Cinta Kania

Cinta Kania
Part 24


__ADS_3

Kania terkejut saat mendengar ucapan kalimat itu. Kalimat yang biasa diucapkan oleh seseorang untuknya di saat lalu. "Aku mencintaimu, cantik."


Kania berusaha membalikkan tubuhnya, tapi pelukan itu begitu erat hingga membuatnya tak mampu untuk bergerak. "Ryan, lepaskan aku!" Kania berusaha berontak, tapi lagi-lagi gagal. Tubuh kekar pemuda itu begitu erat memeluknya.


"Kenapa? Bukankah, kamu suka dengan pelukanku? Aku tahu kamu hanyalah wanita murahan yang rela menjual tubuhnya hanya untuk mendapatkan segepok uang. Aku akan membayarmu berapapun yang kamu minta, asalkan kamu berikan padaku seperti apa yang kamu berikan pada kakakku." Ucapan Ryan begitu tajam dan menyakitkan. Kania menitikkan air mata saat pemuda itu melontarkan kalimat yang begitu hina dan merendahkannya.


"Apa kamu sudah puas menghinaku? Lepaskan aku, maka aku akan melupakan perlakuanmu ini." Kania berusaha sabar dan tidak melawan, karena dia takut jika Arya datang dan melihatnya dalam pelukan adiknya sendiri.


Dengan kasarnya, Ryan membalikkan tubuh Kania hingga wajah mereka terasa begitu dekat. Kania bisa merasakan embusan nafas Ryan yang begitu memburu dengan sorot mata bak elang yang sedang mencari mangsa.


"Kenapa? Apa kamu takut jika suamimu melihatmu dalam pelukanku? Tenanglah, kakakku sudah masuk ke kamarnya dan mungkin sudah tertidur sekarang."


Kania lantas melepaskan tangan Ryan yang sedari tadi mencekal tubuhnya. "Aku akan memaafkanmu atas perlakuan kejimu ini padaku. Ryan, aku tahu aku salah, karena itu aku minta maaf, tapi aku mohon jangan ganggu kehidupanku lagi. Masa itu sudah berlalu dan aku ingin melupakannya. Aku mohon, biarkan aku menjalani kehidupanku bersama Arya dan juga Tania." Kania menitikkan air mata. Dengan sungguh-sungguh, Kania memohon. Namun, itu percuma karena ternyata Ryan masih belum bisa melupakan pengkhianatan Kania padanya.


Ryan tersenyum sinis saat Kania mengucapkan itu semua. "Kalau aku tidak mau, kamu mau apa? Mau lapor pada kakakku? Ayo, aku dengan senang hati akan mengatakan padanya tentang siapa sebenarnya dirimu. Oh iya, satu hal lagi, jangan pernah berpikir kalau kata cintaku tadi tertuju padamu, karena itu adalah kata cinta untukku buat Kania saat lima tahun yang lalu."


Ryan kemudian pergi meninggalkan Kania yang berdiri terpaku. Air matanya tiba-tiba jatuh saat melihat kepergian pemuda itu. Sungguh, Kania tidak mampu untuk marah ataupun membencinya walau pemuda itu telah memaki atau memandang rendah dirinya. "Aku tidak bisa membencimu, karena aku masih mencintaimu. Maafkan aku karena tidak bisa berterus terang padamu." Kania menunduk dan menghapus air matanya.


Sementara di dalam kamarnya, Ryan terduduk di sisi tempat tidur dengan menahan air matanya. Entah kenapa, dia merasa sakit karena telah berlaku kejam pada Kania. Walau dia mengatakan marah dan benci, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak tega melakukan itu semua pada Kania karena sejujurnya, rasa itu masih ada. Walau Kania pernah mengkhianatinya, namun dia tidak mudah bisa melupakan kasih sayang dan cinta yang pernah Kania curahkan padanya.


"Kenapa di saat aku sudah melupakanmu, kamu tiba-tiba kembali muncul di kehidupanku? Kania, kenapa kamu begitu kejam padaku? Apa salahku padamu hingga kamu tega menyakiti hatiku?" Ryan mengepalkan kedua tangannya dan mengingat kembali pengkhianatan Kania yang membuatnya merasakan benci yang teramat dalam.


Kania membawa segelas susu hangat dari dapur. Sisa air mata yang sempat membasahi pipinya, terlihat mulai mengering.


Di dalam kamar, Arya masih duduk di kursi sofa sembari melihat layar laptopnya. Melihat kedatangan Kania yang membawa segelas susu hangat, lelaki itu tersenyum.


"Minumlah susu hangat ini. Maaf, aku sedikit lama karena aku harus membereskan beberapa peralatan dapur yang tadi tidak sempat aku bersihkan." Kania berkata bohong karena dia takut Arya akan bertanya padanya, tapi lelaki itu hanya tersenyum sambil menerima gelas yang disodorkan Kania padanya.


"Terima kasih." Arya lantas meminum susu hangat itu. Rasanya begitu menenangkan saat susu hangat itu melewati tenggorokannya dan menghangatkan perutnya.


Gelas kosong itu diletakkan di atas meja. Kania mengambilnya dan berniat membawanya kembali ke dapur, tapi Arya melarangnya. "Biarkan saja gelas itu di sini. Lebih baik kamu tidur. Oh, iya, mulai sekarang kamu jangan lagi mengurusi dapur dan juga rumah. Aku akan meminta Bi Suri untuk memanggil keponakannya untuk bekerja di sini. Tugasmu hanya sebagai ibu bagi Tania. Jangan bagi perhatianmu pada yang lain karena yang aku ingin kamu hanya memberi perhatian pada putriku."

__ADS_1


Kania mengangguk dan kembali meletakkan gelas kosong itu di atas meja. Kania lantas berjalan menuju ke tempat tidurnya dan berbaring di sana. Begitupun dengan Arya, yang membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar yang selalu ditatapnya setiap menjelang tidur.


Suasana kamar begitu hening seakan keduanya sudah tertidur pulas dan terbuai alam mimpi. Namun, keheningan itu nyatanya tak bisa membuat mata mereka terpejam. Kania tampak gelisah hingga membuatnya tak bisa tertidur.


"Kenapa kamu gelisah? Apa karena ada aku di sini, makanya kamu tidak bisa tidur?" Kania terkejut karena ternyata lelaki itu belum juga tertidur.


Kania yang menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut, perlahan menampakkan wajahnya. "Maaf, jika aku mengganggumu. Bukan karena itu, tapi ... "


"Apa kamu tidak bisa tidur karena lampu di kamarku seterang ini?" Arya seakan paham dengan kegelisahan Kania. Dia menyadari itu saat Kania menutup kepalanya dengan bantal, bahkan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Maaf, tapi jika kamu keberatan, biarkan saja lampunya menyala. Aku tidak apa-apa, kok."


Arya kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan segera memadamkan lampu di kamarnya itu. Seketika, kamar itu menjadi gelap, tapi tak lama karena lampu kecil di sudut tempat tidur kemudian menyala. Arya kembali membaringkan tubuhnya. Langit-langit kamar di pandanginya dengan seuntai senyum yang perlahan merekah di sudut bibirnya.


"Apa kamu sudah tidur?" tanya Arya, namun tak ada jawaban. Arya kembali tersenyum dan membalikkan tubuhnya ke arah Kania. Benar saja, Kania sudah tertidur sambil memeluk bantal guling yang membuatnya terbuai ke alam mimpi.


Suasana kamar yang hening dengan penerangan yang remang, rupanya membuat Kania mudah tertidur. Arya masih menatap ke arah Kania. Wajah cantik dan polos gadis itu di tatapnya. "Ah, kenapa kamu bisa membuatku senyaman ini? Apa kamu tahu, kalau sebenarnya aku juga tidak bisa tertidur dengan lampu yang terang? Kenapa sejak ada kamu di rumah ini, aku jadi merindukan rumah dan ingin secepatnya untuk pulang? Ah, apa aku sudah gila?" Arya tersenyum mengingat akan dirinya yang merasa konyol dengan perasaannya sendiri.


Sementara keduanya sudah terbuai dalam tidur lelapnya, ada seseorang yang tampak gelisah karena memikirkan wajah Kania yang kembali menggoyahkan hatinya. "Ah, kenapa aku terus memikirkannya? Ryan, apa kamu bodoh? Kenapa kamu memikirkan wanita yang sudah menyakitimu?" Ryan terlihat gelisah hingga membuat matanya terjaga. Sungguh, bayangan wajah Kania tak bisa hilang begitu saja. Karena Kania, adalah cinta pertamanya.


Ryan membaringkan tubuhnya dengan matanya yang perlahan terpejam. Kenangan manis 5 tahun silam kembali mengusik sanubarinya. Betapa, di saat itu dia begitu bahagia. Masa remaja yang penuh romansa percintaan begitu membuainya.


Saat itu, Ryan benar-benar jatuh dalam kehangatan cinta yang diberikan oleh Kania padanya. Bahkan, Ryan tak lagi peduli dengan tatapan gadis-gadis yang memujanya. Dia tidak peduli dengan wajah cantik nan memukau gadis-gadis yang mencoba mendekati dan merayunya. Karena cinta dan hatinya telah terikat untuk satu wanita, yaitu Kania.


Namun, semua cinta, kasih sayang dan kesetiaan yang dia berikan untuk Kania ternyata dibalas dengan pengkhianatan. Hatinya remuk redam saat tiba-tiba Kania mengucapkan kata perpisahan. Bahkan, dengan kejamnya Kania berjalan mesra dengan pemuda lain di depan matanya.


Semua kenangan itu kembali membuat Ryan menitikkan air mata. Kenangan pahit yang ingin dia lupakan, kini kembali hadir dan membawa kebencian yang pernah hilang. Ya, Ryan begitu membencinya hingga membuatnya ingin menghancurkan kehidupan gadis itu. Namun, tak mudah baginya untuk menumpahkan rasa benci karena rasa cinta yang pernah hilang, perlahan mulai mengusik hatinya.


*****


Sinar matahari pagi perlahan terlihat di sela-sela jendela. Suara sayup ayam berkokok terdengar dari kejauhan. Arya perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling kamar. Kania tak lagi tampak di tempat tidurnya. "Ternyata dia sudah bangun." Arya melihat jam di dinding kamar yang sudah menunjukan pukul 6 pagi.

__ADS_1


Dengan langkah yang malas, Arya berjalan menuju ke kamar mandi. Gagang pintu kamar mandi perlahan dibuka, tapi pintu itu tidak jua terbuka. Arya kembali ke tempat tidurnya untuk merapikan tempat tidurnya itu.


"Biar aku saja yang rapikan. Kamu mandi saja dulu." Kania terlihat sudah rapi. Rambutnya tampak basah dengan harum shampo dan sabun mandi yang masih bisa tercium oleh hidung mancung lelaki itu. Sejenak, Arya terpaku dan menatapnya, tapi tak lama. Lelaki itu akhirnya menuju ke kamar mandi dan membasahi tubuhnya dengan air dingin.


"Ya Tuhan, ada apa denganku? Ah, kenapa aku harus di hadapkan dengam situasi yang rumit seperti ini?" Arya memandangi wajahnya yang basah di depan cermin. Wajahnya memerah karena mengingat Kania yang tadi berdiri di depannya. "Argghh." Arya mengusap wajahnya dengan kasar seakan ingin membuang bayangan wajah cantik yang mulai mengganggunya itu.


Hampir setengah jam Arya berada di dalam kamar mandi. Dengan handuk yang sudah melilit di pinggangnya, Arya berdiri di balik pintu. "Apa aku harus keluar dengan hanya menggunakan ini?" Arya memandangi handuk yang menutupi setengah tubuhnya itu. Lelaki itu tampak ragu untuk keluar dari kamar mandi. Dia tidak ingin Kania melihatnya dengan keadaan yang baginya terlihat memalukan.


"Sampai kapan aku harus sembunyi di sini? Ah, tubuhku juga sudah kedinginan." Tubuh lelaki itu terlihat menggigil. Karena sudah tidak tahan dengan dingin di pagi itu, Arya akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.


Arya terkejut saat melihat kamarnya yang sudah rapi. Tempat tidurnya pun sudah dirapikan. Dan Kania sudah tak ada lagi di tempat itu. Arya tersenyum sendiri mengingat kepanikan yang sempat di alaminya tadi.


Rupanya, Kania sudah keluar dari kamar itu sejak tadi dan pergi ke kamar Tania untuk melihat putrinya itu. Gadis kecil itu tersenyum saat melihat Kania masuk ke kamarnya. "Anak Mama rupanya sudah bangun. Ayo, cepat mandi, setelah itu kita sarapan. Papa dan Paman pasti sudah menunggu." Gadis kecil itu mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi.


Sejak kahadiran Kania di rumah itu, Tania mulai diajarkan untuk mandiri. Dari mandi, makan, bahkan untuk membersihkan tempat tidurnya, gadis kecil itu melakukannya sendiri dan tentu saja dibantu oleh Kania.


Setelah selesai, mereka berdua akhirnya menuju ke meja makan, di mana Arya dan Ryan sudah menunggu mereka.


"Wah, keponakan Paman sudah cantik. Ayo, duduk dekat Paman." Tania tersenyum dan menuruti ajakan pamannya itu. Sementara Kania bergegas ke dapur dan menyiapkan air madu hangat untuk Arya.


"Punyaku mana?" tanya Ryan saat melihat Kania meletakkan segelas air madu hangat di depan kakaknya itu.


"Apa kamu mau aku buatkan kopi?"


"Tidak, aku tidak mau kopi karena semalam aku tidak bisa tidur. Kakak ipar, bisa buatkan aku minuman yang sama seperti punya Kak Arya? Aku rasa itu pasti enak." Wajah Ryan tersenyum dan memohon manja di depan Kania. Arya yang melihat tingkah adiknya itu hanya bisa tersenyum.


"Baiklah, aku akan buatkan untukmu." Kania kemudian kembali ke dapur dan tak lama dia kembali dengan segelas air madu hangat di tangannya.


"Minumlah selagi masih hangat." Kania meletakkan gelas itu di depan Ryan dan kembali duduk di kursinya. Ryan mengambil gelas dan mulai meneguk air madu itu. "Hmm, aku rasa aku bisa tidur dengan pulas jika tiap hari disuguhkan dengan minuman sehat ini. Kak Arya, Kakak beruntung karena bisa mendapatkan istri seperti kakak ipar." Ryan memuji sambil tersenyum.


Setiap kalimat yang diucapkan Ryan begitu memuji, tapi Kania tidak termakan dengan pujian itu. Kania tahu, pemuda itu hanya berbasa-basi di depan mereka.

__ADS_1


Sementara Ryan, hanya tersenyum di bibirnya, namun di hatinya dia begitu tertekan saat melihat Kania yang begitu memperhatikan kakaknya. Dia merasa cemburu saat melihat Kania keluar dari kamar dengan rambutnya yang basah. "Apa yang aku pikirkan? Bukankah wajar jika mereka melakukannya? Ah, kenapa aku tersiksa melihat kemesraan mereka?" Sejenak, Ryan melirik ke arah Kania yang sedang menikmati sarapannya. Wajah itu, tak bisa dengan mudah di enyahkan dari hati dan pikirannya. Antara benci dan cinta, keduanya begitu tipis hingga pemuda itu tak bisa membedakan apakah dia membenci ataukah masih mencinta.


__ADS_2