
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, Boy mengerjapkan matanya ia melihat ke sekeliling kamarnya dan masih gelap bertanda Joanna belum juga pulang. Boy meraih ponselnya dan mencoba menghubungi istrinya kembali, namun ponsel Joanna sepertinya tidak aktif. Seketika Boy membuka matanya lebar-lebar lalu duduk bersandar di ranjang.
"Kemana kamu sayang" lirihnya sambil memijit pangkal hidungnya. Boy mencoba berpikiran positif, mungkin saja istrinya sedang bersama dengan sahabatnya. Ia bergegas membersihkan diri lalu turun ke lantai bawah menunggu istrinya pulang.
"Pa, Joanna kok belum pulang ya?" tanya mama Vina dengan raut khawatir.
"Nah ini suaminya, tanya aja sama si Boy ma" jawab papa Danu yang melimpahkan pertanyaan istrinya ke Boy.
"Boy, kamu udah telpon Joanna? Dia dimana sekarang kok belum pulang sih Boy." cecar mama Vina pada anak sulungnya itu.
"Boy udah telpon dari siang tadi sih ma, cuma gak di angkat. Barusan Boy telpon nomornya gak aktif ma. Mungkin dia lagi me time sama Felli dan Stevi ma." jelas Boy atas cecaran mamanya.
"Mungkin? Mungkin kamu bilang hah!" nada mamanya meninggi ketika Boy menanggapinya dengan santai. "Cari istri kamu sekarang!" perintah mamanya dengan bentakan. Boy lekas beranjak dan berari mengambil dompet dan kunci mobilnya di kamar lalu berangkat mencari Joanna.
Joana pov
Pagi ini aku berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir papi dan mamiku. Aku di antar oleh Kevin, sahabat sekaligus adik iparku. Sesampainya di depan makam, Kevin yang ingin menemani ku suruh untuk segera ke kantor dan meninggalkanku dengan dalih aku ingin sendiri.
"Pi, mi, Joanna datang." kataku saat aku sudah sampai di makam papi dan mami yang bersebelahan. Aku duduk di tengah-tengah makam mereka, menatap nisan yang tertera nama kedua orang tuaku.
"Pi, mi, Joanna rindu, Joanna ingin di peluk kalian" kataku lagi dengan air mata yang akhir-akhir ini tak bisa aku kontrol sejak kepergian orang tuaku. Dulu aku bukan seorang wanita yang cengeng, aku selalu ceria dan jarang sekali menangis. Tapi semenjak kepergian orang tuaku, aku menjadi rapuh, kekuatanku seakah hilang entah kemana.
__ADS_1
"Maafin Joanna yang belum bisa kasih kebahagian ke kalian sampai saat kalian berpulang. Maafin Joanna yang masih tetap menangis saat mengunjungi kalian. Ini berat, sangat berat buat Joanna pi, mi. Tapi Joanna bersyukur, Joanna bertemu dengan keluarga papa Danu dan mama Vina. Kedua sahabat kalian itu sangat sayang ke Joanna pi, mi" ceritaku dengan mengulas tawa dalam tangisku.
"Pi, mi, maafkan aku yang masih belum membawa kabar baik tentang pernikahanku dengan Boy. Tapi Joanna akan selalu berusaha membuat Boy tetap ada di samping Joanna dan memberikan cintanya padaku. Pi, mi, Joanna pamit dulu ya. Nanti Joanna kesini lagi, Joanna janji akan bawa Boy kesini buat mengunjungi papi sama mami"
Aku beranjak pergi dari makam otang tuaku saat matahari terasa menyengat. Ku rogoh ponsel dalam tas dan melihatnya, ternyata sama sekali tak ada notifikasi apapun dari Boy. Jam menunjukkan akan memasuki jam makan siang, ku hubungi Felli dan Stevi. Meminta mereka bertemu hanya sekedar untuk makan siang. Kami memutuskan untuk bertemu di cafe dekat kantor Felli. Saat aku sampai, ternyata Felli dan Stevi sudah ada di dalam.
"Haii maaf nih gue telat" kataku sambil cipika cipiki dengan kedua sahabatku.
"Tumben nih nyonya muda Wijaya minta bertemu" celetuk Stevi membuat aku memutar bola mata malas.
"Ya kali gue rindu juga sama kalian tau" jawabku jujur. "Ehh udah pada pesen belum sih kalian?" tanyaku pada Felli dan Stevi.
"Oh ya Fell, beberapa hari yang lalu Kevin nelpon aku loh. Dia nanyain kamu ke aku, ya aku jawab kalau kamu gak hubungi aku. Dia kaya cemas gitu sih nadanya" jiwa kepoku meronta saat ingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Ehhmmm dia nyusulin aku ke makam Reynard" jawab Felli dengan menggigit bibir bawahnya.
"Hah? Kok bisa?" pekikku dan Stevi bersamaan. Lalu Felli menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu, mulai dari kedatangan Raisa sampai Kevin yang menyusulnya ke makam Reynard.
"Lalu saat ini gimana hubungan lu sama si Kevin?" tanya Stevi pada Felli.
"Ya... Tetep gitu aja sih, stay still" jaeab Felli sambil menunduk. Aku dan Stevi memberi semangat pada Felli atas hubungannya dengan adik iparku. Saat kita asyik mengobrol, ponselku berbunyi. Ku lihat ternyata Boy yang menghubungiku, aku mengabaikannya. Aku merasa masih di liputi sedikit emosi. Kalaupun aku mengangkatnya yang ada malah kita akan bertengkar lagi. Ku abaikan panggilannya beberapa kali.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang, Felli kembali ke kantor karena jam makan siangnya telah usai. Dia bilang jika tak ingin kena semprot Kevin yang jika marah seperti emak-emak komplek yang lagi berantem. Sedangkan Stevi, dia harus ke rumah sakit karena ada operasi mendadak.
Aku bingung harus kemana, aku tak ingin bertemu dengan Boy terlebi dahulu sampai hati dan pikiranku dingin. Aku memutuskan untuk pulang kerumah lamaku, meskipun tak ku tempati namun masih ada bi Sumi dan keluarganya yang menjaga rumah peninggalan papi dan mami. Sesampainya di sana aku di sambut oleh mereka, aku bercengkrama sebentar lalu masuk ke kamarku. Ku rebahkan tubuh lelahku di atas ranjangku sambil menatap langit-langit kamarku.
"Haaahhhh" ku hela napas dengan berat. Ku pejamkan mata sejenak, namun yang terlintas malah bentakan Boy semalam. Sudut mataku berair karena aku merasa sakit dan nyeri di hatiku lagi. Ya, yang ku tahu saat ini aku sedang tidak baik-baik saja. Aku ingin menyerah, tapi yang ku tahu juga Tuhan membenci sebuah percerian. Karena lelah yang mendera dan pikiran yang semrawut dan amburadul, akhirnya aku tertidur.
Joana pov end
"Aaaaarrrgghhhh" Boy berteriak sambil memukul setir mobilnya. Ia teringat perkataan Joanna jika akan pergi jika ia nekat pergi menemui Sarah. "Kamu kemana sayang" kata Boy frustasi karena tak menemukan Joanna di tempat yang biass di kunjungi istrinya. Boy menepikan mobilnya mencoba mendinginkan kepalanya yang di penuhi dengan kecemasan akan istrinya. Ia memijat pangkal hidungnya dan menetralkan semuanya. Tiba-tiba terlintas dimana tempat yang belum dia kunjungi, ia bergegas menginjak pedas gas dan melaju ke tempat tujuannya.
"Bi, Joanna ada?" tanyanya pada bi Sum saat ia sampai di rumah lama istrinya.
"Ada den, non Joanna ada di kamar den. Dari tadi siang sampai sekarang belum keluar sama sekali den" jawab bi Sum atas pertanyaan Boy.
"Ya udah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya bi" pamit Boy pada bi Sum.
Boy berjalan menuju kamar istrinya, membuka pintunya perlahan. Kamar Joanna nampak gelap, ia mencari saklar lampu dan menyalakannya. Nampak Joanna sedang tidur meringkuk di ranjangnya. Boy menghampiri istrinya. Ia melihat wajah istrinya yang sembab dan ujung matanya yang masih nampak berarir. Boy menebak jika istrinya terlalu banyak menangis. Boy membelai wajah istrinya, mengusap pipinya yang dulu chubby namun sekarang terlihat sedikit tirus.
"Maafkan aku sayang, maaf...." kata Boy lirih lalu mengecup kening Joanna lama.
BERSAMBUNG....
__ADS_1