Cinta Joanna

Cinta Joanna
Sakit


__ADS_3

Boy mendadak menepikan mobilnya, ia memposisikan duduknya menghadap Joanna. "Heii are you serious?" tanya Boy pada Joanna dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ya, I'm serious about it" jawab Joanna sambil menunduk.


"Joa, lihat aku" pinta Boy pada istrinya. "Look at me Joa" ulang Boy dengan sedikit penekanan. Namun Joanna tak bergeming. Dia masih saja menunduk, tak terasa air matanya menetes. Dia tak ingin Boy melihat kerapuhannya, dia tak ingin terlihat menyesal dengan keputusannya. "Bagaimana dengan mama? Jika mama tahu kita bercerai, mama pasti akan down dan kesehatannya akan turun" kata Boy mencoba menahan Joanna untuk tidak meminta cerai. Entah, tapi hatinya tak rela saat Joanna meminta cerai darinya.


"Mama papa sudah tahu Boy" kata Joanna sambil menepis halus air mata yang jatuh di pipinya. Ada rasa kecewa dalam hati Boy saat istrinya tidak memanggilnya oppa seperti biasanya. "Aku sudah memikirkan ini berulang kali. Sekali saja aku ingin egois, tapi aku tak bisa. Di sini aku yang salah, aku yang udah datang tiba-tiba dan masuk ke kisah kamu. Maafkan aku Boy" kata Joanna dengan suara yang bergetar pertanda ia sedang menumpahkan air matanya yang sedari tadi mendesak ingin keluar.


Boy melihat iba ke arah istrinya, namun ia bingung harus berkata apa. Ia tak tahu kenapa hati dan dirinya tak rela saat Joanna mengajak bercerai. "Kita pulang sekarang, kita akan bicara saat sudah sampai dirumah" kata Boy sambil menjalankan mobilnya lagi.


"Ma, tadi Ale wa aku ma. Dia bilang akan mengajak cerai kak Boy" kata Kevin saat mereka sedang santai di ruang keluarga. Papa dan mamanya yang mendengar itu sedikit terkejut dengan keputusan cepat Joanna.


"Kamu jawab apa Vin?" tanya papa Danu.


"Aku jawab kalau kita akan dukung apapun keputusan dia pa"


"Haaaahhhh bikin ulah aja itu anak" gerutu mama Vina sambil menghela napas. "Kita harus beri dia pelajaran pa" lanjut mama Vina lagi.


"Kita lihat dulu aja ma. Kita lihat apa yang akan di lakukan oleh Boy" jawab papa Danu. "Vin, coba kamu hubungi Sam. Tahu apa saja dia tentang ini" titah papa Danu pada Kevin.


"Siap pa, Kevin ambil hp dulu di kamar ya" kata Kevin yang di balas anggukan oleh papanya.


Sesampainya di apartment, Joanna langsung turun dan bergegas masuk ke dalam. Tapi belum sampai lift yang akan membawanya ke atas, dia tiba-tiba berbelok ke toilet yang ada di loby.

__ADS_1


Hoeekkk hoooeekk hooekkk terdengar Joanna muntah. Boy yang mengikutinya pun panik, tanpa peduli dia masuk kr toilet wanita. Ia melihat Joanna terus muntah, ia mendekat dan memijat tengkuk leher istrinya. Joanna yang kaget menoleh ke arah Boy mengisyaratkan bahwa dia tak apa-apa.


Sesampainya di unit mereka, Joanna terlihat langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia menutup matanya dengan lengannya. Boy yang setelah sampai langsung masuk ke dapur untuk membuat cokelat panas untuk istrinya pun harus menyayangkannya karena saat kembali dia melihat Joanna sudah terlelap. Tapi ia melihat Joanna nampak gelisah dalam tidurnya.


"Jo.... Joa... Joa.." panggil Boy sambil menggoyangkan pundak Joanna. Tapi Joanna tak menyahuti panggilan suaminya itu. Saat Boy akan mengangkat istrinya untuk di pindah ke kamar, ia merasakan jika tubuh istrinya itu sedang demam. Boy bergegas memindahkan Joanna ke dalam kamar. Setelah merebahkan istrinya di atas ranjang, Boy bergegas ke apotik 24jam. Ia membeli penurun demam dan kompres.


Saat memasuki apotek, para pelayan apotik pun di buat melongo dengan Boy. Batin mereka kapan lagi ada cowok ganteng masuk apotek.


"Selamat malam mas, ada yang bisa di bantu?" tanya salah satu pelayan wanita disana dengan senyum yang dibuat manis.


"Ada obat buat muntah dan juga demam?" tanya Boy pada pelayan apotek yang membuat mereka saling pandang dan menatap curiga pada Boy. "Hei, cepat berikan obatnya. Istri saya sendirian di rumah!" teriak Boy pada pelayan apotek tersebut.


"Ahh baik akan saya carikan obatnya tuan" jawab pelayan tersebut sambil berlalu mencari obat yang diminta Boy. "Ini tuan, ini untuk meredakan mualnya dan ini untuk demamnya. Total semuanya 35 ribu tuan. Mungkin ada yang lain tuan?"


"Ini tuan, jadi total semuanya 50 ribu tuan" kata pelayan apotek.


Boy menyerahkan uang 100 ribuan dan berkata kembaliannya untuk pelayan itu.


Boy segera berlari kembali ke apartment, setelah masuk ia lekas mengompres dahi Joanna dengan kompres yang dia beli tadi. Saat dia akan beranjak dari ranjang tiba-tiba Joanna meraba-raba ranjang seperti mencari sesuatu.


"Mi, temenin Joanna mi. Joanna takut sendiri mi, Joanna gak sanggup mi" kata Joanna masih dengan memejamkan matanya. Wajahnya terlihat pucat pasi.


"Hei, are you okay?" tanya Boy sambil memegang tangan Joanna yang berkeringat. Joanna masih terus menggumam dan sesekali menangis. "Heii ada aku disini, tenang ya. Aku gak akan pergi, aku akan tetap disini nemenin kamu." kata Boy lagi.

__ADS_1


Boy masih tetap menggenggam tangan Joanna, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk.


"Ya? Ada apa Sar?" tanya Boy saat mengangkat panggilan telponnya yang ternyata dari Sarah.


"Miss you Boy, aku pengen ketemu kamu" jawab Sarah dengan nada manja.


"Ini udah malam Sar, maaf aku gak bisa" tolak Boy dengan halus.


"Ayolah sayang, aku rindu. Are you not miss me beib?"


"Sar, sorry. Please untuk sekali ini, tolong ngertiin posisiku. Papa dan mama terus memantauku, dan juga Joanna sedang sakit saat ini. Aku gak mungkin ninggalin dia"


"Oh, jadi kamu lebih mentingin dia daripada aku, iya?? Oke fine, aku cukup tahu posisiku Boy" kata Sarah dengan nada emosi lalu langsung mematikan panggilannya.


Sarah menghempaskan semua barang yang ada di dekatnya, dia marah dengan Boy yang tidak biasanya menolak untuk bertemu. "Aaarrggghhh awas kau Joanna, aku akan membuat perhitungan denganmu" teriak Sarah kesal.


"Mi. pi.. hhmmmmm" gumam Joanna kembali hingga mengalihkan fokus Boy dari ponselnya.


"Aku disini Joa, oppa disini buat kamu" kata Boy dengan mengelus tangan Joanna. Boy merasakan panas Joanna yang begitu tinggi. Tiba-tiba ia teringat dengan metode skin to skin. Boy lalu melepas atasan Joanna, melihat tubuh Joanna bagian atas yang bolos hanya menyisakan bra, Boy terlihat menelan salivanya berkali-kali.


Boy melepas kaosnya lalu berbaring di dekat istrinya, masuk ke dalam selimut yang sama. Ini untuk pertama kalinya Boy dan Joanna tidur seranjang. Boy lekas menarik tubuh Joanna, menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya. Ia memeluk tubuk panas Joanna dan dengan sendirinya tanpa di sadari ia menciumi pucuk kepala istrinya itu, menghirup wangi rambut Joanna.


"Nyamannya....." batin Boy yang lalu masuk ke alam mimpi dengan mendekap erat istrinya.

__ADS_1


__ADS_2