
Setelah kepergian Arya, Tania mengajak Kania menuju ke kamarnya. Gadis kecil itu tampak antusias dan mengajak Kania bermain dengannya. "Ma, kita main masak-masak, yuk?" Ajak Kania sambil mengeluarkan perlengkapan bermainnya.
Kania hanya tersenyum sambil memperhatikan gadis kecil itu yang sibuk mengatur perlengkapan mainnya. "Hari ini, kita masak apa, Ma?" tanya gadis itu sambil meletakan kuali kecil di atas kompor mainannya.
"Masak apa, ya? Terserah Tania saja, deh."
"Kalau begitu kita masak nasi goreng saja. Papa suka nasi goreng." Gadis kecil itu mulai memasak layaknya memasak sungguhan. Kania hanya tersenyum melihat tingkahnya itu.
Sementara Arya, tampak tersenyum saat mengingat tawa bahagia putri kecilnya dan itu berkat seorang wanita yang baru saja dikenalnya.
"Pagi, Pak." Sapa seorang wanita cantik yang sudah berdiri di depannya sambil tersenyum.
"Pagi, Tia." Arya membalas sapaannya. Wanita cantik itu kemudian kembali duduk di mejanya dan Arya masuk ke ruangannya.
Tas yang dibawanya diletakkan di atas meja dan diapun duduk sambil membuka berkas yang baru saja dibawa sekertarisnya itu. "Apa hari ini aku punya janji?"
"Tidak ada, Pak."
"Ya, sudah. Kamu boleh pergi."
"Baik, Pak."
Arya kemudian mengambil ponselnya dan melakukan video call dengan putrinya.
"Halo, Papa." Tania tersenyum sambil melambaikan tangan pada ayahnya itu.
"Kamu tidak nakal, kan?"
"Tidak kok, Pa."
"Anak Papa lagi main apa?"
"Aku dan Mama lagi buat nasi goreng, Pa." Gadis kecil itu mengarahkan kamera ponselnya pada Kania yang sementara mengatur piring mainan di atas meja kecil. Kania yang menyadari itu hanya bisa tersenyum.
"Boleh Papa bicara sama Kakak?"
"Boleh, Pa." Gadis kecil itu menyerahkan ponselnya pada Kania.
"Ada apa?" Kania menatap layar ponsel dan melihat wajah lelaki itu yang terlihat tampan.
"Anakku tidak buat masalah, kan?"
"Tidak, kok. Jangan khawatir, dia anak yang baik dan penurut." Kania memandangi gadis kecil itu sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Oh iya, kalau kamu perlu apa-apa minta saja sama Bi Suri."
"Baiklah." Kania mengangguk dan menyerahkan ponsel itu kembali pada Tania. Ayah dan anak itu kemudian melanjutkan percakapan mereka.
Kania mengambil ponselnya yang sementara dicharger dan menghidupkannya setelah semalam mati karena low bat. Gadis itu terkejut saat melihat 27 panggilan tak terjawab dari Bastian. Kania lantas meneleponnya. "Kania, kamu ada di mana?" Bastian tampak cemas dan sedikit berteriak pada gadis itu hingga membuat telinganya berdenging.
"Aku lagi kerja, Bas. Maaf, soalnya dari semalam ponselku mati." Kania menjelaskan. Wajahnya tampak memelas karena dimarahi sahabatnya itu.
"Semalam kamu tidur di mana?"
__ADS_1
"Tidur di tempat kerjaku." Kania spontan menjawab.
"Memangnya, kamu kerja apa dan di mana tempat kerjamu?"
Sesaat Kania terdiam karena dia bingung untuk menjelaskan pada sahabatnya itu. Tiba-tiba saja Tania datang dan memeluknya. "Ma, sebentar Papa akan pulang dan makan siang sama kita."
Di ujung telepon, Bastian dengan jelas mendengar ucapan gadis kecil itu. "Kania, apa maksudnya? Mama? Papa? Kamu sebenarnya kerja apa?" tanya Bastian bertubi-tubi hingga membuat Kania menjadi panik.
"Sudah, ya, Bas. Nanti aku akan menghubungimu lagi." Kania menutup teleponnya dan membuat Bastian semakin penasaran.
"Gadis itu, apa yang sebenarnya dia lakukan?" Bastian terlihat penasaran hingga membuatnya tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya itu.
Di dalam ruangan kerjanya, Arya kembali teringat pada Kania. Apalagi, saat gadis itu mengenakan daster yang membuatnya teringat pada istrinya. Sebuah album foto dikeluarkan dari laci mejanya. Dengan seksama, Arya membuka setiap lembar foto yang terpampang wajah istrinya itu. Terlihat, sebuah senyuman terukir di wajahnya. "Rani, aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Apakah kamu juga merindukanku?" Arya kembali membuka lembaran album itu dan melihat foto-foto Tania sejak dia masih bayi, tapi wajah istrinya tak lagi ditemukannya. Hanya dirinya yang selalu bersama Tania tanpa seorang ibu di sisi putrinya itu.
Arya menutup album foto dan diletakkan kembali di dalam laci mejanya. Dia sadar, hidup harus terus berjalan walau kehidupannya kini terasa hampa tanpa kehadiran istrinya. Hanya Tania yang membuatnya sanggup bertahan dan hanya karena Tania, dia harus bertahan hidup dalam kesendirian.
Lamunannya tiba-tiba terusik saat ponselnya berdering. Melihat nama yang terpampang di layar ponselnya membuat raut mukanya berubah. "Ada apa?"
"Mas, aku sudah di depan pintu rumahmu. Aku mau bertemu keponakanku, bisa, kan?" Rina, adik iparnya seakan tak pernah berhenti mengganggunya.
"Untuk apa lagi kamu bertemu Tania? Bukankah, aku sudah bilang untuk saat ini kamu jangan dulu menemuinya?"
"Aku minta maaf, Mas. Aku hanya ingin bertemu untuk minta maaf pada Tania."
"Itu tidak perlu, kembalilah dan untuk saat ini jangan temui Tania dulu."
"Maaf, Mas. Aku sudah di dalam rumahmu dan sedang menuju ke kamar Tania." Wanita itu menutup sambungan teleponnya.
Sontak, Arya kemudian bangkit dan bergegas meninggalkan ruangan kerjanya. "Tia, kamu urus pekerjaan hari ini, aku pulang dulu."
Arya kemudian melajukan mobilnya dan kembali ke rumah. Sikap Rina yang suka membantah membuat Arya tidak tahan dengannya. Kalau bukan karena wanita itu adalah adik iparnya, Arya tidak akan mengizinkan wanita itu dekat dengan putrinya.
Rina berjalan menuju kamar Tania sambil menenteng sebuah tas berisikan mainan. Dia ingin mengambil perhatian Tania kembali dengan mainan-mainan itu. Di dalam kamar, Tania sedang bermain dan tertawa bersama Kania. Hingga pintu kamarnya terbuka dan Rina muncul dan berdiri di depan mereka.
Melihat seorang wanita bersama keponakannya itu membuat matanya melebar. "Siapa kamu?" Rina menatapnya sambil berjalan mendekati Tania dan ingin menggendongnya, tapi gadis kecil itu menolak dan bersembunyi di belakang Kania.
"Maaf, aku hanya ..."
"Tania, sini ikut Tante. Kamu jangan dekat-dekat dengan orang yang tidak kamu kenal." Rina berusaha untuk mengambil Tania yang sementara bersembunyi di belakang Kania, namun gadis kecil itu kembali menolak hingga membuat Kania segera menggendongnya.
"Maaf, sepertinya Tania tidak ingin dekat dengan Anda." Kania berjalan keluar kamar dan berusaha menghindar dari wanita itu.
"Hei, kamu pikir kamu siapa hingga berani menjauhkanku dari keponakanku sendiri? Berikan dia padaku dan sebaiknya kamu pergi dari sini!" Rina menarik pundak Kania hingga mereka berdiri berhadapan.
"Aku memang bukan siapa-siapa, tapi setidaknya aku tidak membuatnya ketakutan. Lihat dia, dia ketakutan karena melihat Anda. Seharusnya Anda sadar kenapa Tania ketakutan seperti ini dan aku tidak bisa membiarkan dia ketakutan karena Anda."
Ucapan Kania membuat wanita itu marah besar. "Dasar perempuan tidak tahu diri! Berikan Tania padaku dan sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini!" Rina kembali berusaha untuk mengambil Tania, tapi gadis kecil itu semakin menangis dan memeluk Kania dengan erat.
"Berikan Tania padaku." Tiba-tiba saja Arya muncul dan mengambil Tania dari pelukan Kania dan berjalan meninggalkan kedua wanita itu. Rina yang merasa terabaikan lantas mengikuti Arya dari belakang.
"Mas Arya, aku ingin minta maaf pada Mas dan juga Tania. Aku tahu aku salah, karena itu aku datang untuk meminta maaf, sekaligus aku ingin mengunjungi keponakanku sendiri, apa itu salah?"
"Lebih baik kamu kembali karena Tania tidak ingin bertemu denganmu," ucap Arya yang membuat wajah Rina memerah.
__ADS_1
Melihat pertengkaran mereka, Kania memutuskan untuk membersihkan kamar dari mainan yang berserakan di lantai. Tanpa peduli dengan kedua orang itu, Kania berusaha untuk tetap tenang walau ingatan masa lalunya mulai mengganggunya.
Suara cekcok orang tuanya kembali terngiang di telinganya hingga membuatnya menutup telinganya dengan kedua tangannya. Tak terasa air matanya jatuh. Samar-samar, dia mendengar suara Tania yang menangis sambil memanggil mama. Kania lantas berdiri dan berjalan mendekati Arya dan meraih Tania dari gendongannya.
"Diamlah, Mama ada di sini." Tanpa sadar, Kania melontarkan kalimat itu hingga membuat Rina menatap ke arahnya. Tak hanya Rina, Arya yang dengan jelasnya mendengar ucapan Kania hanya bisa diam tanpa kata.
Kania lantas membawa gadis kecil itu ke halaman rumah. Sambil menggendongnya, Kania mengelus punggungnya dengan air mata yang membasahi wajahnya. "Tenanglah, Mama akan menjagamu. Jangan menangis lagi." Kania memeluk gadis kecil itu dengan erat sambil mengecup dahinya.
Arya hanya bisa menatap mereka dari dalam rumah. Entah, apa yang kini sedang dirasakannya.
"Mas bisa jelaskan siapa wanita itu?" Rina berdiri di samping Arya dan berharap mendapat penjelasan dari lelaki itu.
"Dia wanita yang sudah menemukan Tania saat kamu menghilangkannya di mall." Sontak, Rina terkejut. Pandangannya langsung tertuju ke halaman.
"Oh, jadi karena itu Mas membawanya ke rumah ini? Dan, apa maksudnya Tania memanggilnya mama? Apa wanita itu yang sudah mengajari Tania agar memanggilnya mama?"
Arya menoleh ke arahnya. "Apa kamu pikir Tania semudah itu memanggil sembarang wanita dengan sebutan mama? Kalau begitu menurutmu, kenapa Tania tidak memanggilmu mama? Dan kenapa Tania menangis dan tidak ingin dekat denganmu?" Pertanyaan Arya membuat Rina terpojok.
"Kenapa kamu tidak bisa menjawab? Kamu mengenal Tania sejak dia lahir, tapi dia tidak pernah sekalipun memanggilmu mama, tapi wanita itu baru mengenal Tania dan Tania memanggilnya mama, apa kamu tahu kenapa bisa seperti itu? Itu karena dia tulus menyayangi Tania." Ucapan Arya begitu menohok hatinya hingga membuatnya marah.
"Kenapa? Apa Mas menyukainya? Apa Mas ingin melupakan janjimu pada kakakku?"
"Aku tidak melupakan janjiku pada Rani, tapi aku akan mewujudkan janjiku pada Rani." Arya berkata tanpa keraguan sedikitpun sambil memandangi Kania yang tengah menggendong putrinya.
"Apa maksudmu, Mas? Apakah Mas menyukainya?"
"Pergilah dan jangan temui Tania dulu. Jangan membuatku kesal karena aku bisa saja tidak akan pernah membiarkanmu bertemu Tania lagi. Jadi, sebaiknya kamu pulang saja." Arya berjalan meninggalkannya dan menemui Kania di halaman. "Masuklah, bawa Tania kembali ke kamarnya." Kania mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Di depan Rina, Kania berjalan tanpa peduli padanya. Tania yang sudah tertidur dalam pelukan Kania lantas diletakkan di tempat tidurnya.
Rina yang merasa ditolak kemudian meninggalkan rumah itu tanpa mengucapkan sepatah kata. Hatinya dongkol karena lelaki yang disukainya ternyata tak menginginkannya. Walau begitu, dia takkan menyerah begitu saja. Dengan cara apapun dia harus bisa menjadi nyonya di rumah itu.
Melihat Tania yang tertidur pulas membuat Kania tersenyum. Tangannya menggenggam erat tangan mungil gadis itu sambil duduk di sampingnya.
Arya perlahan membuka pintu kamar dan melihat Kania yang duduk sambil menggenggam tangan putrinya. "Maafkan aku jika kamu harus mengalami masalah karena wanita tadi. Dia itu adik istriku dan sikapnya memang seperti itu."
"Aku tidak masalah, tapi sebaiknya kalian jangan pernah bertengkar di depan Tania. Dia masih kecil dan dia tidak pantas untuk melihat pertengkaran kalian." Kania melepaskan genggaman tangannya dan bergegas keluar meninggalkan Arya yang masih berdiri menatap putrinya.
Arya kemudian keluar setelah mengecup pipi putrinya itu. Kania terlihat duduk di bangku halaman sambil menikmati desiran angin yang perlahan berembus. Arya kemudian mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Aku tahu kita baru saling mengenal, bahkan hingga saat ini aku tidak tahu siapa namamu." Arya tersenyum kecut hingga membuat Kania melirik ke arahnya.
"Namaku Kania. Kania Wulandari." Kania mengucap spontan hingga Arya memandanginya.
"Nama kalian berdua mirip. Ah, bisa-bisa aku salah memanggil kalian." Arya tersenyum sambil menyandarkan punggungnya di bangku itu.
"Namaku Arya Wicaksana, kamu bisa memanggilku Arya." Lanjut lelaki itu.
Kania mengangguk. "Sebelumnya aku minta maaf, tapi di mana mamanya Tania? Selama aku di sini, aku tidak melihatnya?" Pertanyaan Kania membuat raut wajah Arya berubah.
"Istriku sudah meninggal. Dia meninggal saat melahirkan Tania." Jawaban Arya sontak membuat Kania terkejut. Dia tidak menyangka, Tania selama ini hidup tanpa kasih sayang dari ibunya. Tanpa sadar, Kania menitikan air mata dan segera masuk ke dalam kamar gadis kecil itu. Arya yang heran dengan sikapnya itu, lantas mengikutinya.
Di depannya, dia melihat Kania yang duduk di depan putrinya sambil menangis. Dengan lembutnya, Kania mengelus wajah mungil Tania. Tak hanya itu, Kania bahkan mencium pipi gadis kecil itu dan mengelus rambutnya. Tangan mungil Tania bahkan diletakkan di pipinya dan sesekali diciumnya.
Melihat Kania yang begitu perhatian pada putrinya membuat Arya tersentuh. Tak sekalipun putrinya itu mendapatkan perhatian seperti itu, walau dari tantenya sendiri. Walau sebenarnya, Arya pernah memiliki pemikiran untuk menikah dengan adik iparnya itu, karena dengan begitu putrinya bisa mendapatkan kasih sayang. Namun ternyata, dia harus kecewa karena adik iparnya itu tidak mampu meraih hati putrinya bahkan wanita itu terlihat tidak tulus menyayangi keponakannya sendiri.
__ADS_1
Arya berjalan keluar dari kamar itu dan masuk ke kamarnya. Di lihatnya foto pernikahannya yang terpampang di tembok kamarnya seraya tersenyum. "Rani, gadis itu begitu menyayangi putri kita. Apa itu berarti aku harus memenuhi janjiku padamu?" Air bening perlahan turun dari pelupuk matanya sambil memandangi foto istrinya yang tersenyum.