
Dengan tergesa-gesa, Selly berjalan menyusuri kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di bandara. Matanya liar mencari sosok Bastian yang sudah menunggu kedatangannya. Di salah satu sudut di ruang tunggu, Bastian terlihat dan berjalan mendekatinya.
"Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Ryan tahu kalau pernikahan Kania dan Arya hanya pernikahan kontrak? Lalu, di mana Kania?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari gadis yang mulai akrab dengan Kania itu. Dia begitu cemas ketika mendapat kabar dari Bastian tentang masalah yang kini di hadapi oleh Kania.
Di salah satu kafe, Kania duduk sambil memainkan sedotan di mulutnya. Segelas jus alpukat menjadi temannya saat menunggu kedatangan Bastian dan Selly. Tak lama, kedua sahabatnya itu pun datang. Melihat Kania, Selly lantas memeluknya, begitupun dengan Bastian yang mulai khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Selly yang mulai gelisah dengan nasib sahabatnya itu.
"Entahlah, aku bingung harus berbuat apa. Ryan sudah terlampau nekat dalam mendekatiku. Aku takut dia berbuat lebih jauh lagi dan itu bisa menyakiti Arya dan juga ayah mereka. Apalagi ayah mereka ... " Kania menghentikan kalimatnya.
"Kenapa dengan Om Wicaksana?" tanya Selly yang mulai penasaran.
"Ayah mereka baru saja keluar dari rumah sakit dan jika dia mendengar tentang semua ini, apa yang akan terjadi padanya?" Kania tidak berterus terang tentang kondisi Wicaksana, karena dia tidak ingin orang lain tahu tentang penyakit ayah mertuanya itu.
Kali ini mereka terdiam. Entah apa yang akan mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
"Apa aku harus berterus terang saja pada Arya?" Kania menatap kedua sahabatnya itu dan menunggu jawaban dari mereka.
"Apa kamu siap dengan keputusan Arya? Bagaimana jika Arya melepasmu, apa kamu siap menerimanya?"
Kania terdiam. Sejenak, dia teringat dengan janjinya untuk menjaga dan mencintai Tania dan juga Arya. Mereka berdua sudah saling berjanji untuk selalu bersama. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan masa lalunya bersama Ryan karena jika Arya tahu bukan melalui dirinya, dia takut jika Arya akan benar-benar kecewa padanya.
"Aku siap apapun keputusan Arya. Aku akan berterus terang padanya. Apapun keputusannya, aku akan menerimanya." Kania terlihat yakin dengan keputusannya itu. Dia akan berterus terang pada Arya walau dia tahu konsukwensi yang akan di hadapi olehnya.
"Kania, apa kamu yakin?" Kembali Selly mengingatkan sahabatnya itu.
"Aku tahu kamu berharap aku tetap bersamanya dan itu juga yang aku harapkan. Aku ingin tetap bersamanya, menjadi istrinya dan menjadi ibu bagi anak-anaknya, tapi aku harus bisa jujur tentang masa laluku bersama adiknya. Kalau dia bisa menerimaku, aku akan sangat bahagia. Namun, jika dia kecewa atas ketidakjujuranku selama ini, aku yang akan terluka. Aku akan menerima apapun keputusannya walau sebenarnya aku berharap dia tidak akan melepaskanku." Kania menahan tangis, tapi air bening yang sedari tadi di tahannya itu selalu memaksa untuk keluar.
Selly mengelus punggung Kania dan memberi dukungan padanya. "Aku akan mendukungmu. Apapun keputusan yang Arya berikan, aku akan selalu bersamamu. Kita akan tetap menjadi sahabat dan aku berharap kamu akan selalu bahagia walau bukan bersama Arya." Kania mengangguk dan memeluk Selly dan menangis di pelukannya.
Setelah memantapkan keputusannya, Kania memilih untuk jujur pada Arya. Apapun keputusan yang akan diberikan oleh lelaki itu, Kania akan menerimanya walau di dasar hatinya, Kania ingin Arya tetap mempertahankannya, karena jika Arya tetap mempertahankannya maka Kania tidak akan pernah meninggalkannya dan tidak akan lagi peduli pada Ryan.
Dengan langkah gontai, Kania masuk ke dalam rumah. Suasana rumah terlihat sepi. Kania masuk ke kamar Tania, gadis kecil itu tidak tampak. "Mereka semua pergi kemana? Kenapa rumah sepi begini?"
__ADS_1
Perlahan, terdengar suara motor yang memasuki halaman rumah. Kania berjalan menuju pintu dan melihat Ryan yang datang bersama Tania sambil membawa beberapa barang bawaan.
"Mama." Tania berlari kecil saat melihat Kania yang berdiri memandanginya.
"Tania dari mana? Dari tadi Mama cari, tapi Tania tidak ada. Memangnya, habis jalan-jalan kemana?" Kania lantas menggendong gadis kecil itu dan mengajaknya duduk di ruang tengah.
"Paman mengajak Tania ke mall dan membelikan Tania ini." Gadis itu menunjukan tas bawaannya yang berisikan mainan dan dua kotak es krim.
"Oh, begitu. Apa Tania suka?" Gadis itu mengangguk dan tersenyum sambil melirik ke arah Ryan yang sudah duduk di samping Kania.
"Maaf, aku membawanya karena dia mencarimu. Aku tidak tahu kalau tadi kamu sedang keluar. Kalau mau pergi, kamu bisa memintaku untuk menemanimu."
"Tidak perlu, lagipula aku pergi tidak lama. Terima kasih karena sudah mengajak Tania jalan-jalan." Kania lantas bangkit, tapi segera Ryan meraih tangannya.
"Aku akan berterus terang pada Kak Arya dan aku akan berkata jujur pada ayah tentang kita. Apapun yang terjadi, segeralah akhiri hubunganmu dengan Kak Arya."
"Pelankan suaramu!! Apa kamu ingin semua orang di rumah ini mendengar ucapanmu itu? Dan satu hal lagi, jangan pernah lakukan itu jika kamu tidak ingin aku membencimu." Kania kembali bangkit dan masuk ke dalam kamarnya dan betapa dia terkejut saat melihat Arya yang baru saja selesai mengganti pakaiannya.
"Kamu sudah pulang? Kenapa aku tidak melihat mobilmu di luar?"
"Maaf, aku tadi tidak memberitahukanmu. Aku baru saja bertemu dengan Selly dan Bastian."
"Selly, apa dia sudah kembali dari Italia?"
Kania mengangguk. Sejurus, dia terpaku saat Arya perlahan mendekatinya hingga lelaki itu kini berdiri tepat di depannya. "Apa aku boleh memelukmu?" Kania terkejut saat Arya mengucapkan kalimat itu. Melihat Arya yang berdiri di depannya, Kania menjadi goyah. Tatapan lelaki itu terlihat begitu berbeda. Sorot matanya penuh rasa cinta hingga membuat Kania melangkah maju dan melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu.
Arya tersenyum dan membalas pelukan Kania. Sesuai janjinya, dia tidak akan menyentuh Kania sebelum gadis itu mengizinkan. Dan kini, dia begitu bahagia karena perlahan Kania mulai menerimanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Perlahan, Kania melepaskan pelukannya dan menatap lurus ke arah lelaki itu. Dengan tersenyum, Arya mengangguk dan meraih tangan Kania sambil mengajaknya duduk di sofa.
"Katakanlah, aku akan mendengarkan." Sekali lagi, Kania begitu takjub dengan kelembutan dan perhatian Arya yang sudah membuatnya jatuh cinta. Dadanya bergemuruh menahan rasa sesak karena menahan rasa gelisah yang mulai mengganggunya. Walau berat, Kania harus berterus terang pada Arya.
Kania menghela nafas panjang dan mencoba menata hatinya untuk menerima apapun keputusan Arya. Akhirnya, dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dikumpulkannya, Kania mulai memberanikan diri untuk berterus terang. "Arya, maafkan aku karena selama ini aku ... " Kalimatnya tiba-tiba terhenti karena suara ketukan di balik pintu. Ketukan yang terdengar panik itu sontak membuat Kania dan Arya bangkit dari tempat duduk mereka.
__ADS_1
"Ryan, ada apa?" tanya Arya yang terlihat panik saat melihat adiknya itu yang kini telah menangis.
"Ayah, Kak, Ayah." Wajah Ryan tampak pucat hingga membuat Arya segera berlari ke arah kamar ayahnya. Di dalam kamar itu, Arya terkejut saat mendapati tubuh ayahnya yang sudah terbaring tak sadarkan diri di atas lantai.
"Ryan, jangan menangis. Cepat bantu aku mengangkat tubuh Ayah." Ryan tidak bergeming. Lelaki itu masih terpaku dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Melihat reaksi Ryan yang tampak berbeda, Kania lantas membantu Arya mengangkat tubuh Wicaksana yang sudah tidak berdaya.
"Kania, cepat telepon dokter Fahry." Kania lantas menelepon dokter Fahry sementara Arya mencoba menyadarkan ayahnya itu, tapi percuma karena tidak ada respon sama sekali. Di sudut kamar, Ryan terlihat duduk sambil menopang kepalanya di atas lutut yang ditekuknya. Wajahnya tampak pucat dengan tubuh yang masih gemetar. Melihat kondisi adiknya, Arya segera mendekatinya dan memeluknya.
"Tenanglah, Ayah baik-baik saja. Jangan takut, ada Kakak di sini." Dengan lembutnya, Arya membujuk Ryan yang sepertinya mengalami sesuatu yang membuatnya menjadi tertekan. Ya, sejak dia melihat kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya, Ryan mempunyai trauma yang membuatnya gemetar saat melihat orang terdekatnya tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri.
Awalnya, Ryan ingin bertemu dengan ayahnya dan ingin menjelaskan tentang rencananya yang ingin menikahi Kania dan menjelaskan tentang pernikahan kontrak yang selama ini dilakukan oleh Arya dan Kania. Namun, belum sempat dia mengutarakan maksudnya itu, Wicaksana tiba-tiba jatuh tersungkur dan terjerembab di atas lantai kamar. Melihat ayahnya jatuh pingsan, Ryan lantas berlari ke kamar Arya dan meminta bantuan di sana.
"Ryan, lihat Kakak. Tenanglah, Kakak ada di sini dan Ayah akan baik-baik saja." Arya masih membujuk adiknya itu yang masih gemetar. Tatapan matanya terlihat hampa hingga membuat Kania menjadi iba. Sekali lagi Kania terkejut karena dia tahu kalau Ryan mempunyai kenangan buruk yang membuatnya menjadi trauma.
Dokter Fahry terlihat memasuki kamar. Wajahnya tampak cemas saat melihat Wicaksana yang kini terbaring kaku. Dengan sekuat tenaga, dokter yang terlihat maskulin itu mulai memberikan pertolongan pertama. Berulang kali dia menekan bagian dada Wicaksana, namun tidak ada hasil. Detak jantungnya perlahan mulai menghilang dengan tubuhnya yang mulai kaku. Terlihat gurat kesedihan di wajah dokter Fahry saat tangannya berhenti memompa bagian dada Wicaksana. Dengan lesu, dokter Fahry duduk sambil menyeka air matanya yang perlahan jatuh.
"Dokter, kenapa dokter hanya duduk saja? Ayo, periksa ayah lagi." Arya mendekati dokter Fahry yang kini mulai menangis. Seakan tak percaya, Arya mendekati tubuh ayahnya itu dan menggenggam tangannya. Sontak, Arya terkejut karena tangan ayahnya kini telah dingin dan kaku.
"Ayah, bangun Ayah." Arya menggoyangkan tubuh ayahnya itu, tapi Wicaksana hanya terdiam. Wajah rentanya terlihat pucat dengan segurat senyum di bibirnya seakan dia sedang berbahagia karena sudah bertemu dengan kekasih hati yang sudah menunggunya.
Arya terdiam dengan air mata yang kini jatuh tanpa suara. Perlahan, Kania berjalan mendekatinya dan memeluknya. Arya menangis dalam pelukan Kania. Dia menangisi kepergian ayahnya yang pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia menangisi kepergian sang ayah yang pergi tanpa dia ada di sisinya. "Tenanglah, ikhlaskan kepergian Ayah." Kania mengelus lembut punggung suaminya itu.
Dia paham dengan perasaan Arya yang kini begitu sedih karena kehilangan sang ayah. Kania perlahan mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Ryan yang masih duduk menangis dengan tubuh yang gemetar. Ada rasa iba yang tiba-tiba muncul saat melihat kondisi pemuda itu. "Tolong temani Ryan, biar aku yang mengurus pemakaman Ayah." Arya melepaskan pelukannya dan kembali menatap jasad ayahnya yang kini kaku tak bernyawa.
Kania lantas mendekati Ryan dan duduk di depannya. "Ryan, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Kania sambil menyentuh tangan pemuda itu yang dingin dan gemetar.
Mendengar suara Kania, Ryan perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Kania yang kini duduk di depannya. Sontak, Ryan meraih tangan Kania dan menggenggamnya erat. "Kania, ayahku, ayahku telah pergi. Aku, kini aku sendiri." Ryan menitikkan air mata. Wajahnya kini basah dengan air bening yang sedari tadi jatuh. Melihatnya, Kania ikut menitikkan air mata, betapa dia paham dengan perasaan seorang anak yang kehilangan sosok orang tua.
"Bersabarlah dan doakan ayah agar ayah tenang di sana. Ayo, bangkitlah dan temui ayah." Kania mengajak Ryan untuk bangkit. Kania bisa merasakan getaran tangan pemuda itu yang berusaha untuk bangkit. Sambil memapahnya, Kania berjalan bersama Ryan menuju pembaringan di mana jasad sang ayah tengah terbaring dalam tidur panjangnya. Melihat wajah ayahnya yang telah pucat, Ryan terduduk lemas hingga hampir membuatnya terjatuh. Kania yang berdiri di sampingnya lantas memegang tangannya dan Ryan menggenggam tangan itu dengan eratnya.
Kania kini berdiri di tengah dua lelaki yang menggenggam tangannya. Ryan seakan tak ingin melepaskan tangannya yang menggenggam tangan kiri Kania dengan eratnya. Begitupun dengan Arya yang duduk di samping kanan Kania sambil menggenggam tangan kanannya. Kania menjadi bingung dengan perlakuan kedua kakak beradik itu padanya.
Melihat keduanya, Kania terlihat iba. Dia harus bisa mengambil sikap dan tidak larut dalam permainan cinta yang selama ini mempermainkannya. Namun, kembali dia harus menahan diri karena tak mungkin baginya untuk menyampaikan kebenaran di saat kedua lelaki itu tengah berduka.
__ADS_1
Tatapan matanya mengarah pada sosok ayah mertuanya yang kini telah tidur dalam keabadian. Air matanya jatuh mengingat perlakuannya yang menganggap Kania seperti putrinya sendiri. Bagaimana dia diharapkan untuk menjaga dan menyayangi anak dan cucunya. Bagaimana Kania diharapkan untuk bisa memberikannya seorang cucu. Kania terisak saat mengingat itu semua. Air matanya jatuh hingga membuat Ryan menatapanya. Sontak, Ryan mengeratkan genggaman tangannya dan bangkit seraya memeluknya.
Kania terkejut saat di depan Arya, Ryan memeluknya erat. Kedua tangannya dieratkan di leher Kania hingga Kania meremas tangan Arya yang enggan untuk dia lepaskan. Melihat mereka, Arya bangkit dan memeluk keduanya. Entah apa yang dipikirkan oleh Arya, tapi Kania hanya bisa diam terpaku saat tubuhnya dipeluk oleh keduanya.