
Boy terjengkit kaget ke belakang, begitu pun Hanya karena aku cukup kuat untuk menangani rasa sakit, bukan berarti aku layak mendapatkannya. orang yang ada di depannya. Mereka berteriak bersamaan karena sama-sama kaget. Boy kaget karena melihat wajah putih yang hanya terlihat mata, mulut, dan lubang hidungnya saja.
"Oppa... Hampir saja jantungku lepas" kesal Joanna karena saat ia akan masuk ke dalam kamar malah Boy berteriak saat ia melihatnya yang sedang memakai masker.
"Lagian kamu juga ngagetin kaya gitu" jawab Boy sambil berjalan ke ranjang dan duduk di tepi ranjang. Sedangkan Joanna masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. "Nah gini dong enak di lihat" kata Boy saat Joanna keluar dari kamar mandi.
"Ya kan lagi pakai masker tadi" sahut Joanna. "Kamu tumben jam segini udah pulang?" tanya Joanna pada Boy karena biasanya Boy akan sampai rumah pukul 6 sore. Namun beberapa hari ini ia selalu pulang malam karena lembur. Bukannya mendapat jawaban, Joanna malah mendapat rentangan tangan.
"Peyuk dulu, aku rindu" kata Boy manja sambil merentangkan kedua tangannya.
"Idih ogah, bau asem" goda Joanna sambil menutup hidungnya. Boy yang di katai bau asem reflek mencium bajunya. "Udah, gak usah di endus-endus gitu bajunya. Kamu cepetan mandi dulu sana gih" suruh Joanna pada suaminya. Boy menurut saja, dia bergegas masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.
Saat Boy keluar dari kamar mandi, dia melihat Joanna yang sedang di meja rias. Istrinya sudah berganti dengan dress rumahan dengan panjang selutut dan tali spaghetti di bagian bahunya. Boy mendekat ke arah istrinya, berdiri di belakangnya, lalu mencium pucuk kepala Joanna. Joanna menelan sulit ludahnya saat melihat suaminya yang hanya menggunakan handuk saja, apalagi melihat deretan roti sobek yang berjajar rapi.
"Cepat pakai bajumu oppa" kata Joanna dengan memalingkan mukanya.
"Kenapa hmmm? Apa aku terlihat menggoda di matamu? tanya Boy menggoda istrinya.
"Siapa yang tak tergoda jika kamu seperti itu" gerutu Joanna pada suaminya itu. Joanna akan beranjak dari meja rias, tapi saat Joanna berbalik Boy menghalanginya.
"Minggir, aku mau ke bawah mau masak buat makan malam" usirnya pada Boy.
"No, before you give me a kiss" kata Boy sambil menaik turunkan alisnya.
"Don't expect" jawab Joanna sambil mendorong dada suaminya, namun tangannya kalah cepat dengan Boy. Boy malah menahan tangan istrinya untuk tetap berada di dadanya lalu membawanya turun ke perutnya.
__ADS_1
"Apa kau tak tergoda dengan ini?" bisik Boy di telinga Joanna hingga membuat darah Joanna berdesir dan tubuhnya merinding disco. "Sungguh, aku menginginkanmu. Mari kita buat banyak anak" kata Boy sambil mengangkat Joanna.
"Aaaaaa turunkan aku oppa" teriak Joanna saat tubuhnya melayang. Boy membawa Joanna duduk di tepi ranjang dengan posisi Joanna berada di pangkuannya. Joanna menghadap pada Boy, mengalungkan tangannya ke leher suaminya itu.
"Kau sungguh menggoda sayang, aku tak bisa menahannya lebih lama lagi" kata Boy lalu langsung menyambar bibir merah ceri sang istri. Ia me***** lembut bibir istrinya, namun semakin lama semakin menuntut. Boy beralih menyusuri leher dan tengkuk sang istri, menyesapnya membuat beberapa tanda keunguan.
"Mmmppp Boy...." desah Joanna saat Boy mencium dan me****** lehernya.
"Ya sayang, panggil namaku baby" kata Boy lalu ia kembali menyusuri dada istrinya. Ia juga meninggalkan maha karyanya di sana. Boy menurunkan tali dress Joanna hingga terlihatlah pemandangan pegunungan yang indah, membuat Boy semakin terbakar gairah. Ia membuka pengait br* Joanna, menelan salivanya dengan susah payah saat isi dalam br* tersebut terexpose sempurna. Boy segera me*****pnya dan menyusu seperti bayi yang kelaparan. Joanna yang baru pertama kali merasakan sensasi itupun melenguh dan menjambak kepala Boy, bahkan Joanna merasakan rudal Boy yang terasa mengeras karena ia duduk tepat di atasnya.
"Ahhhh oo...ppaaaa" lenguh Joanna saat Boy menggigit choco chipnya.
Boy berdiri dengan tetap menggendong Joanna dan mencium bibirnya. Ia lantas membaringkan Joanna di atas ranjang dengan perlahan. Ia mengulangi menyusuri leher dan dada istrinya. "Ohh baby, aku sudah tak tahan" kata Boy dengan suara yang sedikit serak. "Maaf jika nanti akan menyakitkan, tapi setelahnya tidak" lanjut Boy yang sudah melepas handuk yang melilit di pinggangnya. Ia mengarahkan rudalnya yang siap lepas landas ke inti Joanna. Tapi baru juga menyentuh pintu goa istrinya, pintu kamarnya di gedor dengan keras oleh seseorang di luar sana.
"Kak... Kak Boy... Bo Bo Boy hahhaaha" panggil Kevin dengan tetap menggedor pintu kamar Boy. "Kak, oi oi oi kak Boy yuhhuuu..... Kak di tungguin papa sama mama di bawah tuh. Ini masih sore oiiiii, ngadonnya ntar malam aja bisa kan." suara berisik dan gedoran Kevin membuat Boy kehilangan konsentrasinya dan juga membuat rudal yang sudah siap melesat itu gagal lepas landas.
"Hissss awas aja itu anak, bakal bikin perhitungan gue sama dia" geram Boy sambil memakai handuknya dan berjalan menunjuk walk-in closet untuk mengambil baju ganti. Boy terus saja menggerutu dan ngomel-ngomel tak jelas. Joanna yang melihatnya pun hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Ngapain kamu senyum-senyum kaya gitu?" tanyanya dengan nada jutek ke Joanna.
"Udah lah sayang, jangan ngomel terus. Ntar kan bisa di lanjut lagi sih" kata Joanna enteng. Ia tak tahu saja jika itu tak di tuntaskan bisa mengakibatkan Boy pusing tujuh keliling.
"Kamu tuh gak tahu rasanya sayang!" kesal Boy pada Joanna. "Kamu tahu, rasanya tuh kaya di tinggal pas lagi sayang-sayangnya" gerutu Boy pada istrinya. "Ahhh udah lah, kamu gak bakalan ngerti. Kita ke bawah aja sekarang" ajak Boy pada istrinya namun ia malah berjalan mendahului sang istrin
Saat ini mereka sudah berada di ruang keluarga. Mereka bercengkrama dan bercerita banyak hal. Namun sedari tadi Boy hanya diam saja dan hanya beberapa kali menanggapi dengan raut muka yang menunjukkan sedang kesal.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Boy, papa lihat dari tadi muka kamu kaya kesel banget" tanya papa Danu pada Boy.
"Gapapa pa, Boy cuma capek aja" jawab Boy malas. Melihat suaminya seperti itu, Joanna merasa tak enak.
Tak terasa jam sudah memasuki waktu makan malam. Mereka semua sekarang sedang berada di ruang makan, hari ini bi Mar memasak cap cay, ayam goreng, dan gurami asam manis. Boy nampak hanya diam saja tanpa menyentuh makanan yang sudah tersedia di depannya.
"Oppa mau makan apa?" tanya Joanna pada suaminya itu.
"Aku gak laper, aku capek pengen istirahat. Aku ke kamar dulu" jawab Boy dingin hingga membuat mereka bertiga saling pandang lalu sesaat mereka mengalihkan pandangam mereka ke arah Joanna.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Joanna pada mereka bertiga.
"Boy kenapa sih Jo?" tanya papa Danu pada menantunya itu.
"Ehh anu pa, hmmmmm dia lagi sedikit merajuk saja pa"
"Cih memang tak tahu malu itu anak" kata mama Vina.
"Joanna udah selesai, Joanna ke kamar dulu ya pa, ma, Vin" pamit Joanna yang di iyakan oleh mereka bertiga. Sesampainya di kamar, ia melihat suaminya sedang di balkon. Boy nampak memegang rokoknya, nampak ia juga menghisapnya. Joanna tahu jika suaminya sedang kesal karena gagal menyebar benih. Joanna berjalan ke arah walk-in closet untuk berganti baju, setelah selesai ia lantas menghampiri suaminya.
Grrreeepp.....
Bersambung.....
**Yuk dukung author dengan like, komen, dan vote ya. Jangan lupa juga masukkan novel ini ke daftar favorit kalian.
__ADS_1
Terima kasih** 😘😘