
Part ini menceritakan Felli dan Kevin aja ya, buat Joanna dan Boy harap sabar 😊😊
Ceklleekkk suara pintu terbuka, Kevin dan Felli mendongakkan kepala dengan serentak. Melihat siapa gerangan yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Di ambang pintu terlihat gadis cantik dengan rambut berwarna blonde, kulit putih bersih bak porselen, riasan yang tak tebal tapi wajahnya terlihat sangat ayu. Pakaiannya pun melihatkan bahwa dia bukan sosok wanita biasa. Dari baju, sepatu, dan tas yang ia jinjing, semua adalah barang branded. Hal itu membuat hati Felli bertanya-tanya dan jiwa keponya meronta-ronta siapa gerangan wanita itu yang telah berani masuk ke ruangan bossnya yang galak dan bicaranya yang pedas mengalahkan cabai habanero.
"Kevin...." panggil gadis itu sambil berjalan ke arah Kevin. Dengan gayanya yang berlenggak lenggok bak model internasional.
"Raisa...." batin Kevin sambil melirik Felli yang terlihat masih fokus pada berkas-berkas dan dokumen yang ia periksa. Kevin pun berdiri dengan menatap pada Raisa yang terus berjalan ke arahnya.
"Kevin, miss you so much" katanya sambil memeluk Kevin. Ada dilema dalam hati Kevin. Di dasar hatinya dia juga sangat merindukan gadis ini. Gadis yang telah memporak porandakan hatinya. Yang telah meninggalkannya seperti bang toyib yang tak ada kabar selama 2 tahun ini. Tapi disisi lain, ada hati yang harus ia jaga meskipun ia belum mengikatnya. Kevin melihat lagi ke arah Felli yang seakan tak peduli dengan apa yang terjadi di ruangan itu. Entah karena ingin melihat Felli cemburu atau memang ia juga sangat merindukan Raisa, ia pun membalas pelukan Raisa.
"Apa kau merindukanku juga Vin?" tanya Raisa pada Kevin tapi dia tak mendapat jawaban dari lelaki itu. Raisa menarik Kevin untuk duduk di sofa dan tetap dengan agresif dan posesif memeluk Kevin. "Apa kamu tahu, setiap hari aku menunggu hari ini. Menunggu bertemu kembali denganmu dan melepas rinduku" lanjutnya dan lagi-lagi Kevin tak menanggapinya.
"Raisa please, ini kantor. Tolong jaga sikapmu, ada karyawanku di situ" kata Kevin sambil menunjuk ke arah Felli.
Degg hati Felli bagai tertusuk sembilu dan bagai tersambar petir di siang bolong. Hatinya tiba-tiba mendung gelap seperti akan turun hujan lebat dengan badai yang menyertainya. Dia meremas tangannya kuat, mengambil nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan agar hatinya tak bergemuruh. Ia mencoba menguatkan hatinya. "Haahhh pastas saja aku sama sekali tak terlihat, mantannya kaya gini. Aku mah apa atuh, cuma remahan rengginang" batin Felli dengan senyum mirisnya.
Felli berdiri berniat keluar dari ruangan Kevin ya g di penuhi atmosfer panas itu. "Maaf pak, saya permisi keluar sebentar. Pekerjaan saya sudah selesai semuanya" Felli membungkukkan badannya lalu bergegas keluar. Ia berjalan dengan tergesa dan hampir menabrak Richard yang baru saja keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Fell, Fellisha..!!" panggil Richard pada Felli yang malah berlari. Ia melihat Felli berbelok ke arah toilet. "Ahh mungkin dia sudah tak tahan, makannya buru-buru" kata Richard lalu ia menuju ke ruangan Kevin untuk menyerahkan dokumen yang perlu ia tanda tangani. Ia menyelong masuk tanpa mengetuk pintu, dan matanya seketika membulat seperti kue donat saat melihat Kevin berciuman dengan Raisa. Ya walaupun sebenarnya Raisa yang nyosor terlebih dahulu. Richard menutup pintu perlahan dan kembali keruangannya. Ia menghempaskan bokongnya ke kursi kebesarannya. "Pantas saja si Felli keluar ruangan kaya gitu. Ternyata cintanya itu orang datang. Huufff pasti Felli sakit banget hatinya. Ck ck ck poor Fellisha" gumam Richard sendirian di dalam ruangannya.
Felli masuk ke toilet, ia menumpahkan tangisnya yang sejak tadi di tahannya. Ia menepuk dadanga yang terasa sesak. "Kenapa, kenapa harus sesakit ini" lirihnya di sela isak tangisnya. Setelah puas melepaskan tangisnya, Felli mencuci mukanya. Ia memutuskan untuk meminta izin pulang lebih awal entah itu akan di izinkan atau tidak oleh Kevin.
"Cukup Sa, kita sudah selesai. Jadi aku mohon, please jangan ganggu hidupku lagi. Aku memang pernah punya cinta yang besar untuk kamu, tapi itu dulu. Dulu saat kamu belum meninggalkanku tanpa kabar" kata Kevin meluapkan emosinya yang terlihat menggebu.
"Tapi Vin, aku masih mencintaimu. Rasa itu masih ada dan masih besar seperti dulu" kata Raisa kekeh bahwa hubungannya dengan Kevin masih bertahan sampai sekarang.
"Aku sudah tak mencintaimu Sa, ada hati lain yang harus aku jaga. Jadi aku mohon kamu pergi dari sini dan jangan pernah kesini lagi" suara tegas Kevin terdengar menyakitkan di telinga Raisa. Pria yang dulu sangat lembut terhadapnya dan selalu menunjukkan rasa cintanya kini telah berubah setelah 2 tahun ia tinggalkan. Air mata Raisa mengalir menerobos pelupuk matanya begitu saja saat mendengar perkataan Kevin.
Tok tok tok suara ketukan pintu terdengar di telinga Kevin. "Pasti ini Felli" batin Kevin. Tanpa menunggu lama, ia menyuruh masuk si pengetuk pintu yang ternyata memang benar Felli yang mengetuknya. Felli segera masuk dan ke arah mejanya, ia bergegas mengambi tasnya dan meminta izin pada Kevin untuk pulang lebih awal.
"Sa, aku mohon dengan sangat. Kita sudah berakhir, dan aku mohon lebih baik kamu pulang sekarang. Aku sedang banyak kerjaan Sa" kata Kevin sedikit frustasi karena ia sempat melihat mata Felli yang terlihat sembab saat Felli berpamitan tadi.
"Tapi Vin....."
"Keluaaarr....!!!" teriak Kevin tak dapat menahan emosinya. Raisa terjengkit kaget mendengar teriakan Kevin. Bertahun-tahun bersama, baru kali ini ia mendengar Kevin berteriak semarah ini. Raisa segera bergegas keluar dari ruangan Kevin, ia tak mau mendengar teriakan Kevin yang menyakitkan untuk kedua kalinya.
Setelah kepergian Raisa, Kevin berjalan ke arah meja Felli untuk melihat dokumen dan berkas yang telah di kerjakan Felli. Saat ia akan mengambil berkas-berkas itu. Ia melihat ipad Felli yang tergeletak di dekat komputernya. Kevin meraih dan membukanya, beruntung Felli tak mengunci ipadnya itu. Saat Kevin membukanya, mata Kevin di suguhkan dengan tulisan yang mungkin menggambarkan hati dan perasaan Felli.
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan, kamu yang tidak akan pernah mencintaiku atau aku yang tidak akan pernah berhenti mencintaimu.
Rasanya memang mengecewakan dan menyakitkan. Hanya saja, ini memang risiko yang harus kutanggung karena telah memilih untuk mencintaimu.
Rasanya begitu menyakitkan ketika mencintai seseorang, tetapi kamu tidak bisa memilikinya dalam hidupmu.
Rasanya cintaku berakhir bahkan sebelum dimulai.
Aku mungkin masih bisa menunggu kehadiran cintamu. Namun jika telah lelah, mungkin itu saatnya aku akan mencoba melepaskan sekaligus melupakanmu untuk selamanya.
Tidak apa jika cintaku tak berbalas, melihatmu bahagia bersamanya sudah membuatku merasa cukup.
Aku harus tegar menghadapi semua ini. Walau sakit yang kurasa, aku harus tetap berjalan karena hatimu memang bukanlah untukku.
💞KAW
"Kamu pasti sedang salah paham huuffftttt"
__ADS_1
Yang lagi nungguin part selanjutnya, part selanjutnya masih ceritain Felli dan Kevin ya 😊😊