
Kania menatap nomor yang masih disimpannya itu. Walau ragu, dia sudah bertekad untuk meneleponnya untuk menanyakan tentang uang 10 juta yang dikirim Arya padanya. Dengan tangan yang gemetar, Kania mulai menekan nomor itu.
Suara dering ponsel mengagetkan Arya yang juga sedang memegang ponselnya. Ditatapnya ponselnya itu yang kini tertulis "Istriku" memanggil tanpa kedip. Hatinya goyah hingga membuatnya menerima panggilan telepon itu. "Halo."
"Arya, apa maksudmu mengirim uang itu padaku? Bukankah, aku sudah bilang kalau aku melakukannya tulus?"
"Aku tahu, tapi kamu masih menjadi tanggunganku. Bagaimanapun juga, aku harus tetap menafkahimu karena kamu masih istriku secara hukum. Jangan khawatir, uang itu adalah hakmu dan aku akan menghentikannya jika kamu sudah menikah dengan Ryan." Sejenak, suasana menjadi hening. Jauh di sana, Kania sedang menghapus air matanya. Rasanya, ucapan Arya begitu menohok hatinya. Bagaimana bisa Arya mengharapkannya menikah dengan Ryan sedangkan hati dan cintanya masih terlalu besar untuk lelaki itu.
"Jangan menangis. Jika kamu seperti itu, bagaimana aku bisa tenang. Aku yakin, dengan seiring berjalannya waktu, kamu pasti bisa melupakanku dan cintamu yang dulu pada Ryan bisa hadir kembali. Ryan sangat mencintaimu dan dia ingin menikah denganmu, bahkan dia sudah bekerja di perusahanku karena dia ingin menafkahimu dengan hasil jerih payahnya sendiri. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya."
"Apa kamu juga bisa semudah itu melupakanku? Apa kamu bisa menikah dengan wanita yang tidak kamu cintai? Kenapa kamu berharap untuk aku melupakanmu, aku tidak bisa." Kania menangis hingga membuat Arya ikut menangis dalam diam. Ditahannya tangisannya itu walau hatinya kini menangis.
"Aku pasti bisa melakukannya. Aku akan melupakanmu dan aku harap kamu juga harus bisa melupakanku. Terimalah Ryan karena dia pasti akan membahagiakanmu."
Mendengar ucapan Arya membuat Kania sangat kecewa. Setidaknya, dia masih berharap agar lelaki itu merubah keputusannya. Dia masih berharap untuk Arya berterus terang pada Ryan tentang perasaan mereka, tapi harapannya itu kini pupus karena Arya telah bertekad untuk melupakannya.
"Jika itu yang kamu inginkan, aku takkan berharap lagi. Jika kamu ingin melupakanku, lakukanlah, tapi aku tidak akan melupakanmu juga Tania dan aku akan menerima Ryan dalam kehidupanku. Terima kasih untuk semua yang sudah pernah kamu berikan untukku. Terima kasih karena sudah pernah memberikanku cinta. Walau singkat, itu sangat berarti bagiku. Jika kita bertemu nanti, anggaplah aku sebagai orang asing yang tidak kamu kenal karena aku tidak akan mengenalmu lagi." Sambungan telepon itu tiba-tiba terputus. Arya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya seakan ingin menutupi air matanya yang kini jatuh.
Ucapan Kania bagaikan sembilu yang mengiris hatinya perlahan. Luka namun tak berdarah. Sakit hingga menusuk relung hatinya. Tak hanya dirinya, kini Kania pun larut dalam kesedihan yang teramat dalam. Gadis itu tak mampu menahan air matanya hingga membuatnya menangis terisak. Sungguh, harapannya kini telah musnah. Cintanya kini telah pergi dan tak mungkin baginya untuk bisa kembali.
Di tengah kesedihannya, ponselnya berdering. Sebuah nama terpampang di layar ponselnya. Nama seseorang yang awalnya ingin dia tinggalkan, tapi kini akan dia pertahankan walau cinta itu belum ada. "Ada apa?" tanya Kania memelas.
"Kamu belum tidur?" tanya suara yang terdengar perhatian padanya.
"Belum, kamu juga kenapa belum tidur?"
"Karena aku ingin mendengar suaramu. Aku merindukanmu, Kania."
"Tidurlah, bukankah besok kamu harus bekerja?"
"Dari mana kamu tahu kalau aku sudah bekerja? Aku kan belum memberitahukanmu?"
Kania terkejut saat Ryan menanyakan hal itu padanya. "Bukankah, kamu sendiri pernah bilang padaku kalau kamu akan bekerja untuk menafkahiku kelak? Karena itu, aku yakin kamu pasti sudah mendapatkan pekerjaan." Kania berusaha terdengar wajar agar Ryan tidak curiga padanya.
"Oh, jadi karena itu kamu berpikir aku sudah bekerja? Iya, aku memang sudah bekerja di perusahan Kak Arya. Aku akan bekerja dengan baik agar aku bisa melamarmu dan aku tidak akan mengizinkanmu lagi untuk bekerja. Jika kita sudah menikah nanti, tugasmu hanya duduk manis di dalam rumah dan menungguku pulang kerja. Aku ingin kita membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia dengan tawa dan canda anak-anak kita kelak. Apa kamu bersedia?"
__ADS_1
Kania terdiam. Perlahan, air matanya jatuh. Karena itu adalah impiannya bersama Arya. Dia ingin menjadi istri dan ibu bagi anak-anak mereka kelak, namun semuanya hanya tinggal impian yang tidak akan pernah bisa menjadi kenyataan.
"Kania, apa kamu menangis?" Sontak, Ryan bangkit dari tempat tidurnya saat mendengar isakan tangis gadis itu. "Tunggu aku, aku akan ke tempatmu."
"Jangan, tidak perlu. Aku hanya menangis bahagia karena kamu masih mencintaiku. Aku ..." Kania mencoba menata hatinya yang kini putus asa. "Aku akan menerimamu kembali, tapi untuk saat ini kita jangan bertemu dulu. Aku tidak ingin orang berprasangka buruk tentang hubungan kita karena aku belum resmi bercerai dengan kakakmu. Kamu fokuslah untuk bekerja dan aku juga akan fokus untuk pekerjaanku. Kamu bisa, kan?"
"Aku tidak bisa karena aku pasti akan merindukanmu. Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk tidak bertemu denganmu. Kania, apa kamu ingin membuatku gila? Ayolah, biarkan aku bertemu denganmu karena aku tidak bisa jika tidak melihatmu." Ryan merengek manja pada gadis itu dan berharap Kania mengubah keputusannya itu.
"Aku tidak mau tahu, jika kamu tidak ingin bertemu denganku, maka tiap malam aku akan berdiri di depan tempat tinggalmu dan berteriak memanggil namamu. Apa kamu ingin aku lakukan itu?"
Entah apa yang harus Kania jawab karena dia tahu bagaimana nekatnya lelaki itu. "Ya sudah, terserah kamu saja. Aku tidak akan melarangmu lagi." Ryan tersenyum penuh kemenangan. Wajah tampannya terlihat begitu menawan dengan senyum yang terukir di sudut bibirnya.
"Aku mencintaimu, Kania. Sangat mencintaimu. Bersabarlah, karena aku pasti akan menikahimu. Sekarang tidurlah dan bermimpilah yang indah tentang kita. Aku mencintaimu." Ryan mengakhiri panggilan teleponnya dengan sebuah ungkapan cinta yang membuat Kania menjadi bimbang. Kata-kata cinta dari lelaki itu tak bisa mengubah perasaannya pada Arya. Walau setinggi langit ungkapan cinta Ryan padanya, tidak akan membuat Kania goyah karena cintanya hanya untuk Arya. Sedalam apapun cinta Ryan padanya, tidak akan membuat Kania tenggelam dalam lautan cinta yang dibuat Ryan untuknya. Namun, dia tetap saja harus menerima cinta Ryan padanya karena dia tahu, kebahagiaan Ryan adalah kebahagiaan lelaki yang dicintainya itu.
Malam itu, entah mengapa Kania begitu sulit untuk memejamkan matanya. Rasanya, dia begitu sulit untuk bisa tidur, walau sudah berusaha, tapi matanya tidak bisa terpejam karena bayangan wajah Arya masih mengganggu hati dan pikirannya. Betapa dia sangat tersiksa dengaan permainan cinta yang dimainkan takdir untuknya.
Sementara jauh di sana, Arya tampak terjaga sambil menyeruput kopi yang sudah habis beberapa gelas. Teh madu buatan Bi Suri hanya teronggok di atas meja tanpa disentuh olehnya. Walau sama, namun baginya rasanya sangat jauh berbeda. Entah apa yang membuatnya berbeda hingga lelaki itu tak menyentuhnya. Kini, kebiasaan lama yang pernah hilang sejak kehadiran Kania, perlahan muncul kembali. Matanya seakan masih kuat terjaga dengan ditemani beberapa cangkir kopi. Ah, andai Kania masih ada, mungkin saat ini dia sudah tertidur lelap di samping wanita yang dicintainya itu.
Walau pandangannya terarah pada layar laptopnya, tapi pikirannya tertuju pada Kania. Betapa dia begitu merindukannya hingga membuatnya menjadi gila. Kehilangan dan perpisahan yang dia rasakan, rasanya begitu menyakitkan jika dibandingkan dengan kehilangan istri pertamanya. Bagaimana tidak, karena Kania akan menjadi adik iparnya jika dia menikah dengan Ryan kelak dan itu artinya dia akan tersiksa selama hidupnya karena melihat wanita yang sangat dicintainya bahagia bersama adiknya.
*****
Jam 7 pagi Kania sudah bersiap berangkat ke tempat kerjanya. Dengan ojek online, Kania bergegas ke sana. Hingga tiba di depan pintu restoran, Kania segera berlari setelah membayar ongkos ojeknya karena jika dalam waktu 5 menit dia tidak segera melapor diri, maka dia akan dinyatakan terlambat.
Dengan buru-buru, Kania berlari hingga dia terkejut saat dia melihat seseorang melintas di depannya. Sontak, Kania tiba-tiba berhenti, tapi terlambat karena tubuhnya kini menabrak orang itu hingga tubuh Kania berada dalam dekapannya. Sesaat, Kania terkejut hingga membuatnya melepaskan diri dari dekapan orang itu.
"Maafkan saya. Maafkan saya." Kania menundukan setengah badannya seraya meminta maaf, kemudian dia melanjutkan larinya hingga tiba di depan Bu Risna yang kini berdiri di depannya.
"Kamu terlambat 2 menit. Bukankah, aku sudah bilang jangan datang terlambat. Apa kamu ingin dipecat di hari pertamamu kerja?" Tatapan wanita itu terlihat tajam dan mengarah pada Kania seakan ingin menerkamnya. Kania hanya bisa menunduk pasrah saat dimarahi oleh wanita itu.
Semua karyawan yang masih belum beranjak tampak kasihan melihat ke arah Kania. Hanya karena terlambat 2 menit saja, Kania harus mendengar segala macam ocehan yang menghabiskan waktu hampir setengah jam. Semua karyawan sudah bubar dan melakukan tugasnya, sementara Kania masih berdiri di depan Bu Risna yang belum bosan menceramahinya. Kakinya yang kini mulai terasa pegal karena hampir satu jam berdiri mulai membuatnya tak sanggup lagi untuk tetap bertahan. Belum lagi dengan perutnya yang mulai meminta diisi karena belum sarapan. Karena tidur di jam 4 pagi, membuat Kania bangun sedikit terlambat dan tidak ada waktu baginya untuk sarapan. Akhirnya, dengan perut kosong, Kania berangkat menuju tempat kerjanya.
"Kenapa, apa kamu sudah lelah berdiri?" tanya Bu Risna yang mulai memperhatikan Kania yang terlihat gelisah.
"Tidak, Bu. Maafkan saya atas keterlambatan saya. Saya janji, mulai besok saya tidak akan terlambat lagi." Kania menundukan wajahnya seakan ingin menutupi wajahnya yang meringis karena kelelahan dan juga kelaparan.
__ADS_1
"Sudah, lebih baik kamu kembali bekerja. Bu Risna, untuk hari ini maafkan dia karena aku yang sudah membuatnya terlambat. Andai tadi aku tidak menghalangi jalannya, mungkin dia tidak akan terlambat." Suara seorang lelaki kini terdengar di depannya hingga membuat Kania mengangkat wajahnya. Sejurus, dia terkejut karena orang itu adalah seorang lelaki muda yang tadi ditabrak olehnya.
"Anda?" tanya Kania sambil menatap heran ke arah lelaki itu.
"Iya, saya. Kenapa? Apa kamu karyawan baru di sini?" tanya lelaki itu yang menatap lurus ke arah Kania.
"Iya, Pak. Dia Kania, karyawan baru. Hari ini hari pertamanya kerja, tapi dia sudah membuat kesalahan dengan datang terlambat." Wanita itu menatap ke arah Kania dengan tatapan matanya yang tajam.
"Untuk hari ini, kamu saya maafkan, tapi jika terulang lagi, tidak segan-segan kamu akan saya pecat, paham?" Kania menganggukan kepalanya seraya tersenyum pada lelaki itu.
"Baik, Pak. Saya janji tidak akan terlambat lagi."
"Ya sudah, sekarang pergi lakukan tugasmu."
"Baik, Pak. Terima kasih." Kembali Kania tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan lelaki itu dan Bu Risna yang memandangi kepergiannya.
"Kakak, apa itu tidak terlalu kejam baginya? Dia hanya terlambat 2 menit, kenapa Kakak harus membuatnya berdiri hampir satu jam." Lelaki itu berjalan menuju ruangannya dan diikuti Bu Risna di belakangnya.
"Kenapa kamu harus marah? Toh, Kakak selalu melakukannya pada karyawanmu yang terlambat sama seperti biasanya, tapi kenapa kali ini kamu malah marah sama Kakak?" Keluh wanita itu sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi sofa di ruangan itu.
"Aku tahu, Kak, tapi tadi dia terlambat karena aku menghalangi jalannya. Coba kalau tadi aku tidak ada di jalan itu, pasti dia tidak akan terlambat."
Wanita itu memandang ke arah lelaki muda itu dan melayangkan senyum padanya. "Apa jangan-jangan kamu suka padanya?"
"Apa maksud Kakak? Mana mungkin lelaki tampan sepertiku menyukai wanita seperti itu? Kakak tidak meragukan seleraku tentang wanita, kan?"
Wanita itu tersenyum kecut saat mendengar ucapan lelaki itu. "Baiklah, Kakak akui seleramu terhadap wanita sangatlah tinggi dan Kakak yakin kamu tidak akan terpikat pada karyawan baru itu. Padahal, wajahnya cukup cantik dan tubuhnya juga terlihat seksi. Ardi, ingat, jangan sampai kamu terpikat padanya, paham?"
"Itu tidak mungkin, Kak. Sudah, Kakak pergi saja sebelum semua karyawan curiga pada kita. Nanti mereka berpikir kalau Kakak mencoba merayuku." Wajah lelaki itu terlihat kesal.
"Iya, Kakak memang sedang merayumu untuk segera menikah. Sampai kapan kamu akan terus bertualang dengan cinta gombalmu itu. Ingat umur karena tidak selamanya kamu akan hidup seperti itu. Ardi, cobalah untuk serius dalam mencari cinta dan menikahlah. Apa kamu ingin Kakak terus ada di sampingmu?"
Lelaki yang bernama Ardi itu lantas memeluk wanita itu. "Kakak, bagiku Kakak adalah pengganti ibu. Bagaimana bisa Kakak meninggalkanku, bukankah aku adalah adik kesayanganmu?" Wajah Ardi terlihat begitu manja hingga membuat wanita itu luluh.
"Iya, Kakak tidak akan meninggalkanmu, puas? Ah sudahlah, Kakak harus melakukan tugas Kakak kembali. Cepat keluar dan bantu Kakak mengurus semua karyawanmu itu. Ah, bikin repot saja." Walau wajahnya terlihat kesal, tapi Ardi tahu kakaknya itu tidak benar-benar kesal padanya. Sambil tersenyum, Ardi lantas meninggalkan ruangan itu dan bergegas menuju dapur untuk melihat kinerja semua karyawannya hingga pandangannya tertuju pada sosok Kania yang kini sedang tersenyum pada salah satu karyawannya.
__ADS_1