Cinta Kania

Cinta Kania
Part 53


__ADS_3

Sudah 6 bulan sejak kepergian Kania, dan selama 6 bulan itu, Ryan bagaikan orang yang kehilangan arah. Selama 6 bulan, hidupnya terasa bagaikan terombang ambing tanpa kejelasan. Segala macam cara sudah dia lakukan agar bisa menemukan Kania, tapi hasilnya selalu mengecewakannya.


Begitupun dengan Arya, diam-diam dia meminta orang kepercayaannya untuk mencari tahu keberadaan Kania, tapi lagi-lagi gagal. Kania bagaikan hilang ditelan bumi.


Kepergian Kania meninggalkan rasa penyesalan yang teramat dalam bagi Arya. Segigih apapun dia mencari, maka semakin sulit takdir mempertemuakan mereka. Di saat dirinya dan Ryan kewalahan mencari Kania, di suatu tempat Kania tengah tersenyum melihat seorang lelaki yang sedang memperlihatkan kemampuan memasak di depannya.


"Hari ini, menu apa yang ingin kamu makan?" tanya lelaki itu sambil tersenyum ke arah Kania.


"Nasi goreng saja. Untuk kali ini, aku yang buatkan, ya. Kamu pasti lelah karena baru datang setelah seminggu bekerja di restoran. Sekali-kali, biar aku yang menjamu makanan untukmu. Ya, walau rasanya tidak senikmat buatanmu itu." Sambil tersenyum Kania mulai memasak nasi goreng, sementara lelaki itu hanya duduk menatap Kania yang nyatanya kini terlihat lebih dewasa hingga membuat aura kecantikannya terpancar.


"Kenapa melihatku seperti itu? Awas, jangan sampai jatuh cinta padaku karena aku tidak akan mau menikah denganmu," ucap Kania sambil tersenyum hingga membuat lelaki itu membalas senyumnya.


"Iya, aku tahu itu. Walau sudah 6 bulan berlalu, kamu masih mencintai mantan suami kamu itu, kan? Ah, beruntungnya dia karena dicintai wanita sepertimu."


Kania hanya tersenyum melihat lelaki yang selalu ada untuknya. Ardi, lelaki tampan itu ternyata memiliki hati yang baik. Walau Kania sudah meminta izin untuk meninggalkan rumahnya, tapi dia selalu menolak. Alasannya, karena dia ingin Kania yang menjaga rumahnya, padahal itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Perlahan, dengan seiring berjalannya waktu dan kebersamaannya bersama Kania, membuat dia mulai menyukai Kania. Walau rasa sukanya itu hanya bisa tersirat lewat tatapan mata dan perhatian yang di samarkan agar tidak membuat Kania merasa canggung padanya.


"Apa kamu sudah memikirkan tawaranku itu?" tanya Ardi saat mereka sedang duduk di meja makan sambil menyantap nasi goreng buatan Kania.


"Aku masih memikirkannya. Bukan aku ingin menolak, tapi aku hanya takut jika tak sengaja bertemu dengan mereka. Lagipula, aku belum siap jika bertemu dengan mereka."


"Kania, sampai kapan kamu akan bersembunyi di sini? Sudahlah, jangan siksa dirimu seperti ini. Sudah saatnya kamu tunjukan kalau kamu bukan lagi Kania seperti dulu. 6 bulan bukan waktu yang sedikit, lagipula mereka sepertinya sudah mulai melupakanmu."


Ucapan Ardi sontak membuat Kania menatap ke arahnya. "Apa maksudmu? Apa diam-diam kamu mencari tahu tentang mereka?" tanya Kania yang membuatnya penasaran.


"Itu bukan hal yang sulit buatku. Aku tahu mantan suamimu adalah pengusaha muda yang cukup sukses. Adik ipar sekaligus mantan pacarmu itu juga sepertinya mulai melupakanmu. Tanpa sengaja aku pernah melihatnya bersama seorang gadis cantik dan mereka terlihat akrab."


"Ah, apa kamu ingin membujukku dengan ucapanmu itu? Aku tidak akan terpengaruh." Kania seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan Ardi padanya. Kembali, dia mengunyah nasi goreng buatannya itu.


"Baiklah, kalau kamu tidak percaya, tapi jika aku bisa mendapatkan bukti dan menunjukan bukti itu padamu, apa kamu akan ikut denganku dan pergi dari sini?"

__ADS_1


Kania melihat ke arah Ardi. Sekilas, Kania bisa melihat kesungguhan di mata lelaki itu. "Baiklah, jika benar, aku akan ikut denganmu dan keluar dari rumah ini," ucap Kania yang begitu meyakinkan. Dengan tersenyum, Ardi kembali melanjutkan makannya sambil sesekali melirik ke arah Kania.


Ucapan Ardi tentang Ryan yang dekat dengan seorang wanita bukanlah isapan jempol belaka. Ryan, perlahan mulai kembali dekat dengan Davina, karena wanita itu sudah kembali tinggal di Indonesia dan bekerja di salah satu anak perusahaan yang ada di Amerika. Walau tidak terlalu dekat seperti dulu, tapi setidaknya kehadiran Davina sudah cukup menjadi teman untuk Ryan membagi keluh kesahnya.


Davina, dengan hati terbuka mulai menerima kembali pertemanan mereka. Walau hanya sebatas teman, tapi Davina tidak pernah menutupi hatinya untuk Ryan karena jauh di lubuk hatinya, gadis itu masih menyimpan rasa cintanya untuk Ryan.


"Apa sekarang kamu sudah bisa melupakan Kania?" tanya Davina saat mereka sedang makan siang bersama.


"Sudahlah, jangan bahas dia lagi. Aku ingin melupakannya karena dia telah menyakiti hatiku." Ryan tampak kesal kalau Davina mulai mengungkit soal Kania. Walau begitu, itu bukanlah perasaan yang sesungguhnya karena jauh di lubuk hatinya, Kania masih belum bisa enyah dari hatinya.


Davina hanya bisa tersenyum saat melihat Ryan yang tampak tidak suka saat dia membicarakan Kania. "Apa benar yang kamu ucapkan itu? Apa benar kamu terluka karena dia? Ryan, andai kamu tahu, aku masih mengharapkanmu. Aku masih mengharap kita bersama lagi seperti dulu. Apakah, aku masih punya kesempatan itu?" batin Davina yang mulai luluh dengan lelaki yang kini duduk di depannya itu.


"Ayo, aku antarkan kamu ke tempat kerjamu." Ryan bangkit dari tempat duduknya setelah mereka selesai makan dan diikuti Davina di belakangnya.


"Maaf, apa saya bisa bicara sebentar dengan kalian?" tanya seorang lelaki muda yang terlihat tampan dan elegan. Sontak, Ryan dan Davina menghentikan langkah mereka. "Sepertinya, kalian pasangan yang sangat serasi. Karena kalian adalah pelanggan setia kami, saya selaku pemilik restoran ini ingin memberikan voucer makan gratis untuk kalian, tapi apa boleh saya mengambil foto kalian biar bisa saya pajang di dinding restoran ini?" tanya lelaki tampan itu sambil menyerahkan satu lembar voucer pada mereka.


"Jadi, lelaki itu adalah adik ipar sekaligus mantan pacar Kania? Lelaki itu cukup tampan, tapi kenapa Kania harus menghindar dari lelaki tampan itu?" tanya Risna pada lelaki itu.


"Masalahnya bukan hanya itu, Kak." Lelaki itu mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Ardi, jangan bilang kalau kamu mulai menyukai Kania. Itu tidak benar, kan?"


"Sudahlah, Kak. Aku tahu dia itu janda, tapi dia menikah untuk membantu mantan suaminya itu karena sudah membantu pengobatan ibunya, tapi nyatanya lelaki tadi adalah adik iparnya yang juga mantan pacarnya dulu. Kakak tahu, mantan suaminya itu sengaja melepaskan Kania karena tidak ingin mengecewakan adiknya, padahal mereka berdua sudah berjanji untuk melanjutkan pernikahan karena mereka mulai saling mencintai. Lantas, apa bisa Kania mencintaiku jika cintanya masih tersimpan untuk mantan suaminya itu?" Penjelasan Ardi membuat Risna menatap adiknya itu yang nyatanya mencoba menyembunyikan perasaannya.


"Ardi, jika kamu mencintainya, cepat katakan padanya. Apa kamu ingin hatimu kembali terluka seperti dulu? Kakak tidak akan melarangmu untuk mencintai gadis manapun, asalkan dia bisa membuatmu bahagia, maka Kakak juga akanĀ  mendukungmu." Risna menepuk lembut bahu adiknya itu dan pergi meninggalkannya.


"Apa aku bisa membuat dia mencintaiku sedangkan dia hanya menganggapku sebagai sahabat? Ah, andai dia tahu kalau aku mencintainya, apa dia masih mau dekat denganku?" Ardi begitu tersiksa dengan perasaannya sendiri. Perasaan cinta yang entah muncul sejak kapan karena dia sendiri tidak tahu.


*****

__ADS_1


Di ruang kerjanya, Arya tampak duduk sambil memandangi foto Kania di ponselnya. Senyuman di wajah cantik gadis itu tak bisa dihapusnya begitu saja. Walau sudah setengah tahun Kania pergi, tapi nyatanya dia tidak bisa begitu saja melupakan Kania. "Kania, apa kamu masih marah padaku? Kalau kamu marah, datang dan marahi aku, aku pasti akan menerima kemarahanmu dengan cintaku. Aku mohon, maafkan aku." Arya terlihat menghapus air matanya. Semua kenangannya bersama Kania kini kembali hadir. Sumpah dan janji yang pernah terucap, kini hilang dan musnah karena keegoisannya.


"Apa sekarang baru kamu menyesal?" Selly masuk ke ruangannya dan melihat Arya yang menitikan air mata. Lelaki itu perlahan menghapus air matanya itu.


"Apa kamu belum mendapat kabar tentang keberadaan Kania?" tanya Selly yang kini duduk di depan sahabatnya itu.


"Belum, sepertinya dia benar-benar ingin membuat aku melupakannya, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melupakannya walau dia telah meninggalkanku."


"Sudahlah, jangan menyesali diri. Aku akan membantumu menemukannya. Aku yakin, Kania masih ada di negara ini. Lagipula, aku tahu dia sangat mencintaimu. Arya, jika Kania kembali padamu, jangan pernah lepaskan dia. Jangan lagi ulangi kesalahanmu di masa lalu dan mengesampingkan kebahagiaan kalian demi Ryan, apapun yang terjadi, pertahankan dia, paham!!"


Arya mengangguk dan mengiyakan ucapan sahabatnya itu. Tanpa mereka sadari, Ryan tengah berdiri di balik pintu dan mendengar perbincangan mereka. Tanpa terasa, air matanya pun jatuh. "Jadi, semua ini karena aku?" batin Ryan sambil pergi meninggalkan tempat itu.


Dengan sepeda motornya, Ryan pergi ke tempat di mana dia bisa menangis. Di sebuah gubuk tanpa sekat, Ryan duduk sambil menatap lautan lepas. Tempat itu adalah tempat di mana dia dan Kania pernah merayakan ulang tahun Kania. Di masa lalu, tempat itu adalah tempat yang sering mereka kunjungi.


"Ryan, ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis seperti itu?" tanya Davina yang baru saja datang. Dengan panik, Davina mendekati lelaki itu dan memeluknya. "Ryan, ada apa? Ayolah, jangan buat aku cemas." Davina mengelus punggung lelaki itu dengan lembut.


"Aku sangat berdosa. Aku sudah membuat kakakku terluka. Aku terlalu egois hingga tidak bisa melihat kalau kakakku mencintai dia. Bahkan, aku dengan bangganya merebut Kania dari kakakku. Davina, aku ... " Ryan kembali menangis hingga membuat Davina ikut menitikan air mata.


"Ryan, tenangkan dirimu. Jangan seperti ini, tenanglah, setelah itu ceritakan padaku."


Ryan menghapus air matanya dan pandangannya kini lurus ke depan, menatap hamparan laut lepas. "Kak Arya dan Kania awalnya hanya menikah kontrak karena kakak tidak ingin mengecewakan ayah. Awalnya, aku tidak tahu itu dan aku memutuskan untuk datang ke sini. Maksud kedatanganku ingin membuat Kania meninggalkan Kak Arya karena aku takut dia akan mengecewakan kakakku sama seperti dia mengecewakanku dulu. Namun, saat aku tahu alasan di balik perpisahan kami dulu, aku jadi merasa bersalah hingga aku tak sadar kalau aku sudah kembali jatuh cinta padanya. Karena ingin melupakannya, aku memutuskan untuk kembali ke Amerika, tapi tak sengaja aku tahu kalau mereka hanya menikah kontrak. Oleh karena itu, aku mengurungkan kepulanganku ke Amerika dan memutuskan hubungan kita. Kakakku bahkan tidak tahu kalau kami dulu saling mencintai, hingga suatu hari Kak Arya mengetahuinya dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kontraknya dengan Kania. Davina, selama ini aku terlalu egois hingga tidak menyadari kalau Kak Arya dan Kania saling mencintai. Karena aku, Kak Arya melepaskan Kania dan akhirnya Kania meninggalkan kami berdua. Ah, aku ini sangat bodoh!!" Ryan memukul tempat duduknya dengan kepalan tangannya. Rasanya, rasa sakit itu tidak akan cukup jika dibandingakn dengan rasa sakit yang kini dirasakan oleh Arya dan Kania hingga membuat Ryan terus memukul tempat duduknya itu.


"Ryan, sudahlah. Kalaupun kamu menangis dan menyakiti diri sendiri, kamu tidak akan bisa mengembalikan keadaan. Tenanglah dan fokuslah agar kamu bisa membuat mereka bersama lagi. Ryan, aku akan membantumu. Kita akan sama-sama mencari Kania dan menyatukan mereka lagi. Aku janji akan membantumu, aku janji." Davina menggenggam tangan Ryan. Melihatnya, Ryan tersenyum dan memeluk gadis itu.


"Terima kasih, dan maafkan aku karena sudah menyakitimu. Maafkan aku."


Davina mengangguk dan memeluk tubuh Ryan dengan erat. Mendengar permintaan maaf Ryan, Davina menangis. "Aku sudah memaafkanmu. Jangan menangis lagi dan sebaiknya, kita fokus mencari Kania dan semoga saja dia belum melupakan Kak Arya." Ryan mengangguk.


Sejenak, Ryan menatap wajah Davina yang kini tersenyum padanya. Tiba-tiba, rasa bersalah merasuk di hatinya karena pernah mengecewakan gadis itu. "Davina, maafkan aku. Aku tahu kamu masih mencintaiku dan aku janji, aku juga akan mencintaimu sama seperti dulu. Tunggulah hingga kita menemukan Kania, setelah itu, kita juga akan kembali bersama," batin Ryan yang kini memeluk Davina.

__ADS_1


__ADS_2