Cinta Kania

Cinta Kania
Part 23


__ADS_3

Di depan cermin, Kania menatap wajahnya. Ah, rasa sakit di pipi kirinya itu memang telah hilang, tapi rasa malu karena ditampar di depan banyak orang tidak bisa hilang begitu saja. Kania bisa saja membalas menampar wanita itu, tapi dia tidak ingin membuat masalah karena bagaimanapun juga, sekarang dia telah berstatus sebagai seorang istri walau hanya sebagai istri dalam sebuah sandiwara pernikahan.


Malam ini, Kania akan tidur di kamar Arya. Walau hanya suatu kepura-puraan, namun ada rasa canggung yang menyelimuti hatinya. Namun, dia sudah bertekad untuk membuang rasa canggung itu dan melakukan tugasnya dengan baik.


Kania masih duduk di depan cermin, hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Dengan segera, Kania membuka pintu dan mendapati Arya yang sudah berdiri di depannya. Lelaki itu kemudian masuk dan kembali menutup pintu. "Tinggalkanlah kamar ini dan mulai sekarang tempatilah kamarku. Aku tidak ingin ayah dan adikku curiga karena melihatmu di kamar ini. Mulai sekarang, kamarku adalah kamarmu. Bergegaslah dan bawa barang-barang keperluanmu ke kamarku. Cepatlah, aku akan menunggumu di kamar." Arya kemudian keluar dan meninggalkan Kania yang berdiri diam membisu.


"Ah, apa aku harus pergi ke kamarnya sekarang?" Kania mengembus nafas panjang seakan ada beban begitu berat yang kini dipikulnya. Walau begitu, dia tetap melakukan apa yang diperintahkan Arya padanya.


Baju dan kosmetik yang waktu itu diberi oleh Selly padanya tak luput dibawanya, karena hanya itu barang yang dia miliki selain beberapa potong baju yang dibawanya dari rumah sakit.


Barang-barang yang tak seberapa itu kemudian diisi di dalam sebuah tas. Sebelum meninggalkan kamar, Kania sempat duduk di sisi tempat tidur dan mencoba menata hatinya. "Aku harus bisa melakukannya. Aku harus menepati janjiku pada Tania dan aku tidak boleh kalah dari kebencian Ryan padaku. Aku akan buktikan padanya kalau dia salah menilaiku." Kania kemudian bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dengan langkah yang pasti, Kania berjalan dan tiba di depan pintu kamar Arya. Sejenak, langkahnya terhenti saat melihat Ryan melintas di depannya, namun dengan percaya dirinya Kania membuka pintu kamar dan masuk ke dalam meninggalkan Ryan yang menatapnya dengan kesal.


Di balik pintu, Kania menyandarkan tubuhnya dan dia terkejut saat melihat Arya menatapnya. "Kamu kenapa?" Kania terdiam dan tak mampu untuk berkata-kata. Sejurus, pandangannya tertuju pada ruangan itu.


Kamar itu ternyata sangat luas. Berada di dalam kamar itu terasa ada di dalam kamar sebuah hotel. Satu set kursi sofa tertata rapi di sudut ruangan. Begitupun dengan satu set televisi yang perpampang rapi di dinding kamar. Belum lagi dengan lemari pakaian yang berjejer dengan pakaian yang tersusun rapi di dalamnya.


"Apa ini kamarmu?" Kania terlihat heran sambil berjalan melihat sekeliling kamar.


"Iya, ini kamarku. Memangnya kenapa?"


Kania tidak menjawab, namun pandangannya tertuju pada sebuah tempat tidur, bukan, tepatnya dua tempat tidur.


"Apa kamu yang menyiapkan ini semua?" Arya mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Saat kalian pergi tadi, aku langsung menyiapkan semuanya. Aku hanya tidak ingin Ryan curiga saat melihatku menyiapkan semua ini."


"Memangnya, kita akan tidur sekamar sampai kapan?" tanya Kania sambil duduk di salah satu tempat tidur.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu karena ayahku tidak mengatakan akan tinggal di sini sampai kapan. Mungkin jika ayahku kembali ke Amerika, baru kamu bisa kembali ke kamarmu."


"Lalu, aku harus tidur di mana?" Arya menunjuk ke arah tempat tidur yang sedang diduduki oleh Kania.


"Oh, baiklah." Kania kemudian meletakkan beberapa barangnya di atas meja kecil di sudut tempat tidur. Melihat Kania yang hanya membawa beberapa potong baju, akhirnya Arya menawarkan baju-baju istrinya untuk dipakai oleh gadis itu.


"Apa kamu akan terus memakai baju itu?" tanya Arya saat melihat Kania yang tampak tak nyaman dengan baju yang dikenakannya itu. Celana jeans dengan blus yang dipakainya kini rasanya tak pantas jika dikenakan saat tidur.


Arya kemudian berjalan ke arah sebuah lemari yang cukup besar dan membukanya. "Ini semua adalah baju-baju istriku. Kamu boleh memakainya."

__ADS_1


"Tapi, aku ..."


"Tak apa, lagipula siapa juga yang akan memakainya. Pakailah dan segera keluar karena sudah waktunya untuk makam malam." Arya kemudian keluar dari kamar dan meninggalkan Kania yang masih memandangi semua pakaian yang tersusun rapi di dalam lemari itu.


Kania mengalihkan pandangannya dan melihat sebuah foto yang terpampang di dinding kamar. Sebuah foto pernikahan di mana terlihat seorang wanita yang begitu cantik dengan baju pengantin sedang tersenyum bahagia bersama seorang lelaki yang terlihat tampan dengan balutan jas berwarna hitam.


Kania terus memandangi foto itu. "Maafkan aku. Izinkan aku memakai baju-bajumu dan izinkan aku untuk tidur di sini. Aku tidak akan mengganggu suamimu karena aku hanya ingin membantunya. Aku harap, kamu mengerti dan semoga kamu bahagia di sana." Kania tersenyum dan memandangi wajah cantik yang seakan tersenyum padanya.


Kania lantas mengambil sebuah daster berwarna coklat tua dengan lukisan batik yang bercorak dekoratif dan menuju ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Kania keluar dan sudah memakai daster itu. Daster panjang dengan lengan pendek itu tampak cantik di tubuh langsingnya. Kulit Kania yang putih membuatnya terlihat serasi dengan daster itu. Rambutnya yang panjang sepunggung lantas diikatnya hingga menonjolkan leher jenjangnya.


Kania kemudian keluar dari kamar dan berjalan dengan santainya menuju dapur untuk membantu Bi Suri. Dengan cekatan, Kania membantu wanita setengah baya itu menyiapkan makanan di atas meja makan.


Tanpa di sadarinya, ada sepasang mata yang sedang menatapnya. Sorot mata itu seakan tak ingin melepaskan pandangannya, seakan ada sesuatu yang membuatnya untuk tidak berpaling. Hingga pandangannya benar-benar berpaling saat dia melihat Kania tersenyum, tapi bukan untuknya. Segera, diapun masuk kembali ke kamarnya.


"Anak Mama sudah lapar, ya?" Kania tersenyum saat Tania datang mendekatinya. Gadis kecil itu kemudian digendongnya. "Ayo, kita panggil Papa untuk makan." Sambil menggendong Tania, Kania berjalan menuju ruang tengah dan mendapati Arya yang sedang memeriksa pekerjaan di laptopnya.


"Papa, ayo kita makan." Tania memanggil ayahnya itu dan sang ayah mengangguk sambil memandanginya, tapi pandangannya tiba-tiba terarah pada Kania. Sontak, dia begitu terkejut saat melihat Kania yang terlintas seperti mendiang istrinya. Daster itu, daster yang biasa dipakai oleh Rani. Rambut Kania yang diikat asal hingga memperlihatkan leher jenjangnya, sama seperti yang dilakukan istrinya hingga membuatnya sering menggoda istrinya itu.


Arya tersenyum kecut saat semua kenangan itu kembali mengusik jiwanya. Kenangan yang hampir saja dilupakannya, kini muncul kembali karena seseorang yang kini berperan sebagai istri sementaranya.


Arya mengikuti mereka dari belakang dan segera duduk di meja makan. "Mana Ryan? Apa dia belum turun?"


Perlahan, pintu kamar itu terbuka. Ryan tampak tersenyum saat melihat Kania di depannya. "Kamu terlihat cantik." Ryan berucap dengan sedikit berbisik, namun Kania tidak mempedulikannya.


"Turunlah, kakakmu sudah menunggu untuk makan malam." Kania terlihat acuh dan segera meninggalkannya. Ryan kemudian menutup pintu kamarnya dan bergegas menuju ruang makan.


Suasana makan malam terlihat lebih ramai dari biasanya. Ryan dan Arya begitu asyik dalam obrolan yang sama sekali tidak di mengerti oleh Kania. Sementara Kania sendiri lebih fokus pada Tania yang sementara di suapinya. "Tania sudah kenyang, Ma." Tania memegang perutnya setelah beberapa kali disuapi oleh Kania. Gadis kecil itu tampak tersenyum manja pada Kania.


"Ya sudah, kalau sudah kenyang, Tania istirahat dulu, ya. Setelah Mama selesai makan, kita belajar, mau, kan?" Gadis kecil itu mengangguk dan segera menuju ke kamarnya.


Kania kemudian makan tanpa peduli pada kedua orang yang sedang asyik bercengkrama itu. Hingga dia terkejut saat dia merasakan kakinya disentuh. Walau terkejut, tapi Kania berusaha tidak peduli, namun kakinya kembali disentuh hingga akhirnya Kania memutuskan untuk berdiri dari tempat itu.


"Apa kamu sudah selesai makan?" tanya Arya saat melihat Kania yang berdiri sambil membereskan piring-piring di atas meja.


"Sudah, sebaiknya kalian lanjutkan obrolan kalian di ruang tengah karena aku akan membereskan meja makan."


Arya mengangguk sambil berdiri dan meninggalkan ruang makan. Sementara Ryan, mengikuti kakaknya itu, namun dia sempat melirik ke arah Kania dengan tatapan matanya yang tajam dan ekspresi wajah yang terlihat datar.

__ADS_1


Kania tak peduli dengan tatapan pemuda itu. Kania masih tetap fokus membersihkan meja makan dan membawa piring-piring itu ke westafel dengan dibantu oleh Bi Suri.


"Biar saya saja yang kerjakan, Nyonya. Kalau Tuan Arya lihat Nyonya bekerja di dapur, pasti Tuan Arya akan marah. Sudah, Nyonya temani Tania saja di kamar." Kania tersenyum saat melihat Bi Suri yang mulai sungkan padanya.


"Bi Suri, kenapa panggil saya Nyonya? Lagipula, Arya tidak mungkin marah hanya karena saya bantu Bi Suri di dapur." Kania dengan telaten mencuci piring di westafel, sementara Bi Suri memindahkan makanan yang tersisa di piring-piring itu.


"Sekarang Non Kania sudah menjadi Nyonya di rumah ini, jadi panggilannya juga harus berubah. Bibi tidak mungkin memanggil dengan sebutan Non, kan sekarang sudah menjadi Nyonya Arya Wicaksana." Bi Suri terlihat tersenyum, namun tidak bagi Kania, karena statusnya itu hanyalah kepura-puraan dan suatu saat nanti dia akan menanggalkan statusnya itu.


Selesai membantu Bi Suri, Kania menuju ke kamar Tania. Gadis kecil itu tampak lincah saat Kania mengajarinya mengenali huruf dan juga angka. Selesai belajar, Kania lantas menidurkan Tania sambil membacakannya sebuah dongeng penghantar tidur dari sebuah buku.


Tania tampak serius saat Kania membacakannya kisah Cinderella, si gadis cantik yang hidup menderita dan akhirnya bisa menikahi seorang pangeran tampan. Sambil memeluk boneka beruang, Tania mendengarkan hingga matanya perlahan menutup. Kania tersenyum saat melihat gadis kecil itu tertidur. Wajah mungilnya terlihat polos tanpa dosa.


Kania membelai rambut gadis kecil itu dan mengecup dahinya. "Bermimpilah yang indah. Mama akan selalu ada untukmu." Kania menutupi tubuh gadis kecil itu dengan selimut. Setelah membereskan kamar, Kania akhirnya meninggalkan kamar itu.


"Apa Tania sudah tidur?" tanya Arya saat melihat Kania yang berjalan menuju ke kamar mereka.


"Sudah."


"Kamu tidur saja dulu, aku masih ingin ngobrol dengan Ryan."


"Baiklah." Kania lantas masuk ke kamarnya dan menuju ke tempat tidurnya.


Kamar yang terlihat luas itu membuat Kania tidak bisa tidur. Lampu kamar yang menyala terang membuat matanya enggan menutup. Kania yang biasa tidur di tempat yang sempit dengan lampu yang remang, kini harus tidur di kamar yang luas dengan lampu yang menyala terang. "Aku harus bisa tidur, tapi lampu seterang ini aku pasti akan sulit untuk tidur." Kania tampak gelisah hingga membuatnya kembali duduk di sisi tempat tidur. Jika hanya sendiri, Kania pasti akan memadamkan lampu, tapi dia tidak sendiri karena ada Arya yang akan tidur di sebelahnya.


Kania kembali membaringkan tubuhnya dan berharap agar bisa tertidur, tapi lagi-lagi dia kembali duduk. Waktu yang sudah menunjukan jam 12 malam rupanya masih belum bisa menaklukan matanya untuk bisa terpejam. Kania memandangi tempat tidur di sebelahnya, dan Arya tidak tampak di tempat tidur itu.


"Apa mereka masih ngobrol?" Kania bangkit dan menempelkan telinganya di daun pintu dan dia tidak lagi mendengar suara orang bercengkrama. "Kenapa sunyi? Apa jangan-jangan, Arya enggan untuk masuk ke kamar ini?" Kania begitu penasaran hingga dia memberanikan diri untuk memeriksa ke luar. Dan benar saja, Arya tampak duduk seorang diri sambil memperhatikan layar laptopnya.


"Kenapa belum tidur? Apa kamu tidak bisa tidur?" Kania berdiri di samping lelaki itu yang tampak menyendiri.


"Aku belum mengantuk. Pergilah tidur, kamu pasti lelah karena mengurus rumah dan juga Tania."


Kania tidak segera melakukan perintah lelaki itu, tapi dia berjalan menuju ke arah dapur. Kania tahu, Arya belum bisa menghilangkan insomnia yang kadang mengganggu tidur malamnya hingga membuat lelaki itu masih terjaga.


"Aku akan membawakanmu segelas susu hangat. Tunggu sebentar, ya. Aku akan membuatkannya dulu."


Arya memandangi Kania sambil tersenyum, karena memang yang di butuhkannya saat ini adalah segelas susu hangat buatan Kania yang nyatanya bisa membuatnya tertidur pulas.

__ADS_1


Kania masuk ke dapur dan melihat lampu di ruangan itu menyala. Tanpa curiga, Kania mulai menyiapkan susu hangat yang dituangkan perlahan di dalam gelas. Hingga tiba-tiba Kania tersentak saat seseorang memeluknya dari belakang. Sontak, Kania berusaha membalikkan tubuhnya, tapi suara yang sangat di kenalnya itu tiba-tiba membisikkan sebuah kalimat di belakang telinganya hingga membuat Kania terkejut.


__ADS_2