Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Amarah Sylvia


__ADS_3

"Jadi ... Kalian ini bertiga dengan Samantha adalah bersaudara?" Fakta yang baru saja Molan ketahui bahwa Sylvia Lumintang yang notabene karyawan Luxury cukup senior ini ternyata memiliki pertalian darah dengan Sitta Angelina.


Sitta mengangguk membenarkan. Sedangkan Sylvia hanya memberi isyarat dengan matanya. Gadis itu sebenarnya ingin segera pergi dari ruangan rapat ini, tapi Molan menahannya karena ingin bertanya banyak hal tentang konflik yang terjadi sekian lama diantara mereka bertiga. Hanya gara-gara satu orang pria!


Luar biasa Restu ini!


Molan seperti kehilangan kosa kata untuk bertanya. Dia tak menyangka, Restu yang penampilannya sangat tenang itu memiliki cerita yang rumit. Tapi yang menjadi pertanyaannya, apakah konflik para gadis itu adalah murni kesalahan Restu karena memberikan harapan kepada semua gadis itu atau ... Para wanita yang bersaudara ini yang terlalu berharap dan terobsesi dengan Restu?


Ini yang harus dia cari tahu, karena menyangkut pekerjaan mereka di perusahaan ini. Sebab, antara Sylvia dan Sitta ada permusuhan. Dan, itu akan mengganggu kinerja mereka. Bukankah sekarang ini mereka bekerja berada dalam gedung yang sama?


Kalau begitu, dia harus mengambil sebuah tindakan!


"Ibunya Sylvi dengan ibuku adalah hubungan sepupu. Sedangkan Ibunya Samantha dengan ibuku bersaudara kandung," terang Sitta kemudian. Dia yang sudah sering berinteraksi dengan Molan bicaranya lebih lugas. Sedangkan Sylvia karena belum pernah berkomunikasi di luar pekerjaan dengan Molan, sikapnya masih kaku dan lebih banyak diam.


Molan manggutkan kepala dan kembali mengetukkan telunjuknya ke meja beberapa kali mendapat fakta yang baru terlontar dari mulut Sitta. Lalu, "Tapi ... Mengapa sikap kalian berdua ini kalau saya lihat, seperti saling tidak mengenal? atau ... kalian ini memang sedang bermusuhan? Hm?" Dia mengarahkan pertanyaannya pada Sylvia.


Sylvia terkesiap. Sedangkan Sitta memalingkan wajahnya kearah saudara sepupunya itu. "Oh? eh!" Gadis itu serba salah mendapat pertanyaan menohok tersebut, "bu-bukan ... b-bermusuhan Tuan Muda, ta-tapi ... Mmh," Sylvia menoleh ke arah Sitta, "kamu aja yang menjelaskannya!" pintanya kemudian.


"Ketika itu ... Kami mencintai pria yang sama."


"Tapi, Restu mencintai aku! Kamu mendekatinya, ingin merebutnya dariku!" tuding Sylvia dengan intonasi suara meninggi.


"Kamu salah, Sylvi! Aku-"


"Salah dimananya?" potong Sylvia cepat dengan alis mata bertaut, "sudah jelas ... Kamu dengan Samantha berkolaborasi membuat Restu akhirnya percaya bahwa aku selingkuh, iya kan?" tuding Sylvia dengan nada makin tinggi. Napasnya turun-naik menahan emosi. "Kamu dan Samantha yang mengatur pertemuan aku dengan Daniel malam itu, lalu menghubungi Restu supaya datang seolah aku tengah selingkuh. Benar nggak!"


"Itu idenya Samantha!" teriak Sitta tak kalah sengitnya. "Dia yang terobsesi dengan Restu, dan tante (mamanya Samantha) ingin menjadikan Restu menantunya!" Lalu, Sitta perlahan mendekati posisi Sylvia. "Dan, kamu? ... sadar nggak, kalau saat itu aku sedang dekat Restu, yang mengenalkan Restu kepadamu, tapi kemudian ... apa?"


Kerongkongan Sylvia tercekat. Gadis itu mengakuinya dalam hati.


"Dan, aku harus pergi dari negara ini ke Belanda? Jadi, siapa yang merebut siapa disini, hm?" ujar Sitta kemudian dengan melemparkan pandangan tajam.


Pandangan Sylvia tertunduk!


Prok! Prok! Prok!


Molan bertepuk tangan menghentikan debat sengit dua bersaudara tersebut. "Luar biasa cerita kalian ini. Hanya Memperebutkan satu orang lelaki, kalian bertiga jadi bermusuhan? Wow!" Tuan Muda itu gelengkan kepalanya beberapa kali. Tiba-tiba dia terpikir suatu hal tentang sifat Restu yang sangat kaku dan terkenal dingin terhadap lawan jenis ini.


"Hm, saya mau tanya satu hal ...," Molan mengarahkan pandangannya pada Sitta, "Restu dari dulu memang terkesan kalem seperti itu ya?"


"Nggak! Justru dulunya Restu banyak bicara dan murah senyum, atau ... Tepatnya friendly, Tuan Muda."

__ADS_1


"Owh!" Molan manggut-manggutkan kepalanya dan menoleh pada Sylvia dengan senyum penuh arti. Dia mengerti sekarang mengapa Restu saat ini menjadi lelaki yang dingin. Beberapa saat ruangan kemudian berubah jadi hening.


Molan melirik jam di tangannya lalu berdiri, bersiap untuk pergi.


"Kalau begitu, saya tinggalkan kalian berdua disini. Segera selesaikan masalah kalian berdua!" Setelah mengatakan itu, dengan langkah cuek dia meninggalkan kedua wanita tersebut dan menutup pintu memberi ruang kepada mereka berdua berbicara.


***


"Halo?" Suara serak Farada tanda bangun tidur begitu kentara di telinga Restu.


"Kamu ... sedang tidur?" Restu melirik ke arah jam dinding ruangannya, masih siang menjelang sore.


Farada mengangguk walau dia tahu Restu tidak melihatnya, "Iya Mas, tadi-"


"Loh? Kamu nggak kerja? ini masih siang?"


"Besok kan aku sudah harus berangkat ke Jakarta. Tadi cuma ke HRD aja sebentar ambil surat rekomendasi rotasi ke pusat, jadi sekarang sudah free. Ada apa Mas?" terang Farada sambil bangun dari tempat tidur menuju meja ambil air minum.


Ya, hari ini hari terakhirnya berada di Luxury Bali. Kemarin gadis itu menerima pemberitahuan bahwa dia dan Tissa termasuk karyawan yang akan di rotasi ke Luxury pusat.


"Saya cuma mau beritahu kamu ... kalo saya ingin pernikahan kita dipercepat. Besok kamu take off jam berapa? Biar saya jemput!"


Farada terdiam sejenak. Dia kehilangan kosa kata untuk menjawabnya.


"Ya sudah kalau gitu. Saya cuma mau beritahu itu aja. Besok saya yang jemput. Nanti malam saya kerumahmu mau bicarakan hal ini dengan papa-mama kamu."


Farada lagi-lagi mengangguk tak bersuara.


"Farada...? Kamu masih disana?"


"Iya, semua aku serahkan sama Mas aja," Farada menjawab lesu.


"..."


***


Sylvia melangkahkan kakinya dengan sedikit terburu-buru. Beberapa karyawan yang menyapa hanya dia tanggapi dengan senyum tipis. Gadis itu baru saja selesai bicara empat mata dengan Sitta tentang hubungan persaudaraan mereka yang merengggang sejak beberapa tahun yang lalu.


Tujuannya hanya satu saat ini, Restu!


Sylvia keluar dari lift di lantai 15 kemudian langsung menuju ruangan Restu. Ruangan yang di tempati pria tersebut jika sedang berada di kantor pusat ini. Satu tingkat dibawah Molan yang berada di lantai 16.

__ADS_1


"Pak Restunya, ada?" tanyanya pada sekretaris pria tersebut.


"Ada bu, sebentar saya kabari beliau ya."


Sylvia mengangguk. Walau bagaimanapun juga dia harus ikut prosedur struktural jabatan. Tak bisa seenaknya menemui pria yang sekarang menjadi atasannya langsung tersebut.


"Silahkan Bu Sylvia!" ujar sang sekretaris mempersilahkannya masuk.


Setelah mengucapkan terima kasih, Sylvia langsung menuju ruangan Restu yang berada di seberang ruangan sekretaris.


"Masuk!"


Sylvia lalu membuka pintu kaca warna gelap penghubung ruang Restu. Pintu yang kalau melihat kedalam tidak kelihatan, tetapi Restu telah melihatnya dari arah ruangannya.


"Maaf, aku terpaksa menemuimu kesini karena ada hal yang mau aku sampaikan, tentang lanjutan omongan tadi, di ruang rapat." Dingin dan datar. Bicara Sylvia tak bertele-tele dan berkesan formalitas.


Restu tak segera menjawabnya. Ia menatap lekat Sylvia. Ada kerinduan sebenarnya dalam hati. Tapi dia tak sanggup mengutarakannya, walau ingin menyapa, apa kabar...


Ada benang kusut yang ingin dia urai. Penyebab pertengkaran mereka dahulu. Tapi, egonya mendominasi!


"Omongan yang mana? kalau tentang permintaan rotasi kamu, maaf ... tetap tidak bisa!" Restu menjawab tak kalah dinginnya. Matanya tak berpindah menatap lekat manik mata Sylvia.


Sylvia tertawa miris! Lalu hembuskan napas beratnya. "Kalau begitu ... aku pilih opsi kedua. Aku mengajukan resign!" ujarnya kemudian. Pun, tak kalah tajamnya menantang mata Restu, walau dengan irama jantung yang tak beraturan.


Restu tersenyum sinis mendengar kalimat Sylvia. Dia berbalik badan melihat kearah jendela. "Baik, Aku tunggu besok pagi surat pengunduran diri kamu!" ucapnya sarkas.


"Oke! Sepertinya pembicaraan kita selesai, aku pamit."


Sylvia kemudian berjalan menuju arah pintu. Tapi sebelum membuka pintu kaca, Ia berhenti sejenak. "Oh ya, aku mengucapkan selamat atas rencana pernikahan kamu dengan Farada. Aku tak menyangkanya."


Restu berbalik badan, kembali melihat lurus kearah Sylvia. Sejenak kembali terjadi adu pandangan. Tapi Restu akhirnya memutus kontak mata itu, lalu, "trima kasih, nanti aku pastikan undangan buat kamu ..." Restu menjeda kalimatnya sejenak. Ada yang tiba-tiba terpikir olehnya, "dimana sekarang Daniel? Atau, sekarang sudah menjadi suamimu?"


Muka Sylvia langsung memerah. "Siapa?" tanyanya sambil perlahan berjalan kearah Restu, dia menahan amarah. "Coba ulang?"


Restu tertawa mengejek,"Daniel, Selingkuhan kamu dulu!"


PLAK!!!


Restu terperangah mendapat tamparan cukup keras di pipinya. Dia tak menyangka Sylvia yang dulunya lembut tiba-tiba berubah kasar.


"Satu hal yang harus kamu ingat, Restu! ... Aku tak pernah berselingkuh darimu dengan siapapun dulu, walau itu dengan Daniel!"

__ADS_1


Napas Sylvia naik-turun menahan amarah yang terpendam sekian tahun lamanya. Ia ingin lampiaskan semuanya. Ia marah karena di tuduh tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskannya oleh pria yang sekarang berdiri dihadapannya ini.


Tapi, otaknya mampu mengendalikan keinginan tersebut. Tanpa basa-basi pun akhirnya dia pergi meninggalkan Restu yang berdiri mematuny menatapnya nanar.


__ADS_2