
Ardi mengikuti dokter itu dan masuk ke dalam ruang ICU. Berselang setengah jam kemudian, Ardi keluar sambil diantar seorang perawat. Sambil memegang pergelangan tangannya dengan secuil kapas yang masih menempel, Ardi duduk di samping Bastian.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Kania yang masih sempat mengkhawatirkan Ardi.
"Aku tidak apa-apa."
"Minumlah ini untuk membantu menstabilkan darahmu." Bastian menyodorkan minuman sari kacang hijau kemasan pada lelaki itu. Dengan tersenyum, Ardi menerimanya dan langsung meminumnya.
"Jangan khawatir, Kania. Arya pasti akan baik-baik saja." Ardi mencoba menguatkan Kania. Dengan senyum yang dipaksakan, Kania mengangguk dan mengaminkan ucapan Ardi.
Selang beberapa menit kemudian, pintu ruang ICU terbuka. Kania lantas mendekati pintu dan melihat Arya yang terbaring dengan perban yang menutupi kepalanya. Lelaki itu tampak tak sadarkan diri di atas brankar yang didorong pelan oleh seorang perawat. Melihatnya, Kania segera menggenggam tangannya dan menitikkan air mata.
Di salah satu ruang inap, Arya dibaringkan di atas tempat tidur. Melihatnya, Kania terisak dan duduk menangis di sampingnya. Tangan Arya tak lepas dari genggaman tangannya. Kania membelai lembut pipi kekasihnya itu dan berharap dia tersadar dan kembali menatapnya.
"Arya, kamu pasti baik-baik saja. Cepat buka matamu agar aku tak lagi mengkhawatirkanmu. Aku mohon, buka matamu." Kania menangis sembari mengecup punggung tangan lelaki itu.
"Dok, bagaimana keadaan kakak saya?" tanya Ryan saat seorang dokter masuk ke ruangan untuk mengecek keadaan Arya.
"Jangan khawatir, pasien sudah melewati masa krisis. Untung saja robekan di kepalanya tidak terlalu dalam. Walau banyak darah yang keluar dan luka robekan yang lumayan panjang, namun itu tidak berpengaruh pada tengkorak kepalanya. Untuk saat ini, pasien belum bisa sadar karena masih terpengaruh obat bius. Tenanglah, jika dirawat dengan baik, pasien seminggu ke depan sudah bisa pulang." Mendengar penjelasan dokter Kania menghela napas lega. Begitupun dengan sahabat-sahabatnya.
"Terima kasih, dok. Terima kasih," ucap Ryan tak henti berterima kasih pada dokter itu.
Kania masih duduk di samping Arya dan tak melepas genggaman tangannya. Begitupun dengan semua sahabat-sahabatnya yang masih setia menunggu Arya yang masih belum siuman.
Selama satu jam, mereka masih menunggu hingga perlahan jari jemari Arya bergerak dan diikuti dengan matanya yang terbuka perlahan. Sontak, Kania tersenyum dengan air mata yang jatuh saat Arya menatap ke arahnya.
"Jangan menangis, aku baik-baik saja." Arya berucap dengan suaranya yang terdengar lemah dengan senyuman yang terukir lembut di sudut bibirnya. Melihatnya, Kania tak bisa lagi membendung air matanya dan mengecup punggung tangan lelaki itu hingga membuat Arya memaksakan diri untuk duduk.
"Jangan duduk dulu, berbaringlah, kamu masih lemah." Bastian melarang Arya untuk duduk, tapi lelaki itu tetap memaksakan diri hingga membuat Bastian membantunya untuk duduk.
"Kania, lihat aku. Aku baik-baik saja. Kamu tidak kenapa-napa, kan?" tanya Arya yang terlihat mengkhawatirkan Kania.
"Kenapa kamu harus berkorban untukku? Kenapa kamu yang harus terluka karena aku? Kenapa kamu tidak biarkan saja kayu itu mengenai kepalaku?" Kania menangis hingga membuat Arya meraih tubuh gadis itu dan dipeluknya.
"Bagaimana mungkin aku membiarkanmu terluka. Aku senang kamu tidak sampai terluka karena jika kamu terluka, sampai matipun aku tidak akan memaafkan diriku karena tidak bisa melindungimu." Mendengar ucapan Arya, Kania memeluknya erat dan menangis di dalam pelukan kekasihnya itu.
"Sudahlah, hapus air matamu dan berikan senyummu itu padaku. Ayo, tersenyumlah." Kania menghapus air matanya dan tersenyum pada kekasihnya itu.
__ADS_1
Arya lantas mengedarkan pandangannya pada sahabat-sahabatnya yang masih setia menunggunya. "Terima kasih karena kalian telah menungguku dan menemani Kania."
"Itu sudah kewajiban kami karena kalian berdua adalah sahabat kami. Sekarang, istirahatlah karena kami tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian. Tenanglah, kami akan datang lagi menjengukmu dan menemani Kania di sini," ucap Bastian.
"Maaf, sudah membuat kalian khawatir. Terima kasih karena sudah menungguku."
Bastian dan Selly mengangguk. Setelah berpamitan, pasangan kekasih itu kemudian pergi. Sementara Ardi juga mulai meminta undur diri. "Aku juga harus pergi. Aku akan datang lagi menjengukmu dan cepatlah sembuh," ucap lelaki itu pada Arya. Sambil tersenyum Arya mengangguk dan berterima kasih padanya.
Di depan pintu, Kania mengantar kepergian Ardi. "Terima kasih, Kak Ardi. Terima kasih karena sudah memberikan darahmu untuk Arya. Mulai saat ini, kamu adalah kakakku. Kamu tidak keberatan jika aku menganggapmu sebagai kakakku, kan?" tanya Kania dengan air matanya yang perlahan jatuh.
"Tidak, malah aku senang karena aku sekarang sudah mempunyai seorang adik." Kania lantas memeluknya dan menangis.
"Mulai sekarang, jangam sungkan untuk meminta bantuanku. Seorang kakak akan dengan senang hati membantu adiknya. Sekarang, pergilah dan jaga Arya. Aku pasti akan datang menjenguk dia lagi. Masuklah." Kania mengangguk dan masuk ke kamar sementara Ardi melangkah pergi dengan derai air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Sementara Ryan, masih duduk di samping kakaknya itu sambil menahan tangis dan menatapnya. "Kak Arya, jangan buat seperti ini lagi. Kakak sudah membuatku hampir gila karena aku takut Kakak akan meninggalkanku." Ryan terlihat menitikkan air mata, namun Arya segera menghapus air mata adiknya itu.
"Ryan, sejak kapan kamu menjadi lelaki cengeng seperti ini? Apa kamu pikir kakakmu ini akan semudah itu pergi meninggalkanmu? Ayolah, bagaimana bisa Kakak meninggalkan adik yang paling aku sayangi ini sendiri." Ryan menangis dan memeluk Arya dengan tangisan yang memilukan. Entah apa yang sudah membuat lelaki itu menangis seperti anak kecil, tapi Kania tahu alasannya.
Di depan koridor, Kania duduk bersama Ryan dan Davina yang duduk di sampingnya. "Apa kamu baru tahu tentang kakakmu itu?" tanya Kania yang membuat Ryan menatapnya. "Walau kalian bukalah saudara kandung, tapi aku tahu Arya sangat menyayangimu bahkan melebihi kasih sayang kakak pada adik kandungnya sendiri. Apa kamu tahu alasan sebenarnya saat dia memintaku untuk bersama denganmu waktu itu? Itu karena dia sangat menyayangimu. Dia tidak ingin kamu terluka dan kecewa. Dia ingin kamu bahagia walau dia sendiri harus terluka. Sebagai seorang kakak, Arya terlampau menyayangimu hingga akupun menjadi iri karena kasih sayangnya padamu sungguh tak terbatas." Ryan menangis mendengar ucapan Kania. Betapa dia sangat beruntung karena mendapat kasih sayang yang melimpah dari kakaknya itu.
"Kania, walau aku tahu aku dan Kak Arya bukanlah saudara kandung, tapi aku mohon jangan biarkan Kak Arya tahu kalau aku sudah tahu semua kebenarannya. Aku akan menganggap itu tidak pernah terjadi karena bagiku Kak Arya adalah kakak kandungku. Dia tetaplah kakakku, dari dulu hingga sekarang, dia adalah kakakku. Kania, aku mohon, bahagiakanlah kakakku. Jangan biarkan dia kehilanganmu lagi, aku mohon." Ryan kembali menangis hingga membuat Davina memeluknya.
"Davina, aku mohon jagalah Ryan dan bahagialah bersamanya. Aku menyayangi kalian berdua dan berharap kalian akan selalu bersama dan kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Sekarang, aku ingin meminta bantuan kalian untuk menjaga Tania selama aku di sini menemani Arya. Kalian berdua bisakan membantuku menjaga Tania?"
"Jangan khawatir, Kak. Aku dan Ryan akan menjaganya." Kania tersenyum dan memeluk Davina.
"Kalau begitu, kalian pulanglah. Aku percayakan Tania pada kalian berdua."
Ryan dan Davina lantas pergi. Sementara Kania, masih setia menunggu Arya dan menemaninya di dalam kamar. "Mana Ryan dan Davina?"
"Mereka sudah pulang ke rumah. Aku meminta mereka menjaga Tania selama kita di sini."
Arya tersenyum dan meraih tangan Kania dan mengecup punggung tangan gadis itu. "Terima kasih. Setelah aku keluar dari sini, aku akan menikahimu. Kita akan menikah dan bahagia selamanya." Kania mengangguk dan mengecup pipi kekasihnya itu.
Hampir seminggu, Arya dirawat di rumah sakit. Dan selama itu pula, sahabat-sahabatnya sering mengunjunginya. Bastian dan Selly, tampak bahagia karena hubungan mereka telah mendapat restu dari orang tua mereka. Begitupun dengan Ardi yang selalu datang dengan membawa makanan istimewa dari restoran. Hingga mereka semua berkumpul saat Arya akan keluar dari rumah sakit.
"Apa semuanya sudah selesai dibawa?" tanya Bastian saat mereka sudah ada di mobil. Arya terlihat duduk di belakang dengan Kania yang duduk di sampingnya. Sementara Selly duduk di depan di samping kekasihnya itu. Sementara Ardi dengan mobilnya ada di belakang mereka.
__ADS_1
"Sudah, semuanya sudah beres. Ayo, Tania pasti sudah menunggu kita," ucap Selly sambil tersenyum.
Mereka kemudian pergi dan benar saja, Tania tampak sumringah saat melihat ayahnya yang perlahan turun dari mobil saat mobil mereka sudah berhenti di depan halaman rumah. Namun, wajahnya semakin berbinar saat melihat Kania yang berjalan bersama ayahnya. Melihat mereka, Tania lantas berlari dan memeluk keduanya. Melihat Tania yang memeluknya kini, Kania menangis dan memeluk tubuh gadis kecil itu dengan erat.
"Mama. Mama kenapa baru datang? Tania sangat merindukan Mama," ucap Tania yang kini menangis di pelukan Kania.
"Maafkan Mama. Mama janji tidak akan pernah meninggalkan Tania dan Papa lagi."
"Papa, kenapa kepala Papa diperban seperti itu? Apa Papa terluka?" tanya Tania sambil menyentuh perban yang masih menempel di kepala ayahnya itu.
"Papa tidak apa-apa. Tania jangan khawatir, ayo kita masuk."
Di dalam rumah, suasana terasa begitu ramai. Celoteh Tania membuat mereka tertawa. Ardi yang baru saja datang ke rumah itu, tampak mulai karab dengan Tania. Bahkan, Tania tak segan meminta digendong olehnya. Ardi tampak menikmati kebersamaannya dengan teman-temannya dan tentu saja dengan Tania yang selalu membuat dia tersenyum dan tertawa. Hingga menjelang malam, mereka masih asyik berkumpul dan bercanda.
"Lalu, kapan kalian akan menikah?" tanya Selly yang membuat semua mata mengarah pada Arya dan Kania yang sedari tadi enggan untuk berpisah.
"Kak Arya, besok saja. Lagipula, keadaan Kakak sudah membaik. Kami akan menyiapkan semuanya. Aku akan membawa petugas KUA datang ke rumah dan melangsungkan pernikahan."
"Aku juga akan membawa baju pengantin untuk kalian. Tidak perlu pernikahan yang mewah, cukup kita saja yang akan menjadi saksi pernikahan kalian. Bagaimana menurut kalian?" tanya Selly pada Arya dan Kania.
"Terserah saja, yang penting kami kembali menikah. Aku hanya ingin segera menghalalkan Kania agar aku bebas melakukan apa saja padanya," ucap Arya yang sontak membuat Kania melirik ke arahnya.
"Maksudmu, apa? Jangan berkata seperti itu di depan mereka, apa kamu tidak malu?" tanya Kania dengan wajahnya yang bersemu merah.
"Kenapa harus malu, toh kita semua di sini sudah dewasa. Baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau kalian menikah tiga hari lagi?" usul Bastian.
"Baiklah, siapa takut." Arya tersenyum sembari meraih tubuh Kania dalam pelukannya seakan dia sudah sangat ingin menikahi gadis itu.
Tiga hari kemudian, suasana di rumah itu sedikit jauh berbeda. Di ruang tengah, Arya sudah duduk berhadapan dengan seorang petugas KUA yang sudah siap melakukan ijab kabul. Wajah Arya tampak tersenyum bahagia saat dirinya dengan sukses mengucapkan ijab kabul tanpa cela. Lelaki yang terlihat gagah dan tampan itu lantas bangkit dan menjemput pujaan hatinya yang terlihat anggun dan cantik dengan balutan kebaya pengantin berwarna gold yang serasi dengannya.
Di dalam kamar, Arya menjemput pujaan hatinya itu dengan genggaman tangan yang sempat dikecup mesra oleh Kania. Dengan senyum, pasangan pengantin itu lantas keluar dari kamar dan menghampiri sahabat-sahabat mereka yang tampak tersenyum melihat mereka. Kania dan Arya lantas memeluk mereka satu persatu. Selly dan Davina tampak terharu hingga membuat mereka menangis bahagia.
Melihat Davina menangis, dengan mesra Ryan memeluknya dan menggenggam tangannya dengan erat. Begitupun dengan Bastian yang segera memeluk Selly.
"Hei, bisa tidak kalian tidak berpelukan di depanku? Apa kalian ingin membuat aku cemburu?" tanya Ardi yang membuat mereka tertawa.
"Makanya, cepat cari pacar dan menikahlah. Atau kalau kamu mau, aku akan memperkenalkan beberapa temanku padamu. Jangan khawatir, karena pilihanku tidak pernah melesat, lihat saja mereka." Selly menunjuk pada Kania dan Arya yang tampak bahagia. Benar saja, karena Selly, keduanya bisa menikah.
__ADS_1
Kebersamaan mereka penuh dengan tawa. Walau sederhana, namun pernikahan mereka penuh makna. Kehadiran sahabat, tawa dan senyum Tania dan juga kebahagiaan yang mereka semua rasakan, bagaikan sebuah hadiah terindah di hari pernikahan mereka. Hingga menjelang sore, Arya dan Kania bersiap menuju tempat bulan madu mereka.
Dengan sebuah mobil yang didekorasi layaknya mobil pengantin, keduanya masuk ke mobil itu. Setelah berpamitan pada sahabat-sahabatnya dan juga pada Tania, mereka akhirnya pergi menjemput kebahagiaan. Kebahagiaan yang sempat tertunda.