
"Paaaa......" panggil lirih mama Vina seraya memegang lengan suaminya dan mengisyaratkan adanya Felli di situ. Sedangkan Felli, ia hanya berusaha tenang atas kekagetannya akan sosok Raisa yang baru di sebutkan papa Danu. Dan Joanna, nampak ia menggenggam tangan Felli untuk memberi kekuatan hatinya. Richard ? Jangan tanyakan, dia lebih menikmati makanan yang di pangkunya. Kevin ? Jelas dia sedikit panik dengan perubahan wajah Felli. Ia hanya tak ingin Felli salah paham.
"Fell, jadi pulang gak?" tanya Richard yang seakan mengerti bagaimana perasaan Felli.
"Jadi lah Rich" jawab Felli.
"Loh kok udah mau pulang aja, om baru gabung loh ini. Kita makan malam bareng aja ya kan ma" ajak papa Danu.
"Iya Felli, Richard kita makan malam bareng ya. Jarang banget loh ini meja makan rame."
"Aku sih mau aja tan, tapi tuh si Felli udah ngajak pulang aja dari tadi" jawab Richard.
"Kalian makan malam disini aja" kata Kevin tegas hingga membuat mereka yang di sana saling pandang.
"Halah bilang aja gak rela di tinggal pulang Felli. Udahlah ma, pa nikahin aja tuh mereka biar rame ini rumah" kata Joanna mengompori.
"Yah maunya papa sama mama sih Kevin cepet nyusul kakaknya" kata mama Vina.
__ADS_1
"Nyusul nikah apa nyusul gak peka nih ma" sela Joanna yang mendapat pelototan dari Kevin dan Joanna hanya membalasnya dengan juluran lidah.
Mereka pun melanjutkan obrolan hingga suara bi Mar yang memberi tahu bahwa makan malam sudah siap. Mereka semua akhirnya duduk di meja makan menikmati masakan bi Mar yang tak usah di ragukan lagi. Sampai pada ponsel Joanna berbunyi, ia membuka pesan itu yang menampilkan foto mesra antara Boy dan Sarah. Bertepatan dengan itu Boy masuk kerumah.
"Joanna kenyang ma, pa. Joanna ke atas dulu" kata Joanna dengan bergegas naik ke kamarnya. Boy yang baru datang pun celingak celinguk mencari sang istri. Ia melihat ada piring yang masih terisi sedikit banyak yang ia yakini adalah milik istrinya.
"Nyari Ale?" tanya Kevin pada kakaknya. "Naik tuh ke kamar, makan tuh ambekan bini lu" kata Kevin sambil mengunyah makanannya.
"Ihh dasar biangnya bocah tua nakal" kata mama Vina tanpa memandang ke arah anaknya.
"Apa mereka tahu kalau aku nemuin Sarah?" batin Boy.
"Kenapa disini? Udaranya dingin" kata Boy sambil memeluk Joanna dari belakang. Meletakkan kepalnya di bahu Joanna dan menghirup wangi tubuh Joanna yang semakin akan menjadi candunya.
"Kenapa mesti berbohong?" tanya Joanna yang membuat Boy mengerutkan alisnya. Tak mendapat jawaban dari Boy Joanna pun mengulangi pertanyaannya dengan nada yang sedikit tinggi. Namun tak ads jawaban lagi dari Boy. "Boy aku tahu jika cinta tak bisa di paksakan seperti yang kamu bilang, tapi setidaknya sedikit, sedikit saja hargai aku, hargai keberadaanku, hargai aku sebagai istrimu Boy" kata Joanna dengan sedikit emosi yang mulai memuncak. Boy yang tahu kemana arah pembicaraan Joanna pun mengerti. Dia membalik badan Joanna, ada rasa bersalah dan tak tega saat melihat air mata bercucuran keluar dari kelopak mata indah sang istri apalagi ia melihat sorot mata istrinya yang penuh kekecewaan. Boy langsung merengkuh tubuh istrinya, membawanya ke dalam pelukannya.
"Beri aku waktu Jo, beri aku waktu. Tolong, tolong jangan pergi" pinta Boy dengan kesungguhan hatinya.
__ADS_1
"Sampai kapan?" tanya Joanna masih dengan isak tangisnya. "Enam bulan Boy, enam bulan bukan waktu yang sebentar untuk menahan semuanya. Aku harus menahan sedih saat kamu tak menyentuh makanan atau minuman yang aku buat, aku harus menahan sakit saat kau tak pernah menganggapku, menyentuhku, dan sangat sakit bertahan dengan orang yang tak pernah mencintai kita. Kamu gak tahu gimana sakitnya aku saat aku berusaha menjadi istri yang baik tapi tak pernah di anggap. Kamu gak tau sakitnya saat kamu memilih makan bersama Sarah di saat aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Kamu gak akan pernah tahu Boy, karena di hati kamu cuma ada Sarah. Bahkan di sudut hatimu pun aku tak ada." lanjut Joanna menumpahkan semua sedih di hatinya. "Aku lelah Boy, aku lelah. Biarkan aku pergi Boy, lepaskan aku, aku mohon" pinta Joanna dengan nada lirih.
"No, aku gak akan pernah biarin kamu pergi Joa. Gak akan pernah!" tekan Boy saat mendengar Joanna memintanya untuk melepaskan Joanna.
"Aku butuh bahagia Boy, aku butuh di cintai seutuhnya, bukan hanya sakit seperti ini" teriak Joanna dalam pelukan Boy. Boy tak menjawabnya, dia hanya diam dan terus memeluk serta mengusap kepala istrinya.
Tanpa di ketahui mereka, ternyata mama Vina berada di balik pintu kamar yang belum tertutup sempurna. "Mama harap kamu bisa buka hati kamu dan menerima istrimu Boy" gumam lirih mama Vina dengan bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Boy pun mengangkat tubuh Joanna dan membawanya ke ranjang, merebahkan tubuh lelah Joanna yang terlalu lama menangis. Boy menaikkan selimut sebatas dada Joanna yang terlihat menutup matanya meskipun masih ada isakan-isakan kecil. Boy yang melihatnya pun di hantam rasa bersalah yang mendera. Ia memajukan wajahnya dan mencium lama kening Joanna. "Maafin aku Jo, tolong jangan pergi dan beranjak dariku. Beri aku waktu Jo untuk semuanya" kata Boy lirih meskipun tak mendapat jawaban dari Joanna.
Boy membiarkan Joanna tidur, sedangkan dia akan turun ke bawah untuk mengambil air minum. Saat sampai bawah dia melihat mamanya yang sedang menangis di pelukan papanya dan sedang di tenangkan oleh papanya dan adiknya.
"Pa, ada apa? Kenapa mama nangis?" tanya Boy sambil mendekat ke arah mama dan papanya.
"Kenapa tanya sama papa?" jawab papa Danu membalikkan pertanyaan Boy. "Harusnya kamu tanya ke diri kamu sendiri Boy. Apa yang udah kamu lakuin ke istri kamu itu udah ngebuat kami merasa bersalah pada orang tua Joanna. Kita ikut andil menyakiti Joanna dengan kamu kaya gini" kata papa Danu. Boy yang mendengar penuturan papanya pun menundukkan kepalanya. Ia sendiri juga merasa bersalah dengan istrinya. Harusnya ia bisa menerima Joanna dan tak menyakitinya. Bukankah cinta bisa datang karena terbiasa?
"Kalian berdua sama saja...!!!"
__ADS_1
Mohon dukungannya ya dengan like, vote, dan masukkan ke novel favorit kalian.
Terima kasih, sarangheo reader 😘😘