Cinta Kania

Cinta Kania
Part 33


__ADS_3

"Sebaiknya aku harus kembali." Sudah sejam Kania dan Ryan duduk bersama di balai bambu itu dan Kania memutuskan untuk segera kembali. Ryan tak menolak, bahkan dia membiarkan Kania perlahan pergi meninggalkannya yang sementara masih memandangi deburan ombak.


Hari yang mulai beranjak siang membuat Kania buru-buru untuk pulang. Apalagi, Arya akan pulang untuk makan siang. Sejak ada Kania, Arya lebih memilih menghabiskan waktu makan siangnya di rumah. Sama seperti yang biasa dia lakukan saat mendiang istrinya masih ada.


Di dalam taxi, Kania duduk dan mengingat kembali kebersamaannya tadi bersama Ryan. Setidaknya, dia tidak akan lagi dibenci oleh pemuda itu. Dan Ryan sendiri mulai mencoba untuk menerima kenyataan kalau wanita yang pernah dicintai dan pernah dibencinya, kini sudah menjadi iparnya sendiri. Ryan sudah memutuskan untuk kembali ke Amerika dan melupakan tentang gadis itu.


Di depan halaman rumah, Kania mempercepat langkah kakinya. Hingga langkahnya terhenti saat melihat Arya berdiri di depan pintu rumah. "Maaf, aku terlambat." Kania menundukkan wajahnya saat melihat Arya menatap ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan? Ayo, masuk." Arya berjalan mendekatinya dan meraih tangannya. Kania mengangkat wajahnya dan dia terkejut saat melihat Bastian dan Selly sudah berdiri di depannya. "Kalian?"


Bastian dan Selly mengangguk hampir bersamaan. "Kanapa terkejut melihat kami?" Bastian tersenyum. Begitupun dengan Selly yang sementara menggenggam tangan Tania yang berdiri di sampingnya.


"Ada apa kalian datang kemari? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Kania sambil duduk.


Bastian berjalan mendekatinya dengan sebuah kotak yang ada di tangannya. Kotak itu lantas diletakkannya di atas meja. "Selamat ulang tahun." Bastian lantas membuka kotak itu dan ternyata itu adalah sebuah kue ulang tahun.


Kue ulang tahun itu terlihat sederhana dengan hiasan coklat di setiap sudutnya. Kania tersenyum hingga membuatnya menitikkan air mata. "Sampaikan rasa terima kasihku untuk ibumu. Dia tidak pernah lupa saat ulang tahunku dan selalu saja membuat kue ulang tahun untukku." Kania menghapus air matanya saat menginggat kebaikan dan perhatian dari wanita itu. Melihat Bastian yang memberikannya kue ulang tahun, Kania langsung tahu kalau kue itu adalah buatan ibu dari sahabat baiknya itu.


Setiap ulang tahunnya, wanita itu sering membuatkan kue ulang tahun untuk Kania. Baginya, Kania tak hanya sebatas sahabat dari putranya, tapi juga sebagai putrinya.


"Ayo, Ma. Potong kuenya." Tania tampak antusias saat melihat kue ulang tahun itu.


"Anak Mama sudah makan siang apa belum?" tanya Kania pada gadis kecil itu.


"Belum, Ma."


"Kalau begitu, kuenya Mama simpan dulu dan sebaiknya kita makan siang, setelah itu baru Mama potong kuenya. Tidak apa-apa, kan?"


"Iya, Ma." Tania mengangguk dan menutup kue itu kembali.


"Kamu juga pasti belum makan siang. Iya, kan?" tanya Kania pada Arya. Lelaki itu tersenyum sambil mengangguk.


"Sebaiknya kita makan siang dulu. Aku akan meminta Bi Suri menyiapkan makanan. Tunggu sebentar, ya." Kania lantas menuju dapur dan diikuti oleh Selly. Kedua wanita itu tampak kompak hingga membuat Arya dan Bastian menatap ke arah mereka.


Suara deru sepeda motor terdengar di halaman rumah. Ryan yang baru saja tiba lantas mendekati sang kakak sambil menyerahkan sekotak kue padanya. "Ini kue pesanan Kakak."


"Terima kasih, ya." Ryan mengangguk dan bergegas masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian, dia keluar dan duduk menemani sang kakak.

__ADS_1


"Kamu dari mana?" tanya Arya saat adiknya itu duduk di sampingnya.


"Aku baru saja bertemu teman lama. Kebetulan hari ini dia ulang tahun, jadi aku mengajaknya untuk makan siang, tapi dia tidak bisa karena pacarnya sudah menunggunya." Ryan menatap ke arah Bastian yang duduk di depannya. Dan Bastian menyadari ucapan Ryan sengaja ditujukan padanya.


"Kue ulang tahun yang Kakak pesan untuk siapa, Kak? Perasaan, di keluarga kita tidak ada yang ulang tahun hari ini?" tanya Ryan yang pura-pura tidak tahu apa-apa.


"Ini untuk kakak iparmu. Hari ini, dia ulang tahun."


Mendengar ucapan kakaknya itu, Ryan tersenyum sambil melirik ke arah Kania yang sementara menyiapkan makanan di atas meja makan. "Oh, kakak iparku toh yang ulang tahun." Ryan lantas berdiri dan berjalan ke arah Kania. "Selamat ulang tahun kakak ipar." Ryan mengucapkan kalimat itu dengan senyum yang terpancar dari sudut bibirnya. Kania hanya membalasnya sambil tersenyum. "Terima kasih."


Sontak, sikap pemuda itu membuat Bastian dan Selly melihat ke arahnya. Melihat sikap Kania yang menanggapi Ryan dengan biasa saja, membuat Bastian menjadi heran. "Ada apa dengan mereka berdua?"


Walau heran, Bastian tidak bisa berbuat apa-apa, selain melihat tingkah Ryan yang tampak biasa saja. Hingga makan siang pun selesai, Ryan masih bersikap seolah dia dan Kania selayaknya kakak dan adik ipar.


"Kakak, mana ayah?" tanya Ryan yang sedari tadi tidak melihat ayahnya itu.


"Ayah masih di rumah temannya. Katanya, sebentar sore baru pulang."


Sementara di rumah sakit, Wicaksana terlihat berbaring di ruang periksa. Lelaki paruh baya itu tampak diperiksa oleh seorang dokter.


"Bagaimana kondisiku? Aku masih bisa bertahan berapa lama?" tanya Wicaksana pada dokter itu.


"Sudahlah, Fahri. Katakan saja, aku akan mendengarnya." Wicaksana perlahan duduk dan menatap sahabatnya itu.


Dokter Fahri adalah dokter sekaligus sahabatnya yang selama ini memantau kondisinya. Dengan alasan berkunjung ke rumah sahabat, Wicaksana ternyata pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi kesehatannya itu.


Melihat kondisi Wicaksana, dokter yang akrab disapa dokter Fahri itu hanya bisa menenangkan sahabatnya itu. "Jangan terlalu banyak pikiran dan bersikaplah optimis. Walau analisa kedokteran mengatakan umurmu sudah tidak lama lagi, tapi analisa dari Yang Maha Kuasa bisa lebih atau kurang dari itu. Bang, tetaplah bahagia dan hiduplah dengan semangat, dengan begitu aku yakin bisa sedikit memperpanjang usiamu." Wicaksana tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih, aku akan ingat ucapanmu itu. Ah, aku masih ingin hidup lebih lama lagi dengan kedua anakku, menantu dan juga cucuku. Aku masih ingin melihat menantuku memberikanku seorang cucu lagi dan putra bungsuku menikah." Wicaksana tersenyum sambil membayangkan jika Kania bisa memberikannya seorang cucu dan Ryan yang akan menikah. Dengan begitu, dia bisa meninggalkan mereka dengan tenang.


Sebelum dia mati, dia ingin melihat keluarganya bahagia dengan pasangan mereka. Dia ingin menimang cucu-cucunya agar saat dia bertemu istrinya nanti, dia bisa mengangkat kepalanya dan mengatakan kalau dia telah berhasil menjaga anak-anak mereka. Perlahan, Wicaksana menitikan air mata.


"Bang, optimislah dan tetaplah semangat." Dokter Fahri terlihat memberikan semangat untuknya. Wicaksana mengangguk dan menghapus air matanya.


Menjelang sore, Wicaksana kembali ke rumah. Wajahnya tampak pucat saat memasuki pintu rumah. Kania yang melihat kedatangannya, perlahan mendekatinya. "Ayah kenapa? Apa Ayah sakit?" tanya Kania sambil meraih tangan lelaki paruh baya itu dan mengajaknya untuk duduk.


"Ayah tidak apa-apa." Wicaksana berbohong, tapi Kania tidak begitu saja percaya.

__ADS_1


Melihat kondisi Wicaksana yang tampak lelah, Kania akhirnya pergi ke dapur dan menyiapkan air madu hangat untuknya. "Minumlah, Yah." Kania memberikannya segelas air madu hangat. Dengan tersenyum, Wicaksana menerimanya dan segera meneguknya. "Terima kasih, Nak."


"Ayah sebaiknya istirahat saja dulu. Ayo, aku antar Ayah ke kamar." Baru saja Kania ingin meraih tangan ayah mertuanya itu, tiba-tiba Ryan muncul di depannya.


"Ayah kenapa?"


"Sudahlah, kalian berdua jangan terlihat panik begitu. Ayah tidak apa-apa, kok. Ini sudah biasa bagi orang yang sudah tua seperti Ayah." Wicaksana perlahan berdiri, tapi kakinya seakan tidak kuat menopang tubuhnya sendiri hingga hampir membuatnya terjatuh.


"Ayah," ucap Kania dan Ryan hampir bersamaan. Tangan Kania tak sengaja disentuh oleh Ryan karena panik melihat ayahnya yang hampir saja terjatuh. Tangan pemuda itu menyentuh pundak sang ayah yang juga dipegang oleh Kania. Sontak, Kania melepaskan tangannya dari pundak Wicaksana.


"Sebaiknya, Ayah istirahat saja di kamar." Ryan lantas menuntun ayahnya ke dalam kamar, sementara Kania hanya bisa memandangi mereka.


Melihat kondisi Wicaksana, Kania menjadi khawatir. Wajah renta lelaki itu tampak lelah dan lemah. Wajahnya tak hanya pucat, tapi juga terlihat semakin kurus.


Di dalam kamar, Ryan menemani sang ayah yang sementara berbaring. Wicaksana menatap wajah putra bungsunya itu hingga tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata.


"Ayah kenapa menangis?" tanya Ryan yang perlahan duduk di samping tempat tidur.


"Menikahlah, Nak. Ayah ingin kamu secepatnya menikah." Ucapan sang ayah membuat Ryan hanya bisa tersenyum getir.


"Ayah, ada apa? Kenapa Ayah tiba-tiba memintaku untuk menikah?"


Wicaksana tersenyum sambil membelai wajah putranya itu. "Apa salah jika orang tua meminta anaknya yang sudah dewasa untuk segera menikah? Ryan, menikahlah dan bangunlah rumah tangga yang bahagia seperti kakakmu itu. Ayah sangat bersyukur karena kakakmu itu akhirnya bisa menikah dan melupakan rasa sedihnya karena kehilangan mendiang istrinya. Ayah tak pernah melihat kegembiraan di wajah kakakmu selepas kepergian Rani, tapi kehadiran Kania ternyata bisa membuat kakakmu itu bahagia."


"Apa Ayah bahagia dengan kehadiran kakak ipar di tengah keluarga kita?"


Wicaksana kemudian duduk dan bersandar di tempat tidurnya. "Kania itu wanita yang baik hati. Kakakmu sudah menceritakan tentang kakak iparmu itu pada Ayah. Kania itu gadis yatim piatu. Masa lalu Kania membuat Ayah kasihan padanya." Ryan mendengar dengan seksama tiap kata yang diucapkan ayahnya itu.


"Memangnya, masa lalu seperti apa hingga membuat Ayah kasihan pada kakak ipar?"


"Orang tua Kania dulu adalah orang yang mampu. Hingga akhirnya, suatu hari ayahnya ditipu oleh sahabatnya sendiri hingga membuat mereka bangkrut. Sejak saat itu, Kania memutuskan untuk berhenti kuliah dan membantu perekonomian keluarga sembari membayar hutang ayahnya yang mulai terjebak judi dan mabuk-mabukan. Belum lagi dengan penyiksaan yang dia dan ibunya dapatkan dari ayahnya hingga membuat ibunya membunuh ayahnya. Belum lama ini, Kania kehilangan ibunya karena menderita leukimia. Kakakmu sengaja menceritakan perjalanan hidup kakak iparmu itu pada Ayah agar Ayah tidak mengetahuinya dari orang lain hingga bisa membuat Ayah kecewa. Namun, Ayah sama sekali tidak marah atau kecewa dengan pilihan kakakmu itu karena Ayah yakin dia bisa membuat kakakmu itu bahagia. Kakakmu itu menikahinya karena Kania menyayangi Tania dan Tania pun sangat menyayanginya. Ayah sangat berharap, mereka selamanya akan bahagia."


Setiap kata yang dilontarkan Wicaksana membuat hati pemuda itu bergemuruh. Semua yang dia tahu tentang Kania ternyata hanya separuhnya saja karena dia memang tidak tahu apa-apa tengang Kania. Dengan menahan air mata, Ryan meninggalkan ayahnya dan melangkah keluar dari dalam kamar. Tatapan matanya liar mencari-cari sosok Kania. Hingga pandangan matanya tertuju pada gadis itu yang baru saja keluar dari kamar Tania.


Melihatnya, Ryan segera bergegas mendekatinya. Tanpa berkata apapun, Ryan lantas meraih tangan gadis itu dan membawanya ke halaman belakang. Kania yang berusaha menolak, tak bisa berbuat apa-apa karena tangan pemuda itu menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. Hingga tiba di halaman belakang, Kania melihat wajah pemuda itu yang telah basah dengan air mata.


"Ryan, ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu pada ayah?" tanya Kania yang berpikir telah terjadi sesuatu pada ayah mertuanya itu.

__ADS_1


"Jelaskan padaku kejadian empat tahun yang lalu. Jelaskan padaku tentang hubungan kita dan kenapa kamu tidak berterus terang padaku. Kania, tolong jelaskan semuanya padaku!!" Sorot mata Ryan terlihat begitu tajam hingga menghujam sanubari Kania.


Dia terkejut mendengar setiap pertanyaan Ryan hingga membuatnya ingin meninggalkan pemuda itu, tapi langkahnya terhenti saat tangannya diraih oleh Ryan, dan sekali lagi Kania luluh saat melihat wajah pemuda itu yang mengiba di depannya. "Kania, apakah aku tidak pantas untuk mengetahui masalahmu hingga membuatmu tega menyakitiku?" Sontak, Kania terhenyak dengan bulir air bening yang perlahan jatuh membasahi wajahnya.


__ADS_2