' yang terjadi di antara mereka yang katanya bersaudara tersebut.


"Ehm, Molan...kamu tahu dari mana tentang saya?" Samantha mengulang pertanyaan yang tadi belum terjawab. Dia penasaran dan mencoba menebak, apa mungkin Restu yang bercerita tentang dirinya?


"Dari...Sitta Angelina," jawab Molan datar, Ia ingin melihat reaksi kedua orang yang duduk di sisi kiri-kanannya itu.

__ADS_1


"Hah!?" Restu dan Samantha bersuara secara bersamaan, terutama Restu, tubuhnya langsung menegang, dia menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Sitta?" Restu mengulangnya, dia mencoba mengatur napas agar terlihat normal. Tapi, Molan sudah mengetahui gelagat Restu bahwa pria itu sedang berpura-pura tenang.


Tiba-tiba, Molan berdiri lalu berbisik ke telinganya Restu yang masih duduk. "Gue mau ngobrol sebentar, ayo!" cetus Molan, dia menjeda menoleh ke Samantha, "Sori, saya ada perlu sebentar dengan Kakak saya ini!" imbuhnya menyentak lamunan Samantha yang tadi sempat terdiam, dan tanpa menunggu jawaban, Molan melangkah ke arah parkir mobil diikuti Restu.


Sementara, Samantha hanya memandang kedua pria yang berjalan beriringan tersebut dengan perasaan cemas, takut terjadi insiden karena dari awal, sikap keduanya sudah terlihat seperti bermusuhan. Siapa sebenarnya Molan itu? Kok bisa kenal dengan Sita?


"Res..." Molan langsung buka suara ketika mereka berdua sampai di parkiran mobil, "gue belum ikhlas menerima elu sebagai saudara gue tapi faktanya memang begitu, lu posisinya sebagai Kakak bagi gue walau umur kita cuma berjarak satu tahun," Molan menjeda, "tapi, gue nggak bahas tentang adik-kakak sama lu. Gue cuma mau wanti-wanti...kalau Elu nggak cinta sama Farada, lepaskan dia!" Molan lalu mendekatkan wajahnya ke Restu dengan rahang mengeras dan telunjuknya menekan dada Restu. "Gue tahu, Lu memendam cinta terhadap orang lain, antara Sita dan Samantha! Gue nggak tau. Tapi...sadar nggak? Kalau begini caranya, lu akan mengulang kesalahan Tuan Besar dan Ibu Soraya?"


Tubuh Restu menegang mendengar kalimat menohok tersebut, tangannya terkepal di bawah, Ia ingin marah tapi emosinya segera dikuasainya mengingat saat ini sedang berada di tempat umum.


"Tau kenapa? Karena yang menjadi korbannya Farada seumur hidup. Seperti hal mama gue! Karena tuan besar tak pernah mencintainya!" Lalu Molan tertawa sumbang.


"Aku akan tetap menikahi Farada!"


Tiba-tiba ponsel Molan dan Restu berdering bersamaan. Mereka berdua mendapat pesan singkat yang berisi sama...


Di tunggu sekarang juga di RS. Harapan K*ta, Tuan Besar kritis!


***


Sore ini...


Suasana berkabung menyelimuti keluarga besar S.Erick Mahendrata. Sang tuan besar itu telah meninggal dunia pagi tadi di rumah sakit setelah sempat sadarkan diri di waktu subuh. Dan jasadnya langsung dikuburkan pada siang harinya.


Molan tertunduk lesu seorang diri di atas ranjang kamar papanya. Sedangkan Restu, Ibu Soraya, Herwanto dan beberapa kerabat lainnya di luar melayani tamu yang semakin banyak melayat dan turut belasungkawa.

__ADS_1


Molan belum ingin berinteraksi dengan orang-orang, Ia ingin menyendiri. Masih terngiang nasehat papanya ketika terjaga dari tidurnya sebelum menghembuskan napas terakhir, yang pada intinya berpesan bahwa dia harus menerima Ibu Soraya dan Restu sebagai kakaknya serta bekerjasama mengembangkan kerajaan bisnis mereka.


Cukup lama rasanya Molan termenung di ranjang papanya hingga pintu kamar ada yang mengetuk. Dia menolehkan kepala tapi belum berniat untuk membukanya, sampai pada ketukan yang kesekian kalinya, barulah pria tersebut beringsut turun.


Dengan langkah malas, Molan lalu membuka pintu dan dia terkejut Ibu Soraya sedang berdiri disana.


"Boleh Ibu masuk?" tanya Soraya hati-hati. Ini pembicaraan pertama kali yang dilakukannya secara personal terhadap anak sambungnya ini.


Molan tak langsung menjawab, dia menatap dalam-dalam wajah Soraya. Wajah lembut seorang Ibu, mencari ketulusan disitu.


Molan kemudian mengangguk dan menggeser tubuhnya mempersilahkan Soraya masuk.


"Ada perlu apa I-ibu kesini?" tanya Molan terbata.


Setelah melangkah masuk sekitar satu meter, Soraya berbalik badan. "Ibu hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Nak!" Soraya lalu tersenyum tulus.


Molan tercenung mendengar sebutan 'Nak' dari mulut Soraya. Kata-kata yang bahkan dia tak pernah ingat lagi kapan terakhir kali dia dengar dari mulut seorang Ibu.


"S-saya...baik-baik saja," jawab Molan getir, lalu mengalihkan pandangan kearah lain ketika pandangan Soraya tak lepas melihatnya.


"Sudah makan? Ibu tadi sudah siapkan makan buat kamu, kalau kamu mau makan disini, Ibu bisa suruh si bibik membawanya kesini, Ibu lihat kamu dari pagi sepertinya belum makan."


Ibu sudah siapkan makan buat kamu...apa itu tadi? Ibu Soraya menyiapkan makan buatnya?


Hati Molan sebenarnya ingin menolak, tetapi kepalanya justru bertolak belakang, Ia malah mengangguk.


Soraya kembali tersenyum, "Baik, Ibu nanti yang bawakan kesini ya." Soraya lantas mengelus lengan Molan, "Ibu mengerti apa yang kamu rasakan sekarang. Kapan pun kamu butuh Ibu, bicaralah!"

__ADS_1


Air mata Molan menetes ketika menatap punggung Soraya yang berlalu pergi mengambil makanan buatnya.


__ADS_2