
Boy yang panik melihat istrinya muntah-muntah bukan malah masuk dan memijak tengkuknya tapi malah membuat heboh seisi rumah dengan teriak-teriak memanggil mamanya.
"Ma... Mama.... Ma.. Mama... Mama dimana ma ?"
"Haissshh apaan sih itu anak, udah kaya tarzan aja. Dikira rumah ini hutan apa" kesal mama Vina saat mendengar putranya memanggil dengan berteriak. Mama Vina pun bergegas menghampiri Boy yang masih berada di ujung tangga bawah. "Ada apa sih Boy, ini masih pagi Boy, kamu teriak-teriak kaya di hutan aja"
"Joa mah Joa..." kata Boy dengan wajah panik.
"Kenapa istri kamu?" tanya mama Vina yang juga ikut panik.
"Ayo ma" kata Boy dengan memegang pergelangan tangan mamanya dan mengajak mamanya untuk ke kamarnya, sedangkan mama Vina yang dilanda panik juga bingung dengan sikap anak sulungnya itu. "Ma, Joa muntah-muntah ma, padahal tadi sebelum aku telpon Sam dia gapapa" jelas Boy pada mamanya. Sesampainya di kamar, Joanna sudah terlihat duduk di depan meja rias. Dia terlihat sedang memakai make upnya.
"Sayang...." panggil Boy sambil mendekat ke arah istrinya. Joanna yang mendengar panggilan dari suaminya pun menoleh ke arah sumber suara. Namun ternyata suaminya tak sendiri, ada mama Vina juga yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Mama... Ada apa ma? Ada perlu bantuan Joanna kah ma?" tanya Joanna pada mama mertuanya.
"Tidak sayang, hanya saja ini tadi suami kamu teriak-teriak kaya tarzan, dia panggil-panggil mama lalu menyeret mama kesini. Katanya kamu muntah-muntah." jelas mama Vina pada menantunya itu.
"Joanna gapapa ma, paling juga masuk angin ma" jawab Joanna yang membuat mama mertuanya lega.
"Ya udah kalau gitu mama ke bawah ya, mau siap-siap, bentar lagi sarapan. Kamu kalau udah selesai cepetan turun" kata mama Vina lalu bergegas ke bawah.
Anggota keluarga Wijaya saat ini sudah berkumpul di meja makan. Ada berbagai menu yang tersaji di meja makan tersebut. Namun yang menjadi perhatian mereka adalah sambal terasi, ikan asin, dan kangkung yang hanya di rebus. Melihat suami, adik ipar, serta mertuanya memandang bingung, akhirnya Joanna membuka suara.
"Itu request Joanna tadi" katanya dengan cengir kudanya.
"Kamu yakin sayang makan pakai itu?" tanya Boy yang mewakili pertanyaan adik serta orang tuanya.
"Iya, soalnya aku pengen banget tadi pas bangun tidur heheheh" jawab Joanna dengan menampilkan gigi putihnya.
__ADS_1
"Busyet dah, semalem nih ma, dia bikin heboh di depan kamar Kevin. Minta anterin ke mang Karni katanya, padahal nih ya, lakinya mau nganterin ehh dianya bikin drama katanya dia di perlakukan beda sama kak Boy, dia bilang mmm mmm" cerita Kevin pada mamanya yang harus terputus karena Joanna sudah menyumpal mulutnya dengan paha ayam.
"Makan tuh diem, jangan ngomong mulu. Udah kaya cewek aja lu" kata Joanna kesal karena mulut ember adik iparnya itu.
"Rasain lu, di sikat kan lu sama emaknya singa hahahaha" ejek Boy pada adiknya itu.
"Kamu juga diem, habisin tuh makanan kamu" kata Joanna ketus dan dengan nada galak hingga membuat Boy susah menelan salivanya. Karena baru kali ini dia di buat kicep istrinya dengan wajah jutek seperti itu. Mereka semua di buat terbengong dengan aksi Joanna yang menambah nasinya sampai dua kali.
"Kamu gak ke kantor Boy?" tanya papa Danu.
"Enggak pa, Joanna minta di temenin katanya" jawan Boy sambil menyeruput kopi di ruang keluarga. Mereka lalu membicarakan masalah bisnis, sampai Boy menceritakan kelakuan konyol adiknya yang mengirimkan berkas kerjasama ke kantor Boy yang membuat papa Danu geleng-geleng dan tertawa terbahak.
"Ngomongin apa sih, kok kayanya asyik banget" kata mama yang mendengar tawa suami dan anaknya.
"Itu mah, anak kamu yang bontot. Masa iya minta kerjasama ke kakaknya bukannya ngomong langsung ehh malah ngirim berkas kerjasama ke kantornya Boy" jawab papa Danu dengan masih tertawa.
"Issshh kamu apaan sih sayang, kepalaku pusing ini" kata Joanna saat ia merasakan tangan suaminya meraba dahinya.
"Kita ke dokter yuk, apalagi tadi pagi kamu muntah-muntah juga." ajak Boy pada istrinya.
"No, aku gak mau. Aku maunya ninaninu sekarang" kata Joanna yang membuat mulut Boy ternganga tak percaya. Karena istrinya itu minta ninaninu duluan dan apalagi di jam yang masih terhitung pagi. Sejenak Boy berpikir jika akhir-akhir ini Joanna selalu semangat jika diajak ninaninu. "Kamu gak mau ninaninu sama aku?" tanya Joanna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"No, gaskeun baby" jawab Boy lantas ia langsung menyerang Joanna dengan brutal. Mereka melenguh, mend*sah, dan berbagi peluh bersama. Boy yang mendominasi permainan pun membuat Joanna mendapat pelepasannua berkali-kali.
"Saya..aang akh akh gan..ti.. ga..ya.. saa...yaaanngg" kata Joanna terbata karena di selingi oleh d*sahannya. Keadaanpun terbalik, kini Joanna yang mendominasi. Ia menjadi leader dalam permainan ini. Dengan semangat ia naik turun di tubuh suaminya dengan terus meracau karena ke enakkan.
"Faster baby akhh..." kata Boy yang sudah memegang pinggul Joanna dan membantu Joanna bergerak agar wanitanya itu bergerak lebih cepat. Beberapa waktu kemudian mereka terlihat sudah berbaring dan berpelukan. Ya, mereka sudah menggapai puncak bersama beberapa waktu yang lalu.
Ddrrrtttt dddrrtttt Boy bergegas meraih ponselnya di atas nakas dan menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.
__ADS_1
"*Ya sam?"
"............"
"Oke, kurang lebih 1 jam lagi saya sampai kantor*"
"............"
Boy menoleh ke arah Joanna yang sudah memandangnya, dengan sedikit takut jika istrinya tak mau di tinggal, Boy meminta izin untuk ke kantor sebentar.
"Sayang, aku...." belum selesai Boy bicara, Joanna sudah menyelanya.
"Sam ya? Nyuruh ke kantor? Iya udah gapapa, kamu ke kantor gih, siapa tahu penting" kata Joanna dengan tersenyum lembut. Boy pun bernafas lega karena istrinya mengizinkan ia untuk ke kantor.
Saat ini Boy sedang di dalam mobil, ia sedang dalam perjalanan ke kantor. Saat ia menyetir ia sekelebat memikirkan tentang tingkah Joanna dari semalam yang moodyan.
"Kenapa sih itu wanita sebenernya, moodnya berubah-ubah banget belakangan ini. Bikin kesel aja kan jadinya, untung gue cinta, kalau gak udah gue lempar dari balkon itu wanita" monolog Boy sambil menghela nafasnya dalam.
Boy pun sampai di kantor dalam waktu 45 menit, ia langsung bergegas ke ruang rapat dengan sedikit berlari. Sampai disana Sam sudah menunggunya dan memberikan materi rapat yang telah di undur Sam selama satu jam karena menunggu big bossnya datang. Rapat berjalan dengan lancar, namun di sela-sela rapat ponsel Boy yang ada di atas meja terus menyala. Boy tidak menyadarinya karena ia masih memperhatikan presentasi dari salah satu kepala divisi di kantornya, hingga Sam akhirnya membisikkan sesuatu kepadanya.
"What?" pekik Boy yang membuat semua peserta rapat menoleh ke arahnya. "Maaf, rapat di lanjutkan oleh Sam" kata Boy lalu ia berlari keluar ruangan.
***BERSAMBUNG.....
KIRA-KIRA ADA APA YA BOY SAMPAI BERLARI DAN MENINGGALKAN RAPAT??? h
YUK TETEP DUKUNG AKU DENGAN LIKE, KOMEN, VOTE, DAN MASUKKAN KE NOVEL FAVORIT KALIAN.
SARANGHAE READER 😘😘***
__ADS_1