Cinta Kania

Cinta Kania
Part 49


__ADS_3

Gunardi Setiawan, lelaki tampan dengan parasnya yang menawan. Tak hanya rupa yang menarik perhatian, tapi kemapanan juga menjadi bahan pertimbangan. Bagaimana tidak, lelaki yang bergelut dalam dunia kuliner itu rupanya sangat menyukai dunia masak memasak hingga membuatnya membuka beberapa restoran yang kini cukup punya nama.


Restoran tempat Kania bekerja hanya satu dari beberapa restoran miliknya. Karena itu, dia hanya datang sesekali ke restorannya sekadar untuk melihat kinerja karyawan dan juga melihat perkembangan restorannya itu.


Dengan cekatan, lelaki itu terlihat lihai di meja dapur. Keahliannya mengolah bumbu dapur ternyata cukup mumpuni. Bahkan, dia sudah mempunyai pelanggan tetap yang selalu memintanya untuk menyiapkan menu khusus buatannya.


Kania terlihat sibuk karena sedari tadi pengunjung mulai berdatangan. Apalagi saat menjelang makan siang, maka semua karyawan harus bekerja cepat karena padatnya para pengunjung.


Walau begitu, Kania berusaha bekerja dengan baik. Dia tidak ingin membuat kesalahan yang bisa membuatnya kehilangan pekerjaan. Walau lelah, Kania berusaha menghempaskan rasa lelahnya itu dan melayani setiap pengunjung yang selalu minta ini itu.


"Kania, bawa ini ke meja nomor 6." Seorang gadis menyerahkan sepiring kepiting tumis balado padanya. Kania lantas mengambil piring itu dan membawanya ke meja nomor 6. Baru saja Kania berjalan beberapa langkah, seorang anak kecil tiba-tiba berlari dan menabraknya. Sontak, piring itu jatuh dan berhamburan di lantai. Melihat itu, semua pengunjung melihat kompak ke arahnya.


"Kamu punya mata tidak, sih? Kalau tadi piring itu kena kepala anak saya bagaimana?" Seorang wanita yang diperkirakan adalah ibu anak itu tampak memarahi Kania. Sambil menundukan setengah badannya, Kania meminta maaf.


"Adik tidak apa-apa, kan?" tanya Kania yang duduk jongkok di depan anak itu yang kini tengah menangis.


"Pergi kamu!! Jangan sentuh anak saya!!" Dengan ketusnya wanita itu mendorong tubuh Kania hingga terjatuh ke belakang.


"Maafkan saya, Bu. Maafkan saya." Kania masih meminta maaf, walau wanita itu terus saja memarahinya.


Sambil menunduk, Kania memunguti pecahan piring dan juga tumpahan kepiting yang sudah berhamburan.


"Cepat berdiri." Kania mengangkat wajahnya dan mendapati Ardi yang kini berdiri di sampingnya. "Aku bilang cepat berdiri!!" Lelaki itu menatap Kania dengan wajah yang memerah. Kania lantas berdiri sambil menundukan wajahnya.


"Angkat kepalamu." Perintah lelaki itu yang masih memandang ke arahnya. Dengan perasaan takut, Kania mengangkat wajahnya dan menatap lelaki itu.


"Sekarang, Anda harus meminta maaf pada karyawan saya," ucap Ardi yang membuat wanita itu menatap ke arahnya. Begitupun dengan Kania yang tidak menyangka kalau lelaki itu kini membelanya.


"Apa saya tidak salah dengar? Dia yang salah kenapa saya yang harus minta maaf?" Wanita itu terlihat marah dengan wajahnya yang ketus.


"Apa Anda mau saya ambilkan rekaman cctv?" Seketika wajah wanita itu mulai berubah.


"Dengan mudahnya Anda melepaskan anak Anda dan berlari di ruangan ini. Anda sebagai orang tua tidak memperhatikan anak Anda malah Anda sibuk dengan ponsel Anda. Asal Anda tahu, kalau bukan karena karyawan saya yang berusaha melindungi kepala anak Anda, mungkin saja kepala anak Anda itu sudah terluka." Ardi terlihat marah saat wanita itu masih menyalahkan Kania.


"Sudahlah, Pak. Jangan diperpanjang lagi. Kasihan adiknya yang menangis dan ketakutan. Maafkan saya, Bu, saya tadi kurang hati-hati. Jangan khawatir, biar saya yang bayar makanan yang jatuh ini." Kania lantas mendekati anak kecil itu dan membelai kepalanya. "Kamu tidak apa-apa, kan? Maafkan Kakak ya, tapi lain kali jangan berlarian seperti itu kalau di keramaian, nanti kamu bisa saja terluka. Jangan menangis lagi, ya." Kania melayangkan senyum pada anak kecil itu hingga membuatnya terdiam.


Kania lantas membersihkan lantai tanpa peduli dengan pandangan orang-orang yang kini melihat ke arahnya. Ardi lantas masuk ke dapur, sedangkan wanita itu tanpa sepatah kata kemudian pergi meninggalkan restoran.


"Sebaiknya kamu istirahat sebentar dan bersihkan luka di tanganmu itu." Seorang gadis mendekatinya dan menyodorkannya obat betadine padanya.


"Terima kasih." Kania menerima obat itu sambil tersenyum.


"Bersabarlah, begitulah nasib kita sebagai pelayan. Salah atau benar, toh kita tetap yang disalahkan oleh pengunjung. Untung saja Pak Ardi bisa membelamu, walau begitu nama kamu sudah merah di matanya." Gadis itu kemudian pergi dan meninggalkan Kania yang hanya menatap kepergiannya.

__ADS_1


Rupanya, pecahan piring tak sengaja menggores telapak tangannya. Walau tidak parah, tapi cukup membuat dia meringis kesakitan. Setelah lukanya diobati, Kania lantas kembali menjalankan tugasnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Ardi yang tiba-tiba melintas di depan Kania.


"Saya akan kembali bekerja, Pak."


"Sudah jam makan siang. Sebaiknya kamu makan dulu setelah itu baru kerja lagi. Cepatlah, aku hanya beri waktu setengah jam untuk makan siang dan istrirahat karena harus bergiliran dengan karyawan lain." Lelaki itu kemudian bergegas untuk pergi, tapi langkahnya terhenti dan kembali menatap ke arah Kania. "Lain kali, jangan ceroboh seperti itu lagi, mengerti?" Kania mengangguk. Ardi kemudian pergi.


Rasanya begitu nikmat saat Kania menyantap makanan yang kini ada di depannya. Apalagi yang dia makan adalah makanan restoran yang tentu saja jarang-jarang disantapnya. "Apa kamu sebahagia itu?" tanya gadis yang tadi memberikan obat padanya.


Kania mengangguk dan melayangkan senyum padanya. "Apapun makanannya, kita harus bisa bersyukur."


"Tanganmu, tidak apa-apa, kan?"


"Jangan khawatir, ini hanya luka kecil. Sebaiknya kamu cepat makan karena sebentar lagi kita harus bekerja." Kania lantas memasukan suapan terakhir ke mulutnya dan bergegas keluar dari ruangan itu.


Baru saja Kania keluar, tiba-tiba saja Ardi sudah berdiri di depannya. "Ikut saya."


Kania lantas mengikutinya dan masuk ke dalam ruang kerjanya. "Apa kamu tahu kenapa kamu saya panggil ke sini?"


Kania mengangguk. "Saya akan membayar makanan itu. Jadi, Bapak tidak perlu khawatir."


Lelaki itu tertawa mendengar ucapan Kania yang baginya terlalu percaya diri. "Apa kamu tahu berapa harga makanan itu? Apa kamu akan membayarnya dengan memotong gaji kamu? Jika itu maumu, maka yang kamu dapatkan dari sisa gaji kamu hanya bisa untuk makan seminggu, itupun tidak bisa membayar uang kontrakanmu."


"Baiklah jika itu maumu. Sekarang, pergilah."


"Saya permisi, Pak." Kania lantas meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju dapur untuk mengambil pesanan pelanggan.


Melihat sikap Kania, Ardi tersenyum kecut karena keberanian Kania yang berani menanggung resiko padahal mereka tahu kalau dia tidak bersalah.


Setelah kejadian itu, Kania mulai berhati-hati. Bahkan, dia terlihat membantu seorang ibu yang kesulitan makan karena anaknya tidur di dalam gendongannya. "Maaf, Bu. Kalau tidak keberatan, biar adiknya saya gendong dan ibu bisa melanjutkan makan." Tawar Kania dan wanita itu pun setuju walau sempat menolak karena merasa telah merepotkan Kania.


Sambil berdiri menatap laut, Kania menggendong anak itu dan ingatannya kini tertuju pada Tania. "Apa kamu sekarang baik-baik saja?" batin Kania yang mulai terusik dengan wajah gadis kecil itu.


Tak lama kemudian, Kania menyerahkan anak itu kembali pada ibunya. "Terima kasih, saya sangat menghargai bantuan Adik." Wanita itu tampak tersenyum hingga membuat Kania mengangguk kepalanya.


"Sama-sama, Bu. Jika berkenan, silakan berkunjung lagi ke sini."


"Iya, saya akan merekomendasikan restoran ini pada teman-teman saya. Terima kasih, ya, Dik." Wanita itu kemudian pergi sambil tersenyum karena merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Kania.


Walau sempat marah dengan sikap Kania, tapi melihat senyum kepuasan di wajah wanita itu membuat Bu Risna mengurungkan niatnya itu.


Hari menjelang sore ketika Kania selesai bekerja. Walau terlihat lelah, Kania masih bisa tersenyum saat gadis bertubuh mungil yang sedari tadi membantunya itu berceloteh di depannya. "Aku pikir tadi kamu akan dimarahi sama Bu Risna karena matanya tidak berhenti melotot ke arah kamu, tapi ternyata dia tidak melakukannya." Gadis yang bernama Dina itu kemudian tertawa karena mengingat wajah Bu Risna yang tiba-tiba berubah.

__ADS_1


Kania ikut tersenyum hingga tiba-tiba langkahnya terhenti. "Selly?" Kania terkejut saat melihat Selly yang kini berdiri di depannya.


"Kenapa terkejut? Ayo, aku antar pulang." Kania mengangguk dan mengajak Dina untuk ikut bersamanya. Setelah mengantarkan Dina, mereka langsung menuju tempat kostnya.


"Tanganmu kenapa?" tanya Selly saat melihat tangan Kania yang terluka.


"Oh, tadi kena pecahan piring."


"Besok kamu tidak usah bekerja lagi di tempat itu. Baru sehari kerja tanganmu sudah terluka seperti itu, bagaimana sebulan ke depan?" Selly tampak khawatir hingga membuat Kania tersenyum.


"Sudahkah, ini hanya luka biasa. Jangan di besar-besarkan. Aku pernah mendapat luka yang lebih serius dari ini dulu, tapi aku tetap bekerja."


"Iya, itu dulu, tapi kini sudah berubah. Kamu sekarang punya aku dan Arya yang akan selalu membantumu. Kania, sudahlah, kerja di tempatku saja." Selly berusaha membujuk Kania, tapi gadis itu tetap menolak dan ingin mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya sendiri.


Malam itu, Selly menginap di tempat kost Kania. Tempat tidur yang hanya untuk satu orang di biarkan menganga. Selly tampak tidak nyaman saat Kania memintanya tidur di tempat tidur itu dan memilih tidur beralaskan tikar bersama sahabatnya itu.


"Kania, apa kamu tidak ingin kembali pada Arya?" tanya Selly sambil melihat langit-langit kamar.


"Aku ingin, tapi Arya yang tidak menginginkannya. Demi Ryan, dia mengorbankan perasaannya. Apa aku harus marah dengan sikapnya itu atau aku harus menurutinya? Andai dia mau jujur pada Ryan tentang perasaannya, aku akan tetap ada di sampingnya, tapi nyatanya dia lebih memilih terluka daripada Ryan yang harus terluka."


Keduanya masih menatap langit-langit kamar, tanpa terasa Kania menitikkan air mata. "Aku bisa saja menolak Ryan, tapi aku tidak tega pada Arya karena itu sama saja aku menyakitinya. Ah, aku bingung dengan takdir ini. Arya tidak ingin Ryan terluka dan aku tidak ingin Arya terluka. Cinta itu ternyata sangat kejam."


Kembali Kania menitikan air mata hingga Selly memeluknya. "Bersabarlah, aku yakin kamu pasti akan bahagia." Kania mengangguk dan memejamkan matanya. Rasa kantuk tiba-tiba saja menghampiri dan membuatnya terlelap dalam alam mimpi yang tampak samar.


Di saat Kania sudah tertidur, Arya masih terjaga. Bahkan, kini hatinya tengah gundah. Foto yang baru saja dikirimkan Selly padanya rupanya telah membuat hatinya tidak tenang. Rasanya, dia ingin berlari dan menemui Kania yang saat ini sedang terluka. "Kenapa kamu masih saja membuatku tidak berdaya? Kenapa perpisahan ini terasa begitu berat saat aku melihatmu terluka? Kania, jangan siksa aku seperti ini. Aku takut jika aku akan pergi dan menghindar darimu untuk selamanya." Lelaki itu meneguk kopi, entah untuk keberapa kalinya. Yang terlihat di atas meja beberapa cangkir kopi yang telah kosong.


*****


Seperti biasa, Kania sudah siap untuk pergi bekerja. Bersama Selly, mereka kemudian meluncur ke tempat kerjanya. Dan kali ini, dia tidak lagi terlambat, bahkan dia datang lebih awal.


Selly kemudian pamit pergi dan Kania sudah bersiap-siap untuk bekerja. Beberapa bahan dapur sudah dia siapkan di atas meja. Semua peralatan masak juga sudah dia siapkan. Piring-piring sudah di tata rapi. Meja pengunjung tak luput dari perhatiannya.


Setelah selesai, Kania bergegas untuk mendapat tugas lainnya dari Bu Risna, tapi perhatiannya teralihkan saat suara deburan ombak perlahan memukul. Sesaat, Kania terpaku menatap pesisir pantai. Pandangan matanya tertuju pada sinar mentari pagi yang terlihat menyilaukan di atas laut. Beberapa burung camar terbang bebas di atas permukaan laut dan mencoba mencari mangsanya.


Kania memejamkan matanya dan kembali ingatannya terusik pada sosok lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta. Aroma laut membuatnya teringat dengan sosok Arya yang tersenyum padanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Sana, cepat kerja!!" Kania terkejut saat Ardi sudah berdiri di belakangnya. Setelah meminta maaf, Kania lantas pergi, namun Ardi masih berdiri di tempat itu dan menatap laut yang membuatnya diam terpaku.


Menjelang siang, suasana di restoran tampak semakin ramai. Restoran Ardi adalah salah satu restoran yang cukup diminati. Di saat jam makan siang, banyak pengunjung yang datang ke sana.


Dengan teliti dan hati-hati, Kania membawa beberapa piring pesanan pengunjung. Di salah satu meja, Kania meletakkan piring pesanan pengunjung itu. "Silakan," ucap Kania sambil tersenyum dan mempersilakan pengunjung untuk mencicipi makanan itu.


"Jadi, sekarang kamu bekerja di sini? Akhirnya, kamu kembali ke habitatmu juga. Bukankah, aku sudah pernah bilang kalau kamu itu tidak pantas menjadi istrinya?" Kania terkejut saat mendengar ucapan salah satu pengunjung hingga membuatnya beranjak dari tempat itu saat melihat seorang wanita yang menatap sinis ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2