
Tiba-tiba saja Sarah datang dan memeluk Boy saat Joanna membukakan pintu apartmentnya. Ada sesak, ada marah, ada kecewa dalam hati Joanna. Tapi disisi lain ia bisa apa? Hanya diam dan diam serta menunjukkan cintanya pada Boy dengan caranya sendiri. Boy yang melihat Joanna yang sedang memandanginya dengan posisi di peluk Sarah pun merasa tak enak hati. Tanpa pamit Joanna pergi meninggalkan mereka berdua, ia bergegas ke kamar untuk segera tidur karena ia merasa lelah dengan semuanya.
"Sar, hei kamu kenapa tiba-tiba kesini?" tanya Boy yang masih terkejut dengan kedatangan Sarah yang tiba-tiba dan malam hari. "Memangnya kenapa? Bukankah aku sering main kesini? Bahkan aku juga sering tidur di apartment kamu kan. Baju-bajuku pun masih ada di lemari kamu kan Boy" jawab Sarah dengan sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Joanna.
Joanna yang hendak keluar untuk menyerahkan ponsel suaminya yang sedari tadi berdering pun ia urungkan karena mendengar perkataan Sarah. Joanna bergegas ke walk in closet dan membuka satu persatu lemari sampai matanya menemukan setumpuk baju wanita plus ********** juga. Seketika Joanna memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Dia berusaha tidak menangis, namun air matanya luruh juga. Dia merosot duduk di lantai, menenggelamkan kepalanya di kedua kakinya yang di tekuk sambil memeluk lututnya sendiri.
"Ayolah Sar, nanti kalau sampai tiba-tiba mama, papa, atau Kevin kesini akan tambah runyam. Apalagi mama menempatkan mata-matanya di sekitarku dan Joanna." kata Boy membujuk kekasihnya itu.
"Jadi kamu ngusir aku biar bisa berduaan sama istri kamu itu, iya??" ketus Sarah pada Boy dengan nada yang masih meninggi.
"Sar, please ngertiin aku. Kalau sampai ada yang tahu kamu ada disini pasti mama akan lebih benci sama kamu dan aku gak mau itu terjadi"
"Apa baiknya sih j****g itu sampai mama kamu sayang banget sama dia hah? Sedangkan aku yang udah 2 tahun bersama kamu sekalipun gak pernah benar di mata mama kamu"
"Jangan menyebutnya seperti itu, sekalipun dia udah jadi istriku tapi sekalipun dia gak pernah ngegoda aku" kesal Boy saat kekasihnya itu menyebut Joanna j****g.
"Oh, jadi kamu udah mulai ngebela dia hah?"
"Cukup Sar, cukup!" bentak Boy dengan suara yang keras hingga membuat Sarah kaget. Karena sekalipun Boy belum pernah membentaknya. "Lebih baik kamu pulang sekarang sebelum orang-orang mama nemuin kamu disini" kata Boy meminta pada Sarah.
__ADS_1
"Gak Boy, aku...." belum sempat Sarah menyelesaikan perkataannya, Boy sudah kembali berteriak lagi. "KELUAR SEKARANG!" teriak Boy hingga membuat Sarah langsung pergi dan Joanna yang mendengarnya pun langsung keluar dari walk in closet dan keluar dari dalam kamar untuk melihat keributan di bawah.
Wajah Boy tampak memerah karena menahan amarahnya. Baru kali ini dia membentak wanita apalagi dia adalah kekasih yang di cintainya.
"Haaahhh" suara Boy menghela napas. "Maafin aku Sar, aku hanya gak mau keadaan tambah rumit" gumam Boy lirih lalu ia beranjak ke atas untuk kembali ke kamarnya.
"Astaga" kata Boy kaget saat ia melihat Joanna berdiri di depan pintu saat ia memasuki kamarnya.
"Oppa, sorry" kata Joanna sambil menunduk karena lagi-lagi air matanya akan menerobos keluar.
"For what?" tanya Boy datar.
"Apa?" tanya Boy sambil menaikkan satu alisnya. "Bisakah saat aku masih menjadi istrimu oppa jangan membawa atau mengundang kak Sarah kesini." kata Joanna sambil menatap suaminya.
"Aku tidak mengundangnya kesini" jawab Boy datar melihat Joanna. "Dia datang kesini sendiri, mungkin dia hanya menunjukkan rasa sakit hatinya" lanjut Boy lagi.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Joanna.
"Maksudmu? Bukankah aku sudah pernah bilang..."
__ADS_1
"Jangan pernah mengharapkan cinta dariku, jangan pernah berharap dengan pernikahan ini, dan jangan pernah untuk bermimpi aku mencintaimu. Itu kan yang oppa ingin katakan. Iya, oppa memang mengatakannya berkali-kali padaku. Tapi apa salah jika aku mencintai suamiku sendiri? Apa salah jika aku meminta agar oppa sedikit melihatku? kata Joanna dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
"Itu resiko kamu, aku sudah pernah mengingatkanmu berkali-kali" kata Boy santai, lalu ia beranjak pergi dari hadapan Joanna. Ia naik ke atas ranjang dan memposisikan dirinya menelungkup. Sedangkan Joanna, dia sudah menangis sesenggukan. Hatinya amat sangat sakit.
Joanna beranjak pergi dari dalam kamar, dia turun ke bawah dan keluar dari apartment.
Braaakkk suara pintu di tutup dengan keras hingga membuat Boy terkejut. Ia bangun dan mengamati sekeliling kamarnya. Dia melihat kearah sofa tempat Joanna tidur tapi tak menemukan Joanna disana. Lalu ia turun ke bawah dan mencari Joanna di dapur, ruang tamu, dah kamar yang ada di lantai bawah. Namun ia sama sekali tak mendapati Joanna.
Joanna turun ke lantai dasar, saat di lobi apartmentnya dia berpapasan dengan seorang pria. Pria tersebut memperhatikan Joanna yang nampak menangis dan sedih. Dia memutuskan untuk mengikuti Joanna. Sampai pada akhirnya Joanna berhenti di sebuah taman. Ia duduk di sebuah bangku taman, ia menaikkan kedua kakinya dan menekuknya hingga ia bisa memeluknya dan menenggelamkan kepalanya dengan madih terisak sesak.
"Ekhemmm, kata orang menangis memang melegakan hati dan mengurangi sedikit beban. Tapi saat menangis kamu juga butuh sandaran. So, menangislah di pundakku seperti dulu." kata pria tersebut yang sudah duduk di dekat Joanna.
Mendengar suara pria yang ada di sampingnya, Joanna lekas mendongakkan kepalanya dan melihat kearah sumber suara.
"Nath, kak Nathan" lirih Joanna lalu segera memeluk laki-laki yang dulu pernah mengisi hari-harinya dan membuatnya lebih berwarna.
"Ya, ini aku. Menangislah sepuasmu jika itu membuatmu lega" kata Nathan sambil meraih kepala Joanna dan memposisikan di pundaknya. "Ada apa? Apakah angelku ini sedang bersedih?" tanya Nathan pada Joanna.
Joanna menceritakan semua beban hidupnya pada Nathan. Mulai dari kehilangan orang tuanya sampai pernikahannya. Disisi lain tak jauh dari tempatnya, berdiri seorang laki-laki yang memperhatikan mereka. Ya, laki-laki itu adalah Boy. Melihat Joanna di pelukan laki-laki lain secara tak sadar Boy mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku tangannya memutih. Ada rasa tak rela saat pria lain memeluka istrinya. Saat Boy hendak beranjak pergi, ponselnya berbunyi. Ia segera merogoh ponselnya di celana pendeknya.
__ADS_1
"Katakan....."