
Boy berlari menyusuri koridor rumah sakit, ia mencari sebuah ruang perawatan yang sudah ia tanyakan pada orang yang menelponnya saat rapat. Ya, saat berhenti di trafick light, dia mengecek ponselnya dan ternyata ada panggilan tak terjawab sebanyak sepuluh kali, lalu Boy menelpon balik si penelpon.
Ceklek Boy membuka ruangan tersebut, nampak ada kedua orang tua dan juga asisten rumah tangganya disana. Ia segera menuju brankar, menghampiri sesorang yang berbaring disana dengan senyum yang terus mengembang.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Boy bingung saat melihat istrinya yang ada di ranjang pesakitan dengan infus yang menancap di tangannya, namun sang istri malah menunjukkan senyumnya yang terus mengembang. Tak ada jawaban, Boy pun melihat ke arah papa dan mamanya, namun sama, hanya senyuman yang mereka dapatkan. "Astaga sepertinya ini salah masuk rumah sakit kayanya" kata Boy kesal karena ia sudah khawatir setengah mati tapi yang di tanya hanya senyum-senyum saja.
"Sayang, you will be a daddy" kata Joanna dengan senyumnya yang masih lebar.
"Hah..." kaget Boy hingga mulutnya menganga saat mendengar penuturan istrinya itu. "No no no, coba katakan sekali lagi" pinta Boy pada istrinya.
"You will be a daddy" ucap Joanna mengulanginya lagi dengan pelan. Boy yang masih tak percaya menyuruh Joanna untuk mencubitnya. Joanna pun mencubit pipi suaminya dengan sedikit kencang. Dan benar saja, sepersekian detik kemudian Boy meneteskan air matanya.
"I will be a daddy" kata Boy yang di angguki oleh Joanna. "I will be a daddy ma, pa" kata Boy menoleh ke arah papa dan mamanya dan di angguki oleh mereka berdua. "Yeaahh finnaly, dia hadir juga" kata Boy senang dan masih ada air mata di sudut matanya.
Cup cup cup "Sehat-sehat anak daddy, jangan bikin mommy susah ya sayang" kata Boy setelah mencium perut istrinya yang masih rata. Senyuman pun kembali mengembang di bibir kedua orang paruh baya itu. Mereka dapat melihat betapa putranya mencintai istrinya.
Joanna membelai kepala suaminya yang masih ada di atas perutnya, Boy mengucapkan syukur berkali-kali atas kehamilan istrinya itu. Mama Vina dan papa Danu serta asisten rumah tangganya pun memutuskan untuk pulang, karena sore nanti Joanna sudah di perbolehkan pulang.
"Sayang......" panggil Joanna pada suaminya yang di jawab dengan deheman lalu merapat ke ranjang perawatan istrinya. "Coba lihat ini" ucap Joanna sambil menyerahkan sebuah lembar foto. Boy mengamati lembar foto itu, tapi ia tak paham juga apa yang ada di dalam foto itu.
__ADS_1
"Ini anakku?" tanya Boy yang di angguki oleh istrinya. "Mana bocahnya? Kenapa hanya ada titik sebesar biji kacang hijau saja?" tanya Boy yang memang tak mengerti.
"Issshh usia kehamilannya juga baru 4 minggu sayang, jelas saja ia masih sebesar biji kacang hijau. Tapi coba deh kamu lihat, ada berapa biji kacang hijaunya" jawab Joanna lalu menyuruh suaminya menghitung titik di foto usg itu.
"Ada dua sayang, kecebongnya ada dua" kata Boy yang paham dengan arti ucapannya.
Plaaakk "Enak aja kecebong, itu anak kamu Boy. Dasar Bo Bo Boy" refkek Joanna memukul bahu suaminya karena kesal Boy mengatai anaknya kecebong.
"Ya kan memang kecebong aku itu sayang" kata Boy dengan meringis karena di pukul bahunya oleh Joanna.
Seminggu berlalu, saat ini Boy sedang ada di kantornya. Ada banyak dokumen dan berkas yang harus ia periksa dan ia tanda tangani karena ia tidak ke kantor selama dua hari dan itu di sebabkan oleh Joanna yang tidak mau ditinggal.
Tok tok tok suara pintu terdengar di ketuk dari luar, Boy pun menyuruh masuk. Sam masuk dan memberitahukan bahwa Boy mendapatkan tamu.
"Siapa? Apakah tuan Nugraha atau asistennya?" tanya Boy.
"Ehmmm Cintya Nugraha tuan, putri dari tuan Nugraha." jelas Boy.
"Baiklah, suruh dia masuk dan juga beri tahu dia bahwa saya hanya punya waktu 20 menit. Jadi apa yang akan di sampaikan to the point saja, tak perlu bertele-tele"
__ADS_1
"Baik tuan" jawab Sam lalu ia keluar untuk memberitahukan pada tamu big bossnya itu. Kini Cintya sudah ada di dalam ruangan Boy, ia duduk di sofa dengan terus memandang kagum pada Boy.
"Cakep banget, gue harus bisa dapetin dia" batin Cintya.
"Jadi nono Nugraha, ada perlu apa anda datang ke perusahaan saya?" tanya Boy yang masih setia duduk di kursi kebesarannya.
"Ehmmm saya menjalankan perintah dari papa saya untuk menyerahkan berkas kerjasama ini tuan" jawab Cintya dengan menaruh berkas di atas meja. "Anda bisa memeriksanya tuan" kata Cintya lalu berdiri menghampiri meja Boy untuk menyerahkan berkas tersebut. Dengan sedikit membungkuk saat menyerahkan berkas itu, ia memperlihatkan belahan dadanya pada Boy, berharap Boy akan tergoda olehnya. Boy yang melihatnya pun merasa risih.
"Astagaaaa, dia ingin menggodaku. Heh, aku tak akan tergoda b*tch. Omegod, dandanan apa yang ia terapkan. Make upnya sangat tebal, beda dengan istriku yang pakai make up natural saja sudah terlihat cantik bagai bidadari. Hei lihatlah, lipsticknya seperti dia habis makan ayam mentah. Apalagi bajunya, susunya hampir tumpah, bahkan dia memamerkan pahanya yang masih mulus milik istriku hiiiii" batin Boy bergidik ngeri saat memperhatikan Cintya yang ada di depannya. Sedangkan Cintya yang di pandang Boy beranggapan jika Boy telah tergoda olehnya.
"Tu..tuan... Jangan memandang saya seperti itu" kata Cintya penuh percaya diri.
Boy menaikkan sudut bibirnya dan terkekeh seakan mengejek Cintya. "Nona Cintya, anda berpendidikan bukan? Tolong pakailah baju yang muat untuk anda pakai, sungguh penampilan anda membuatku mual ingin muntah. Ahh ini entah aku mual karena melihat dandananmu atau aku terkena efek dari hamilnya istriku"
"Sialan!!! Ternyata dia sudah memiliki istri, wanita seperti apa istrinya itu. Dan apakah ia secantik aku?" batin Cintya.
"Penampilan anda sungguh membuat mataku sakit nona. Anda bisa meninggalkan berkas anda di sini, asisten saya akan mengabari anda nanti. Jadi lebih baik anda kembali, karena sebentar lagi akan masuk waktu makan siang" ucap Boy lagi hingga membuat Cintya melangkahkan kaki untuk keluar ruangan. Saat ia akan menutup pintu, ia melihat sebuah foto dengan pigura berwarna gold tergantung di dinding ruangan tersebut. Ya, itu foto Joanna dan Boy yang terlihat sangat serasi.
"Pantas saja, istrinya cantik. Ahh tapi aku juga gak kalah cantik dari dia." batin Cintya lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Ceklekkk suara pintu ruangan Boy terbuka, saat Boy mendongakkan kepalanya, senyuman langsung terbit di bibirnya.
BERSAMBUNG.......