
Untuk membeli restoran itu bukanlah hal yang sulit bagi Kania. Uang tunjangan pemberian Arya tiap bulan dan juga peninggalan warisan dari Wicaksana, lebih dari cukup untuknya memulai usaha restoran itu. Semua berawal dari ketertarikan Kania dengan usaha yang digeluti oleh Ardi. Karena itulah, Ardi membantunya mewujudkan impiannya itu.
Tak hanya itu, rupanya Kania juga turut andil di dapur. Tak segan Kania membantu para chef walau hanya sekedar mengupas bawang. Bahkan kini, Kania sudah sangat akrab dengan semua karyawannya. Mereka begitu mengagumi Kania yang nyatanya tak seperti yang mereka bayangkan. Di mata mereka, Kania bagaikan seorang kakak yang selalu ada dan membantu mereka di saat susah. Tak jarang, Kania sering membantu mereka hingga mereka semakin loyal padanya.
Sudah sebulan lebih Kania berada di restoran itu dan selama di sana, Kania mencoba membuat resep nasi goreng yang selalu jadi andalannya. Awalnya, dia tidak sengaja membuat nasi goreng sederhana yang selalu dibuatnya saat masih berada di rumah Arya. Nasi goreng itu lantas dicicipi oleh salah seorang chef yang sudah berpengalaman dan dia menyukainya. "Bu, jika nasi goreng ini kita kreasikan, maka nasi goreng ini bisa jadi menu tambahan di restoran kita. Kalau Bu Kania mau, kita akan menyajikan nasi goreng ini di daftar menu kita." Lelaki bertubuh gembul itu begitu antusias hingga membuat Kania tersenyum.
"Apa tidak masalah? Ini hanya nasi goreng biasa, tidak ada yang istimewa."
"Mungkin bagi Bu Kania nasi goreng ini biasa, tapi saya tahu nasi goreng ini dibuat dengan penuh cinta. Jangan khawatir, saya yakin, penikmat nasi goreng pasti akan menyukai nasi goreng buatan Ibu."
Kania hanya tersenyum. Entah apa arti dari senyumnya itu, karena memang nasi goreng itu dibuatnya dengan penuh cinta karena nasi goreng itu mengingatkannya pada Arya. Lelaki yang begitu menyukai nasi goreng buatannya.
Sejak saat itu, Kania mulai beraksi di dapur. Jika ada yang memesan nasi goreng, jika tidak sibuk, dia sendiri yang akan membuatnya. Bahkan, ada pelanggan setia yang selalu memesan nasi goreng buatannya itu.
Di salah satu meja pengunjung, terlihat beberapa orang lelaki yang terlihat maskulin dengan tampilan jas yang melekat di tubuh mereka. Lima orang lelaki itu nyatanya sedang berkumpul dan makan siang bersama, sekaligus membicarakan tentang pekerjaan mereka.
"Ayo, silakan pilih menu kalian, kali ini aku yang akan membayar," ucap salah seorang lelaki sambil menyodorkan buku menu pada teman-temannya itu.
Mereka lantas melihat-lihat buku menu dan memilih menu kesukaan mereka. "Apa kalian sudah mencoba nasi goreng di restoran ini? Wah, rasanya sangat lezat. Walau terlihat sederhana, tapi nasi goreng di sini rasanya sangat istimewa. Yang aku dengar, kalau nasi goreng itu buatan dari pemilik restoran ini. Aku sudah mencobanya beberapa kali dan aku selalu ketagihan dibuatnya." Lelaki itu tampak tersenyum. Dia kemudian memanggil seorang pelayan dan memberikan menu pilihan mereka.
Tak lama kemudian, dua piring nasi goreng sudah tersedia di atas meja dan tiga piring nasi putih dengan beberapa piring lauk pauk.
"Arya, kamu juga memesan nasi goreng? Ah, rupanya kamu juga penasaran dengan nasi goreng ini, ya? Makanlah, aku yakin kamu juga pasti akan ketagihan." Lelaki itu kemudian menyantap nasi goreng yang sudah menarik perhatiannya dan ekspresi wajahnya terlihat penuh kegembiraan.
Saai itu, Arya terpaksa ikut ajakan temannya untuk makan siang bersama. Padahal, selama ini dia hanya makan siang di kantin perusahaannya. Karena tidak ingin mengecewakan temannya, Arya terpaksa menuruti ajakan teman-temannya itu.
Nasi goreng yang ada di depannya, lantas disantap olehnya. Sekilas, ada rasa yang sama yang pernah dia rasakan. Rasa yang sulit untuk dia jelaskan. Arya lantas menyantap kembali nasi goreng itu dan dia yakin rasanya benar-benar sama dengan nasi goreng yang sering dia santap bersama Kania.
Arya mengedarkan pandangannya dan berharap melihat sosok yang kini ada dalam pikirannya. Tak lama, seorang pelayan datang membawa teh madu lime yang menjadi minuman tambahan dari restoran itu.
"Ini yang aku suka dari restoran ini. Mereka selalu menyediakan teh madu lime secara gratis untuk pengunjung. Jika suka, tinggal minta saja dan mereka akan menyediakannya, gratis dan tentunya menyehatkan." Lelaki itu lantas meneguk teh madu dalam sekali teguk.
Melihat teh madu itu, hati Arya semakin tidak tenang. Arya kemudian memesan teh madu itu dan meneguknya. Kembali, rasa itu tetap sama. Rasa yang membuatnya teringat akan sosok yang tidak pernah hilang dari hati dan ingatannya. Dengan segera, Arya bangkit dan berjalan menuju salah seorang pelayan. "Maaf, apa boleh saya bertemu dengan orang yang membuat nasi goreng dan teh madu itu? Saya hanya ingin menyapanya karena nasi goreng buatannya sangatlah lezat," ucap Arya yang membuat pelayan itu tersenyum.
"Oh, baik, Pak. Sebentar, saya akan panggilkan." Pelayan itu kemudian pergi dan masuk ke dalam ruangan dapur. Tak lama, dia keluar bersama seorang chef dengan tubuh yang gembul. "Ini, Pak. Chef Anto, chef yang sudah membuat nasi goreng itu."
__ADS_1
Melihat chef itu, ada rasa kecewa yang menjalar di hatinya. Arya kecewa, karena apa yang diharapkannya ternyata jauh dari kenyataan. "Jadi, Anda chef yang membuat nasi goreng itu? Ah, saya sangat menyukai nasi goreng buatan Anda." Arya mengulurkan tangannya sekadar untuk bersalaman. Setelah itu, diapun kembali ke tempat duduknya. Ditatapnya nasi goreng yang belum selesai disantapnya itu dan kembali menyantapnya.
Sebelumnya, Kania memang sudah berpesan jika ada yang bertanya tentang nasi goreng buatannya, mereka harus mengatakan kalau Chef Anto lah yang membuatnya. Kania tidak ingin terlihat oleh orang-orang. Dan jika ada yang bertanya tentang pemilik restoran, mereka akan selalu menjawab kalau pemilik restoran sedang keluar kota.
Sebelum pergi, Arya masih sempat melihat sekeliling restoran dan berharap melihat seseorang yang kini begitu mengganggu ketenangannya. Rasanya, dadanya tak berhenti berdegup karena memikirkan Kania yang mungkin saja berdiri di depannya. Namun, dia harus kecewa karena itu hanyalah hayalan kosong yang tak mungkin bisa menjadi kenyataan. Dengan rasa kecewa, Arya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Kania, tengah berdiri di depan jendela sambil menatap hamparan laut lepas dengan angin yang bertiup perlahan. Aroma laut begitu tercium hingga menggelitik hidungnya. Ah, rasanya begitu nyaman hingga membuatnya memejamkan matanya dan mengingat seseorang yang masih asyik bertengger di pikirannya. "Aku merindukan kebersamaan kita, tapi mungkinkah kita masih bisa bersama?" Kania perlahan membuka matanya dan air matanya jatuh.
"Apa kamu masih memikirkannya?" tanya Ardi yang kini sudah berdiri di belakangnya.
Kania membalikkan tubuhnya dan menatap Ardi yang kini ada di depannya. "Maafkan aku karena aku tidak bisa melupakannya. Aku masih mencintainya dan sukar bagiku untuk mengenyahkan dia dari hatiku. Entah mengapa, melupakannya terasa begitu sulit. Apalagi, aku sangat menyayangi putrinya yang sudah aku anggap sebagai putriku sendiri. Aku merindukan mereka, sangat merindukan mereka." Kania menitikan air mata dan perlahan Ardi berjalan mendekatinya dan memeluknya.
"Jika kamu rindu, kenapa kamu harus menyiksa dirimu sendiri? Kamu bisa menemui mereka dan kalian bisa bersatu kembali."
"Tidak semudah itu, Ardi. Aku telah membuat mereka kecewa dan tidak semudah itu Arya bisa menerimaku. Aku telah melanggar janjiku padanya untuk membahagiakan adiknya. Aku telah melanggar janjiku dan dia pasti sangat kecewa padaku. Bagaimana bisa aku kembali jika dia sudah tidak lagi mau menerimaku? Aku takut jika itu terjadi. Aku takut jika dia menolakku." Kania menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Ardi dan menangis di sana. Dengan lembut, Ardi membelai rambut Kania.
"Ah, jika saja kamu mau membuka sedikit saja hatimu untukku, aku akan menerimamu dan memberikan cinta dan sayangku melebihi lelaki itu. Andai kamu tahu kalau aku mencintaimu, apa aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan cintamu?" batin Ardi yang mengeratkan pelukannya.
*****
Perlahan, pintu ruangan kerjanya terbuka. Selly dan Bastian baru saja datang karena dihubungi olehnya.
"Arya, apa benar yang kamu ucapkan itu? Apa kamu yakin Kania ada di kota ini?" tanya Selly yang terlihat begitu penasaran.
"Entahlah, aku hanya mengikuti perasaanku yang mengatakan kalau Kania ada di dekatku, tapi aku tidak bisa meraihnya. Aku merasakan kehadirannya lewat nasi goreng dan air madu lime yang ada di restoran itu. Aku tahu rasa itu. Bastian, bukankah kamu juga pernah merasakan nasi goreng buatan Kania? Aku yakin, setelah kamu mencobanya, kamu pasti yakin kalau itu buatan Kania." Arya terlihat antusias walau ada segurat kekecewaan di raut wajahnya itu.
"Arya, tenanglah. Baiklah, aku dan Selly akan pergi ke restoran itu, tapi bukankah itu adalah restoran tempat dia bekerja dulu?" Arya mengangguk membenarkan pertanyaan Bastian.
"Baiklah, besok aku dan Selly akan ke sana. Jangan khawatir, karena jika itu Kania, kami akan membujuknya untuk kembali padamu dan menjelaskan tentang permasalahan ini." Arya mengangguk dan tersenyum pada kedua sahabatnya itu.
Tanpa mereka sadari, Rina mendengar percakapan mereka di balik pintu. Dia begitu marah karena tahu kalau Kania telah kembali. Dia marah karena selama ini Arya tak mempedulikannya. Sudah banyak cara yang dia lakukan agar Arya mau menerimanya, tapi semua gagal hingga membuatnya begitu membenci Kania. "Wanita itu, kenapa dia harus kembali lagi?" batin Rina dengan kesal. Dengan rasa marah, Rina meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya, Selly dan Bastian pergi ke restoran dan tak sengaja bertemu Ryan dan Dafina yang juga mulai curiga kalau Kania ada di restoran itu. "Apa kalian juga punya alasan yang sama dengan kami hingga datang ke sini?" tanya Bastian pada Ryan dan Davina.
"Iya, Bas. Akhir-akhir ini, kami sering makan siang di sini. Waktu itu, Davina sempat melihat seorang gadis yang sekilas mirip dengan Kania bersama seorang lelaki. Dan lelaki itu adalah pemilik restoran ini. Kami sudah beberapa kali bertanya pada karyawan di sini, tapi mereka selalu bilang tidak tahu," jelas Ryan.
__ADS_1
"Ayo, sebaiknya kita pastikan saja kebenarannya." Mereka kemudian masuk ke dalam restoran itu dan duduk di salah satu meja. Mereka lantas memesan nasi goreng.
Tak lama kemudian, 4 porsi nasi goreng sudah tersedia di atas meja. Tanpa menunggu lama, mereka langsung menyantapnya. Dalam sekali suapan, Bastian lantas meletakan sendok dan memanggil seorang karyawan. "Maaf, apa bisa saya bertemu dengan chef yang memasak nasi goreng ini?"
"Bisa, Pak. Sebentar, akan saya panggilkan." Kembali, karyawan itu datang bersama Chef Anto.
"Saya tahu yang memasak nasi goreng ini bukan Chef. Saya hapal dengan rasa nasi goreng ini. Sebaiknya, katakan pada Kania kalau Bastian ingin bertemu dengannya. Katakan padanya, aku tidak akan pergi sebelum dia menemuiku." Bastian kembali duduk. Melihat sikap Bastian, karyawan itu lantas memberitahukannya pada Kania yang sementara ada di dapur.
"Bu Kania, maaf, ada pelanggan yang bernama Bastian ingin bertemu dengan Ibu. Katanya, kalau Ibu tidak menemuinya, dia tidak akan pergi dari sini." Sontak, Kania terkejut. Dengan segera, dia melepas celemek dan mengintip di balik pintu. Dan benar saja, Bastian dan juga wajah-wajah yang sangat di kenalnya itu sedang menunggunya.
"Apa aku harus menemui mereka?" batin Kania yang berusaha untuk menghindar, tapi pandangannya tetiba bertemu dengan tatapan Bastian hingga lelaki itu berjalan mendekatinya.
"Kania!!" Bastian lantas bangkit dan mengejar Kania yang berusaha menghindar. "Kania, tidakkah kamu ingin bertemu dengan sahabatmu ini?" Seketika Kania menghentikan langkahnya dan menatap Bastian yang kini menatapnya dengan air mata. "Apa kamu setega itu hingga meninggalkan sahabatmu ini tanpa mengucapkan apapun?" Mendengar ucapan Bastian, Kania memeluk lelaki itu dan menangis dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Bas. Maafkan aku." Kania menangis, begitupun dengan Bastian.
"Apa kamu juga tidak merindukanku?" tanya Selly yang sudah berdiri di belakang mereka. Kania menatap gadis itu dan segera memeluknya.
"Aku merindukan Kalian. Sangat merindukan kalian. Maafkan aku karena pergi tanpa mengatakan apapun pada kalian."
"Kania, aku yang harusnya minta maaf. Karena aku, kamu dan Kak Arya harus berpisah. Aku ikhlas dan sudah merelakan jika kalian bersama. Kembalilah pada Kak Arya karena saat ini Kak Arya dan juga Tania sangat membutuhkanmu dan sangat merindukanmu." Melihat Ryan yang kini menangis di depannya membuat Kania memeluknya.
"Maafkan aku, karena aku ... " Tiba-tiba saja Rina datang dan merangsek maju hingga mendekati Kania. Gadis itu tampak marah dan menarik rambut Kania hingga membuat mereka semua terkejut.
"Dasar perempuan ******!! Kenapa kamu tidak menghilang saja dari dunia ini. Kamua tidak pantas bersama Arya. Aku yang lebih pantas bersamanya," hardik Rina yang membuat Selly naik darah.
Selly lantas menarik rambut Rina hingga membuat suasana semakin ricuh. Belum lagi dengan karyawan yang membantu Selly dan menyelamatkan Kania dari cengkeraman tangan gadis itu. Setelah tangannya terlepas, Selly lantas mendaratkan tamparan yang cukup keras di wajah Rina. "Wanita gila sepertimu tidak pantas mendampingi Arya. Apa kamu pikir Arya akan mencintaimu?"
"Kenapa? Apa kalian pikir wanita itu lebih baik dariku? Dia tak lebih dari wanita penggoda!!" Kembali Selly menamparnya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
Melihat keributan, Ardi yang baru saja datang lantas mendekat dan melihat Kania yang sempat ditampar oleh Rina. Lelaki itu lantas mendekati Kania dan memeluknya di depan mereka. "Kania, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ardi yang membuat mereka menatapnya.
"Lihat dia! Apa yang aku bilang tidak salah, kan? Kania sudah menggoda lelaki lain dengan kecantikannya dan dia mendapatkan kemewahan ini. Benar, kan?
"Ya, aku yang sudah memberikan dia kemewahan ini. Kenapa? Apa aku salah jika memberikan apa yang aku punya untuk calon istriku?" Sontak, mereka menatap Ardi dengan heran. Begitupun dengan Kania yang terkejut saat Ardi mengatakan hal itu.
__ADS_1