
Kania masih duduk menatapi Tania yang sementara tertidur. Melihat wajah polos gadis kecil itu membuat Kania tersenyum. "Ternyata, kita berdua memiliki kerinduan yang sama. Aku merindukan pelukan ibuku yang sudah beberapa tahun tak bisa memelukku dan kamu tak bisa merasakan pelukan ibumu karena Tuhan lebih menyayanginya dan mengambilnya darimu. Beruntung kamu masih mempunyai ayah yang sangat menyayangimu, tidak seperti aku yang harus melihat ayahku mati di depanku."
Wajahnya terlihat sedih, namun melihat Tania di depannya, Kania berusaha terlihat tegar. "Aku harap kamu selalu bahagia walau tanpa ibumu di sampingmu."
Tiba-tiba saja Tania membuka matanya dan pandangannya langsung tertuju pada Kania. "Mama." Panggil gadis kecil itu sambil merangkak ke arahnya.
"Kamu sudah bangun?" Gadis kecil itu mengangguk dan duduk di pangkuan Kania sambil mengucek matanya
"Tante itu sudah pergi?" tanya gadis kecil itu sembari memeluk Kania.
"Sudah, Tania tidak usah takut lagi, kan ada Papa." Gadis kecil itu kembali mengangguk dan memeluk Kania.
Karena sudah jam makan siang, Kania membawa gadis kecil itu ke ruang makan setelah membersihkan wajah mungilnya itu di kamar mandi.
"Papa." Panggil Tania saat melihat ayahnya berjalan ke arahnya.
"Kita makan siang, yuk." Tania yang sudah ada di dalam gendongan ayahnya mengangguk.
Di meja makan, mereka bertiga duduk selayaknya sebuah keluarga. Kania yang begitu perhatian dan telaten mulai menyuapi Tania. Arya hanya memperhatikan mereka sambil tersenyum, karena putrinya itu terlihat menikmati makanannya. Padahal, putrinya itu sangat sulit jika diberi makan. Bi Suri, bahkan kewalahan dibuatnya. Namun, di depan Kania, Tania begitu penurut hingga makanan di atas piring habis disantap olehnya.
"Sebaiknya kamu makan saja dulu, biar Tania aku yang urus." Arya kemudian mengajak putrinya itu ke ruang tengah dan meninggalkan Kania untuk makan siang.
Kania lantas menyendok beberapa lauk di piringnya dan bergegas ke dapur karena Bi Suri sedang makan di sana. "Aku temani makan, ya, Bi?" Kania tersenyum sambil duduk di dekat wanita paruh baya itu yang sedang menyantap makan siangnya.
"Kenapa Nona makan di sini? Kalau dilihat sama Tuan Arya, nanti Bibi bisa dimarahi." Wanita itu tampak khawatir sambil sesekali melirik ke arah pintu.
"Tidak apa-apa kok, Bi. Lagipula, Papanya Tania sedang main sama Tania di ruang tengah." Kania memasukan nasi ke mulutnya dan mulai mengunyahnya.
"Jadi, Non yang menemukan Tania di mall?" Kania mengangguk.
"Bibi tidak habis pikir, kok Non Rina bisa kehilangan Tania di mall. Padahal, Tania itu bukan anak yang nakal dan suka jalan sendiri. Apa jangan-jangan ... "
"Jangan-jangan apa, Bi. Lagipula, Rina itukan tantenya. Mana mungkin tantenya bisa berbuat hal seperti itu pada keponakannya sendiri." Sanggah Kania yang mengerti dengan arah pembicaraan wanita itu.
"Bi, memangnya Pak Arya tidak ingin menikah lagi agar istrinya itu nantinya bisa menjaga dan merawat Tania?"
Pertanyaan Kania sontak membuat raut wajahnya berubah. "Tuan Arya sangat mencintai istrinya dan dia tidak ingin mencari sembarang wanita untuk dijadikan istri, karena dia tidak ingin Tania disakiti oleh siapapun, termasuk istrinya kelak."
Mendengar penjelasan wanita itu, Kania paham dengan apa yang dilakukan Arya dan dia mengagumi pendirian lelaki itu.
"Bi, aku titip Tania, ya. Sebentar malam, setelah dia tidur, aku harus meninggalkan rumah ini karena pekerjaanku untuk menjaganya sudah berakhir. Aku harus kembali lagi dengan pekerjaanku yang lain."
__ADS_1
"Kenapa Non tidak bekerja saja di sini menjaga Tania? Sepertinya, Tania sangat menyukai Non."
Kania tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Walau di dalam hatinya, dia tidak ingin meninggalkan Tania dan ingin terus berada di dekatnya, tapi situasinya saat ini tidak memungkinkan karena dia harus mencari uang untuk pengobatan ibunya. Dan juga, dia tidak ingin terlihat mengemis pekerjaan di depan Arya, karena dia takut mereka akan mengira dia mengambil kesempatan dari kedekatannya dengan Tania.
Selesai makan, Kania membantu Bi Suri untuk membersihkan dapur. Rupanya, gadis itu cukup lihai dalam membersihkan rumah, nyatanya, Bi Suri cukup puas dengan hasil kerjanya.
Tania yang tidak melihat Kania di dekatnya mulai terlihat panik. Gadis kecil itu berlari ke kamarnya untuk mencari Kania, tapi tak ditemukannya. Sambil menahan tangis, dia mencari ke halaman, tapi lagi-lagi dia harus kecewa.
"Tania kenapa sedih?" Arya mendekatinya seraya memeluknya.
"Mama mana, Pa?" tanya Tania yang perlahan menitikan air mata.
"Mama?" Arya kembali bertanya.
"Mama di sini." Ayah dan anak itu dengan kompak melihat ke arah suara itu dan melihat Kania yang berjalan ke arah mereka.
Melihat Kania, gadis kecil itu kemudian berlari ke arahnya dan memeluknya. Kania tersenyum saat melihat gadis kecil itu mendekapnya. Dengan lembut, Kania mengelus punggungnya dan mengajaknya duduk di halaman. Di taman yang cukup luas itu, Tania bermain dan Kania duduk di bangku sambil memperhatikannya.
Arya yang melihat kedekatan mereka rupanya tak ingin ketinggalan. Lelaki itu kemudian duduk di samping Kania yang sementara duduk memperhatikan putrinya itu. "Terima kasih, karena dirimu, aku bisa melihat senyum di wajah putriku lagi."
Kania tersenyum dan memandangi lelaki itu. "Aku ingin minta maaf, karena tanpa persetujuan darimu aku membiarkan Tania memanggilku mama. Aku tidak bermaksud seperti itu, karena itu spontan aku ucapkan. Aku minta maaf, jika itu mengganggumu."
"Itu tidak masalah bagiku, lagipula Tania yang memanggilmu seperti itu. Sepertinya, aku yang harus meminta maaf, karena membuatmu tidak nyaman."
"Papa juga menyayangimu, Nak." Arya menangis karena melihat putrinya itu yang ternyata sangat menginginkan kahadiran seorang ibu. Hatinya terasa sakit karena dirinya tak mampu untuk mewujudkan keinginan putrinya itu.
Kania yang melihat mereka tak kuasa menahan tangis. Sungguh, pemandangan yang kini dilihatnya terasa memilukan. Seorang anak yang tak mengenal ibunya, dengan polosnya memanggilnya mama. Sebutan yang membuat setiap wanita akan merasa bangga karena bisa memiliki buah hati dari rahimnya sendiri. Sementara dirinya, hanyalah wanita yang tidak mempunyai apa-apa. Wanita yang bahkan tak pantas untuk mendapatkan cinta dan perhatian karena hidupnya yang tragis dan penuh penderitaan.
Kania menundukan wajahnya dan menyembunyikan kesedihannya itu. Rasanya, dia begitu merindukan ibunya hingga membuatnya ingin segera bertemu dengannya. Ingin rasanya dia memeluknya dan mendengar ibunya memanggil namanya, namun itu percuma karena dirinya telah hilang dalam ingatan ibunya.
Melihat kesedihan di wajah Kania, membuat Arya tak bisa berbuat apa-apa. Tania, yang melihat "ibunya" menangis, perlahan mendekatinya dan menghapus air mata di wajah Kania. "Mama jangan menangis, kalau Mama menangis nanti Tania ikut menangis." Tangan mungil itu dengan lembut menyeka air mata di pipi Kania. Melihatnya, Kania mengangguk dan mendekap tubuh mungil itu sambil menangis sesenggukan.
"Mama sayang sama kamu," ucap Kania tulus, karena itu adalah kenyataannya. Kania mulai menyayangi gadis kecil itu karena melihatnya, Kania seperti melihat cerminan dirinya sendiri yang begitu mengharapkan pelukan dari seorang ibu.
Hari itu adalah hari yang begitu membahagiakan sekaligus menyedihkan bagi Kania. Dia begitu bahagia, karena selama sehari, gadis kecil itu memanggilnya mama dan dia begitu menikmati setiap momen kebersamaan mereka. Dan, kesedihan kini melanda hatinya karena dia harus pergi meninggalkan gadis kecil itu. Meninggalkan tawa dan canda, tangisan dan air mata yang sudah tercipta di rumah itu. Ya, hanya sehari dia merasakan kebahagiaan itu dan kini tiba saatnya untuk dia pergi.
Di tempat tidur, Kania berbaring sambil memeluk Tania yang perlahan mulai memejamkan matanya. Gadis kecil itu ingin tidur di temani olehnya. Kania tidak menolak, bahkan dengan senang hati dia menuruti keinginannya. Sesekali, Kania mengecup lembut dahi gadis kecil itu sembari mengelus lembut pipinya. Teriring sebait doa agar gadis kecil itu selalu bahagia bersama seseorang yang menyayanginya tulus tanpa noda.
Kania bangkit dari tempat tidur saat melihat Tania sudah tertidur pulas. Dengan menahan air mata, Kania menggenggam tangannya dan mengecupnya. "Mama doakan agar kamu selalu bahagia. Mungkin, kita tidak akan bertemu lagi karena Mama harus pergi. Hanya doa yang bisa Mama berikan padamu, semoga kamu dan juga papamu menemukan kebahagiaan." Kania kembali mengecup dahi Tania dan melangkah meninggalkan kamar itu.
Di ruang tengah, Arya tampak gelisah menunggu Kania yang belum juga keluar dari kamar putrinya. Entah mengapa, dia tidak ingin Kania pergi, tapi dia tidak punya hak untuk tetap menahannya.
__ADS_1
"Apa dia sudah tidur?" Arya memandangi Kania yang berjalan ke arahnya dengan mata yang terlihat sembab.
"Sudah, Tania sudah tidur." Kania menjawab dengan wajah yang menunduk, seakan dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan lelaki itu.
"Apa kamu sudah ingin pergi?" Kania mengangguk, tapi anggukannya itu terlihat dipaksakan.
"Terima kasih, karena hari ini kamu sudah membuat Tania bahagia." Arya mengucapkan dengan tulus dan Kania hanya mengangguk tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
Sesaat, suasana menjadi hening. Mereka tak lagi berkata-kata dan hanya menahan rasa yang tak bisa mereka ungkapkan. Kania, seakan enggan untuk pergi, namun dia tetap harus pergi. Sementara Arya, tak menginginkan kepergian wanita itu, tapi dia tidak bisa menahan karena sudah waktunya untuk dia pergi.
"Sebaiknya aku pergi sebelum Tania terbangun." Kania kemudian keluar terburu-buru seakan dia takut hatinya akan berubah.
"Baiklah." Arya menjawab tanpa tahu apa lagi yang harus dikatakannya. Di depan pintu, dia hanya bisa melihat kepergian Kania yang berlari pelan sambil menutupi tangisannya.
"Apa aku harus membiarkannya pergi? Kania, tidak bisakah kamu tetap tinggal di sini dan menjadi ibu bagi anakku? Setidaknya, biarkan anakku merasakan perhatian dan kasih sayangmu, tak lebih. Hanya itu yang aku minta." Ucapan itu terlontar tanpa dia sadari hingga membuatnya tersadar dan bergegas keluar rumah dan mengejar Kania yang sudah menghilang di ujung jalan.
Tanpa putus asa, Arya menyusuri jalan yang terlihat lengang. Diraihnya ponsel di sakunya dan berniat menghubungi gadis itu, tapi niatnya itu tiba-tiba runtuh saat melihat Kania menangis sesenggukan di pelukan seorang pria. Sontak, hatinya bagaikan teriris karena impiannya untuk membahagiakan putrinya akhirnya pupus.
Dengan perasaan kecewa, Arya kembali pulang menyusuri jalan yang masih terlihat lengang. Harapannya untuk membahagiakan putrinya, kini telah menguap dan menghilang tanpa daya. Di samping Tania, Arya berbaring sambil memeluk putrinya itu. Melihat wajah mungil di depannya, Arya menangis dan menitikan air mata. "Maafkan Papa karena tidak bisa membuatmu bahagia. Maafkan Papa karena tidak bisa menahannya untuk tetap tinggal karena dia sudah mempunyai seseorang."
Seseorang itu adalah Bastian. Sahabat yang selalu ada di saat Kania membutuhkan. Di pelukan Bastian, Kania menangis mengingat perpisahannya dengan Tania. Tanpa berkata, Bastian hanya membiarkan sahabatnya itu menangis dalam pelukannya.
Sebelum pergi, Kania menghubungi Bastian untuk menjemputnya. Rasanya, dia tidak mampu untuk berjalan seorang diri di saat hatinya tengah sedih. Dia butuh seseorang untuk tempat dia bersandar dan Bastian adalah orang yang tepat.
"Kania, ada apa?" tanya Bastian saat sahabatnya itu sudah terlihat tenang.
"Entahlah, Bas. Aku merasa kehilangan dia."
Wajah Bastian mengisyaratkan tanda tanya karena dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan sahabatnya itu.
"Dia adalah gadis kecil yang aku temukan di mall. Semalam, aku tidur di rumahnya, karena kebodohanku, aku bisa ada di sana."
Bastian semakin bingung, tapi dia tidak bertanya dan membiarkan Kania menjelaskan. "Dia ternyata tidak mempunyai ibu karena ibunya meninggal saat melahirkannya. Dan kamu tahu Bas, dia memanggilku mama." Kembali Kania menitikan air mata saat mengingat gadis kecil itu.
"Apa karena itu kamu menangis?"
Kania mengangguk. "Kami baru kenal, tapi dengan polosnya dia memanggilku mama. Dia bermain, tertawa, bahkan menangis di pangkuanku dan selalu memanggilku mama. Kamu tahu, Bas, kami berdua sama-sama merindukan seorang ibu dan dia melihat sosok ibu dalam diriku, sementara aku ... " Kania tidak mampu lagi untuk berkata, hanya air mata yang terlihat jatuh di pelupuk matanya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku tahu kamu sedih, tapi sampai kapan kamu akan terus menangis? Sebaiknya, aku mengantarmu pulang."
Kania mengangguk sambil menghapus air matanya. Sebelum pergi, dia masih sempat melihat ke arah rumah bertingkat dua itu walau yang terlihat hanya temboknya saja, itu sudah cukup baginya.
__ADS_1
Kini, dia kembali dengan kehidupannya. Kehidupan yang sulit dan penuh derita. Dia harus kembali bekerja mencari uang untuk pengobatan ibunya dan dia merasa putus asa karena semua usahanya itu tanpa hasil.
Dia harus kembali kecewa, karena apa yang dijanjikannya pada dokter, ternyata tak bisa dia tepati. Malam itu, dia kembali dengan sedikit uang yang jumlahnya pun sangat jauh dari yang dia harapkan dan akhirnya dia harus mengambil keputusan, keputusan yang bisa saja akan mengubah jalan hidupnya.