Cinta Joanna

Cinta Joanna
Ngilunya Hati Joanna


__ADS_3

Terdengar suara wanita yang lembut tengah memanggil nama Joanna.


"Joanna sayangnya mama" suara dan langkah kaki nampak mendekati meja Joanna. "Hai sayang, ayo temani mama yuk" ajak mama Vina.


"Tante,...." terdengar suara Joanna belum selesai berucap sudah di sahut mama Vina.


"Mama Joa, M A M A !" tekan mama Vina. "Ayo sayang, temani mama sekarang. Mama akan bilang ke Boy buat kasih izin kamu"


Seisi ruangan yang mendengar itu seketika menghentikan aktivitasnya dan memandang ke arah Jonna. Joanna yang merasa diperhatikan merasa tak nyaman dengan pandangan penuh tanya teman sedivisinya.


"Duh ini camer gue bikin heboh aja sih" batin Joanna merasa kesal dengan calon mertuanya.


Tanpa menunggu lama, mama Vina langsung menarik tangan Joanna menuju lift dan menuju ke ruangan Boy. Tanpa mengetuk pintu mama Vina langsung mengajak calon menantu kesayangannya menerobos masuk ke ruangan Boy. Dan bertepatan saat itu, ada Sarah yang sedang bermanja dengan Boy. Mama Vina yang melihat itu pun meradang, darahnya seakan mendidih dan saat itu juga seperti ingin memakan mangsanya.


"Booooyyyyyy!!!!" teriak mama Vina dengan suara yang menggema dan memekakkan telinga. Bahkan Joanna dengan reflek menutup telinganya.


"Duh untung gue gak punya penyakit jantung, bisa-bisa gue serangan jantung mendadak" batin Joanna sambil mengelus dadanya.


Sedangkan Boy yang mendengar suara mamanya yang seperti petir di siang bolongpun terlonjak kaget dan langsung berdiri memandang takut pada sang mama.


"Oh jadi begini kelakuan kamu di kantor ya, enak-enakkan di peluk cewek lain ya" kata mama Vina yang sarat akan kekesalan.


"Ma, mama tau kan jika Sarah pacarnya Boy"


"Oh pacar ya? Baru pacar kan ? Ini, di sini ada calon istri kamu Boy. Hargai dia sedikit Boy, ahh...." Tanpa meneruskan perkataannya, mama Vina pun langsung berbalik dan menyeret tangan Joanna untuk keluar dari ruangan Boy. Mereka terus berjalan hingga sampai di basemant dan pak Ali sang sopir mama Vina langsung membukakan pintu untuk majikannya.


"Cepat masuk Jo, ikut mama sekarang" titah mama Vina pada Joanna.


"Tapi ma..."


"Gak ada tapi-tapian" tegas mama Vina. Joanna segera meraih tangan mama Vina untuk menggemggam dan mengelusnya, berusaha untuk meredakan emosi sang mama mertua. "Ma, bukannya Joanna gak mau ikut, tapi tas dan handphone Joanna masih ada di ruangan ma" penjelasan Joanna pada mama Vina"


"Pak Ali.." panggil mama Vina pada sopirnya.


"Iya nyonya, ada yang harus saya lakukan nyonya?" sigap pak Ali mengetahui jika sang nyonya akan memberikan tugas untuknya.

__ADS_1


"Pak Ali tolong ambilkan tas dan ponsel Joanna di ruangannya ya pak. Di divisi keuangan pak"


"Baik nyonya"


Pak Ali pun segera melaksanakan tugasnya. Ia langsung bergegas untuk ke ruangan Joanna. Sampai di ruangan Joanna pak Ali pun langsung mengetuk pintu ruangan dan menanyakan dimana kubikel Joanna. Dengan cepat pak Ali segera mengambil tas serta ponsel Joanna dan segera kembali ke mobil.


Setelah menyerahkannya pada Joanna, pak Ali langsung mengambil tempat duduk di belakang kemudi dan segera menjalankan mobil ke tempat yang telah di sebutkan nyonyanya.


"Kita belanja, kita nyalon, kita habisin duit si Boy si bocah tua nakal itu Jo" seru mama Vina saat berjalan masuk kedalam mall. Mereka langsung menuju salon langganan mama Vina untuk perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki, mereka belanja apa yang mereka suka dan ingin hingga notifikasi memenuhi ponsel Boy yang berisi total belanjaan mereka.


Sedangkan Boy dan Sarah saat ini berada di apartmen Sarah yang dibelikan oleh Boy. Sarah menangis dan marah serta merajuk kepada Boy saat mendengar penuturan mama Vina tentang calon istri Boy.


"Kenapa, kenapa mama kamu gak bisa sekalipun nerima aku Boy. Apa salahku ke mama kamu hiksss hikss hiksss. Dan kamu, kamu tega Boy.!! Kamu tega mau ninggal aku nikah hikkss hikss hikkss" kata sarah dengan tangis pilunya yang membuat Boy tak tega dan langsung memeluknya. Boy membelai kepala Sarah dan menenangkannya. "Maaf, sebenarnya aku ingin jujur ke kamu tentang masalah ini. Aku di jodohkan dengan Joanna sejak kecil. Dan aku pun baru mengetahuinya seminggu yang lalu. Dan aku berencana untuk membuat perjanjian dengan dia. Aku hanya menikah dengannya selama 1 ½ tahun, dan aku tak akan menyentuhnya. Setelah kontrak selesai, aku akan menceraikannya" jelas Boy panjang lebar agar Sarah mengerti posisinya.


"Kamu yakin gak akan menyentuhnya?" tanya sarah sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat Boy.


"Iya sayang, aku pastikan itu" jawab boy sambil mengecup kening Sarah.


Tapi dengan agresifnya Sarah langsung menyambar bibir Boy untuk dilum*tnya. Boy pun memyambut ciuman dari kekasihnya itu. Mereka sama-sama terbakar gairah, tapi Boy masih bisa mengendalikan dirinya. Ia segera melepas ciumannya, dan itu membuat Sarah nampak kecewa.


"Maaf, aku akan menyentuhmu saat kamu sudah benar-benar menjadi istriku nanti" kata Boy lalu memeluk Sarah.


"Pokoknya mama gak mau tahu, kamu harus nginep dirumah mama" paksa mama Vina pada Joanna. Dan Joanna yang tak enak terus-terusan menolak mama Vina, akhirnya hanya menganggukkan kepalanya.


Sesampainya dirumah, mobil Boy sudah nampak berada di parkiran yang menandakan si empunya sudah berada di dalam rumah.


"Huh si kutu kupret sudah dirumah saja" gerutu mama Vina saat melihat mobil anaknya.


Mereka berduapun masuk kerumah dan nampak seorang laki-laki sedang bermain game di atas sofa masih dengan setelah jasnya.


"Keviiin... Mama pulang sayang yuhhuuuu" teriak mama Vina pada anak keduanya.


Ya, dia adalah Kevin Arrigo Wijaya. Anak kedua pasangan Danu Wijaya dan Vina Wijaya. Kevin seumuran dengan Joanna, dia memiliki tubuh idaman para wanita. Perut dengan 8 pack roti sobeknya, kulit putih, hidung mancung, dan bibir sedikit tebal kemerahan. Mendengar suara wanita kesayangannya, Kevin menoleh, tapi yang menarik pandangannya adalah seseorang yang berdiri dekat sang mama.


Begitupun dengan Joanna, dia juga sedikit melototkan matanya saat melihat Kevin.

__ADS_1


"Ale...... oi oi oi Ale Ale" teriak Kevin sambil beranjak dari duduknya dan segera berlari kearah Joanna dan memeluknya. Mama Vina yang melihat adegan di depan matanya pun dibuat bingung dengan tingkah anak bungsu dan calon menantunya yang saat ini sedang saling menggenggam dan berlonjak-lonjak dengan memutar.


"Mpin mpin mpin aaaaaaa"


"Stttoooopppp.....!!!" teriak mama Vina yang membuat mereka menghentikan kegiatannya. "Kalian udah saling kenal?"


"Iya ma, jadi si Ale ini sahabat aku pas SMA ma. Tapi saat kami sama-sama lulus, kami loss contact" jelas Kevin pada mamanya.


"Dan dia juga calon kakak ipar kamu" kata mama Vina pada Kevin.


"Apa? Dia calon istri kak Boy ma?" kaget Kevin saat mengatakan bahwa Joanna adalah calon istri Boy.


"Iya sayang. Kenapa ? Kamu gak suka ya ?"


"No ma" katanya pada mamanya. "Oi Ale Ale, kalo lu jadi ipar gue brarti ntar kita ketemu tiap hari dan itu artinya kita bisa main tiap hari oi oi oi" kata Kevin pada Joanna.


"Ho'oh Mpin, kita bisa duel monopoli hahahahah" tawa lepas Joanna yang membuatnya nampak lebih cantik. Mendengar kegaduhan di lantai bawah, Boy segera turun dan melihat apa yang membuat ramai rumahnya. Sesampainya diruang tengah dia melihat Kevin yang sedang memeluk Joanna.


"Ck, murahan banget" decak Boy.


Melihat Boy yang berjalan menuju kearahnya, Kevin pun tersenyum dan melepaskan pelukannya pada Joanna.


"Kak, kok gak bilang si Ale Ale yang bakal jadi bini lu"


"Bukan urusan anak kecil" jawab Boy seenakknya. "Joa, lu ikut gue sekarang. Ada yang mau gue omongin sama lu" tanpa mendengar persetujuan Joanna, Boy segera menarik tangan Joanna dan membawanya masuk ke ruang kerjanya.


"Duduk" titah Boy yang langsung dilaksanakan oleh Joanna. Dia duduk di sofa ruang kerja Boy.


"Ekhem..." Boy berdehem sebelum memulai bicara. "Lu ternyata murahan ya" kata pertama yang sangat menyakitkan hati Joanna meluncur dari mulut Boy, calon suaminya. "Lu emang calon istri gue, dan bakal jadi istri gue. Tapi bukan berarti lu bebas godain cowok lain apalagi itu adik gue" kata-kata Boy seperti tinjuan keras di dada Joanna. Mukanya berubah merah menahan marah dan juga tangis.


"Aku sama Kevin cuma temen, kita deket karna kita memang sahabat dulu pas waktu SMA" jelas Joanna sehalus mungkin.


"Lu gak perlu jelasin ke gue, yang harus jadi peringatan lu bahwa pernikahan kita hanya berjalan 1 ½ tahun. Dan lu, jangan pernah berharap lebih ke gue apalagi berharap cinta dari gue. Ohh dan satu lagi. Lu jangan ngracuni otak nyokap gue untuk gak peduli ke gue dan ke Sarah. Lu tu sebenernga gak ada apa-apanya di banding Sarah" semua perkataan Boy sukses membuat hati Joanna terasa sangan ngilu. Dan tanpa terasa Joanna meneteskan air matanya.


Yuk jangan bosen2 ya mantengin ceritanya aku.

__ADS_1


Dan jangan lupa dukungannya ya reader..


Saranghae reader 😘😘


__ADS_2