
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Joanna telah bersiap dengan pakaian kerjanya yang rapi. Atasan berwarna putih dengan blazer berwarna abu dan juga rok selutut dengan warna senada. Tak lupa rambut panjangnya yang dia ikat kuncir kuda. Joanna dengan teliti mengunci rumahnya karena saat ini hanya dia yang tinggal dirumahnya. Setelah memastikan semua pintu terkunci, Joanna segera mengendarai motor kesayangannya menuju kantor.
"Hai Joan, are you okey ?" tanya Raka, kepala divisi keuangan saat melihat Joanna masuk ke kubikelnya.
"Ahh, saya tidak apa-apa pak. Bukankah sudah seharusnya saya masuk bekerja hari ini pak." jawab Joanna.
"Oke, aku tahu ini berat. Aku harap kamu menjadi wanita yang kuat dan tangguh. Yakinlah akan ada pelangi setelah hujan" kata Raka dengan senyum manisnya yang membuat wanita manapun akan langsung menyukainya.
Joanna hanya menanggapinya dengan senyumannya, lalu setelahnya dia mulai mengerjakan pekerjaannya yang terbengkalai beberapa hari ini.
"Apa jadwalku hari ini Sam ?" suara berat dan dingin seorang Boy terdengar di telinga sang asisten Samuel Chandra.
"Hari ini tuan tidak memiliki jadwal meeting atau apapun tuan" jawab Sam sopan.
Tok..tok..tok... suara ketukan pintu ruangan Boy membuat Boy mengurungkan niatnya untuk berbicara lagi pada Sam.
"Masuk..!" perintah Boy pada si pengetuk pintu.
"Selamat pagi tuan, maaf saya dari divisi keuangan ingin menyerahkan laporan yang harus tuan tanda tangani" suara lembut nan sopan terdengar di telinga si pemilik perusahaan dan sekretaris pribadinya.
Tanpa menunggu lama, Boy segera membaca dan menanda tangani laporan keuangan tersebut dan menyerahkan kembali pada si pembawa laporan.
"Terima kasih tuan, saya permisi" pamitnya pada atasannya.
Boy hanya menjawab dengan deheman saja. Matanya langsung melihat kearah Sam yang tak mengalihkan pandangannya pada orang yang membawa berkas laporan tersebut.
"Cantik Sam?" tanya Boy pada Sam.
"Cantik pake banget" jawab Sam dengan senyum-semyum tak sadar dengan siapa dia berbicara karena terlalu fokus dengan wanita tersebut.
"Sam, apakah sudah tak membutuhkan uang lagi" kembali Boy bertanya.
"Hah... Maaf tuan, bukan maksud saya...." Sam yang tersadar bingung bagaimana cara menjawab tuannya yang arogan itu.
"Maksud saya apa Sam? Kalo kerja fokus dong, jangan lihat yang bening dikit langsung ngeblank. Kamu saya bayar bukan untuk memandangi karyawan perempuan saya. Kamu...."
Drrrtttt drrrrtttt bunyi ponsel dalam saku celana Boy membuat Boy berheni memgomeli Sam. Saat akan mengangkat panggilan itu pun terdengar decak suara dari Boy.
"Iya ma, ada apa?"
"Hari ini kamu gak sibuk kan Boy?"
"Sibuk, pakai banget ma" jawab Boy dengan malas karena ia tahu pasti mamanya akan membahas perjodohan yang telah di bicarakan semalam.
__ADS_1
"Udah dulu ya ma, Boy ada meeting nih sama klien. Bye ma, love you" dengan segera Boy mematikan panggilannya secara sepihak hingga membuat mamanya menggerutu kesal.
"Dasar bocah tua nakal, awas saja kamu ya Boy" gerutu mamanya yang sebenarnya sudah ada di depan ruangan Boy sedari tadi.
Gubraakkk.....!!! suara pintu ruangan Boy terbuka dengan kasar. Dan yang membuat Boy kaget itu adalah ulah sang mama yang dengan menenteng tas mahalnya dan berjalan tergesa menghampiri Boy yang masih terbengong dan kaget dengan kedatangan mamanya yang tiba-tiba.
"Dasar kamu ya, ini yang kamu bilang meeting hah?" omel mama Vina sambil menjewer telinga Boy.
"Aduh aduh aduh mah, lepasin mah. Malu tau ada Sam, wibawa Boy hancur seketika mah kalo kaya gini caranya" mohon Boy pada mamanya sambil memegang tangan mama Vina yang masing bertengger di telinga Boy. Dan Sam ? Jangan tanya, dia sudah menahan ketawa sedari tadi karena adegan di depan matanya.
"Ya Tuhan, aku mohon semoga aku kuat menahan untuk tidak tertawa. Karena gaji dan bonus taruhannya Tuhan..." doa Sam dalam hatinya.
"Sam, hari ini Boy ada jadwal apa?" tanya mama Vina pada Sam. Dan seketika Sam langsung menunduk karena Boy melotot pada Sam memberi kode untuk tak mengatakan bahwa dia free hari ini.
"Hmmm... Anu nyonya, tuan Boy. Ehmmm...." Sam bingung harus menjawab apa, disisi lain dia juga ingin istirahat, disisi lain juga dia takut dengan tatapan intimidasi dari Boy.
"Cepat jawab Sam.!!" bentak mama Vina. "Kamu gak usah takut dengan Boy, ada mama disini Sam.!" lanjut mama Vina.
"Tuan Boy free hari ini nyonya" jawab Sam cepat sambil menunduk.
"Awas kau Sam, akan aku potong habis gaji beserta bonusmu!" ancam Boy pada Sam.
"Gak ada potong memotong apapun, kamu tenang saja Sam, bonusmu 2x gajimu. Dan jika Boy memecatmu, kau bisa jadi sekretaris pribadinya Kevin di perusahaannya hahahaha"
"Ma... Mama apa-apaan sih ma, gak bisa gitu dong. Kevin kan udah ada Richard. Mama mau kemanain coba dia ma" protes Boy pada mamanya.
Saat hendak memasuki lift, mereka bertemu dengan Joanna yang baru saja dari toilet di lantai teratas perusahaan tersebut karena dia baru saja dari ruangan Boy untuk meminta tanda tangan.
"Pfffttt" suara tertawa tertahan Joanna saat melihat adegan ibu dan anak tersebut.
Mendengar itu Boy langsung melotot kearah Joanna yang langsung menunduk saat melihat tatapan dingin dan mematikan dari Boy.
"Astaga, jantung baek-baek ya lu. Taehyung kw meskipun lagi marah melotot kek gitu tetep aja ganteng bingits" batin Joanna dalam hati.
"Joanna, itu kamu nak?" suara mama Vina membuat Joanna mengangkat kepalanya. Joanna tersenyum manis kepada wanita paruh baya tersebut.
"Hmmm kebetulan Joanna kerja disini, jadi pertemuan mereka akan semakin intens" batin mama Vina.
"Ahhh hai tante Vina, apa kabar?" sapa Joanna yang langsung berhambur memeluk mama Vina setelah mama Vina melepas jewerannya di telinga Boy.
"Tante baik sayang, tante turut berduka cita ya atas berpulangnya kedua orang tua kamu. Mereka sahabat terbaik tante sejak jaman SMA dulu" kata mama Vina sambil mengelus punggung Joanna dengan lembut. "Boy, kenalkan dia Joanna. Anak sahabat mama dan papa" kata mama Vina mengenalkan Joanna pada putra sulungnya.
"Iya, Boy tau ma. Dia kan karyawan Boy ma"
__ADS_1
"Iya, dia karyawan kamu sekaligus calon istri kamu" jawab mama Vina sabtai yang membuat kedua anak manusia beda jenis itu tercengang.
"Hah..??" teriak Boy dan Joanna serentak yang membuat mama Vina tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Tuh kan belum apa-apa kalian udah kompak gitu ihh.. Mama gak sabar deh buat nikahin kalian hahahhaha" tawa mama Vina semakin membuat mereka berdua bingung.
"Maksud tante apa sih tante" tanya Joanna dengan wajah bingungnya.
"Iya ma, maksud mama apa sih. Tiba-tiba bilang dia calon istri Boy. Boy udah punya Sarah ma" protes Boy pada mamanya.
"Wait, kamu tunggu sini sebentar ya Joanna. Biar mama bicara sama Boy sebentar" pinta mama Vina yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Joanna.
Mama Vina segera menyeret Boy menjauh dari Joanna. Beliau menjelaskan bahwa dia dan Joanna sudah dijodohkan sedari kecil. Namun bukan Boy namanya yang menerima begitu saja dengan perjodohan itu. Tapi dengan sedikit ancaman yang mematikan, akhirnya Boy menuruti mamanya. Setelah perdebatan panjang, mereka lalu kembali ketempat Joanna berada.
"Jadi Jo, dulu tante dan papanya Boy juga papa dan mama kamu sudah sepakat menjodohkan kamu dengan Boy. Dan tante harap kalian bisa bersama memenuhi keinginan kami" jelas mama Vina pada Joanna.
"Ehhm tapi tan,.."
"Gak ada tapi-tapian, kamu memangnya mau melihat orang tua kamu disana bersedih karena kamu tidak memenuhi keinginan mereka" sahut mama Vina sebelum mendengar penolakan dari Joanna.
Dan joanna pun hanya menggeleng mendengar penuturan dari mama Vina. Sedangkan Boy hanya diam saja dan menahan kesal dengan sikap mama dan sangat kesal dengan Joanna yang hanya diam saja tidak mengajukan penolakannya.
"Nah, makanya kamu kabulin dong keinginan mama dan papa kamu. Jadi Joanna, saya atas nama Boy si bocah tua nakal ini, meminta kamu untuk menjadi istrinya Boy dan menjadi menantu tante"
"Hah? Tante ngelamar aku?" tanya Joanna yang lola karna masih belum bisa sepenuhnya sadar dari rasa kagetnya.
"Lu gak denger apa nyokap gue ngomong gimana?" kata Boy dengan emosi jiwa pada Joanna.
Plaaakk.... Mama Vina reflek memukul pundak Boy.
"Boy, bisa kan mulut kamu itu ngomong baik-baik. Mama gak pernah ya ngajarin kamu kaya gitu" marah mama Vina pada Boy.
Mama Vina lalu menoleh ke arah Joanna yang masih shock dengan lamaran mendadak tersebut.
"Jo, sayang.. Jadi gimana ? Kamu terima kan lamaran tante ke kamu untuk Boy?"
"Duh yakali gue pengen dilamar secara bener dan romantis, ini malah di depan lift dan di dalam kantor tanpa ada adegan romantis pula" batin Joanna.
"Joanna, sayang.. Jadi gimana nak?" tanya mama Vina kembali.
"Saya....."
Waahh panjang banget yaaa sayy episodenya yang ini..
__ADS_1
Iya gapapa, biar kalian seneng lah.
Yuk dukung aku terus ya biar aku lebih semangat dan rajin nulisnya..