Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Perdebatan


__ADS_3

Molan membiarkan Farada menangis tersedu di sampingnya. Dia sendiri sibuk menata perasaannya. Dia yang baru saja merasakan sensasi aneh di benaknya, merasakan degup jantung berpacu mendengar awal pernyataan gadis yang teramat dia cintai ini, Farada mencintaiku!


Kini, sensasi itu seakan menguap ketika Farada ingin pergi dari kehidupannya.


Lama keduanya berdiam diri dengan pikiran masing-masing, sampai bau gosong dari ikan bakar sedikit menyengat. Molan berinisiatif mengangkat dan memilah beberapa ikan yang masih bisa untuk dimakan.


Tangis Farada sudah berhenti. Gadis itu mengusap air matanya dengan tangan sambil matanya tak lepas menatap punggung pria yang dia cintai ini. Ia sedih karena harapan mereka semu. Ia tak mungkin memilih Molan untuk bersama setelah kejadian seperti ini.


Juga, Restu memang seperti menerima pembatalan pernikahan tetapi Restu tidak mau menerima pengembalian cincin tanda ikatan yang dia serahkan kembali. Restu hanya menatapnya tajam kemudian berlalu pergi meninggalkannya begitu saja, ketika itu.


Ibaratnya, menerima tapi tak melepaskan.


"Apa ... nggak ada jalan lain buat kita bersama? Kita berdua pergi jauh dari sini. Tinggal di luar negeri, di Thailand, Korea Selatan atau ... di Jepang misalnya?" Molan bertanya dengan penuh harap.


Pandangan Farada menerawang, lalu gelengkan kepalanya lemah, "Nggak bisa, Kak. Semua akan menjadi rumit. Kalian berdua akan bermusuhan, dan aku nggak bisa melihat itu. Mas Restu tidak akan melepaskan aku, dia hanya menerimanya."


"Aku bisa bicarakan itu dengan Restu!" tegas Molan cepat, "Aku punya banyak cara agar dia melepaskan kamu!"


"Kak! Kamu ... Nggak ngerti ya? Masalahnya tidak sesederhana itu, tau nggak? Ini menyangkut kalian berdua, permusuhan kalian berdua, reputasi keluarga kalian. Keluarga aku juga, bagaimana?"


"Aku nggak peduli dengan reputasi keluar_,"


"Aku nggak mau! Ngerti? Aku peduli dengan keluarga aku. Papa dan mama sudah meminta aku untuk tidak memilih kalian, itu konsekwensi dari keputusan yang aku ambil!" tegas Farada memotong. "Jangan hanya karena ingin memperjuangkan perasaan kita berdua, kita harus korbankan perasaan orang sekeliling kita. Itu egois, Kak!"


Molan terdiam, Ia ingin mengatakan bahwa cinta itu memang harus di perjuangkan, bukan? Tapi mulutnya terkunci. Dia melihat emosi Farada mulai naik. Jika dia debat, akan semakin runyam.


Molan manggut-manggut beberapa kali, lalu tersenyum. Ia patah!


Farada sempat melihat pria di sampingnya ini tersenyum. Senyum yang dulu mampu membuatnya lupa dengan masalah. Senyum yang mampu membuatnya tertawa sekaligus kesal.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?"


"Nggak apa-apa, yuk ah! Ikannya udah nggak sabar berantem dengan cacing dalam perut, hehe."


"Garing!"


Molan tak menanggapinya, Ia mengambil ikan bakar berikut menabur bumbu dan meletakan di piring lalu memberikannya ke Farada.


Untuk beberapa lama mereka kembali terlibat dalam diam. Asyik memakan ikan yang sedikit gosong. Sesekali Molan melihat ke arah Farada. Tatapannya penuh makna, entah apa yang ada di benak pria tersebut. Hanya dia sendiri yang tahu.


"Ngomong-ngomong... Kamu sampai kapan menyendiri disini?" tanya Molan sambil membersihkan tangannya dengan air di baskom, perutnya terasa kenyang.

__ADS_1


"Sampai aku bosan. Lagian aku nggak sendiri kok disini, nanti ada sepasang suami-istri datang sebentar lagi nemanin aku. Mereka penduduk sini yang dipercaya keluarga Tissa," Farada lalu melirik jam ditangannya. "trus, kamu sampai kapan disini, ini udah hampir jam 8 malam loh! Perjalanan kamu jauh."


"Aku...mau nginep disini."


"Eh! Nggak boleh. Kamu pulang, gih!" tutur Farada datar, tapi gesturnya gelisah.


Molan agak kaget melihat Farada menyuruhnya pergi tanpa ekspresi. Niatnya ingin becanda tapi gelagatnya, Farada tak ingin dia berlama-lama lagi disitu.


Kembali, Molan manggutkan kepala berapa kali sambil menunduk, "Ya sudah, kalo gitu aku kembali ke Jakarta," dia langsung berdiri dan berjalan menuju mobilnya tanpa memedulikan Farada yang masih duduk.


"Oh ya, jaga diri kamu baik-baik ya!" ujarnya sambil masuk ke dalam mobil.


Farada hanya lambaikan tangan melepas Molan pergi sampai kendaraannya menghilang di tikungan. Apa dia marah? Batin Farada.


Dia masih berdiri terpaku di tempat dengan pikiran yang berkecamuk di benaknya. Kembali, air matanya lolos perlahan turun di pipi.


***


Beberapa hari sebelumnya.


"Ada apa Dek, kamu tiba-tiba ngajak Papa sama Mama ngobrol? Kayaknya serius nih?" tanya Pak Handoko ketika Farada minta waktu selepas isya untuk bicara dengannya berikut sang mama.


"Iya nih, kok perasaan Mama jadi nggak enak yah?" Ibu Herlina menyambung.


"Kok malah diam? Kamu mau ngomongin tentang pernikahan kamu?" tebak Pak Handoko melihat raut muka anaknya yang gelisah.


"Kenapa? Ada masalah, Dek?" imbuh Ibu Herlina.


Farada mengangguk, dia tidak tahu harus memulai dari mana menjelaskannya. "Mmmh...gimana ya ngomongnya, intinya....adek ingin membatalkan pernikahan dengan Restu." ujar Farada lirih tapi masih terdengar jelas.


Bukk!


"Hah!?..." berita itu bak petir menyambar, Ibu Herlina tanpa sadar menjatuhkan buku tebal yang dia genggam. Sedangkan Pak Handoko tetap tenang, dia hanya menarik tubuhnya ke belakang sambil menghembuskan napas beratnya.


"Kamu? Mau membatalkan pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi? Jangan becanda kamu, Farada!" tegas Ibu Herlina menatap wajah anaknya yang tertunduk. "Jangan main-main Farada, kamu akan mempermalukan keluarga kita, apa lagi keluarga Restu! Kamu tahu kan siapa mereka?"


"Sabar dulu, Ma. Biarkan Farada menjelaskan dulu alasannya apa." Pak Handoko lalu mengusap punggung istrinya, dan bertanya pada anaknya dengan suara lembut tapi tetap tegas, "Apa alasannya, Dek?"


Farada mengangkat wajahnya, dia berusaha mengatur emosi agar kosa katanya bisa terangkai, "Aku nggak bisa hidup bersama dengan Restu, Pa. Banyak pertimbangan aku sebenarnya. Makin lama setelah kenal dengan Mas Restu, aku makin berasa nggak cocok dari segi hal apa pun, termasuk masalah komunikasi. Aku makin tertekan rasanya kalau sedang bersama Mas Restu_"


"Itu karna kamu nggak berusaha untuk mengimbangi Restu, Dek! dia kan style nya emang kaku, nggak banyak omong," ketus Ibu Herlina memotong, "seperti halnya Papa kamu ini, juga kaku orangnya, kan? Tapi Mama bisa menyesuaikan, Mama bisa ngimbangi. Alhamdulillah, sampai punya cucu kami masih akur!" terang Ibu Herlina kembali.

__ADS_1


"Beda Mamaa..." sanggah Farada cepat.


"Beda apanya?"


"Ya, Papa bukan kaku, tapi tegas, beda Ma. Papa sayang sama Mama dari awal, ya kan? Papa menerima sikap Mama yang ceplas-ceplos ini, ya kan Pa?"


"Memangnya...Restu nggak sayang sama kamu?" Pak Handoko angkat bicara.


"Hmm, kalo aku rasa, nggak! Keliatan dari caranya memperlakukan aku, cuek dan ketus sama aku tapi giliran sama yang lain, ngomongnya bisa lembut. Anehnya, Sampe sekarang kalo ngobrol sama aku, panggil dirinya masih nyebut...saya, kalo sama yang lain, aku!" ujar Farada dengan kesalnya.


"Yang lain itu, siapa?" tanya Pak Handoko lagi.


"Mantannya lah!"


"Hah? Emang Restu punya mantan?" tanya Ibu Herlina terkejut.


"Banyak, Ma! Dan lucunya, mantan-mantannya itu sekarang berada di sekelilingnya, bekerja di Luxury, satu lagi lain perusahaan, tapi aku nggak tau namanya."


Pak Handoko hanya menghela napas mendengar debat Ibu dan anak ini, lalu bertanya, "Selain itu, ada alasan lain?"


Farada diam sejenak, Ia mengatur irama detak jantungnya. "Ada. Kalau aku nikah dengan Restu, akan terjadi permusuhan kakak-adik nantinya," ujarnya lemah.


Pak Handoko langsung mengerti, "Maksud kamu, dengan Molan?" dan Farada pun mengangguk.


"Karena Molan pun menyukai kamu?"


Farada kembali menganggukkan kepala.


Pak Handoko menarik badannya ke belakang sebelum melontarkan pertanyaan berikutnya, "Dan...kamu, ternyata juga menyukai Molan?"


Farada tertunduk, dia tak menjawab tapi Pak Handoko sudah tahu jawabannya. Dia melirik istrinya. Mereka berdua saling bertatapan, tak percaya.


"Papa mengerti sekarang. Kalau begitu...Ya sudah, kita batalkan! Nanti Papa yang handle semuanya, termasuk para wartawan yang harus di beri pengertian agar nggak di blow up beritanya. Kasihan reputasi keluarga almarhum Pak Erick, yang merupakan salah satu keluarga terkaya di Asia ini. Nanti Papa temui keluarganya Restu, Ibu Soraya, urusan Restu kamu yang beritahu! Tapi...kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?"


Farada menjawab cepat, "Iya Pa, yakin."


"Kalau begitu, kamu mau berjanji satu hal sama Papa dan Mama?," Pak Handoko menjeda, dia perhatikan wajah anaknya lekat-lekat, "Kamu jangan memilih keduanya, kamu harus pergi dari kehidupan mereka berdua, khususnya....Molan! Bisa?"


Mimik wajah Farada berubah, terlihat ragu.


"Itu konsekuensi nya!" tegas Pak Handoko kemudian.

__ADS_1


"I-iya Pa, adek janji."


__ADS_2