
Sesaat kemudian wanita itu pergi dan si pria juga masuk ke dalam apartmentnya. Joanna pun segera masuk untuk segera memasak. Terlihat dia membawa dua kantong plastik besar belanjaannya.
"Darimana saja?" tanya Boy yang sejak bangun karena mendengar panggilan dari ponselnya tidak melihat keberadaan Joanna di dalam apartmentnya.
"Belanja di supermarket dekat sini saja" jawab Joanna pada Boy. "Hmmm habis makan siang aku akan pulang kerumahku sebentar untuk memgambil beberapa baju kerjaku" kata Joanna sambil menata barang-barang belanjaannya.
"Gak usah, kamu gak perlu ambil pakaian kerjamu" jawab Boy yang sedang berdiri di belakang Joanna yang sedang jongkok di depan kulkas. Joanna yang mendengar jawaban Boy langsung memutar kepalanya ke belakang dan mendongak ke atas dan mengernyitkan alisnya. "Mulai sekarang kamu gak usah kerja, mana ada istri ceo kerja di perusahaan suaminya" lanjut Boy.
"Ya kali kalau aku gak kerja, mau gimana ntar aku hidup setelah kamu nyerain aku" kata Joanna pelan dan Boy dapat melihat raut sedih Joanna. "Hahhhh tapi gapapa, bukannya istri harus nurut ke suami kan. Selesai, aku mau masak dulu ya. Ntar habis ini kita makan siang bareng" kata Joanna sambil menunjukkan senyumnya.
Dengan terampil Joanna memasak makan siang mereka. Dan tak berapa lama, ia menyajikannya di meja makan. "Oppa, ayok makan siang. Udah siap nih" teriak Joanna memanggil Boy yang sedang asyik menonton televisi. Boy yang mendengar panggilan Joanna lekas beranjak ke meja makan. Terlihat Boy hanya memangdang makanan yang tersaji. Ya, siang itu Joanna hanya memasak sayur sop dan ayam goreng serta sambal kecap.
"Maaf hanya masakan rumahan, aku belum tahu selera oppa" kata Joanna sambil mengisi piring suaminya. "Ayok di makan oppa, cobain dulu"
Boy pun menyendokkan makanan yang telah di sajikan Joanna ke dalam mulutnya. Kesan pertama saat lidahnya merasakan masakan istrinya adalah ingin merasakannya lagi. "Enak Joa" kata Boy memuji masakan istrinya. Joanna nampak tersenyum saat Boy mengatakan itu. Joanna berpikir jika suaminya itu menyukai masakannya.
Setelah selesai makan, Joanna mencuci piring dan Boy beranjak ke kamar. Hari ini dia berjanji akan menemui Sarah.
"Jo, aku keluar dulu ya. Gak usah nungguin aku pulang. Aku gak tahu pulang jam berapa ntar." pamit Boy saat ia hendak pergi.
"Oh iya, aku juga sekalian mau ijin ke kamu. Ntar aku juga mau ketemu sama Felli dan Stevi" jawab Joanna yang membuat Boy menghentikan langkahnya.
"Gak sampe jam 10 malam" jawab Boy lalu ia segera keluar dan pergi ke tempat tujuannya.
"Sayang, kenapa lama sekali. Aku udah kaya jamuran tahu gak sih nungguin kamu" kata Sarah saat melihat Boy masuk ke apartmentnya.
"Iya, macet soalnya" jawab Boy sambil memposisikan duduknya di dekat kekasihnya itu. Sarah langsung memeluk Boy dari samping. Tak hanya memeluk, Sarah mulai menyambar bibir Boy. Mencium dan me***** bibir Boy. Boy yang menikmatinya juga membalas ciuman dari Sarah. Ketika ciuman mereka semakin terasa panas dan tangan Sarah mulai mencoba melepas kancing baju Boy, Boy melepaskan bibirnya. Dia tersadar bahwa dia harus membentengi dirinya dan tak akan menyentuh wanita jika belum di nikahinya.
__ADS_1
"Boy..... Kenapa sih kamu selalu nolak. Toh pada waktunya nanti kita juga sama-sama akan melakukannya" kesal Sarah karena untuk kesekian kalinya Boy menolaknya.
"Huuufffttt" terdengar suara helaan nafas Boy. "Bukan begitu Sar, tapi aku memang bener-bener gak mau nglakuin hubungan suami istri kalau belum sah" jelas Boy pada kekasihnya itu.
"Ohh jadi berarti kamu akan ngelakuin sama si Joanna istri kamu itu hah?" tanya Sarah dengan emosi yang sudah memuncak mengingat Boy sudah menikah.
"Gak Sar, aku gak cinta dia. Jadi aku gak akan nyentuh dia dan itu demi kamu, karna aku cinta sama kamu" jawab Boy mencoba menjelaskan pada Sarah. Tapi si*lnya kekasihnya itu masih tetap merajuk. "Ya udah sih jangan marah, nanti cantiknya hilang loh. Mending aku antar kamu shopping yuk sekarang" rayu Boy pada Sarah.
Disisi lain, di resto sebuah mall besar tiga wanita cantik sedang bercengkrama bertukar cerita. Banyak yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya datanglah Kevin karena permintaan dari kakak iparnya yang tak lain adalah Joanna.
"Empinnnnnn........ Aaaaaa rinduuu...." pekik Joanna sambil merentangkan kedua tangannya ingin di peluk oleh adik iparnya itu. Namun alih-alih memeluk Joanna, Kevin malah langsung duduk tanpa menghiraukan Joanna yang sedang ngedumel.
"Astaga Ale, lu malu-maluin gue tau gak sih" gerutu Kevin yang kesal dengan tingkah Joanna.
"Aku kan cuma rindu dengan adikku hehheehe" kekeh Joanna hingga membuat bola mata Kevin memutar.
"Dasar, adik ipar lucknut" kesal Joanna sambil mengerucutkan bibirnya.
"Vin, ada lowongan gak di perusahaan lu. Gue butuh kerjaan nih" tanya Felli pada Kevin.
"Lu butuh kerjaan apa butuh deket sama yang punya perusahaan?" sahut Stevi yang langsung di hadiahi toyoran di kepalanya oleh Felli.
"Sembarang ae lu Stev, gue bener-bener butuh kerjaan bege! Tapi ya kalau si Kevin mau sama gue sih gue kagak nolak hehehehe" kata Felli sambil terkekeh kecil yang di ikuti ketiga temannnya.
"Nanti gue hubungin lu ya kalo gue butuh karyawan" putus Kevin segera. "Btw ini udah pada pesen makan belum ?? tanya Kevin pada ketiganya.
"Udah dong Empin, gue juga udah pesenin makanan kesukaan lu juga kok" jawab Joanna.
__ADS_1
Saat mereka tengah asyik mengobrol, makanan yang mereka pesan pun datang. Mereka makan dengan di selingi obrolan ringan dan canda tawa. Dan nampak dari jauh seseorang telah melihat interaksi mereka berempat.
"Benar-benar gadis yang ceria di segala suasana, bahkan saat sedih pun dia masih bisa tersenyum" batin Boy dalam hatinya. Sedangkan Sarah yang melihat Boy sedari tadi melihat ke arah sekelompok anak muda yang sedang asyik bercengkrama pun dengan segera bertanya kepada Boy. "Lihat apa sih yang?"
"Enggak, itu tadi kaya si Kevin. Tumben nongkrong di mall. Biasanya anti dia" kilah Boy yang padahal dia sedang melihat istrinya.
"Ehh gaess gue ke toilet bentar ya, udah kagak nahan ini pengen pipis hehehe" pamit Joanna pada Kevin, Felli, dan Stevi yang di iyakan oleh ketiganya. Joanna pun segera berjalan cepat ke arah toilet untuk menuntaskan rasa kebeletnya. Selesai dari toilet, saat masih baru masih di depan toilet dia melihat sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan mesra. Bahkan sesekali sang wanita bergelayut mesra di tangan si pria dan si pria sesekali mencium pucuk kepalanya.
"Huuffftttt harusnya aku yang disana" gumam lirih Joanna sambil mendongak ke atas agar air matanya tak luruh membasahi pipinya. Joanna segera kembali ke meja makannya dan segera pamit pada ketiganya. Bahkan tawaran Kevin untuk mengantarnya pulang pun tak di hiraukannya. Dia segera lari keluar dari dalam gedung mall tersebut.
"Kenapa sih Vin kakak ipar lu" tanya Stevi penasaran
"Gak tau gue, mungkin udah di telpon kak Boy mungkin" jawab Kevin dengan menebak-nebak.
"Ya udah lah mending kita pulang aja yuk" ajak Felli pada keduanya.
"Okelah kalau begitu. Oh ya gue gak bareng lu ya Fel, gue di jemput Nando di depan. Lu gapapa kan pulang sendiri" kata Stevi yang tak enak hati pada Felli.
"Iya gue bisa pulang sendiri kok, udah sana lu cepet kedepan. Kasian bakal lakik lo nungguin" usir Felli ada Stevi.
"Lu kalau mau pulang duluan gapapa Vin, gue mau pesen taksi online dulu." kata Felli pada Kevin yang masih stay di tempatnya duduk.
"Gak perlu pesen taksi online" kata Kevin saat melihat Felli mulai memegang ponselnya. "Ayo gue anter lu aja" ajak Kevin pada Felli. Akhirnya mereka pun pulang bersama.
Jedddduuuaaarrrr jeduuuaaarrrr suara petir menyambar seakan pertanda akan turun hujan. Joanna yang sedari keluar dari mall terus berjalan seakan tak kenal lelah. Sampai pada akhirnya hujan turun dengan lebatnya bersamaan dengan air mata Joanna yang mulai luruh. Dia basah kuyup karena tak berniat untuk berteduh, dia terus berjalan menuju apartmentnya.
"Bahkan hujanpun tak ingin melihat orang lain melihatku menangis dan bersedih"
__ADS_1