Cinta Kania

Cinta Kania
Part 40


__ADS_3

Mendengar besan mereka masuk rumah sakit, orang tua Rani datang menjenguk. Sepasang suami istri yang sudah berumur itu tampak memasuki ruangan di mana Wicaksana dirawat. Melihat Kania, wajah sang istri tampak terlihat sinis.


"Maaf, jika kami baru datang menjenguk karena kami baru saja kembali dari luar kota. Nak Arya, Ayah ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Ayah harap kalian selalu bahagia." Lelaki paruh baya itu terlihat lebih bijaksana di banding sang istri yang tampak kurang suka saat melihat Kania. Walau begitu, Kania tetap berlaku hormat dengan menyalami mereka.


"Saya harap, kamu bisa menjadi ibu yang baik bagi cucu kami. Sayangi dia seperti putrimu sendiri."


Kania mengangguk. "Iya Pak, saya akan menyayangi Tania seperti putriku sendiri."


Setelah berbincang sebentar dengan Wicaksana, sepasang suami istri itupun pamit undur diri. "Nak Arya, apa boleh Ayah berbincang sebentar dengan istrimu?"


Arya memandangi Kania yang juga melihat ke arahnya. Kania mengangguk mengisyaratkan kalau dia bersedia memenuhi permintaan lelaki itu. "Boleh, Ayah."


Lelaki itu tersenyum dan berjalan keluar dari ruangan itu. Di sampingnya, Kania berjalan dan mengikutinya hingga tiba di kantin rumah sakit. "Maaf, jika saya mengajakmu ke sini. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan padamu. Begini, saya tahu kamu sekarang adalah istri dari menantu saya dan saya cukup bahagia karena Nak Arya bisa menikah dan menemukan wanita yang baik untuk menjadi istri dan ibu bagi Tania. Walau dia hanya menantu, tapi saya menyayanginya seperti putra saya sendiri. Nak Kania, saya mohon tolong bahagiakan menantu dan juga cucu saya. Tania adalah cucu kami satu-satunya dan sebagai kakek dan neneknya, kami ingin melihat dia bahagia." Lelaki itu terlihat menitikkan air mata karena teringat akan putrinya.


"Saya janji akan menyayangi dan membahagiakan Tania. Walau dia bukan darah daging saya, tapi saya menyayanginya. Bapak dan Ibu jangan khawatir karena saya akan menjaganya." Kania terlihat tulus karena itu yang dia rasakan. Dia menyayangi Tania tanpa syarat.


"Syukurlah. Kalau begitu, saya pamit dulu dan jangan tersinggung dengan sikap istri saya. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan kalau Nak Arya sudah menikah lagi."


"Tidak apa-apa, saya mengerti dengan sikap istri Bapak. Saya mohon bimbingan jika saya melakukan kesalahan."


Lelaki itu tersenyum melihat sikap Kania yang baginya sangat sopan dan ramah. Tak hanya itu, lelaki paruh baya itupun cukup mengakui keberanian Kania yang tidak menolak saat diajak untuk berbincang.


Setelah kepergian mereka, Kania memutuskan untuk kembali, tapi tiba-tiba saja tangannya diraih oleh seseorang. "Kamu kenapa ada di sini?"


Melihatnya, Kania terkejut dan ingin melepaskan tangannya dari genggaman orang itu. "Ryan, lepaskan tanganmu. Tidak baik kalau dilihat orang."


"Kenapa? Apanya yang tidak baik, bukankah aku hanya menggenggam tangan wanita yang aku cintai?"


Kania berusaha mengelak dari genggaman tangan Ryan, tapi pemuda itu tidak bergeming. Bahkan dengan tersenyum, Ryan menarik tangannya dan berjalan menuju anak tangga yang biasa digunakan saat lift sedang diperbaiki.


"Kenapa lewat sini? Kenapa kita tidak naik lift saja?" Kania menghentikan langkahnya, namun kembali Ryan mengarahkan senyum padanya.

__ADS_1


"Karena aku ingin berjalan berdua denganmu. Aku ingin bersama denganmu."


"Ryan, kamu tidak bercanda, kan? Sadarlah, aku bukan Kania yang dulu lagi. Aku sekarang adalah kakak iparmu, bukan kekasihmu." Kania masih berusaha melepaskan tangannya, tapi Ryan masih tetap tak bergeming. Dengan menapaki anak tangga, Ryan berjalan sambil menggenggam tangan Kania yang enggan untuk dia lepaskan.


"Aku tahu itu, tapi aku tetap ingin berhubungan denganmu karena aku masih mencintaimu. Aku tak peduli walau sekarang kamu adalah istri dari kakakku karena aku tahu, pernikahan kalian hanya pernikahan kontrak dan itu artinya kalian menikah tanpa rasa cinta, iya, kan?"


Kania terkejut mendengar ucapan pemuda itu hingga membuatnya menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?"


Ryan memandangi Kania yang kini berdiri menatapnya. Tiba-tiba, tangannya menyentuh wajah Kania. Melihat sikap Ryan padanya, Kania berusaha mengelak, namun pemuda itu tidak menyurutkan niatnya. Kembali tangannya menyentuh dagu Kania hingga mereka saling menatap. "Lihat aku. Apa aku terlihat bercanda? Aku sudah tahu semuanya, karena itu aku memutuskan untuk tidak pergi ke Amerika. Aku tahu kalau kalian menikah kontrak walau aku tidak tahu alasan kalian melakukannya. Kania, aku masih mencintaimu dan aku akan menunggu hingga pernikahanmu dengan Kak Arya berakhir. Aku akan menunggumu." Ryan terlihat begitu serius dengan apa yang diucapkannya itu.


"Kamu salah faham karena kami saling mencintai. Aku dan juga kakakmu saling mencintai. Sudahlah Ryan, jangan usik kebahagiaan kami."


"Apa kamu pikir aku akan percaya? Ayolah Kania, jangan mencoba untuk terus membuatku cemburu. Aku sungguh masih mencintaimu dan aku ingin kita kembali seperti dulu. Kania, aku akan menunggu hingga pernikahan kalian berakhir dan setelah itu aku akan menikahimu."


Sontak saja Kania terkejut. Dia tidak menyangka pemuda di depannya itu ternyata sudah terlampau nekat. "Kamu sudah gila!! Sadarlah, kita tidak bisa kembali seperti dulu karena aku telah mencintai kakakmu." Kania lantas pergi meninggalkan Ryan, tapi pemuda itu mengejarnya dan meraih tubuh Kania ke dalam pelukannya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu bersama kakakku atau dengan siapapun. Sudah cukup sekali aku kehilanganmu karena kebodohanku karena kali ini aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Jika kamu bersikeras untuk tetap menolakku, maka aku akan membeberkan pernikahan kontrak kalian pada semua orang dan apa kamu pikir ayahku akan menerima penipuan kalian padanya?" Ryan terlihat serius dengan ucapannya itu hingga membuat Kania diam tak berkutik.


"Kamu egois. Apa kamu tidak bepikir kalau aku sudah tidak lagi mencintaimu? Apa kamu masih bisa menerima wanita yang sudah tidak lagi mencintaimu?"


Mendengar ucapan Kania, Ryan tersenyum. "Itu tidak masalah bagiku, karena aku yakin di dasar hatimu masih tersimpan rasa cinta padaku. Kalau hanya untuk membuatmu kembali jatuh cinta padaku, itu tidaklah sulit." Ryan kembali meraih tangan Kania dan melanjutkan menapaki anak tangga seakan dia yakin bisa membuat Kania kembali jatuh dalam pelukannya.


"Ryan, jangan lakukan ini padaku. Tidakkah kamu berpikir kalau perbuatanmu ini hanya akan menyakitiku dan juga Arya? Bagaimana bisa kamu sekejam itu pada kakakmu sendiri?"


"Tenanglah, aku tahu siapa kakakku. Dia tidak akan keberatan jika aku mengatakan padanya untuk menyerahkanmu padaku. Kalau kamu tidak percaya, apa perlu aku jelaskan padanya kalau gadis yang dulu aku cintai kini telah menjadi istri kontraknya? Apa menurutmu, Kak Arya akan mempertahankanmu jika dia sampai tahu hubungan kita di masa lalu?"


Kania terkejut mendengar ucapan Ryan yang membuatnya tak percaya. Apa mungkin Arya akan melepasnya jika lelaki itu sampai tahu kalau dia dan Ryan pernah saling mencintai? Apa mungkin Arya akan melepasnya setelah baru kemarin mereka berjanji untuk selalu mencintai dan saling menjaga?


Ucapan Ryan membuat Kania menjadi gundah. Dia takut jika apa yang dikatakan Ryan menjadi kenyataan. Dia takut jika Arya akan melepasnya hanya karena Ryan yang juga mencintainya. "Jika yang dikatakan Ryan memang benar, apa yang harus aku lakukan?" Batin Kania yang kini mulai gelisah.


"Aku akan diam dan tidak akan mengatakan apa-apa pada Kak Arya tentang hubungan kita di masa lalu. Aku hanya akan menunggu hingga pernikahan kontrak kalian berakhir dan selama itu, aku harap kamu tidak akan menolak jika aku ingin bertemu denganmu. Sempatkan waktumu untuk bisa bersamaku dan aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Kania, walaupun kamu adalah istri kakakku, tapi kamu adalah milikku, camkan itu."

__ADS_1


Sekali lagi Kania dibuat terkejut oleh ucapan Ryan yang baginya terlalu nekat. Dia tidak menyangka Ryan akan berbuat senekat itu hanya karena dirinya. Mendengar semua ucapan Ryan membuat Kania sudah tidak bisa lagi untuk berpikir hingga membuatnya bingung untuk mengambil sikap.


Di satu sisi, Kania ingin bertahan dalam rumah tangga yang kini dibangunnya bersama Arya. Dia ingin tetap menjalankan pernikahan yang baginya pernikahan itu adalah yang pertama dan terakhir. Namun di sisi lain, dia takut jika Arya sampai tahu kalau dia dan Ryan pernah saling mencintai dan dka takut jika Arya melepasnya seperti yang dikatakan oleh Ryan padanya.


Kania berjalan menapaki anak tangga demi anak tangga dengan perasaan hampa. Pandangannya hanya tertuju pada pijakan kakinya yang terus melangkah dengan tangan yang masih digenggam oleh Ryan. Walau sudah berusaha untuk melepaskan tangannya, Ryan tak bergeming, malah semakin erat menggenggam tangannya.


"Ya Tuhan, kenapa aku di hadapkan dalam situasi yang rumit seperti ini? Kenapa aku di hadapkan dengan dua orang yang sama-sama mencintaiku? Dan kenapa aku tidak bisa bersama dengan lelaki pilihan hatiku?" Tanpa sadar, Kania menitikkan air mata saat wajah Arya melintas dalam ingatannya. Betapa dia takut jika lelaki itu benar-benar melepasnya. Perlahan, Kania menghentikan langkahnya. Wajahnya menunduk karena menahan air mata yang mencari celah untuk keluar.


Melihat siakapnya, Ryan mendekatinya. "Apa kamu marah padaku?"


Kania masih menundukan wajahnya. Entah apa yang harus dia jawab karena mencintai adalah hak siapa saja, termasuk cinta pemuda itu kepadanya. "Aku marah pada diriku sendiri karena hadir di antara kalian berdua. Andai dari awal aku tahu Arya adalah kakakmu, aku tidak akan menerima tawarannya itu. Namun, itu sudah terjadi dan kini aku sadar aku memang tidak pantas ada di antara kalian." Kania menghapus air matanya karena dia sudah bertekad untuk tidak akan menerima Ryan maupun Arya, karena itu hanya akan membuat kakak beradik itu saling membenci karena dirinya.


"Apa maksud ucapanmu itu?" Ryan menatap Kania yang perlahan mengangkat wajahnya.


"Sudahlah, tak perlu lagi dibahas. Lakukan saja apa maumu, tapi aku mohon jangan katakan apapun pada ayahmu. Dia pasti akan sedih jika tahu tentang status pernikahan kami."


"Kania, jangan pernah berpikir kalau kamu akan pergi meninggalkanku. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu melakukan itu. Kemanapun kamu pergi, aku akan mencarimu. Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku untuk yang kedua kali, karena aku tidak akan biarkan itu terjadi." Kembali Kania terhenyak dengan ucapan Ryan yang begitu takut kehilangan dirinya. Walau begitu, Kania sudah bertekad untuk tidak akan memilih satu di antara mereka. Dia sudah bertekad untuk tidak menerima keduanya agar tidak ada hati yang akan terluka.


Kania kembali melangkahkan kakinya hingga mereka tiba di depan pintu ruangan di mana Wicaksana dirawat. Di depan pintu, Ryan masih menggenggam tangan Kania hingga Kania memohon untuk melepaskan tangannya. Dengan terpaksa, Ryan menurutinya.


Kania menarik nafas dan mengembuskan perlahan sekadar untuk menata hatinya yang kini tengah gelisah. Hingga pintu itu terbuka saat Ryan melangkah masuk dan diikuti olehnya yang disambut dengan senyuman oleh Arya. Sejenak, Kania tampak goyah saat Arya berjalan mendekatinya dan menggenggam tangannya. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Arya yang terlihat cemas.


"Aku tidak apa-apa. Memangnya, apa yang kamu cemaskan?"


"Ayah dan ibu mertuaku. Mereka tidak menyakitimu, kan?"


Kania tersenyum saat melihat kecemasan di wajah lelaki itu. "Jangan khawatir, mereka hanya berpesan untuk menjaga dan membahagiakanmu dan juga Tania."


"Ah, syukurlah. Aku sempat berpikir kalau mereka mungkin saja ingin menyakitimu. Ah, betapa bodohnya aku karena berpikiran seperti itu." Sambil tersenyum, Arya lantas memeluk Kania tanpa peduli dengan keberadaan Ryan yang kini menatap mereka.


Kania hanya terdiam tanpa bisa menolak pelukan suaminya itu. Sedangkan Ryan, kini menatapnya dengan perasaan cemburu yang kembali membuncah di hatinya. Rasanya, dia ingin memisahkan mereka, tapi dia berusaha untuk menahan perasaannya itu walau kedua tangannya mengepal dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


Cinta, kadang membuat perasaan menjadi bimbang. Di saat cinta hadir, ingin rasanya untuk memiliki. Namun, apakah cinta sanggup untuk memiliki jika cinta darinya enggan untuk dia lepaskan? Itulah yang kini dirasakan oleh tiga hati manusia yang kini terjebak dalam permainan cinta. Terjebak dalam cinta yang sulit untuk bisa dilepaskan karena cinta yang mereka rasakan memang sulit untuk mereka lepaskan.


__ADS_2