
Kevin memanggil Richard untuk keruangannya, ia akan menanyakan semua yang sahabat sekaligus asistennya itu ketahui tentang Felli.
"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Richard saat sudah berada di ruangan Kevin.
"Ck jam kerja udah selesai Rich" decak Kevin saat Richard menanyainya.
"Gue tahu, lu pasti mau nanyain Felli kemana kan?" tebak Richard. "Jawaban gue sih, gue gak tahu" kata Richard santai. "Gue cuma lihat dia lari keluar dari ruangan lu dan masuk ke toilet. Habis itu pas gue masuk keruangan lu, mata suci gue ternodai dengan adegan kissing sepasang kekesih yang sedang melepas rindu" lanjut Richard dengan senyum miringnya. Kevin yang mendengar pun sedikit kaget jika ternyata Richard melihat saat Raisa menciumnya.
"Apa yang lu lihat gak seperti yang lu kira Rich. Sasa tiba-tiba nyium gue..." kata Kevin mencoba memberi penjelasan tapi sudah di potong oleh Richard.
"Dan lu menikmatinya, iya kan? See, Felli pergi dan gak bisa di hubungi. Bahkan Stevi pun gak tahu Felli dimana sekarang. Nomor ponselnya pun di hubungi gak aktif" kesal Richard pada Kevin. Kevin yang mendengarnya pun hanya terdiam, ada rasa khawatir yang masuk ke dalam diri Kevin.
"Ale... Ya, Ale pasti tahu dimana Felli berada. Karena Felli lebih dekat ke Ale daripada Stevi" gumam Kevin dalam hati. Ia segera merogoh ponselnya dari saku celananya dan menghubungi Ale.
Tut.... Tut.... Tut..... "Halo Ale.....,"
"Ngapain sih lu telpon? Ganggu aja!"
"Lah, napa lu yang ngangkat sih kak. Gue mau ngomong nih sama Ale, urgent ini urgent...!!!" kesal Kevin saat tahu bahwa Boy yang ngangkat panggilannya. Terdengar di seberang suara istri Boy menanyakan siapa yang menelponnya, Boy menjawab jika itu adalah panggilan dari Kevin. Joanna lalu meminta Boy untuk meloudspeakernya.
"Ada apa Vin?" suara Joanna yang lembut terdengar di telinga Kevin.
"Ehmmm anu Al, hmmmmn..." lidah Kevin kelu, ia takut Ale marah atas kejadian ini.
__ADS_1
"Ada apa? Kamu mau ngomong apa sih?" tanya Joanna yang penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Kevin. "Ahh lama lu, gangguin orang aja deh. Udah-udah tutup aja panggilannya Joa" pinta Boy yang kesal pada Kevin.
"Ehh jangan tutup dulu, duh.... Kalian lagi ngapain sih sebenernya. Gak berperi kekakakan banget sih" gerutu Kevin pada keduanya.
"Lagi mau bikin keponakan yang lucu buat lu, biar ntar lu yang momong anak kita dan gue bikinin adeknya lagi hahahahah" jawaban absurd Boy membuat adiknya semakin tambah kesal.
"Please kalian lanjutin aja nanti dulu oke.. Ale, lu ada di hubungi Felli gak? Ngasih tahu dia dimana gitu sekarang? Atau lu tahu tempat favorit dia kalau lagi galau?" tanya Kevin pada Joanna.
"Gak, Felli gak hubungin gue sama sekali hari ini. Kalau lagi galau biasanya sih dia gak jauh-jauh dari makan sih. Kalau tempat biasanya sih dia suka ke danau xx, sama eeeee sama...."
"Udah cepet kasih tahu itu cunguk sayang, nanggung ini ahhh" sela Boy dengan kata-kata yang absurd hingga Kevin tambah kesal padanya.
"Biasanya sih eee.... Biasanya dia ke makam mendiang Reynard sih" beritahu Joanna pada Kevin.
"Udah lu tanya aja sih sama asisten lu, dia tahu semuanya tentang Felli, Bye!!!!" tut tut tut tut suara Boy mematikan panggilannya.
"Si*l" kesal Kevin atas kelakuan Boy itu. Ia lantas melihat ke arah Richard. "Anterin gue ke makam Reynard sekarang!" titahnya pada Richard yang di angguki olehnya.
Felli pov
Aku berlari, menghindar dari keadaan ini. Mencoba untuk menepis semua rasa yang tumbuh terlalu cepat untuknya. Mungkin benar, cinta memang tak bisa di paksakan. Kini cintanya telah kembali, itu artinya aku harus sadar diri untuk melepas impian dan pergi.
Sesak, ya sangat sesak yang ku rasa saat ini. Sesaknya hampir sama saat Reynard meninggalkanku tanpa pesan apa pun. Reynard yang dulu saat bersamaku tak pernah menyakiti, ia selalu berusaha semampunya untuk membuatku bahagia. Tapi sepertinya lagi-lagi kebahagiaan tak berpihak kepadaku. Ia pergi, meninggalkan cintanya yang begitu besar untukku. Duniaku seakan runtuh saat ia pergi, karena hanya ia yang ku punya saat itu. Orang tuaku? Ahh mereka mengejar kebahagiannya masing-masing bersama keluarga barunya sendiri.
__ADS_1
"Rey, aku datang lagi. Maaf jika aku masih belum bisa berhenti menangis saat mengunjungimu" kataku lirih dengan isak tangisku. "Rey, kamu pasti tahu dan lihat jika aku sedang membuka hati untuk seorang pria. Tapi sayangnya hatinya tak sama dengan hatiku Rey" lanjutku dengan bersimpuh di makam Reynard yang sudah 4 tahun meninggalkanku.
"Rey, aku rindu. Datanglah sebentar saja ke mimpiku Rey. Katakan apa yang harus aku lakukan. Cintanya telah kembali Rey. Apa mungkin aku harus pergi Rey?" monologku dengan hati yang berkecamuk tak karuan.
Ku tumpahkan semua rasa resahku dan gundah gulanaku di pusara Reynard sore ini.
Ku pejamkan mata sejenak, menikmati angin sore ini. Saat perlahan ku buka mata, ku lihat orang yang begitu ku rindukan berdiri tak jauh dariku. Wajahnya terlihat cerah dan sangat tampan. Ia tersenyum manis kepadaku seolah mengisyaratkan semua akan baik-baik saja. Aku segera berdiri dan akan beranjak karena sangat ingin memeluknya, namun ia pergi, hilang, dan meninggalkanku lagi. Ku tumpahkan lagi air mataku yang seolah tak berhenti keluar dari pelupuk mataku. Aku meraung berteriak memanggil namanya.
"Rey..... Reynard.... Rey...naaaarrddd....." aku terus berteriak memanggil namanya. "Kenapa, kenapa semua meninggalkanku, kenapa seorang pun gak ada yang peduli padaku." raungku dalam isak tangisku.
Hujan tiba-tiba saja turun dengan begitu deras, kudongakkan kepalaku dan ku pejamkan mataku untuk menikmati setiap tetes air yang menerpa wajahku. Ku rentangkan tanganku dan terus menikmati hujan yang seakan tahu bagaimana hatiku. Sampai saat ku rasakan ada sepasang tangan kekar yang melingkar di pinggangku.
Felli pov end
"Masih jauh Rich?" tanya Kevin pada asistennya yang sedang fokus dengan jalan.
"Gak, mungkin sekitar 15 menit lagi." jawab Richard malas karna sejak berangkat Kevin terus saja bertanya tanpa henti. "Huuftt" Richard menghela nafasnya dalam. "Udah tahu Felli ada rasa sama lu, ehh lu malah jaim abis. Kalau emang lu punya perasaan yang sama seharusnya lu ungkapin juga ke dia, kalaupun lu gak punya perasaan ke dia, lu harusnya juga ngomong ke dia biar dia gak berharap ke lu. Dia sendiri Vin, orang tuanya gak mikirin dia sama sekali. Mereka ngejar kebahagiaan mereka sendiri tanpa memikirkan bagaimana Felli. Cuma Reynard yang dia punya, tapi itu dulu sebelum Reynard ninggalin Felli selamanya. Cuma dia yang ada buat Felli, everytime." cerita Richard dengan masih fokus memyetir. Kevin terdiam mendengar cerita asistennya itu. Ia merasa bersalah, ia merasa telah menarik ulur hati Felli.
"Kita udah sampai, lu masuk sendiri sana. Makamnya ada di sebelah sana" kata Richard menunjukkan letak tempat peristirahatan terakhir Reynard. "Gue tunggu sini, ogah gue kehujanan" lanjut Richard lagi.
Kevin bergegas keluar dari mobilnya dan masuk ke area pemakaman, ia menoleh ke kanan dan ke kiri sampai mendapati gadis yang ia cari tengah berteriak meraung memanggil nama Reynard dan melepaskan beban hatinya. Ia melihat gadisnya merentangkan kedua tangannya dan mengadahkan wajahnya keatas serta memejamkan matanya seakan menikmati tetesan air hujan yang jatuh menerpa wajah dan tubuhnya. Kevin segera berlari ke arah Felli. Saat sampai di belakang Felli, ia segera memeluk gadis itu dari belakang, melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang ramping Felli.
"I'm here, don't worry......"
__ADS_1
Bersambung.......