Cinta Kania

Cinta Kania
Part 10


__ADS_3

Kedua lelaki itu tampak mempercepat langkahnya saat tiba di depan pintu kafe. Mereka masuk tanpa rintangan yang berarti, karena penjaga di kafe itu memang ditugaskan hanya untuk mengawasi agar kafe itu tidak dimasuki oleh anak laki-laki yang masih di bawah umur.


Melihat Arya, pemilik kafe itu segera mendekatinya. "Maaf, kalau aku boleh tahu, apa kedatanganmu ke sini untuk bersenang-senang?"


"Aku tidak ingin bersenang-senang. Mana gadis itu?" Tatapan mata Arya membuat lelaki itu tersenyum karena dia tahu dia pasti akan mendapat uang lagi darinya.


"Rupanya, kamu terlalu terobsesi dengannya hingga mencarinya dua kali di tempat ini, tapi untuk kali ini aku rasa kamu sudah terlambat."


"Katakan saja di mana dia, aku akan membayarmu lebih!" Ucapan Arya terlihat sungguh-sungguh hingga lelaki itu kembali tersenyum.


Melihat Arya yang berbicara dengan bosnya, Mitha lantas berjalan mendekatinya. "Hei, apa kamu mencari Kania?"


Arya mengalihkan pandangannya pada gadis itu. "Di mana dia? Aku tahu kamu wanita yang baik. Jadi, aku minta katakan di mana Kania. Saat ini, dia sedang putus asa hingga membuat dia melakukan hal senekat ini."


"Baiklah, aku akan antarkan kalian menemuinya."


"Hei, Mitha. Apa kamu mau dipecat?" Lelaki yang biasa dipanggilnya bos itu memandanginya dengan wajah yang terlihat emosi.


"Terserah bos saja, aku tidak akan menolak jika aku dipecat." Mitha tanpa ragu meninggalkan bosnya itu dan membawa kedua lelaki itu ke lantai atas.


Di depan salah satu kamar yang belum sempat dikunci, Mitha menghentikan langkah kakinya. "Lihat saja dia di dalam."


Kedua lelaki itu kemudian merangsek masuk dan mendapati seorang pria yang sedang membuka kancing baju seorang gadis yang terlihat pasrah di tempat tidur. Tanpa basa basi, Bastian langsung menarik tubuh lelaki itu dan melayangkan bogem mentah ke arah wajahnya hingga lelaki itu jatuh terjerembab di lantai kamar.


Kania yang perlahan membuka matanya tampak terkejut saat melihat dua orang lelaki yang dikenalnya berdiri tepat di depannya. "Kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" Kania bangkit dari tempat tidur dan mendekati pria yang sudah terduduk di lantai sambil meraba wajahnya yang berdenyut kesakitan. "Apa Anda baik-baik saja, Tuan?" Kania berusaha membantu lelaki itu berdiri, namun tangannya dihempas oleh lelaki itu hingga Kania terjatuh ke belakang.


"Aku tidak butuh bantuanmu. Kalau tahu begini, dari awal aku tidak akan memakaimu." Lelaki itu terlihat kesal dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Bastian yang tampak marah ingin mengejarnya, tapi Arya segera menghentikannya.


Kedua lelaki itu memandangi Kania yang sudah duduk di sisi tempat tidur sambil menundukan wajahnya. "Kania, kamu bisa jelaskan semua ini?" Bastian tampak marah hingga tangannya mengepal.


"Sudahlah, lebih baik kalian pergi dari sini." Kania hendak meninggalkan mereka, tapi tangannya tiba-tiba diraih oleh Arya. "Berapa yang kamu perlukan? Aku akan memberikan berapapun yang kamu minta, asalkan kamu jangan melakukan hal tercela ini lagi."


Mendengar ucapan Arya, Kania menghentikan langkahnya. "Aku tidak butuh belas kasihan dari kalian. Aku bisa mendapatkan uang sendiri tanpa harus mengemis pada kalian. Aku ... " Kania tidak mampu melanjutkan kalimatnya dan hanya air mata yang perlahan jatuh tanpa bisa dibendungnya.


"Kania, aku tahu kamu tidak ingin melakukannya, jadi aku mohon jangan lakukan itu." Bastian berusaha membujuk sahabatnya itu, tapi Kania sudah tidak bisa lagi untuk mundur. Bagaimanapun juga, malam ini dia harus pulang membawa uang.


"Maafkan aku, Bas. Aku tidak bisa karena ibuku harus secepatnya dirawat. Aku tidak ingin kehilangan dia, Bas." Kania menangis hingga membuat Bastian menjadi luluh.


"Biarkan saja dia pergi." Arya tak lagi membujuk Kania untuk mengurungkan niatnya itu, melainkan membiarkannya melakukan apa yang ingin dia lakukan.


"Hei, apa maksudmu? Bukannya membujuknya, tapi kamu malah membiarkannya." Bastian terlihat kecewa pada sikap lelaki yang baru saja dikenalnya itu.


"Biarkan saja dia, karena penyesalan selalu datang terlambat dan aku harap kamu tidak akan menyesal jika ibumu merasa sangat kecewa karena putrinya telah melakukan perbuatan dosa agar mendapatkan uang untuk pengobatan dirinya. Apa kamu pikir, ibumu akan bangga dengan pengorbananmu yang salah itu?"


Kania terperanjat. Apa yang dikatakan Arya begitu menohok hatinya. Tanpa sadar, bulir air bening itu kembali jatuh hingga membuatnya terduduk dan menangis sambil menutupi wajahnya. Rasanya, dia begitu malu di depan kedua lelaki itu. Mereka terlihat sangat peduli padanya, tapi dia malah mengacuhkan kepedulian mereka.

__ADS_1


Arya berjalan mendekatinya dan menatapnya yang kini tengah menangis. "Kania, aku tahu kamu tidak ingin melakukannya, karena itu urungkanlah niatmu itu. Aku tahu, aku tidak punya hak untuk mencampuri kehidupanmu, tapi aku harus ikut campur karena putriku sangat mengharapkanmu. Tania terus menangis karena merindukanmu dan aku sebagai ayahnya hanya ingin memohon padamu, tolong kembalilah dan berikan kasih sayangmu untuknya." Arya menitikan air mata karena mengingat putrinya yang kini menangis mengharapkan wanita di depannya itu, sementara Kania juga menitikan air mata saat mengingat kebersamaannya dengan gadis kecil itu.


"Apa yang terjadi dengan Tania?" Kania mengangkat wajahnya dan menatap Arya yang kini di depannya dan betapa gadis itu terkejut saat melihat air mata yang menggantung di pelupuk mata lelaki itu.


"Sejak dia bangun dan tidak melihatmu, dia terus menangis. Walau aku sudah membujuknya, tapi dia tetap menangis dan terus memanggilmu. Aku sudah mencoba untuk menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Untung saja aku bertemu dengannya, hingga aku tahu masalah ibumu," tunjuk Arya pada Bastian yang sedari tadi melihat ke arah mereka.


"Aku akan menanggung biaya pengobatan ibumu dan kamu tidak perlu melakukan pekerjaan ini lagi. Aku ingin kamu kembali ke rumahku dan bekerja untukku. Aku hanya butuh kasih sayang dan perhatianmu pada Tania, itu saja."


Kania memandangi Arya dan ingatannya kembali pada gadis kecil itu. Perlahan, Kania memeluknya dan menangis dalam pelukannya itu. "Terima kasih, terima kasih. Aku akan berikan apapun yang Tania minta dariku. Bahkan, jika nyawaku berarti baginya, aku akan berikan untuknya." Kania tampak bersungguh-sungguh dan Arya hanya bisa mengelus punggung gadis itu.


"Baiklah, sebaiknya kita bergegas mengurus kepindahan ibumu ke rumah sakit pusat. Setelah semuanya beres, kamu akan tinggal di rumahku." Kania memgangguk dan akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu.


Di rumah sakit, Kania melihat ibunya yang hanya terbaring. Wanita itu melihat Kania seperti orang asing, karena ibunya tak lagi mengingatnya. Semua ingatannya di masa lalu telah terhapus seiring kepergian suaminya yang harus mati di tangannya. Kini, Kania hanya berharap ibunya itu bisa sembuh dan kembali mengingat dirinya. Dia ingin merasakan kembali pelukan hangat wanita itu dan panggilan sayang yang biasa didengarnya.


"Dok, apa aku bisa memeluknya?"


Dokter itu tidak menjawab karena ada sedikit kekhawatiran kalau ibunya akan menolak dan berteriak histeris jika ada yang mendekatinya. Itulah kenapa, kedua tangan ibunya diikat di sisi tempat tidurnya. "Maafkan aku, Kania. Kamu tahu sendiri kan bagaimana reaksi ibumu jika ada yang mendekatinya?"


Kania mengangguk dan hanya bisa pasrah. Walau terlihat kecewa, tapi dia harus tetap ikhlas.


Semua proses kepindahan ibunya sudah selesai diurus. Begitupun dengan semua biaya yang harus dibayar, sudah ditanggung oleh Arya. Walau biaya yang dikeluarkannya tidaklah sedikit, tapi itu tidak berarti baginya karena kebahagiaan putrinya jauh lebih berharga dari uang-uangnya itu.


"Bas, apa kamu mau singgah di rumahku dulu?" tanya Arya yang sudah tampak akrab dengan lelaki itu.


"Tidak masalah, toh dia bekerja untukku dan itu bayaran untuknya."


"Kania, lakukan tugasmu dengan baik. Jangan buat Arya kecewa padamu, paham?"


Gadis itu mengangguk dan memeluk sahabatnya itu. "Terima kasih, Bas."


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalau tidak keberatan, apa aku bisa sesekali datang menemui Kania?"


Arya tersenyum dan mengangguk. "Datanglah kapanpun karena pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu." Sekali lagi, kedua lelaki itu bersalaman dan berpelukan. Bastian lantas meninggalkan mereka.


"Baiklah, sekarang ayo kita pulang." Baru saja mereka masuk ke dalam mobil, ponsel Arya tiba-tiba berdering.


"Papa, mana mama?" Tania melakukan video call dan menanyakan Kania padanya.


"Mama di sini." Kania mengambil ponsel dari tangan Arya, sontak Tania tersenyum dan terlihat gembira saat melihat Kania.


"Mama!" Seru Tania yang terlihat bahagia.


"Tania jangan menangis lagi, ya? Mama dan Papa akan segera pulang." Gadis kecil itu tersenyum sumringah dan mengangguk. Terlihat, raut kegembiraan di wajahnya saat melihat ayahnya dan Kania yang akan segera ditemuinya.


Setibanya di rumah, Tania berlari dan memeluk Kania dengan eratnya. Kedua tangannya begitu erat melingkar di leher Kania. Melihat tingkah putrinya itu, Arya tersenyum dan membelai lembut kepalanya. "Sayang, biar Mama istirahat dulu, ya. Kasihan Mama masih capek."

__ADS_1


"Tidak usah, biar saja. Aku akan menemaninya." Kania lantas mengajak gadis kecil itu bermain walau sebenarnya tubuhnya begitu lelah karena semalam, dia tidak bisa tertidur karena memikirkan ibunya. Arya yang sepertinya paham, lantas menyuruh Bi Suri untuk mengambil Tania.


"Sebaiknya, kamu istirahat. Ayo, aku antarkan ke kamarmu."


Arya kemudian menuju ke kamar yang waktu itu dipakai oleh Kania. "Ini kamarmu, istirahatlah."


Kania mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kamar itu, tapi langkahnya terhenti dan melihat Arya yang perlahan meninggalkannya. "Tunggu!!"


Arya menoleh ke arahnya. "Ada apa?"


"Terima kasih, aku berhutang budi padamu. Aku janji akan memberikan kasih sayangku untuk Tania. Aku janji." Kania menitikan air mata, sementara Arya hanya tersenyum dan mengangguk.


"Istirahatlah." Arya kemudian pergi.


Kania membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat empuk itu. Pandangan matanya tertuju ke langit-langit kamar. Perlahan, bulir bening itu kembali jatuh saat mengingat kisah hidupnya seperti sebuah film yang diputar kembali di depannya. Di saat dia sudah putus asa, takdir mempertemukannya dengan Tania, gadis kecil yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu. "Aku akan menyayangimu dengan setulus hatiku. Aku tahu bagaimana rasanya merindukan pelukan seorang ibu. Karena itu, aku akan memberikan kasih sayangku padamu dan berharap,Tuhan akan memberikan pelukan ibuku lagi padaku." Kania memejamkan matanya dan mulai terbuai dalam mimpi indahnya. Mimpi yang sesaat membuatnya bahagia.


Hampir dua jam Kania tertidur dan selama itu pula Tania tak lagi menangis. Gadis kecil itu tampak bermain sendiri dan menunggu Kania yang masih tertidur. Walau dia ingin bertemu dan bermain bersama Kania, tapi dia tahu kalau wanita itu sedang istirahat dan tidak ingin diganggu.


"Sayang, apa kamu ingin menemui mama?" Gadis kecil itu mengangguk saat ditanya oleh ayahnya.


"Sebentar lagi, ya, Nak. Sepertinya, mama masih tidur dan Tania jangan mengganggu mama, bisa, kan?" Gadis kecil itu kembali mengangguk dan tersenyum pada ayahnya.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ayah dan anak itu sontak memandangi ke arah pintu. Tania yang melihat Kania keluar dari kamar sambil tersenyum padanya lantas berlari ke arahnya. "Mama." Gadis kecil itu lantas digendong oleh Kania.


"Tania sayang sama Mama." Gadis kecil itu tiba-tiba melontarkan kalimat yang membuat Kania tersentuh.


"Mama juga sayang sama Tania." Kania lantas memeluknya dan mengecup ke dua pipinya.


"Mama jangan pergi lagi, ya. Tania tidak ingin kehilangan Mama." Kania mengangguk dan sekali lagi memeluknya.


"Ayo, Ma, kita duduk temani Papa." Ajak gadis kecil itu sambil menatap Arya yang sementara memandangi mereka.


Di kursi sofa, Tania duduk di tengah-tengah antara Kania dan Arya. Gadis kecil itu tampak tertawa saat menyaksikan film kartun yang kini sedang ditontonnya. Melihat tingkahnya yang menggemaskan, membuat Kania sesekali tersenyum sambil mengelus lembut kepalanya.


Tania menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan memandangi ayahnya dan juga Kania secara bergantian. Gadis kecil itu tersenyum dan perlahan dia berdiri dan memeluk Arya dari belakang dengan kedua tangannya yang melingkar di leher ayahnya itu. "Pa, jangan biarkan Mama pergi lagi, ya. Tania sayang sama Mama dan Tania ingin Mama tinggal di sini selamanya dengan kita. Bisa, kan, Pa?" Ucapan Tania yang tiba-tiba itu sontak membuat keduanya terkejut.


"Jawab, Pa. Mama akan tetap tinggal bersama kita, kan?"


Arya terlihat bingung. Bagaimana caranya dia harus menjelaskan pada putrinya itu kalau apa yang diinginkannya itu tidaklah mungkin bisa dikabulkan olehnya.


"Tania, Papa tidak bisa karena ... "


"Mama akan tinggal bersama Tania, Mama janji akan tetap tinggal bersama Tania." Dengan spontan Kania memotong ucapan Arya karena melihat wajah Tania yang terlihat ingin menangis. Mendengar ucapan Kania, gadis kecil itu tersenyum dan memeluk ayahnya sembari mencium pipinya berulang-ulang.


Sementara Arya, tak bisa melakukan apa-apa karena Kania telah menyetujui permintaan putrinya itu. "Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya itu?" batin Arya yang memandangi Kania seakan ingin meminta penjelasan darinya.

__ADS_1


__ADS_2