Cinta Kania

Cinta Kania
Part 17


__ADS_3

Selly terus mengikuti Kania hingga masuk ke dalam kamar dan duduk di atas tempat tidur. "Bergegaslah, aku ingin mengajakmu dan Tania pergi ke mall."


Kania memandanginya, begitupan dengan Tania. "Tania tidak mau ke mall. Tania tidak suka ke mall." Tania memilih bermain dengan mainannya dan mengacuhkan ajakan Selly.


"Kania, bantu aku untuk membujuknya. Aku hanya ingin kalian menemaniku, karena aku sudah lama tidak jalan ke mall. Aku janji, habis belanja kita langsung pulang." Selly tampak berbisik pada Kania dan berharap gadis itu mau menemaninya.


"Ya sudah, aku akan membujuknya." Seketika Selly tersenyum.


"Kalau begitu, aku tunggu kalian di luar, ya?" Selly kemudian keluar dan menunggu mereka di ruang tengah.


Tak lama kemudian, Kania keluar bersama Tania yang sudah terlihat menggemaskan. Wajah imutnya membuat Selly ingin memeluknya, tapi kembali gadis kecil itu menolak. Seketika, wajah Selly terlihat sedih. "Ayo, kita pergi," ucap Selly yang berjalan menuju halaman.


Di depan halaman, terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam yang baru saja datang. "Ayo, masuk."


Kania masuk dan duduk di belakang bersama Tania. Sementara Selly, duduk di depan di samping sopirnya. "Kita ke mall, ya, Pak."


"Baik, Bu."


Lelaki yang terlihat tak muda lagi itu kemudian berputar arah dan melaju menuju ke mall. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan pintu mall. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka bertiga keluar dan memasuki kawasan mall yang cukup besar.


Suasana mall dan keramaian tempat itu kini bisa dirasakan kembali oleh Kania. Tempat yang selalu didatanginya setiap pagi untuk bekerja rupanya masih tetap sama. Sambil menggendong Tania, Kania mengikuti Selly yang terus berjalan menuju koridor yang selalu dilewatinya di saat dia bekerja dulu.


"Kita akan beli kosmetik dulu, setelah itu kita akan membeli baju."


Kania mengangguk dan terus mengikuti Selly hingga mereka tiba di toko kosmetik yang cukup besar.


"Kania?" Kania tersenyum pada Eva yang terkejut saat melihatnya.


"Bagaimana kabarmu, Kak?" tanya Kania sembari melihat perut Eva yang sedikit mulai membesar.


"Aku baik. Kamu baik juga, kan?" Eva tampak menaham tangis, tapi melihat Kania yang baik-baik saja membuat Eva segera menghapus air matanya yang belum sempat jatuh.


"Tania cantik juga ada di sini? Ih, gemasnya." Eva tampak gemas saat melihat Tania di gendongan Kania.


"Eh-hem." Selly yang merasa diacuhkan sengaja berdehem hingga membuat Eva terkejut.


"Maaf, Bu Selly. Aku hanya terkejut karena melihat Kania."


"Oh, jadi kalian saling mengenal?" tanya Selly yang sedikit bingung.


"Iya. Kania pernah bekerja di sini, tapi dipecat oleh Bu Riska."


"Oh, jadi begitu. Dipecat karena apa?"


Belum sempat Eva menjawab, Bu Riska terlihat mendatangi mereka. "Bu Selly? Ah, lama tidak bertemu. Apa ada yang bisa aku bantu?" Bu Riska terlihat tersenyum, tapi senyumannya itu memudar saat melihat Kania berdiri di samping Selly. "Kania?" batin wanita itu.


"Kania, berhubung kamu pernah bekerja di sini, jadi aku minta rekomendasimu untuk memilihkan produk kosmetik yang menurutmu cocok untukku. Tidak masalah, kan, Bu?"


"Oh, silakan saja, aku tidak keberatan. Ayo, silakan dilihat-lihat." Bu Riska mempersilakan mereka untuk melihat-lihat. Sambil menggendong Tania, Kania tanpa ragu berjalan menuju salah satu produk kecantikan dan memilih sesuai dengan warna kulit dan jenis kulit Selly.


"Aku rasa merk ini cocok untukmu." Kania menunjuk pada merk yang cukup terkenal.


Selly tersenyum karena pilihan Kania menurutnya memang pas untuknya. "Baiklah, aku akan membelinya."


Eva lantas membawa kosmetik itu dan menaruhnya di keranjang.


"Kania, sebagai hadiahku karena kamu sudah memilih kosmetik untukku, kamu boleh memilih kosmetik yang kamu suka."


"Tidak perlu, aku tidak butuh kosmetik."

__ADS_1


"Ambillah, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti membutuhkannya. Eva, pilihkan kosmetik yang cocok buat Kania."


"Baik, Bu Selly."


Rupanya, Selly bukanlah orang baru di toko kosmetik itu. Dia adalah pelanggan tetap karena dia sering membeli kosmetiknya di toko itu.


Kania kemudian keluar dan menunggu di depan toko, sementara Selly berdiri di depan Eva untuk melakukan pembayaran. "Kalau aku boleh tahu, kenapa Kania bisa dipecat?" tanya Selly terlihat penasaran.


Mendengar pertanyaan Selly, Eva tampak melihat sekitar. "Itu karena Pak Reno memfitnah Kania. Dia menuduh Kania selalu menggodanya hingga membuat Bu Riska marah dan memecatnya. Walau begitu, kami semua tahu kalau itu tidaklah benar, karena Pak Reno sendiri yang sering menggoda Kania. Walau Bu Riska sudah meminta maaf, tapi Kania sudah tidak ingin lagi bekerja di sini," jelas Eva yang membuat Selly melirik ke arah Kania.


"Ah, tapi tak apalah. Setidaknya, saat ini dia sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Kania itu gadis yang sangat baik. Lelaki yang akan mendapatkannya kelak, pasti akan sangat bahagia." Eva terlihat begitu membanggakan sahabatnya itu. Selly hanya tersenyum sambil menerima bungkusan kosmetik yang sudah dibayarnya.


Setelah selesai berbelanja, Kania pamit pada Eva. Mereka lantas berpelukan. "Aku harap hidupmu selalu bahagia."


Kania mengangguk. "Kak Eva juga. Jaga kesehatan Kak Eva dan hubungi aku jika saat lahiran nanti. Aku ingin menggendong keponakanku."


Eva mengangguk. Setelah berpamitan, mereka kemudian menuju ke toko lainnya. Di depan sebuah toko busana yang cukup punya nama, Selly berhenti. "Bantu aku memilih baju yang cocok buatku. Baju yang bisa aku pakai saat pesta atau pertemuan untuk bisnis." Selly meminta Kania kembali memilihkan baju untuknya. Kania hanya mengangguk dan mulai memilih baju yang dirasa pas dan cocok di tubuh Selly.


"Semua baju di sini cocok untukmu. Kulitmu putih dan tubuhmu juga sangat ramping. Aku rasa, baju-baju ini mungkin cocok untukmu." Kania membawa beberapa potong baju dan Selly cukup terkejut melihat selera fashion Kania yang ternyata cukup modis dan sesuai dengan zaman.


"Mbak, baju-baju ini tolong dibungkus. Aku akan mengambil semuanya."


"Hei, di coba dulu. Kalau tidak pas di tubuhmu atau kamu tidak suka nanti, bagaimana? Kamu tidak bisa menukarnya." Kania tampak cemas karena baju-baju yang dipilihnya tak dicoba oleh Selly hingga membuatnya khawatir.


"Jangan khawatir, semua baju itu pasti pas di tubuhku dan aku juga suka dengan semua baju yang kamu pilihkan. Sekarang, kamu pilih saja baju untukmu."


"Tidak usah, aku masih punya baju, kok."


"Cepat, aku tunggu. Jika kamu tidak mau memilih, aku sendiri yang akan memilihkannya untukmu." Perintah Selly sambil duduk di kursi dan tidak peduli dengan penolakan Kania.


"Tapi ... "


Kania terpaksa menurut dan mulai memilih baju untuknya dan juga Tania.


"Jangan beli satu, beli di atas tiga, kalau beli satu, kamu sendiri yang akan membayarnya. Kamu pasti tahu, kan harga satu baju di sini berapa?"


Kania mengangguk dan mengikuti perintah Selly. Walau sebenarnya dia tidak ingin, karena dia merasa itu hanya buang-buang uang. Namun, dia terpaksa menuruti keinginan wanita cantik itu.


Selly duduk sambil memperhatikan Kania yang sementara memilih dan pandangannya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam toko.


Wanita itu terkejut saat melihat Selly yang sedari tadi memandanginya. "Selly?" Wanita itu terlihat panik.


"Kenapa terkejut?" Selly bangkit dan berjalan mendekatinya. "Apa kabarmu? Apa kamu masih mengejar-ngejar Arya?" tanya Selly dengan mimik wajah yang serius.


"Bukan urusanmu." Wanita itu yang tidak lain adalah Rina berusaha menghindari Selly, tapi saat dia melihat Kania yang juga ada di tempat itu membuatnya mengurungkan niatnya. Rina dengan angkuhnya mendekati Kania dan berusaha mengambil Tania dari gendongannya. "Sini, berikan Tania padaku." Rina berusaha mengambil Tania, tapi gadis kecil itu menolak.


"Oh, rupanya kamu mendekati Arya agar bisa dapat uang dan berbelanja di sini? Heh, kamu tahu berapa harga baju di sini, hah? Walau gajimu setahun, tidak cukup untuk membeli satu baju di sini. Dan, kenapa juga kamu bawa-bawa Tania ke sini? Apa kamu punya uang untuk membayar baju-baju di tanganmu itu?"


Kania tidak peduli padanya dan berjalan menuju Selly dan menyerahkan baju-baju itu padanya. Rina yang melihat Kania dekat dengan Selly cukup membuatnya terkejut.


"Kenapa? Apa kamu juga ingin aku belikan baju untukmu? Sana, pilih saja nanti aku yang akan membayarnya," ucap Selly dengan senyum sinisnya.


Rina terlihat dongkol dengan sikap Selly padanya. Apalagi saat melihat Kania yang dibelikan baju olehnya, membuat Rina menjadi iri.


Dulu, Rina dan Selly adalah sahabat baik. Kehidupan ekonomi Rina bisa dibilang pas-pasan. Sedangkan Selly, adalah anak orang kaya yang selalu membelikan apapun untuknya. Hingga suatu hari, Selly tahu kalau kekasihnya mengkhianatinya dan berselingkuh dengan Rina di belakangnya. Sejak saat itu, Selly memutuskan persahabatan mereka. Namun, Selly menemukan sahabat baru yang merupakan saudara kembar Rina, yaitu Rani. Dan persahabatan mereka berlanjut hingga Rani menikah. Bahkan, Selly juga bersahabat baik dengan kekasih Rani saat itu, yaitu Arya, hingga saat ini.


"Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan Arya. Kamu tidak pantas untuknya dan jangan pernah mencoba untuk merayunya. Kamu hanya wanita penggoda dan wanita penggoda tidak pantas untuk bahagia."


"Kenapa? Apa kamu juga suka padanya?"

__ADS_1


Selly tersenyum. "Iya, tapi tidak lagi karena aku tahu siapa wanita yang pantas baginya dan kamu tidak akan punya kesempatan untuk mendekatinya. Carilah mangsamu yang lain karena aku akan pastikan kamu tidak akan pernah bisa bersama dengan Arya, mengerti?"


Selly beranjak meninggalkan Rina yang terlihat kesal. Wanita itu kemudian keluar dari toko dengan wajahnya yang memerah.


Selly lantas membayar semua baju yang sudah mereka pilih dan keluar dari toko dengan tas belanja yang cukup banyak.


"Sini, biar aku bantu membawanya." Kania ingin meraih beberapa tas, tapi Selly mengelak.


"Biar aku saja, lagipula kamu kan sedang menggendong Tania."


"Tidak apa-apa, aku masih mampu, kok. Sini berikan separuh tasnya padaku."


"Tidak perlu." Selly masih mengelak, tapi perlahan dia mulai merasa kedua tangannya lelah dan pegal hingga membuatnya meletakkan tas-tas itu di lantai.


Kania tersenyum dan ikut berdiri di sampingnya, hingga Kania terkejut saat mendengar seseorang memanggil namanya, "Kania." Sontak, Kania memalingkan wajahnya dan melihat sosok yang memanggilnya.


"Bastian?" Lelaki itu berlari pelan dan berdiri di depan Kania dengan senyumanya yang terlihat menawan.


"Sedang apa kalian berdua di sini? Mana Arya?" tanya Bastian sambil melihat sekeliling.


"Kania bukan datang bersama Arya, tapi sama aku." Bastian memalingkan wajahnya ke arah Selly dan mendapati seorang wanita cantik dengan wajahnya yang sedikit cemberut.


"Kenapa? Apa kamu belum pernah melihat wanita cantik sepertiku? Nih, bantu aku bawakan belanjaanku." Selly kemudian meninggalkan mereka dengan tas belanjaan yang masih teronggok di lantai.


"Siapa tuh cewek? Main perintah saja, pikirnya aku pembantunya apa?" Bastian terlihat kesal, tapi semua tas itu kemudian diangkatnya.


"Maaf, dia itu sahabatnya Arya. Dia mengajakku untuk menemaninya berbelanja. Jangan khawatir, dia wanita yang baik, kok."


"Baik apanya? Baru kenal saja sudah main perintah. Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan menuruti perintahnya." Bastian masih terlihat kesal, tapi tak lama. "Hei, apa kamu baik-baik saja?"


"He-em." Kania mengangguk.


"Benar?"


"Iya, aku baik-baik saja."


"Kamu tidak menangis lagi, kan?" Kania terdiam. Entah apa yang harus dijelaskan pada sahabatnya itu.


"Kania?" tanya Bastian yang membuat Kania tersenyum kecut.


"Iya, aku menangis, tapi sedikit."


Bastian menghentikan langkahnya dan memandangi Kania. "Apa sekarang kamu masih sedih?"


Kania tersenyum. "Tidak lagi, karena aku yakin ibuku di sana baik-baik saja dan aku tidak ingin ibuku sedih karena melihat putrinya tak bahagia." Jawaban Kania sontak membuat Bastian tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Aku salut padamu, Kania. Itu baru sahabatku." Bastian tersenyum, tapi senyumnya itu memudar saat melihat Selly yang memandanginya dengan tatapan bak seorang pembunuh.


"Kenapa lama? Aku sudah menunggu kalian dari tadi. Tahu tidak, aku paling tidak suka kalau disuruh menunggu. Sana, masukan semua tas belanjanya di dalam bagasi." Perintah Selly yang membuat Bastian semakin kesal.


"Wanita ini, untung saja cantik, kalau tidak, sudah aku bekap mulutnya dengan penyumbat westafel," batin Bastian sambil meletakkan semua tas belanja di dalam bagasi.


"Bas, terima kasih, ya. Maaf, jangan diambil hati. Kapan-kapan, aku akan main ke rumahmu. Salam buat ibumu, ya."


"He-em. Aku tidak ambil hati, kok, cuma mau bekap mulutnya saja biar dia diam." Bastian tersenyum dan membuat Kania ikut tersenyum.


"Ya sudah, aku balik, ya." Bastian mengangguk sembari membuka pintu mobil untuk Kania. Mobil itu kemudian pergi, sementara Bastian masih memandangi mobil itu hingga menghilang di ujung jalan.


Selly yang sempat melihat bayangan wajah Bastian dari kaca spion rupanya terlihat tersenyum. Wajah cantik yang terlihat menyebalkan itu rupanya tak benat-benar marah, karena itu semua hanya kepura-puraannya semata. "Boleh juga tuh cowok. Apa jangan-jangan dia itu pacarnya Kania? Mereka berdua terlihat begitu dekat?" Selly begitu penasaran hingga akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada Kania.

__ADS_1


__ADS_2