Cinta Kania

Cinta Kania
Part 47


__ADS_3

Di dalam kamar, Kania duduk bersandar di sisi tempat tidur sambil melihat layar ponselnya. Perlahan, dia tersenyum melihat foto-foto yang tersimpan di ponselnya itu. Betapa dia merindukan mereka, Arya yang tampak tersenyum sambil merangkulnya walau terlihat ragu. Begitupun dengan Tania yang tersenyum sambil menatap ke arahnya. Ah, tak terasa Kania menitikkan air mata saat mengingat semuanya. Jarinya perlahan mencari sebuah nomor yang tersimpan dengan nama "Suamiku" dan dia hanya menatapnya tanpa bisa melakukan apa-apa. Rasanya, Kania ingin menghubunginya sekadar untuk mendengar suaranya.


Sambil menahan tangis, Kania berbaring dan memeluk bantal guling yang kini menemaninya. Sementara di kamar sebelah, Ryan masih terjaga. Lelaki itu tampak berbarimg sambil menatap langit-langit kamar dan membayangkan kebersamaannya bersama Kania. Sesaat, dia menyunggingkan senyum saat teringat dengan gadis itu. "Akhirnya, kita akan kembali bersama. Aku akan menikahimu dan kita akan hidup bahagia."


Sementara Arya, masih terpaku menatap layar ponselnya. Matanya tak berkedip menatap seraut wajah cantik yang tersenyum sambil memeluk putrinya. Betapa, dia ingin melihat senyuman itu lagi, senyuman yang membuat hatinya bergetar dan sudah membuatnya jatuh cinta. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa memilikimu. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menahanmu." Arya menghapus air matanya yang kembali jatuh dan hanya bisa menatap foto Kania yang masih tersimpan di ponselnya.


Kini, perasaan dan hati mereka sedang dipermainkan oleh takdir. Rasa cinta yang mereka rasakan harus dihempaskan agar hati yang lain tidak terluka walau sebenarnya hati dan perasaan mereka sendiri yang terluka.


Pagi mulai menyapa saat sinar mentari pagi mulai mencari celah dan menerangi dari balik jendela. Kania membuka matanya dan melihat sekeliling kamar. Ah, rasanya begitu asing berada di kamar yang baru di tempatinya itu.


Kania lantas bergegas dan membersihkan tempat tidurnya dan mengambil ponsel yang sedari malam tergeletak di atas tempat tidurnya. Kembali Kania melihat layar ponselnya itu dan tersenyum saat melihat wajah Arya dan Tania yang terpampang di layar ponselnya. "Aku mencintai kalian, sampai kapanpun aku tetap menyayangi kalian." Kania tersenyum dan menyimpan ponselnya itu, namun tiba-tiba ponselnya itu berdering.


Melihat nama yang terpampang, Kania tersenyum. "Iya, Sel."


"Kamu di mana sekarang, biar aku jemput," ucap Selly yang terdengar tegas.


"Aku masih di rumahnya Ryan."


"Kirim alamatnya padaku dan aku akan menjemputmu. Kania, tinggalkan dia karena aku tidak rela kamu bersamanya. Aku tidak rela kamu dan Arya berpisah. Cepat kirim alamatnya padaku, aku akan segera menjemputmu." Selly memutus sambungan teleponnya. Dari suaranya, Kania tahu kalau sahabatnya itu marah karena keputusannya yang memilih berpisah dengan Arya.


Semalam, Kania sudah memberi kabar pada Selly dan juga Bastian. Walau kecewa, tapi mereka tidak bisa mengubah keputusan Arya. Malam itu juga, Selly menghubungi Arya dn dia harus kecewa karena Arya sudah tidak bisa menarik kembali keputusannya.


Sebuah mobil avanza berwarna metalik terlihat memasuki halaman. Melihat mobil yang datang, Ryan cukup terkejut, pasalnya tidak ada yang tahu alamat rumahnya kecuali kakaknya, Arya.


"Kalian? Kenapa datang ke sini?" tanya Ryan saat melihat Selly dan Bastian yang perlahan memasuki teras rumahnya.


"Kami mau menjemput Kania." Wajah Selly terlihat datar, tapi tidak dengan Bastian.


"Maaf, Ryan, aku tahu kamu masih mencintai Kania, tapi mengertilah akan posisinya karena dia belum resmi bercerai secara hukum. Dan juga, dia tidak mungkin tinggal di sini bersamamu karena tidak baik jika lihat orang."


Kania terlihat keluar sambil menenteng tasnya dan menatap ke arah lelaki itu yang kini menatapnya heran. "Kamu benar-benar mau pergi dari sini?"


Kania memgangguk. "Maaf, jika aku mengecewakanmu, tapi benar apa yang dikatakan Bastian. Aku tidak mungkin tinggal di sini bersamamu, lagipula aku ingin bekerja. Seperti katamu, aku masih butuh waktu untuk bisa menerimamu kembali, terserah padamu karena aku ... "


"Baiklah, aku akan terima keputusanmu. Kamu boleh tidak tinggal di sini, tapi aku tidak akan pernah melepasmu dan aku akan menunggu hingga kamu mau menerimaku kembali asalkan aku masih bisa bersamamu, aku akan menunggu. Ayo, biar aku mengantarmu." Sambil tersenyum, Ryan lantas menenteng tas Kania. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam rumah dan menemui Bi Mar yang sementara ada di dapur. "Bi, aku titip rumah ini, ya. Tiap bulan aku akan kirimkan gaji buat Bibi dan kalau calon istriku datang berkunjung, tolong layani dia."


"Baik, Tuan." Wanita itu tersenyum melihat kepergian majikannya itu.


"Ayo, kita pergi." Ryan meraih tangan Kania dan mengajaknya naik ke motornya.


"Sebaiknya, kamu ke rumahku saja, itu lebih baik daripada kamu kost," ucap Selly mencoba menawarkan Kania untuk tinggal bersamanya.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan kalian. Aku kost saja dan jangan khawatir karena aku pasti akan mengunjungi kalian." Kania tersenyum saat melihat kedua sahabatnya itu begitu mencemaskannya.


Bersama Ryan, Kania kemudian pergi dan diikuti mobil Selly di belakang. Selang satu jam kemudian, mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah susun. Bangunan itu terlihat bersih dan rapi. Bangunan rumah itu terdiri dari beberapa ruangan yang berdiri berdampingan.


"Ini kostan untuk putri, jadi aku akan kost di sini." Kania lantas berjalan menuju bangunan utama di mana seorang wanita yang berumur sekitar 50an sedang berjalan ke arahnya. "Kania?"


"Iya, Bu." Kania lantas mencium tangan wanita paruh baya itu.


"Kamu mau kost lagi di sini?" Kania mengangguk dan tersenyum pada wanita itu.


"Iya, Bu. Apa masih ada kamar kosong untukku?"


"Untuk kamu, kamar kosong selalu ada. Ayo, Ibu antar, tapi maaf, 2 temanmu itu tidak bisa masuk, tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa, kok Bu. Kami mengerti, biar kami tunggu di sini saja." Bastian dan Ryan hanya berdiri di halaman parkir sambil melihat Kania dan Selly yang menghilang dan masuk ke salah satu kamar.


"Kenapa kalian bohong tentang pernikahan Kania dan kakakku? Apa kalian sengaja untuk bersengkokol?" tanya Ryan tiba-tiba hingga membuat Bastian memandanginya.


"Apa maksudmu? Sudahlah Ryan, masalah ini jangan diungkit lagi karena Kania pasti akan sedih."


"Sedih? Kenapa dia harus bersedih, bukankah mereka menikah hanya sandiwara dan sudah saatnya bagi mereka untuk mengakhiri pernikahan kontrak itu? Untuk apa mempertahankan pernikahan kontrak itu, toh mereka tidak saling mencintai?"


"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa wajah kalian serius begitu?" tanya Selly yang baru saja datang bersama Kania.


"Tidak, kok. Kami hanya membahas soal pekerjaan," ucap Bastian yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kania, besok kamu bisa datang ke kantorku dan bekerja di sana. Aku akan memberikanmu pekerjaan."


"Terima kasih, Sel, tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku ingin bekerja, tapi dengan usahaku sendiri. Aku harap kalian bisa mengerti."


"Kamu tidak perlu bekerja, biar aku saja. Aku akan bekerja dan menafkahimu, bukankah kamu akan menjadi istriku?" Sontak, Selly dan Bastian menatap ke arahnya.


"Apa maksud ucapanmu itu? Aku tidak setuju kamu bersama Kania dan aku akan menentang hubungan kalian." Selly terlihat kesal, tapi Ryan tidak mempedulikan gadis itu.


"Sudah, jangan kalian bertengkar. Lebih baik kita kembali karena Kania harus istrirahat." Bastian meraih tangan Selly dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Setelah berpamitan pada Kania, mereka akhirnya pergi. Sementara Ryan masih berdiri memandangi Kania.


"Kenapa masih berdiri di situ? Sana pulang." Ryan tersenyum dan masih memandangi Kania.


"Kamu baik-baik, ya. Jangan lupa makan dan aku akan sering-sering meneleponmu. Aku janji, aku akan bekerja agar bisa menafkahimu kelak. Aku tidak ingin setelah kita menikah kamu tetap bekerja. Aku akan menunggu hingga tiga bulan ke depan, setelah itu aku akan melamarmu." Ryan terlihat serius dengan ucapannya itu. Kania hanya bisa tersenyum mendengar semua perkataan lelaki itu, entah apa makna dari senyumannya itu.


Sambil menatap Kania, Ryan bergegas pergi. Dengan wajah penuh bahagia, lelaki itu pergi sambil membayangkan masa depannya bersama Kania.

__ADS_1


Rupanya, tekadnya sudah bulat. Dia akan bekerja di perusahaan Arya. Di depan Arya, Ryan menagih janji kakaknya itu untuk memberinya pekerjaan.


"Jadi, kamu mau bekerja di perusahaan Kakak?" tanya Arya yang terkejut dengan sikap adiknya itu.


"Iya, Kak. Mulai sekarang, aku akan bekerja karena aku harus mapan agar bisa menikah kelak."


"Menikah? Apa kamu akan menikah?" tanya Arya yang sempat terkejut dengan ucapan adiknya itu.


"Iya, Kak. Aku akan menikahi Kania setelah tiga bulan ke depan, karena itu aku harus bekerja karena aku tidak mungkin menikahinya jika aku tidak punya pekerjaan. Walau ada warisan dari ayah, tapi aku ingin menafkahi Kania dengan uang jerih payahku sendiri." Ryan tersenyum membayangkan kehidupannya kelak bersama Kania. "Aku ingin bertanya sesuatu pada Kakak."


"Bertanya apa?" Arya meraih gelas di atas meja yang berisikan kopi dan mulai diteguknya.


"Apa Kakak mencintai Kania,?" Sontak saja Arya terkejut hingga membuat dia tersedak kopi yang belum melintas di tenggorokannya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kalau Kakak mencintainya, apa Kakak akan menceraikannya? Lagipula, kami hanya menikah kontrak, dan tidak ada cinta di antara kami." Arya menyeka bibirnya yang basah dengan kopi, sementara Ryan tersenyum ke arahnya.


"Ah, syukurlah kalau begitu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika Kakak mencintainya karena aku tidak ingin dia pergi lagi dariku. Terima kasih, Kak. Aku sayang sama Kakak karena Kakak sudah melepaskan Kania untukku. Aku menyayangimu, Kak." Ryan tersenyum sambil memeluk Arya yang hanya bisa menahan kegetiran di hatinya. Melihat adiknya yang tersenyum bahagia, Arya ikut tersenyum walau itu adalah senyum kepalsuan. Senyum, tapi hatinya menangis pilu.


Ryan terlihat gagah dengan penampilannya yang kini terlihat berbeda. Tubuh atletisnya kini sudah tertutup dengan setelan jas hitam. Wajahnya terlihat tampan hingga membuatnya ditatap tak berkedip oleh karyawan wanita yang berdiri memberi hormat padanya.


Bersama Arya, lelaki itu berjalan melewati beberapa ruangan. Semua karyawan yang melihat mereka, menatap takjub dengan decakan rasa kagum karena ketampanam kakak beradik itu.


Di depan salah satu ruangan, Arya menghentikan langkahnya. "Ini ruanganmu. Posisimu di sini sebagai Kepala Pemasaran. Kalau kurang jelas, kamu tanya saja sama Tia, dia itu sekertaris Kakak. Kalau masih kurang jelas lagi, Kakak akan menjelaskannya nanti di rumah."


"Aku tahu, Kak. Apa Kakak lupa kalau aku ini lulusan dari Amerika?" tanya Ryan sambil menyunggingkan senyum pada kakaknya itu.


"Iya, iya, Kakak tahu. Sana, masuk ke ruanganmu dan lakukan tugasmu. Kakak tidak ingin orang-orang meremehkanmu karena adik dari pemilik perusahan ini. Tunjukan kemampuanmu pada mereka agar mereka tahu kalau kamu bisa di andalkan." Ryan mengangguk dan tersenyum.


Dengan langkah pasti, Ryan masuk ke ruangan kerjanya itu. Sambil duduk di kursi kerjanya, Ryan tersenyum sambil memandangi wajah Kania dari layar ponselnya. Kania bagaikan candu baginya. Rasanya, dia begitu bersemangat dalam bekerja hingga hari itu berakhir tanpa kendala.


Sementara Kania, hari itu juga telah mendapat pekerjaan. Di sebuah restoran, Kania bekerja sebagai pelayan. Tugasnya hanya membawa makanan yang dipesan oleh pelanggan.


Dengan wajah cantiknya, Kania dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Melalui informasi dari Ibu kost nya, Kania mencoba melamar pekerjaan di salah satu restoran yang cukup besar. Restoran yang cukup mewah itu sangat menarik perhatian Kania karena lokasinya begitu dekat dengan pesisir pantai.


"Mulai besok, kamu sudah bisa bekerja. Ingat, di hari pertamamu kerja jangan sampai datang terlambat karena Bos Besar tidak suka dengan karyawannya yang terlambat. Kalau tidak mau dipecat, maka kamu harus datang lebih awal, paham?" Seorang wanita yang diperkirakan berumur 40an itu menatap Kania dengan tajam.


Bu Risna, mereka biasa memanggilnya. Wajahnya yang terlihat ketus membuatnya sangat ditakuti oleh semua karyawan. Semua ucapan wanita itu adalah titah dan jika ucapannya itu sudah sampai di telinga Bos Besar, maka titahnya itu tidak bisa diganggu gugat. Ibaratnya, dia adalah tangan kanan sekaligus mata-mata yang ditugaskan oleh pemilik restoran atau biasa disebut Bos Besar itu untuk memperhatikan gerak-gerik semua karyawannya.


Hari itu, Kania bisa tersenyum lega karena dia sudah mendapatkan pekerjaan. Uang tabungan yang diberikan Wicaksana padanya, rupanya tak disentuhnya dan masih tersimpan utuh. Karena itu, dia harus tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.


Berbekal sebungkus nasi goreng, Kania melahapnya untuk santap makan malamnya. Setelah selesai makan malam, Kania duduk sambil memandangi foto Tania. Sejenak, dia tersenyum. Tiba-tiba, satu pesan singkat masuk. Pesan singkat pemberitahuan tentang transaksi transfer uang yang masuk ke rekeningnya. Uang dengan nominal 10 juta kini telah masuk ke rekeningnya dengan nama pengirim Arya Wicaksana. Sejenak, Kania terkejut hingga membuatnya menghubungi nomor yang tertulis "Suamiku."

__ADS_1


__ADS_2