
Boy terlihat tergesa masuk ke dalam, di lihatnya istrinya sudah tak berada di ruang keluarga. Ia menebak istrinya sudah berada di kamar. Boy segera berlari ke lantai atas menuju kamarnya. Saat ia membuka pintu, dilihatnya Joanna sudah berbaring di atas ranjang. Ia mendekat ke arah Joanna dan duduk di tepi ranjang.
"Joa, aku akan pergi sebentar. Kamu istirahatlah terlebih dahulu, tak usah menunggu aku" kata Boy sambil memegang tangan istrinya.
"Mau kemana malam-malam kaya gini?" tanya Joanna.
"Maafin aku, tapi aku harus jujur. Aku harus menemui Sarah" kata Boy membuat Joanna tersentak.
"Kenapa harus malam-malam seperti ini, besok kan bisa. Ahh ya, siang atau pun malam kan sama saja ya" kata Joanna sinis.
"Maksud kamu apa?" tanya Boy kesal atas perkataan Joanna itu.
"Pergilah, bukannya dia lebih membutuhkanmu daripada aku" kata Joanna yang akan mulai beranjak dari ranjang. Melihat istrinya akan pergi, Boy meraih lengannya.
"Tolong jangan egois Jo" kata Boy, namun Joanna tak menanggapiya. "Sarah butuh aku sekarang. Dia mencoba bunuh diri, dia sekarang ada di rumah sakit. Jadi tolong, sedikit saja mengertilah"
"Bukannya aku selalu mengerti selama ini?" tanya Joanna pada Boy. Ia menghempaskan tangan Boy dan menuju ke walk-in closet. Joanna terlihat mengambil jaket Boy dan memberikannya. "Pergilah, tak perlu memikirkanku atau perasaanku. Toh aku sudah biasa di perlakukan seperti ini" kata Joanna lalu membalik badan hendak keluar ke balkon.
"Bisa gak sih kamu mengesampingkan perasaan kamu sebentar, kamu pikir Sarah gak hancur perasaannya? Mana ada wanita yang bisa menerima jika tiba-tiba pacarnya menikah dengan wanita lain dan sekarang malah ditinggalkan karena kekasihnya lebih milih istrinya ketimbang dia. Kalian sama-sama wanita, seharusnya kamu ngerti gimana sakitnya Jo" kata Boy dengan nada sedikit tinggi.
"Ya, aku tahu aku tahu gimana sakitnya. Aku tau gimana hancurnya. Memang aku yang salah, disini aku yang salah sudah masuk ke kehidupan kamu. Bukankah aku sudah memintamu untuk melepaskanku, hah?" jawab Joanna juga dengan nada tinggi.
"Cukup Joa, cukup!! Aku gak mau berdebat, kamu izinkan atau tidak aku akan tetap pergi. Karena Sarah juga gak punya siapa-siapa disini. Keluarganya ada di luar negeri semua" kata Boy lalu ia beranjak dari duduknya dan akan pergi.
"Jika kamu pergi, aku juga akan pergi" teriak Joanna frustasi.
"Jangan egois Jo" bentak Boy hingga membuat mata Joanna berkaca-kaca.
"Aku atau kamu yang egois hah?" tanya Joanna dengan lirih dan air matanya sudah menetes.
"Terserah Jo, terserah !" kata Boy dengan nada tinggi lalu keluar dari kamar. Ia menutup pintu kamar kasar hingga membuat Joanna kaget.
__ADS_1
Joanna menangis tergugu, ia merosot di dekat ranjang. Tangannya memeluk kakinya yang ia tekuk, wajahnya ia tenggelamkan disana.
"Hiks aku juga sendiri Boy, aku juga sendiri. Bahkan orang tua pun aku sudah tak punya hiks hiks" kata Joanna dalam tangisnya.
Di rumah sakit
Boy memarkirkan mobilnya dan bergegas turun menuju ruang perawatan Sarah. Saat ia masuk, nampak Sarah tergolek lemah dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya. Boy mendekat dan duduk di kursi sebelah ranjang Sarah.
"Sar...." panggil Boy pada mantan kekasihnya itu, karena beberapa hari yang lalu ia sudah memutuskan hubungannya dengan Sarah. Sarah yang mendengar Boy memanggilnya pun mulai membuka matanya.
"Boy... Kamu disini?" tanya Sarah pada Boy yang di jawab deheman dan anggukan oleh Boy. "Jangan tinggalin aku Boy, aku gak mau pisah dari kamu" kata Sarah dengan sudut mata yang berair. Melihat Sarah menangis, tiba-tiba bayangan Joanna yang sedang menangis melintas di pelupuk mata Boy.
"Sar, ini memang harus kamu terima. Bukankah jodoh, mati, daj rezeki adalah kuasa Tuhan? Sebelumnya aku juga tak menerima ini semua Sar, huffffttt" tampak Boy menjelaskan dengan sesekali menghela nafasnya. "Tapi dia mengajarkanku banyak hal dan mengajarkanku dekat dengan Tuhan. Setiap malam aku melihat ia bersua dengan Tuhan lewat doa-doanya dan itu menyadarkanku bahwa seharusnya aku juga dekat dengan Tuhan untuk meminta jawaban yang terbaik atas semuanya"
"Tapi Boy, bagaimana denganku? Bagaimana denganku yang udah nemenin kamu bertahun-tahun?"
"Sar, aku mengambil keputusan karena aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku merenungi semuanya, aku meminta bantuan pada Tuhan untuk mengambil semua keputusan itu. Kamu tahu, Tuhan telah menyadarkanku saat beberapa kali aku berniat mengakhiri pernikahanku. Bahkan dia juga memintaku untuk melepaskannya, namun hatiku tak bisa Sar, aku tak bisa melepasnya"
"Temani aku disini Boy" pinta Sarah pada Boy.
"Tidurlah, aku akan menemanimu" kata Boy.
Joanna tertidur dengan posisi yang masih sama, masih memeluk kakinya yang di tekuk. Mungkin karena kelelahan menangis ia jadi tertidur. Joanna terbangun saat jam menunjukkan pukul 5 pagi.
"Apa yang kau harapkan Joanna?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa sakit semua lalu pergi ke kamar mandi. Selesai mandi ia berdandan santai, memakai celana jeans panjang dan atasan sabrina. Make up yang di pakai pun natural, namun sembab masih terlihat di kedua mata indahnya. Setelah selesai ia lantas turun ke lantai bawah untul sarapan.
"Pagi ma, pa" sapa Joanna pada kedua mertuanya.
"Pagi Jo" jawab mertuanya bersamaan. "Boy mana Jo?" kali ini papa Danu yang bertanya.
"Boy belum pulang pa, semalam dia di hubungi Sam kalau ada kendala di perusahaan cabang" jawab Joanna bohong. Ia tak ingin ada pertengkaran antara anak dan orang tua terjadi. Saat mereka akan menikmati makanan Kevin pun terlihat sudah rapi dengan setelan jas kerjanya. Ia langsung duduk di kursi yang biasanya ia duduki di meja makan.
__ADS_1
"Pagi pa, ma, Ale" sapa Kevin. "Loh kak Boy mana? Udah berangkat?" tanya Kevin.
"Boro-boro berangkat, orang dia belum pulang" jawab mama Vina.
"Udah-udah, Boy juga pergi karena masalah perusahaan" kata papa Danu lalu mengajak keluarganya sarapan.
Saat semua selesai makan, Joanna berpamitan kepada semuanya untuk pergi ke makam papi dan maminya.
"Bareng Kevin aja Jo" saran papa Danu yang di angguki oleh istrinya. Joanna pun menyetujuinya, ia berangkat dengan Kevin. Saat di dalam mobil, Joanna hanya diam saja tak seperti biasanya yang selalu berceloteh tentang banyak hal.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin yang melihat Joanna hanya diam saja. Joanna menggeleng saat menjawab pertanyaan Kevin. "Mata kamu sembab." kata Kevin datar.
"Aku kangen papi sama mami Mpin" bohong Joanna pada sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Kangen papi mami atau kak Boy nyakitin kamu?" skakmat, pertanyaan Kevin membuat Joanna kicep, lidahnya kelu untuk menjawabnya.
"Apa salah jika aku meminta suamiku agar tidak menemui mantan pacarnya?" tanya Joanna yang membuat Kevin mengkerutkan dahinya dan membuat alisnya menyatu "Hasssshh.... Boy memutuskan hubungannya dengan Sarah beberapa hari yang lalu, tapi semalam dia mendapat kabar jika Sarah melakukan percobaan bunuh diri. Aku ada debat sedikit sama dia, mungkin ada kata-kataku yang nyinggung dia Mpin. Dia bentak aku dengan nada tinggi lalu pergi menemani Sarah di rumah sakit" cerita Joanna panjang lebar pada Kevin.
"Keterlaluan itu si Bo Bo Boy" kesal Kevin pada kakaknya itu.
Haattcchiii "Pasti ada yang mengumpatku ini" gumam Boy lirih. Hari ini Sarah sudah di perbolehkan pulang, Boy mengantarkannya ke apartment.
"Makasih Boy, maaf merepotkanmu" kata Sarah saat sudah berada di apartmentnya.
"Jangan ulangi hal bodoh itu lagi Sar, Tuhan tak akan menyukainya. Aku harap kau akan mendapatkan yang terbaik dari Tuhan. Aku pulang dulu, Joanna pasti sudah menungguku" pamit Boy pada Sarah. Boy mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah padatnya ibu kota. Sesampainya dirumah, ia langsung pergi ke kamarnya. Namun ia tak menemkan Joanna berada di kamar, pintu balkon pun juga tertutup. Boy bergegas ke bawah untuk mencari istrinya. Saat berada di taman, ia melihat mamanya sedang merawat bunga-bunganya.
"Mah, Joanna kemana? Kok gak ada?" tanya Boy pada mamanya.
"Mana mama tahu, tadi pagi sih pamit ke makam papi maminya" jawab mama Vina sedikit acuh.
Boy kembali ke kamar dan menghubungi Joanna, namun tak ada jawaban dari istrinya itu. Boy beranjak dari ranjang dan mengganti bajunya. Saat ia bercermin, ia menemukan secarik kertas dengan coretan pena di sana.
__ADS_1
"Hanya karena aku cukup kuat untuk menangani rasa sakit, bukan berarti aku layak mendapatkannya."