Cinta Kania

Cinta Kania
Part 39


__ADS_3

Di sela kesedihan yang kini melanda keluarganya karena sang ayah yang sedang sakit, Tuhan masih menyelipkan kebahagiaan yang menyelimuti keluarga kecil itu. Arya merasa bahagia karena sudah mengungkapkan rasa cintanya pada Kania. Entah apa yang sudah membuat dirinya mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya itu, tapi kehadiran Kania di tengah keluarganya menjadi penyemangat tersendiri baginya.


Bersama Kania, Arya tengah menyiapkan beberapa lembar baju milik ayahnya. Tak lupa, Kania juga mempersiapkan beberapa barang yang diperlukan di sana.


"Apa boleh aku memanggilmu dengan sebutan istriku?" tanya Arya tiba-tiba sambil berdiri di samping Kania. Wajahnya yang tampan terlihat begitu manja di depan Kania.


Melihatnya, Kania tersenyum dan mengangguk. "Aku suka jika kamu memanggilku seperti itu." Sontak, Arya lantas memeluknya, tapi tak lama. Dengan segera, Arya melepaskan kembali pelukannya.


"Kalau hanya untuk memelukku, aku tidak akan melarang. Jika itu bisa membuatmu bahagia, lakukan saja." Kania meraih tangan suaminya itu dan menggenggamnya erat. Arya tersenyum dan kembali memeluk Kania. "Ayo, sebaiknya kita selesaikan semua dan segera ke rumah sakit." Pemuda itu mengangguk.


Sambil menenteng beberapa tas, Arya dan Kania bergegas masuk ke dalam ruangan di mana ayahnya masih terbaring lemah. "Bagaimana keadaan Ayah?" tanya Arya sambil meletakkan tas bawaannya di atas meja.


"Ayah masih belum sadar." Ryan tampak lelah karena sudah seharian duduk di ruangan itu. Melihat ayahnya yang belum juga sadar membuat pemuda itu semakin khawatir. "Kak, apa Ayah baik-baik saja?"


"Tenanglah, kita doakan saja yang terbaik buat Ayah." Arya menepuk lembut pundak adiknya itu. "Pulang dan istirahatlah. Biar Kakak dan kakak iparmu yang menemani Ayah."


Ryan mengusap wajahnya seakan ingin membuang rasa penat dan lelah yang sedari tadi mengganggunya. "Baiklah, Kak. Aku akan pulang." Ryan kemudian keluar dari ruangan itu, tapi hatinya merasa terusik saat melihat Kania yang seakan terlihat acuh padanya.


Untuk saat ini, Ryan sangat membutuhkan seseorang untuknya bersandar akan masalah yang kini sedang dihadapi olehnya. Melihat Kania, rasanya dia ingin bersandar dan mengeluhkan tentang isi hatinya pada gadis itu. "Apa ini yang kamu rasakan di saat lalu? Maafkan aku karena saat itu aku tidak bisa menjadi sandaran di saat kamu sangat membutuhkanku." Ryan lantas pergi dengan rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.


Baru saja dia berjalan beberapa langkah, Kania tiba-tiba berlari kecil ke arahnya dan memanggil namanya, "Ryan, kembalilah. Ayah sudah sadar." Sontak, Ryan segera kembali ke ruangan itu dan mendapati ayahnya yang sudah terjaga. Walau terlihat pucat, lelaki paruh baya itu masih melayangkan senyum untuk anak dan menantunya itu.


"Syukurlah, Ayah sudah sadar." Ryan terisak sambil memegang tangan ayahnya. Begitupun dengan Arya yang terlihat menitikkan air mata saat melihat Ryan yang menangis terisak di depannya. Dengan lembut, Kania meraih tangan suaminya itu dan menggenggamnya erat.


"Jangan menangis, Ayah tidak apa-apa." Wicaksana terlihat lebih tabah. Wajah rentanya seakan ingin mengatakan kalau dia baik-baik saja.


Tak lama kemudian, seorang dokter memasuki ruangan itu bersama dua orang perawat. "Sebaiknya, kalian tunggu di luar sebentar karena kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada pasien."


"Baik, dok." Arya lantas meraih lengan adiknya itu. "Ayo, kita keluar." Mereka kemudian keluar dan duduk di koridor depan ruangan itu.


Di samping Kania, Arya duduk. Tangan lelaki itu tak sedetikpun terlepas dari genggaman tangan Kania. Seakan, dia tidak ingin ditinggalkan oleh Kania.


"Dok, di mana Dokter Fahri?" tanya Wicaksana pada dokter yang sedang memeriksanya itu.


"Dokter Fahri sedang keluar kota. Saya sudah menghubunginya, mungkin besok Dokter Fahri sudah kembali."


Wicaksana terdiam. Entah apa yang kini dipikirkannya. "Dok, apa anak-anakku tahu dengan penyakitku?" Wicaksana tampak gusar.

__ADS_1


"Hanya putra sulung dan menantu Anda yang tahu. Saya terpaksa memberitahu mereka karena mereka terus mendesak saya. Namun, mereka meminta saya untuk tidak memberitahukan apa-apa pada putra bungsu Anda."


Wicaksana menghela nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. Wajahnya tampak lelah dengan segurat kecemasan di wajah rentanya itu. "Bagaimana keadaan saya, dok?" Wicaksana terlihat pasrah.


"Sebaiknya, Anda banyak beristirahat. Dan saran saya, Anda melakukan kemotherapy. Itupun kalau Anda bersedia karena penyakit Anda sudah semakin parah."


"Berapa sisa umur saya, dok?" tanya Wicaksana yang sudah terlihat pasrah dengan kondisinya.


"Kami hanya bisa memprediksi, tapi umur manusia tidak ada yang tahu. Hanya Tuhan saja yang mempunyai kuasa atas hidup dan mati seseorang. Saya tidak ingin membuat Anda takut, tapi sebaiknya Anda menghabiskan waktu Anda bersama keluarga. Dengan melihat keluarga Anda, mungkin bisa menambah semangat hidup Anda." Dokter yang terlihat bijaksana itu begitu antusias memberi harapan padanya. Walau dia tahu umur pasiennya itu sudah tidak lama, tapi dia tidak putus asa untuk memberi harapan pada mereka.


"Lalu, kapan saya bisa keluar dari sini?"


"Untuk saat ini, sebaiknya Anda di sini dulu. Jika sudah memungkinkan, beberapa hari lagi Anda bisa keluar, tapi ingat banyaklah beristirahat dan berpikirlah yang positis dan optimis." Wicaksana mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Dokter muda itu kemudian keluar diikuti dua orang perawat di belakangnya.


Melihat dokter keluar dari ruangan ayahnya, Ryan lalu bergegas masuk. Sementara Arya dan dan Kania lebih memilih menemui dokter yang menangani ayah mereka itu. "Bagaimana ayah saya, dok?"


"Maafkan saya karena kondisi pasien sudah sangat parah. Bukan maksud saya ingin mendahulukan takdir Tuhan, tapi kondisi ayah Anda mungkin tidak bisa bertahan lama. Untuk sementara, pasien di sini dulu karena kondisinya masih lemah. Setelah beberapa hari, pasien sudah bisa pulang dan saran saya, banyaklah beri perhatian pada pasien. Di saat seperti ini, pasien sangat membutuhkan perhatian dari keluarga. Karena itu, berilah perhatian yang lebih pada pasien karena itu bisa membuat suasana hatinya membaik dan itu bisa menambah semangat hidupnya." Dokter muda itu menepuk pundak Arya perlahan. "Saya harap kalian bisa bersabar." Dokter itu kemudian pergi.


Mendengar penjelasan dokter itu, Arya tidak bisa berkata apa-apa selain air mata yang tiba-tiba jatuh. Kania lantas meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Bersabarlah, kita akan merawat ayah sama-sama."


"Hapuslah air matamu dan kita temui ayah." Arya lantas menghapus air matanya. Dengan langkah yang tegar, mereka menemui sang ayah yang masih terbaring dengan wajah renta yang kini menatap ke arah mereka.


"Maaf, jika Ayah sudah membuat kalian khawatir."


"Tidak, kok, Ayah. Jangan meminta maaf, sebaiknya Ayah banyak beristirahat agar Ayah bisa kembali pulang." Kania menggenggam tangannya dan lelaki itu tersenyum. Sementara Arya, berusaha tersenyum di depan ayahnya itu walau sebenarnya dia tidak sanggup.


Melihat wajah renta ayahnya, Arya kembali menitikkan air mata. Betapa dia sangat mengagumi lelaki itu. Lelaki yang dulu terlihat tampan dan gagah, kini lemah tak berdaya. Lelaki yang dulu selalu menyemangatinya, kini pasrah dengan takdir yang merenggut kesehatannya. "Ayah akan baik-baik saja dan beberapa hari ke depan Ayah sudah bisa pulang."


"Benarkah itu, Kak? Ah, syukurlah." Ryan terlihat bahagia hingga memeluk ayahnya itu. Melihat kebahagiaan di raut wajah adiknya, Arya tidak bisa memberitahukan hal sebenarnya tentang sang ayah. Biar dia sendiri yang menanggung perasaan tersiksa karena takut akan kehilangan sang ayah. Kapanpun dan di manapun, dia harus bisa menerima kenyataan jika ayahnya harus pergi untuk selamanya.


"Sebaiknya, kamu pulang saja. Ini sudah malam, biar kami yang akan menemani Ayah."


"Baiklah, Kak. Aku pulang dulu." Ryan menatap ayahnya yang kini yersenyum padanya. "Ayah, aku pulang dulu. Nanti besok pagi, aku akan datang lagi."


"Pulanglah, Nak. Ayah baik-baik saja." Wicaksana tampak tersenyum. Setelah memeluk ayahnya, Ryan kemudian keluar dan bergegas pulang.

__ADS_1


"Jangan beritahu tentang penyakit Ayah pada Ryan. Jangan buat dia bersedih karena Ayah tidak ingin melihat dia bersedih. Kamu bisa, kan, Nak?"


Arya mengangguk sambil menggenggam tangan ayahnya itu. Tanpa sadar, Arya menangis di depan ayahnya itu.


"Jangan menangis. Ayah akan selamanya ada di hati kalian. Maafkan Ayah karena menyimpan masalah ini sendirian. Ayah hanya tidak ingin membuat kalian cemas." Wicaksana tampak menitikkan air mata.


"Ayah, aku menyayangimu. Bagiku, Ayah seperti Ayah kandungku sendiri. Aku menyayangimu dan juga Ryan. Aku akan melakukan apa saja agar kalian bahagia." Arya menangis hingga sesenggukan. Wicaksana tersenyum walau air matanya perlahan jatuh.


Kania yang tidak mengerti dengan ucapan Arya, hanya bisa mengelus lembut punggung suaminya itu.


Dua puluh enam yang lalu, Arya kecil dibawa oleh Wicaksana dari sebuah panti asuhan. Lelaki itu begitu menyukai tatapan bocah yang sudah menarik perhatiannya. Bocah lelaki yang ditinggal di depan pintu panti asuhan saat masih bayi itu rupanya telah membuat Wicaksana dan istrinya memilihnya untuk menjadikannya anak angkat mereka.


Sejak kahadiran Arya kecil di rumah mereka, Wicaksana dan istrinya tak kesepian lagi. Tingkah lucu dari bocah itu membuat suasana rumah mereka semakin ramai. Hingga dua tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak lelaki. Walau begitu, kasih sayang mereka tak berkurang sedikitpun untuk bocah itu. Mereka merawatnya dan mendidiknya menjadi pemuda yang baik hati dan penyayang.


Tak hanya itu, Arya tumbuh menjadi anak yang penurut. Tak sekalipun dia pernah membantah orang tuanya. Demi mereka, Arya rela melakukan apa saja. Walau begitu, Wicaksana dan istrinya tidak pernah menuntutnya melakukan apa yang tidak di sukainya.


"Jangan berkata seperti itu, Nak. Bagi Ayah dan ibu, kamu adalah anak pertama kami. Berkat dirimu, kami bahagia karena merasakan bagaimana menjadi orang tua. Karena dirimu, Tuhan telah menganugerahkan seorang anak lagi pada kami. Jangan pernah katakan hal itu lagi karena kamu adalah anak kami." Wicaksana mengelus lembut kepala Arya yang kini menunduk mencium tangannya. Dengan deraian air mata, Arya memeluk sang ayah. Melihat mereka, Kania ikut menitikkan air mata.


Betapa kasih sayang seorang anak begitu terlihat dari sikap Arya. Lelaki itu terlihat begitu penyayang hingga membuat Kania semakin mengaguminya. Melihat kasih sayang dan perhatiannya pada sang ayah, Kania jadi semakin yakin untuk menautkan hati dan cintanya untuk lelaki itu. "Semoga kamu adalah suami pertama dan terakhir dalam hidupku. Semoga kamu adalah lelaki terakhir yang aku cintai dan aku berharap kita akan selamanya bahagia mengarungi bahtera rumah tangga tanpa ada penghalang yang mengganggu." Kania mengaminkan sebait doanya. Semoga apa yang diinginkannya menjadi kenyataan karena Arya kini adalah tambatan terakhirnya.


Hari menjelang malam saat hujan perlahan mulai turun. Wicaksana tampak tertidur setelah Kania menyuapinya sepiring bubur. Wajah rentanya tampak tenang dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.


"Tidurlah, biar aku yang menjaga Ayah." Arya membelai lembut pucuk kepala Kania saat gadis itu selesai membereskan ruangan itu.


"Bagaimana bisa aku tidur sementara kamu masih terjaga. Sudahlah, lebih baik kita menjaga Ayah bersama-sama." Kania tersenyum hingga membuat Arya ikut tersenyum.


Di kursi sofa, mereka berdua duduk sambil menggenggam tangan dengan erat. Sejenak, Kania menatap wajah suaminya itu hingga membuat Arya menatapnya heran. "Ada apa? Apa ada yang ingin kamu tanyakan padaku?" Arya seakan paham saat melihat tatapan Kania yang mengarah padanya.


Kania menggeleng dan tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di lengan lelaki itu. Rasanya begitu nyaman hingga membuat Kania memejamkan matanya.


"Apa kamu ingin menanyakan tentang diriku di masa lalu?"


Kembali Kania menggelang dan meraih tangan suaminya itu dan mengecupnya lembut. "Bagiku, itu tidak perlu untuk aku tahu. Karena yang aku tahu, kamu adalah Arya Wicaksana. Lelaki hebat yang sudah membuat aku jatuh cinta. Aku janji, akan selalu ada di sisimu, apapun yang terjadi karena aku adalah istrimu."


Arya tersenyum dan mengecup dahi istrinya itu. "Terima kasih, aku mencintaimu." Kembali lelaki itu mengungkap perasaannya. Kini, tanpa ragu, Arya berani mengungkapkan perasaannya hingga membuat Kania tersenyum bahagia.


Suara air hujan yang jatuh membasahi bumi seakan menjadi saksi kesucian cinta mereka. Dengan saling menggenggam tangan, mereka berjanji untuk selalu mencintai dan saling menjaga.

__ADS_1


Entah cinta mereka akan bertahan sampai kapan, karena bisa saja badai dan topan datang menghantam bahtera cinta mereka. Badai yang kapan saja bisa datang menerjang tanpa peduli dengan ketulusan cinta mereka. Mungkinkah mereka akan sanggup bertahan?


__ADS_2