Cinta Kania

Cinta Kania
Part 22


__ADS_3

Kania keluar dari kamarnya sambil menggandeng tangan Tania. Arya yang berdiri di depannya tampak tersenyum saat melihat putrinya itu yang tersenyum bahagia. "Papa kenapa tidak ikut?" tanya Tania saat ayahnya menggendongnya.


"Tidak usah, Papa di rumah saja. Ingat, Tania tidak boleh nakal selama pergi sama Mama dan Paman. Jangan buat Papa khawatir. Tania bisa, kan?"


"Iya, Pa. Tania tidak akan nakal, kok." Gadis kecil itu tersenyum dan memeluk ayahnya. Di halaman, Ryan sudah berdiri menunggu mereka di samping mobil avanza berwarna metalic.


"Kania, jaga putriku baik-baik. Aku tidak ingin hal buruk menimpanya. Kamu mengerti, kan?"


"Aku mengerti. Jangan khawatir, aku akan menjaganya."


"Ryan, titip anak dan istriku, ya."


"Siap, Kak. Tenang saja, aku akan menjaga mereka." Ryan tersenyum sambil membuka pintu depan untuk Kania, tapi Kania memilih duduk di belakang. Walau kesal, Ryan tidak menunjukan wajah kesalnya itu di depan mereka, apalagi masih ada Arya yang memperhatikan mereka.


Tania melambaikan tangan pada ayahnya saat mobil itu perlahan meninggalkan pelataran halaman hingga mobil itu melaju di jalan raya yang tampak ramai.


Suasana di dalam mobil tampak tenang. Hanya sesekali Tania menunjuk ke luar jendela karena takjub dengan pemandangan jalanan kota yang tampak ramai dengan aneka mobil dan gedung-gedung tinggi.


Dari balik kaca spion di depan mobil, Ryan sesekali mencuri pandang pada wanita yang duduk di belakangnya itu. Wajah Kania terlihat tersenyum saat meladeni celoteh Tania yang menunjuk ke arah luar jendela.


"Apa kamu mencintai kakakku?" Pertanyaan Ryan sontak membuat Kania terkejut. Kania berusaha untuk tidak menjawab pertanyaan itu hingga Ryan tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Ryan, hati-hati!" Kania terkejut saat Ryan menghentikan mobil itu secara tiba-tiba.


"Duduklah di depan." Ryan memerintah Kania untuk duduk di depan, tapi Kania menolak.


"Tidak usah, kasihan Tania kalau duduk di sini sendirian." Kania berusaha mengelak, namun Ryan tetap bersikukuh agar Kania duduk di depan. Suara klakson terdengar di belakang mobil mereka karena mobil mereka menghalangi mobil lain untuk lewat.


"Aku tidak akan menjalankan mobil ini jika kamu tidak duduk di depan." Ancam Ryan yang membuat Kania tidak bisa berbuat apa-apa. Suara klakson di belakang mereka kian menjadi hingga membuat Kania menuruti perintah pemuda itu.


"Baik, baik, aku akan duduk di depan, tapi jalan dulu agar mobil di belakang bisa lewat."


Ryan tersenyum puas saat Kania mau menuruti perintahnya. Mobil yang dikendarainya berhenti di sisi jalan dan Kania dengan wajahnya yang terlihat kesal keluar dari mobil dan masuk kembali dan duduk di depan.


Ryan yang merasa puas karena berhasil membuat Kania patuh padanya tampak tersenyum. Wajah tampannya terlihat menawan dengan senyumnya yang bisa membuat setiap wanita luluh dengan ketampanan wajahnya. Tak hanya itu, tubuh Ryan yang tampak berisi dan berotot ternyata menjadi nilai tambah yang mampu membuat wanita tergila-gila padanya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa kamu mencintai kakakku?" Ryan kembali bertanya, namun Kania lagi-lagi diam seribu bahasa.


Merasa di acuhkan, Ryan kembali menghentikam mobilnya. "Turun." Kania terkejut saat Ryan menyuruhnya untuk turun.


"Apa maksudmu? Memangnya, kita mau kemana?" Kania terlihat bingung karena mobil itu berhenti di jalan tol.


"Aku bilang turun!" Kania terkejut saat Ryan kembali menyuruhnya untuk turun. Kania memandangi Tania yang kini melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Ayo, kita turun." Gadis kecil itu mengangguk dan berjalan di sela jok mobil. Kania kemudian memeluknya dan segera membuka pintu mobil.


Tiba-tiba saja, mobil itu melaju dan pergi meninggalkan Kania yang sementara menggendong Tania. "Ma, Paman mau ke mana?" tanya gadis kecil itu polos.


"Paman mau beli es krim buat Tania. Kita jalan sambil menunggu Paman, ya?" Gadis kecil itu kembali mengangguk. Dengan perasaan sedih, Kania berjalan menyusuri jalan tol yang terlihat sepi. Sinar matahari yang cukup terik di siang itu membuat wajah Kania memerah. Karena khawatir dengan Tania, Kania akhirnya memilih beristirahat di bawah pohon yang ada di sisi jalan tol itu.


"Tania masih kuat, kan?" Gadis kecil itu mengangguk.


"Ma, Paman kenapa lama? Tania sudah haus, Ma." Gadis kecil itu mengeluh kehausan dan Kania tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tania sabar, ya. Sebentar lagi Paman pasti kembali." Dan benar saja, mobil yang kendarai Ryan tiba-tiba berhenti di depan mereka.


"Hore, Paman kembali, Ma." Wajah Tania terlihat gembira saat melihat pamannya itu keluar dari mobil dan memberikannya es krim di dalam wadah yang cukup besar.


"Maaf, kalau Paman lama. Tania tidak marah kan sama Paman?"


"Tidak, Paman. Tania tidak marah, kok." Gadis kecil itu kembali tersenyum.


"Masuklah." Ryan berucap dengan wajah datar pada Kania.


"Duduk di depan." Kembali Ryan memerintah dan Kania hanya mengikuti perintahnya dengan wajahnya yang terlihat kesal.


Di dalam mobil, Kania hanya diam. Wajahnya di alihkan ke sisi kiri jendela dan hanya memandangi lalu lalang kendaraan dan juga gedung-gedung tinggi yang sama sekali tak menarik perhatiannya. Walau begitu, Kania masih sempat melihat ke belakang di mana Tania sedang asyik melahap es krim hingga mulutnya penuh dengan es krim itu.


Tak berkata-kata, Ryan kemudian turun dan mengambil Tania di jok belakang. Sementara Kania, dibiarkan berjalan seorang diri. "Paman, tunggu Mama."


"Tidak apa, Mama akan mengikuti dari belakang." Ryan terus berjalan sambil menggendong Tania dan Kania berusaha mengikuti mereka.


Aneka mainan dan boneka dari ukuran kecil sampai ukuran besar ada di toko itu. Tania yang melihat aneka boneka dan mainan yang terpampang di toko membuatnya tersenyum gembira.


"Pilihlah yang Tania suka." Gadis kecil itu tersenyum dan mulai memilih setiap mainan dan boneka yang disukainya.


"Jangan terlalu memanjakannya dengan mainan dan boneka-boneka itu. Tidak bisakah kamu memberikan sesuatu yang bermanfaat baginya?" Protes Kania karena melihat pemuda itu membeli mainan dan boneka yang sebenarnya tidak perlu bagi Tania.


"Diamlah, aku tidak butuh pendapatmu." Ryan tampak kesal dan pergi meninggalkan Kania. Karena tidak ingin membuatnya semakin kesal, Kania lantas keluar dari toko dan duduk di salah bangku yang ada di depan toko itu.


Kania menunggu sambil sesekali melihat ke dalam toko dan mereka masih asyik memilih boneka dan mainan. Kania kembali memalingkan pandangannya dan dia begitu terkejut saat melihat Rina yang sudah berdiri di depannya.


"Dasar perempuan *******!" Rina tiba-tiba menamparnya. Kania lantas berdiri dan memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan itu.


"Kenapa? Apa kamu ingin membalasku?" Rina tampak mengejek dan menawarkan pipinya untuk ditampar Kania, namun Kania tidak menggubrisnya dan pergi meninggalkannya.


Rina yang merasa diacuhkan lantas menarik rambut Kania hingga membuat Kania termundur ke belakang. "Lepaskan rambutku!" Kania berusaha melepaskan rambutnya, tapi tarikan wanita itu begitu kuat hingga membuat Kania menjerit kesakitan.

__ADS_1


Sementara di dalam toko, Ryan melihat perkelahian itu, tapi dia sengaja diam dan pura-pura tidak melihatnya. Bahkan, dia sengaja membawa Tania agar gadis kecil itu tidak melihat perkelahian itu.


"Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu bahagia bersama Arya? Dasar perempuan tidak tahu diri!" Kania menjerit dan berusaha untuk melepaskan, hingga tarikan itu terlepas saat seorang satpam datang dan melerai perkelahian mereka.


"Sudah, Bu, sudah. Apa kalian tidak malu dilihat banyak orang?" Rina melepaskan tangannya dari rambut Kania dan pergi begitu saja saat semua mata melihat ke arahnya.


"Ibu tidak apa-apa?" Kania mengangguk sambil merapikan rambutnya yang terlihat acak-acakan. Kania kemudian masuk ke dalam mobil dan menangis di sana.


Ryan yang melihat Kania sudah tidak lagi ada di depan toko akhirnya memutuskan untuk keluar. Setelah membayar semua mainan dan boneka yang dipilih Tania, mereka akhirnya kembali ke dalam mobil.


Melihat mereka datang, Kania menghapus air matanya dan merapikan rambutnya. Dengan senyum, Kania keluar dari mobil dan mendekati Tania yang tersenyum sambil membawa sebuah boneka beruang yang sangat besar. "Ma, lihat boneka beruang ini, besar, kan, Ma?" Kania mengangguk dan mengajak gadis kecil itu masuk ke dalam mobil.


Ryan yang melihat Kania masih bisa tersenyum di depan keponakannya itu hanya bisa tersenyum sinis. "Rupanya dia memang pandai bersandiwara. Apa dia pikir aku tidak tahu kejadian tadi?"


Semua mainan dan boneka sudah dimasukkan di dalam bagasi. Ryan kemudian duduk di kursi kemudi dan Kania duduk di sampingnya. Sementara Tania tampak mengantuk karena keasyikan memeluk boneka beruang yang memiliki ukuran dua kali lebih besar dari tubuhnya itu.


Ryan kemudian menjalankan mobilnya sementara Kania hanya diam sambil melihat jalanan kota dari jendela. Tiba-tiba, kaca mobil itu terangkat dan menutupi pandangannya. "Kenapa kamu menutup jendela mobilnya? Tidak bisakah kamu membiarkanku tenang barang sedetik saja?" Kania terlihat marah. Pipi kirinya tampak memerah dengan sedikit luka di ujung bibirnya itu.


"Kenapa kamu marah? Aku hanya menutup jendela, apa itu mengganggumu?"


Kania memalingkan wajahnya dan kembali menatap kaca jendela yang berwarna hitam itu. Rasanya dia ingin turun dari mobil dan pergi meninggalkan mereka, tapi Kania tidak mampu melakukannya karena dia tidak ingin meninggalkan Tania. Seketika, Kania memandangi gadis kecil itu yang sudah tertidur pulas. Kania tersenyum dan kembali memandangi jendela hitam.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan Tania walau kamu memaksaku. Aku tidak akan meninggalkan kakakmu selama dia masih memerlukanku. Aku tak peduli walau kamu membenciku dan berbuat keji padaku. Aku tak peduli denganmu karena kamu hanyalah masa laluku." Kania mengucapkan kalimat itu dengan air mata yang jatuh. Namun, tidak bagi Ryan yang tiba-tiba menghentikan mobilnya dan menatap Kania dengan tatapan yang tajam.


"Ya, aku memang masa lalumu, tapi masa lalu yang pahit. Karena itu, aku tidak ingin kakak dan keponakanku merasakan kepahitan itu. Aku ingin lihat, sekuat apa kamu bisa menolakku." Ryan lantas meraih tubuh Kania dan mencoba untuk menciumnya. Kania yang terkejut berusaha untuk menolak, namun percuma saja karena kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan pemuda itu yang dengan satu tangannya saja bisa membuat tubuh Kania mendekat padanya.


Walau Kania berontak, tapi bibirmya yang ranum itu berhasil dicium paksa oleh Ryan, bahkan tak hanya sekali, tapi bibirnya itu di cium paksa berkali-kali.


Karena marah, Kania menampar wajah pemuda itu, tapi tamparannya seakan tak dirasakan olehnya. Wajahnya tak bergeming saat ditampar oleh Kania. "Ayo, tampar aku lagi. Semakin kamu melawan, aku akan semakin berbuat nekat padamu. Ini baru permulaan, karena aku akan membuatmu menyerah dan meninggalkan kakak dan juga keponakanku." Ryan kemudian menjalankan mobilnya kembali dan membiarkan Kania yang kini terdiam.


Dalam diam, Kania menitikan air mata. Dia tidak menyangka lelaki yang begitu lembut dan baik, kini telah berubah menjadi lelaki yang kejam. Kania menyeka bibirnya. Rasanya begitu perih, ditambah dengan luka karena ditampar oleh Rina saat di depan toko tadi membuat Kania menggigit bibirnya sendiri.


"Ternyata kamu sudah terlalu membenciku. Aku berhasil membuatmu membenciku dan aku tidak menyesal karena sudah membuatmu membenciku." Kania berujar di dalam hatinya dan hanya tersenyum di antara air mata yang jatuh di pipinya.


"Jika itu yang kamu inginkan, maka berusahalah lebih keras karena aku tidak akan pernah meninggalkan kakakmu dan Tania. Walau kamu membunuhku sekalipun, aku tidak akan bergeming. Lakukanlah sesuka hatimu, karena mulai sekarang aku tak peduli denganmu lagi dan satu hal lagi, aku bisa pastikan kalau kakakmu tidak akan pernah melepaskanku." Kania berucap dengan sungguh-sungguh. Wajah cantiknya terlihat tegar dan memandangi Ryan dengan tatapan yang tajam.


"Kita lihat saja nanti. Siapa di antara kita yang akan keluar dari rumah itu. Aku atau kamu." Ryan terus melajukan mobilnya tanpa peduli dengan semua ucapan Kania, walau di dasar hatinya dia cukup terkejut dengan kesungguhan gadis itu.


Setibanya di depan rumah, Kania keluar. Di depan pintu, Arya sudah menunggu. Melihat Tania yang tertidur di dalam mobil, Arya mendekatinya dan menggendong tubuh mungil putrinya itu dan membawanya ke dalam kamar. Sementara Kania mengikuti Arya dari belakang sambil membawa boneka beruang di tangannya.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah. Oh iya, mulai malam ini kamu sudah bisa tidur di kamarku. Aku sudah menyiapkan tempat tidur untukmu." Kania tersenyum sambil meletakkan boneka beruang di sisi Tania.


Arya kemudian keluar dan meninggalkan Kania yang perlahan terduduk di sisi tempat tidur dengan air mata yang perlahan jatuh. "Aku akan bertahan untukmu dan juga Tania. Aku akan membantumu walau aku sendiri harus menanggung luka dan rasa tersiksa ini. Aku ikhlas menahan kebencian darinya walau hatiku sakit karena aku sudah terlanjur berjanji untuk membantumu, apapun yang terjadi." Kania menghapus air matanya dan menatap wajah Tania yang begitu lelap dalam tidurnya dan berharap dia bisa tertidur lelap seperti itu hingga terbangun dan mendapati kebahagiaan, tapi sayang itu hanyalah angan yang tak kunjung menjadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2