Cinta Kania

Cinta Kania
Part 45


__ADS_3

Arya berjalan perlahan menuju ke kamar Tania. Wajahnya terlihat sedih saat menatap wajah sang buah hati yang kini tertidur pulas. Di samping tempat tidur, Arya duduk sambil menundukan wajahnya. Tak sadar, air bening jatuh membasahi tangannya. Rasa cinta yang dia rasakan pada Kania, kini telah pupus seiring kenyataan pahit yang harus diterimanya.


Kania, adalah wanita yang sangat dicintai oleh adiknya. Arya tahu bagaimana perasaan Ryan terhadap Kania. Bagaimana dia tahu perjalanan cinta adiknya itu dan kini, dia harus menerima kenyataan kalau wanita itu tidak mungkin untuk bisa dia miliki.


Arya kembali memandangi putrinya itu dan kembali dia menangis. "Maafkan Papa, karena Papa tidak bisa melanjutkan apa yang menjadi impian kita. Papa tahu kamu menyayanginya, tapi dia bukan untuk kita karena dia milik pamanmu. Papa akan mengorbankan perasaanmu dan juga perasaan Papa. Papa harap kamu tidak akan membenci Papa." Kembali, Arya menghapus air matanya karena mengingat kebersamaan mereka bersama Kania.


Sementara di dapur, Ryan sudah selesai mengobati tangan Kania. Pecahan gelas di lantai sudah dibersihkan oleh Surti. "Sebaiknya kamu tidak usah melakukan apapun. Surti, mulai saat ini jangan biarkan Kania masuk ke dapur. Jika aku sampai melihatnya masuk ke dapur, maka kalian akan aku pecat." Ryan terlihat serius dengan ucapannya itu.


"Baik, Tuan." Surti kemudian pergi.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa yang akan Surti dan Bi Suri pikirkan tentang aku? Di mata mereka, aku adalah istri kakakmu bukan istrimu." Kania tampak marah dan bergegas keluar dari dapur. Melihat Kania yang pergi meninggalkannya membuat Ryan mengejarnya.


"Aku tahu, tapi itu tidak lama lagi karena Kak Arya cepat atau lambat pasti akan tahu tentang masa lalu kita. Aku yakin, Kak Arya pasti mengerti dan melepasmu." Ryan terlihat begitu yakin, tapi tidak dengan Kania.


"Kalaupun dia melepasku apa kamu pikir aku akan kembali padamu? Ryan, sadarlah, kita tidak mungkin bisa bersama."


Kania lantas bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di sana. Kamar itu terlihat sepi dan dia tidak menemukan Arya di kamar itu. "Kenapa dia tidak ada di sini? Apa dia ada di kamar Tania?"


Kania duduk di sisi tempat tidur dan menunggu Arya yang belum juga datang. Setengah jam berlalu, Kania masih duduk hingga pintu kamar terbuka. Melihat Arya, Kania lantas bangkit dan berjalan mendekatinya. "Apa Tania sudah tidur?" Arya mengangguk. Sekilas, dia memandangi tangan Kania yang masih memerah.


"Bagaimana dengan tanganmu? Apa masih sakit?"


Kania tersenyum dan menggeleng. "Tidak, tanganku tidak sakit. Aku baik-baik saja."


"Tidurlah, ini sudah larut malam." Arya berjalan menuju ke tempat tidur dan mengambil bantal. Di sofa, bantal itu dia letakkan. Sementara Kania masih berdiri memandanginya.


"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu katakan?" Arya duduk di sofa dan memandangi Kania yang masih berdiri di depannya.


"Maafkan aku." Kania tiba-tiba berucap maaf dengan air bening yang perlahan jatuh.


"Maafkan aku atas ketidak jujuranku padamu. Aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku takut jika itu akan membuatmu sedih. Aku ... " Kania menghapus air matanya dan mencoba menata hatinya yang kini rapuh.

__ADS_1


"Aku sudah tahu." Sontak, Kania memandangi Arya yang kini menatapnya. "Aku sudah tahu tentang kalian dan aku pikir, sebaiknya kita akhiri pernikahan kontrak ini."


Kania terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Arya. Perlahan, air matanya kembali jatuh. Matanya tak berkedip seakan ingin mencari kesungguhan di balik ucapan lelaki itu. "Apa itu yang kamu inginkan? Apa kamu ingin melepasku?"


"Aku rasa itu jalan yang terbaik. Lagipula, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tetap bersama. Ayah telah meninggal dan Tania pasti bisa melupakanmu." Arya membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil menutupi wajahnya dengan pergelangan tangannya. Rasanya, dia tidak sanggup melihat air mata di wajah Kania.


"Apa janji yang pernah kita ucapkan waktu itu tidak berarti bagimu? Apa semudah itu bagimu untuk melepasku?" Kania masih berdiri memandangi Arya yang kini tidak lagi memandanginya.


"Tidurlah, secepatnya aku akan menyiapkan surat perceraian kita." Perlahan, Arya menitikkan air mata saat mengucapkan kalimat itu. Rasanya, begitu berat untuk dia ucapkan, tapi dia harus bisa mengontrol perasaannya. Dia tidak ingin egois karena rasa sayang pada adiknya lebih membuatnya memilih untuk melepaskan Kania.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, aku akan ikuti. Sepertinya, aku memang sudah harus pergi dari sini. Padahal, aku berharap kamu bisa menahanku karena aku tidak ingin meninggalkanmu dan juga Tania." Kania menghapus air matanya dan hanya memandangi Arya yang masih tak mempedulikannya.


"Besok, aku akan meninggalkan rumah ini. Terima kasih atas apa yang sudah kamu berikan untukku. Aku ... " Kania kembali menitikkan air mata. Rasanya begitu berat untuk meninggalkan lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta. "Aku mencintaimu." Kania lantas pergi meninggalkan kamar itu, sementara Arya menangis dalam diam.


Perlahan, Arya bangkit dan duduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya bagaikan teriris saat mendengar Kania mengungkapkan rasa cintanya. Di balik kesedihan yang kini dia rasakan, ada seberkas rasa yang tidak mampu dia artikan. Ucapan cinta Kania bagaikan sebuah fatamorgana yang hanya bisa menyejukan dalam sesaat dan setelah itu menguap tak bersisa.


Sambil menangis, Kania berjalan menuju ke kamar Tania. Di sana, dia menangis sendirian tanpa suara. Rasanya, malam itu dia ingin segera pergi karena dia tidak sanggup menanggung perpisahan dengan keluarga kecil yang sangat berarti baginya. Dia tidak sanggup jika melihat Tania yang akan menangis saat melihat kepergiaannya.


Di sudut kamar, Kania menangis. Tangisannya begitu memilukan hingga membuat Arya yang berdiri di balik pintu hanya bisa diam terpaku. Ingin rasanya dia memeluk Kania dan memintanya untuk tetap tinggal, tapi dia tidak sanggup karena itu akan membuat Ryan terluka dan kecewa.


"Mama kenapa ada di sini?" Tania terkejut saat melihat Kania duduk menatap ke arahnya.


"Mama hanya ingin di sini bersama Tania. Boleh, kan?"


Gadis kecil itu tersenyum dan mengangguk. Bahkan, dengan manjanya, Tania berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Kania. Dengan lembut, Kania membelai rambut gadis kecil itu hingga tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. "Tania bisa bantu Mama?"


"Bantu apa, Ma?"


"Tania bisa kan menjaga papa? Mama ingin Tania selalu ada bersama papa dan tidak membantah apa kata papa."


Gadis kecil itu lantas duduk dan menatap ke arah Kania. "Iya, Ma. Tania akan ikuti kata Mama. Tania akan selalu ada buat papa, tapi Mama tidak akan meninggalkan Tania dan papa, kan?"

__ADS_1


Kania tersenyum di balik tangis yang coba dia tahan. "Mama akan pergi, tapi tidak akan lama. Mama pasti akan kembali buat Tania dan papa. Tania tidak marah sama Mama, kan?"


Gadis kecil itu lantas memeluk Kania dan menangis dalam pelukannya. "Aku akan menunggun Mama. Aku dan papa akan menunggu Mama kembali." Kania menangis sambil memeluk Tania yang kini menangis dalam pelukannya. Sungguh, rasanya begitu berat untuk berpisah dengan Tania yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri, tapi dia tetap harus pergi.


Pagi itu, Kania melakukan tugasnya seperti biasa. Sejak semalam, Kania sudah membereskan barang-barangnya. Tas hitam yang tidak terlalu besar sudah dia siapkan di dalam kamar Tania. Hanya beberapa lembar baju yang akan dia bawa. Dan dia sudah bertekad untuk pergi meninggalkan semua kenangan di rumah itu dan dia sudah mengambil keputusan untuk tidak menerima Ryan karena sudah tidak ada lagi rasa cinta padanya. Rasa cinta yang dulu pernah ada, kini telah menguap tanpa bekas katena cinta itu telah dia sematkan untuk Arya walau lelaki itu telah melepaskannya.


Di meja makan, Kania masih duduk menemani mereka sarapan. Suasana begitu hening hingga tiba-tiba Tania menangis dan berjalan menuju ayahnya. Melihat putrinya menangis, Arya kemudian menggendongnya. "Ada apa? Kenapa Tania menangis?"


"Tania tidak ingin Mama pergi. Tania tidak mau Mama pergi." Tania menangis dalam pelukan Arya hingga membuat lelaki itu memeluknya dengan erat.


Ryan yang melihat Tania menangis karena takut ditinggalkan oleh Kania, membuat pemuda itu menatap ke arah Kania. "Apa maksudmu kamu akan pergi? Apa kamu berniat meninggalkan rumah ini?"


Kania lantas bangkit dan bergegas menuju ke kamar, tapi Ryan segera berdiri di depan gadis itu. "Apa kamu ingin pergi meninggalkan rumah ini? Apa kamu juga ingin meninggalkanku?" Tatapan Ryan begitu tajam hingga Kania mengalihkan pandangannya.


"Ya, aku akan meninggalkan rumah ini dan juga mereka. Apa sekarang kamu puas? Kamu terlalu egois dan hanya memikirkan dirimu sendiri. Aku adalah masa lalumu dan aku tidak ingin menjadi masa depanmu karena aku ... " Kania terdiam dan tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia hanya bisa menangis dan bergegas meninggalkan Ryan yang diam tanpa mengucapkan sepatah kata.


Melihat pertengkaran mereka, Arya mencoba untuk menengahi. Arya mengikuti Kania yang berjalan menuju ke kamar Tania. Di sana, Arya mencoba untuk membujuk Kania. "Kania, aku mohon, tolong pikirkan lagi. Ryan sangat mencintaimu dan dia tidak bisa hidup tanpamu. Aku dan Tania akan baik-baik saja, tapi tidak bagi Ryan karena dia begitu mencintaimu."


"Apa karena dia kamu rela mengesampingkan perasaanmu? Lantas, bagaimana dengan aku? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?"


"Aku tahu itu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku hanya ingin melihat dia bahagia dan kebahagiaannya itu adalah kamu. Aku tahu bagaimana dia mencintaimu sejak dulu. Aku tahu bagaimana dia begitu membanggakanmu di depanku. Andai dari awal aku tahu kamu adalah Kania yang dicintai adikku, aku tidak akan pernah memintamu untuk melakukan pernikahan ini. Selama ini, aku telah menyakitinya dan aku ingin menunaikan janjiku pada ayah untuk selalu menjaga dan membuat dia bahagia. Aku harap kamu mengerti dengan posisiku saat ini." Arya menangis dalam setiap kata yang dia ucapkan. Antara cintanya pada Kania dan rasa sayangnya pada Ryan membuat dia harus bisa memilih dan dia memilih untuk melepaskan cinta Kania dan membahagiakan adiknya.


Mendengar penuturan Arya membuat Kania tak mampu lagi untuk berkata. Rasanya, percuma jika dia masih mengharapkan lelaki itu karena memang cintanya sudah tidak bisa lagi untuk dipertahankan. "Jika itu yang kamu inginkan, maka segera ceraikan aku dan aku akan pergi dari rumah ini. Aku harap, kamu tidak akan pernah menyesal dengan keputusanmu ini. Jika kamu ingin aku bersamanya, baiklah, aku akan membantumu untuk mewujudkan keinginanmu itu. Aku akan bersamanya dan aku akan melupakan semua kenangan tentang kita. Aku harap, kamu dan Tania akan mendapatkan kebahagiaan." Kania menghapus air matanya dan mencoba menerima keputusan Arya.


"Sebaiknya kita temui Ryan, dan jelaskan padanya bahwa pernikahan ini telah berakhir. Setelah itu, aku akan meninggalkan rumah ini." Kania lantas bergegas meninggalkan kamar dan diikuti oleh Arya di belakangnya. Kini, mereka bertiga telah duduk bersama. Surat perjanjian pernikahan kontrak, ada di tangan Arya. Lembaran kertas itu lantas dirobeknya.


"Mulai hari ini, Kania tidak terikat dalam kontrak pernikahan lagi. Kakak akan segera mengurus surat perceraian. Alasan kami menikah waktu itu karena tidak ingin membuat ayah kecewa. Karena itu, Kakak meminta Kania untuk menikah kontrak dan tidak ada sama sekali rasa cinta di antara kami. Ryan, Kakak ..."


"Terima kasih, Kak, terima kasih." Ryan menggenggam tangan Arya seraya mengucapkan terima kasih. Dia tahu, kakaknya itu tidak akan mengecewakannya. "Maafkan aku, Kak, karena aku masih mencintai Kania. Awalnya, aku ingin memisahkan Kakak dengan Kania, tapi saat aku tahu alasan Kania meninggalkanku dulu, aku mengurungkan niatku dan memilih kembali ke Amerika, tapi saat aku tahu kalau kalian menikah kontrak, aku memilih untuk tetap di sini dan berharap Kania akan kembali padaku karena aku masih mencintainya."


Arya tersenyum mendengar ucapan adiknya itu walau sebenarnya hatinya begitu sakit karena terpaksa harus melepas Kania untuk pergi.

__ADS_1


"Baiklah, karena aku sudah tidak punya keperluan apa-apa lagi di sini, maka aku akan pergi." Kania lantas bangkit menuju ke kamar dan mengambil tasnya. Di dalam kamar, Kania melihat sekeliling kamar itu dan kembali dia menangis mengingat semua kenangannya bersama Arya di kamar itu.


"Maafkan aku." Tiba-tiba Arya berdiri di belakangnya. Kania bisa melihat air mata lelaki itu yang jatuh membasahi pipinya. Ada rasa kecewa yang tiba-tiba mencuat di hati Kania pada lelaki itu, tapi Kania tidak bisa membencinya karena rasa cintanya sudah terlalu besar dan dia harus bisa membuang rasa cinta itu karena dia sadar mereka tidak akan pernah untuk bisa bersatu.


__ADS_2