Cinta Kania

Cinta Kania
Part 9


__ADS_3

Di depan pintu Kafe Jasmin, Kania berdiri. Ah, rasanya dia enggan untuk melangkahkan kakinya menuju kafe yang pernah di singgahinya itu, namun hanya itu pilihan yang kini ada di benaknya. Dia harus bisa mendapatkan uang, bagaimanapun caranya. "Maafkan aku, ibu. Hanya dengan ini aku bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan ibu. Maafkan aku, karena ternyata perjuanganku selama ini untuk mendapatkan uang yang halal, terpaksa aku lupakan. Aku terpaksa membuat keputusan yang berat ini walau aku tahu, ibu pasti akan kecewa padaku, tapi hanya ini yang sanggup aku lakukan." Kania menghapus air matanya. Rasanya, dadanya begitu sesak karena menahan semua rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.


Kania menatap bayangan wajahnya yang terpantul dari balik kaca pintu kafe dan dia hanya bisa tersenyum kecut maratapi nasib diri yang sebentar lagi tak berharga. Dia akan menjual dirinya agar bisa mendapatkan uang dan perlahan bulir bening itu kembali membasahi wajahnya.


Sesaat, bayangan Bastian melintas dalam pikirannya. "Maafkan aku, Bas. Aku harap kamu tidak akan pernah membenciku. Aku putus asa, Bas. Jika ini memang sudah nasib takdirku, aku hanya bisa berharap kamu mengerti keadaanku dan bagiku selamanya kamu adalah sahabat terbaikku." Kania menghapus air bening yang kembali mencari celah untuk keluar.


Bayangan ibunya, tak luput singgah di pikirannya, hingga wajah Tania yang juga tiba-tiba mengusik sanubarinya. "Aku tak pantas untuk menjadi ibumu, karena aku memang tak pantas mendapat kasih sayangmu. Aku akan tetap menyayangimu, walau aku tahu kita berdua tidak mempuanyai ikatan darah, tapi bagiku kamu tetap putri kecilku." Kania mencoba untuk menenangkan hatinya walau dia tahu itu sangat sulit. Walau begitu, Kania tetap melangkahkan kakinya dan masuk ke kafe itu.


Sementara Tania yang menyadari ketiadaan Kania di sisinya mulai menangis. Sejak dia membuka matanya dan tak mendapati Kania di dekatnya, gadis kecil itu menangis hingga membuat seisi rumah menjadi panik. Arya yang awalnya sudah bersiap menuju tempat kerjanya, terpaksa membatalkan kepergiannya dan berusaha membujuk dan menenangkan putrinya itu, tapi percuma karena Tania hanya menyebut dan memanggil wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya itu.


"Sayang, jangan menangis lagi. Kakak itu sudah pergi dan Papa tidak bisa menahannya." Arya berusaha menjelaskan, tapi putri kecilnya itu seakan tidak mau tahu dan terus menangis memanggil-manggil ibunya.


Arya yang mulai panik, lantas mencoba untuk menghubungi Kania, namun ponselnya tidak aktif. Terbesit rasa kecewa di hatinya, karena ketidakmampuannya mempertahankan gadis itu dan malah membiarkannya pergi begitu saja.


Arya mencoba untuk kembali meghubunginya, tapi lagi-lagi gagal. "Aku harus mencari dia kemana? Aku tidak mungkin membiarkan Tania menangis seperti ini." Arya mengalihkan pandangannya pada putrinya yang sementara digendong dan dibujuk Bi Suri. "Tidak bisa, aku harus mencarinya."


Arya mengambil kunci mobilnya dan berjalan mendekati putrinya. "Papa akan membawa mama kembali, jadi Tania jangan menangis lagi, ya." Bujuk Arya sembari mengelus kepala putrinya itu.


Tania yang masih sesenggukan, perlahan mengangguk dan memperhatikan ayahnya yang kemudian pergi.


Di dalam mobilnya, Arya mencoba untuk kembali menghubungi Kania, tapi masih sama, ponselnya tidak aktif.


Sementara di dalam kafe, Kania sudah terlihat mengenakan baju minim nan seksi yang diberikan pemilik kafe untuknya. Walau wajahnya kini berusaha menahan malu, tapi mengingat biaya pengobatan ibunya, rasa malu itu dihempasnya jauh-jauh. Untuk ibunya, dia rela berbuat apa saja termasuk menjual dirinya.


"Apa kamu yakin dengan pilihanmu ini?" tanya gadis yang waktu itu menyelamatkannya.


Kania mengangguk tanpa sekalipun terlihat ragu.


"Apa kamu tidak akan menyesal?" Kembali Kania mengangguk.


"Baiklah." Gadis itu menarik tangan Kania dan berjalan menuju pintu yang menghubungkan ruangan kafe dengan ruang karyawan.


"Aku tidak tahu tujuanmu melakukan pekerjaan ini, tapi yang aku tahu kamu pasti sudah merasa putus asa, tapi sekali lagi aku ingatkan, sekali kamu terjun dalam pekerjaan ini, selamanya kamu tidak akan lagi bisa keluar dan bisa saja hidupmu akan suram karena tidak ada laki-laki yang akan tulus mencintaimu lagi." Gadis itu mencoba untuk membujuk Kania sekali lagi, tapi rupanya keputusannya itu sudah tidak bisa lagi diubahnya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan membantumu." Gadis itu kemudian menunjuk pada seorang lelaki yang berusia sekitar 40an tahun yang sedang asyik bercanda dan tertawa dengan beberapa orang gadis.


"Kamu lihat lelaki itu, kan? Dia itu mempunyai uang yang sangat banyak dan dia tidak segan-segan memberi uang jika pelayananmu bisa memuaskannya. Dia itu sangat suka dengan gadis yang masih perawan dan dia rela membayar berapa saja untuk bisa mendapatkannya. Apalagi jika gadis itu adalah gadis yang cantik sepertimu, maka dia akan membayar berapapun yang kamu minta tanpa menawar." Gadis itu menjelaskan dengan antusias. Dia sangat hafal dengan tabiat laki-laki itu karena laki-laki itulah yang telah mendapatkan kegadisannya.


Kania memandangi laki-laki itu yang penampilannya tak jauh berbeda dengan lelaki kebanyakan. Penampilannya terlihat biasa dengan balutan jas seperti seorang pengusaha muda lainnya. Wajahnya tidak terlalu tampan, tapi siapa sangka isi dompetnya tak terhitung jumlahnya karena dia adalah salah satu pengusaha yang cukup terkenal di daerah itu.


"Ayo, aku antarkan kamu padanya." Tiba-tiba gadis itu menarik tangannya dan berjalan menuju ke meja lelaki itu.


"Apa kami berdua bisa bergabung di sini?" Gadis itu kemudian duduk tanpa mendengar jawaban dari lelaki itu.


Melihat wajah baru yang tak dikenalnya, membuat lelaki itu tersenyum. "Silakan, aku tidak akan melarang, kok." Matanya terlihat liar memandangi Kania yang sudah duduk di samping gadis itu.

__ADS_1


"Mitha, apa dia gadis baru di sini?" bisik lelaki itu perlahan di telinga gadis cantik itu.


"Kenapa? Apa kamu suka padanya?" Lelaki itu kembali melihat ke arah Kania dan dia mengangguk perlahan.


"Dia gadis baru di sini dan dia butuh uang." Mitha berucap spontan hingga membuat lelaki itu tersenyum.


"Apa dia masih ... "


"Jangan khawatir, dia masih aman." Lelaki itu kembali tersenyum sambil sesekali melirik ke arah Kania yang tampak gugup.


"Oke, aku akan memberinya, tapi aku mau dia menemaniku minum dulu." Lelaki itu kemudian mengambil sebotol minuman berakohol yang sedari tadi teronggok di atas meja dan menuangkannya di dalam tiga gelas yang kosong. "Ayo, kita nikmati hari ini." Lelaki itu mengangkat gelasnya dan meneguk minuman itu dan ikuti oleh Mitha yang juga meneguknya. Kania hanya memandangi mereka hingga membuat lelaki itu tertawa. "Aku suka dengan gadis polos sepertimu." Lelaki itu kembali menuangkan minuman dan meneguknya sambil memandangi Kania dengan tatapan liarnya.


Begitupun dengan Arya, yang saat ini sedang memandangi setiap sudut tempat yang dilaluinya dengan pandangan liar karena mencari sosok Kania yang tiba-tiba hilang bagaikan di telan bumi. Sepanjang dia melewati tempat yang dilaluinya, matanya liar mencari sosok itu. "Ayolah, kamu sekarang ada di mana?"


Di mall, di taman, bahkan di setiap jalan di tempat itu matanya seakan tak berkedip seakan dia takut jika dia akan kehilangan sosok itu lagi. "Ayolah Kania, tunjukkan dirimu. Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja dan membuat putriku menangis dan mengharapkanmu?"


Arya masih terus mencari hingga tiba-tiba matanya tertuju pada seorang lelaki yang dikenalnya. "Bukankah, lelaki itu adalah kekasihnya?" Arya kemudian menghentikan mobilnya dan berlari ke arah lelaki itu yang ternyata adalah Bastian. "Maaf, apa kita bisa bicara sebentar?"


Walau terlihat heran dengan lelaki yang kini sudah berdiri di depannya, tapi Bastian tetap tersenyum dan menyanggupi permintaan lelaki itu. "Ya, apa ada yang bisa aku bantu?"


"Maaf, kalau aku lancang, tapi aku ingin bertanya, bukankah kamu adalah kekasih Kania?"


Pertanyaan Arya sontak membuat Bastian tersenyum. "Apa kamu mengenal Kania?"


"Jangan salah paham dulu. Aku memang mengenalnya, tapi hanya sebatas teman." Ucapan Arya membuat Bastian semakin penasaran. Setahunya, Kania tidak mempunyai teman laki-laki selain dirinya.


Arya sedikit terkejut. "Maaf, bukankah kamu adalah kekasihnya? Bukankah, semalam kamu yang sudah menjemputnya di depan rumahku?"


Bastian terlihat berpikir sejenak. "Jangan-jangan, lelaki ini adalah ayah gadis kecil yang Kania tolong waktu itu?" batin Bastian.


"Iya, benar itu aku. Apa kamu adalah ayah dari gadis kecil yang di tolong oleh Kania?"


Arya mengangguk. "Begini, aku ingin bertanya apa kamu tahu di mana Kania sekarang? Maaf, aku mencarinya karena sedari pagi putriku terus menangis karena ingin bertemu dengannya. Aku sudah berusaha menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Apa kamu bisa memberitahuku sekarang dia ada di mana?"


Bastian tidak menjawab, tapi wajahnya terlihat khawatir. "Apa kamu sudah mencoba meneleponnya kembali?"


"Sudah, tapi masih tidak aktif."


Bastian meraih ponselnya dan menghubungi Kania, dan benar saja ponselnya tidak aktif. "Kemana sih bocah ini pergi?" Bastian tampak khawatir dan kembali lagi menghubunginya, tapi lagi-lagi gagal.


"Maaf, aku tidak tahu dia ada di mana, tapi semalam aku mengantarnya pulang ke rumah sakit."


"Rumah sakit?" Bastian mengangguk.


"Iya, rumah sakit. Saat ini ibunya sedang ... " Bastian tidak melanjutkan kalimatnya seakan dia mulai menyadari sesuatu. "Apa jangan-jangan ... "

__ADS_1


"Jangan-jangan apa?"


"Aku harus ke rumah sakit sekarang." Bastian lantas menuju ke motornya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berbincang.


Karena penasaran, Arya mengikutinya dan ingin meminta penjelasan darinya. "Tunggu dulu, kamu mau ke mana?"


"Sebaiknya kita ke rumah sakit tempat ibunya dirawat, semoga saja dia masih ada di sana." Bastian mengstarter motornya dan diikuti oleh Arya di belakangnya.


Di depan halaman sebuah rumah sakit, mereka berhenti. Dengan terburu-buru, mereka berdua berjalan memasuki koridor dan bertanya tentang Kania di salah satu dokter jaga yang kebetulan saja Bastian mengenalnya karena sudah seringnya lelaki itu datang ke sana.


"Kania pagi-pagi sekali sudah pergi. Katanya, dia harus bekerja, karena jika hari ini dia tidak bisa mendapatkan uang, maka ibunya tidak akan bisa di rujuk ke rumah sakit pusat. Karena itu, dia meminta Dokter Risma untuk menunggunya membawakan uang itu." Dokter yang terlihat masih muda itu menjelaskan.


"Memangnya, berapa biaya yang harus Kania bayar, dok?" Arya yang penasaran ikut bertanya.


"Karena Leukimia yang di derita ibunya itu sudah stadium 3, maka biayanya itu mungkin berkisar ratusan juta karena sudah terlalu parah dan butuh biaya kemoterapi yang tidak sedikit. Kasihan gadis itu, dia masih harus menanggung penderitaan karena penyakit ibunya itu."


Kedua lelaki itu terkejut mendengar penjelasan dokter itu. Bastian yang merasa tak bisa berbuat apa-apa pada sahabatnya itu, hanya bisa menitikan air mata. "Maafkan aku, Kania. Aku tidak bisa membantumu." Tampak penyesalan di raut wajahnya. Sementara Arya, sama sekali tidak menyangka kalau Kania mempunyai masalah yang serumit itu.


"Hei, bangkitlah dan cari dia. Apa dengan menangis seperti itu bisa membantu Kania? Itu bukan uang yang sedikit dan kamu tidak berpikir kan kalau Kania akan melakukan pekerjaan itu?" Ucapan Arya membuat Bastian menatapnya.


"Apa maksud ucapanmu itu? Apa kamu pikir Kania akan melakukan pekerjaan sehina itu?" Bastian yang merasa kecewa dengan ucapan Arya merasa tidak terima jika sahabatnya itu di jelek-jelekan di depannya.


"Lalu, apa kamu pikir uang sebanyak itu bisa dihasilkan dalam sehari? Ayolah, Bung, itu tidak mungkin, kecuali ... "


Arya belum sempat melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja Bastian melayangkan pukulan ke arah rahang lelaki itu. "Jangan coba-coba berpikir kalau Kania bisa berbuat serendah itu. Jika sekali lagi kamu menghinanya, maka aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu itu." Bastian tampak emosi dan berjalan meninggalkan Arya yang perlahan menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


Arya hanya tersenyum karena melihat Bastian yang rupanya sangat peduli pada Kania. Melihat Bastian yang pergi begitu saja meninggalkannya membuat Arya segera mengejarnya. "Hei, Bung. Jika apa yang aku perkirakan ini memang benar, mungkin saja saat ini dia ada di tempat itu." Ucapan Arya membuat Bastian menghentikan langkahnya.


"Apa maksudmu dengan tempat itu?"


"Aku tahu kamu marah saat aku mengatakan hal buruk yang akan dilakukan Kania. Aku mengatakannya bukan tanpa alasan, karena aku pernah mengeluarkannya dari tempat itu."


"Jangan bertele-tele, cepat jelaskan padaku!" Bastian tampak tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari Arya hingga dia terkejut saat Arya menjelaskan semuanya. Bagaimana sahabatnya itu bekerja di salah satu kafe yang ternyata tempat pelacuran berkedok sebuah kafe.


"Sepertinya dia ingin menghubungimu, tapi dia malah meneleponku karena itulah aku datang dan mengeluarkannya dari tempat itu dan malam itu dia tidur di rumahku." Bastian mendengar penjelasan Arya dengan seksama hingga membuatnya teringat dengan percakapannya di telepon dengan sahabatnya waktu itu.


"Jadi, maksudmu bisa saja dia kembali ke tempat itu?" Arya mengangguk.


"Kalau begitu, kita harus pergi ke sana." Bastian kemudian naik ke atas motornya dan kemudian pergi dan diikuti Arya di belakangnya.


Di kafe, Kania masih duduk menemani lelaki itu yang sepertinya mulai sedikit mabuk. Lelaki itu kemudian duduk di dekat Kania setelah beberapa kali Kania menjaga jarak darinya. Bukannya marah, tapi lelaki itu begitu menikmati setiap penolakan Kania, karena dia merasa tertantang untuk menaklukan gadis itu. "Aku suka dengan penolakanmu padaku dan itu membuatku semakin bergairah." Lelaki itu kembali menenggak minuman yang sisa setengah di gelasnya.


"Ayo, rasanya aku sudah tidak sabar menaklukan kesombonganmu itu." Lelaki itu bangkit sambil menarik tangan Kania secara paksa. Tak hanya itu, botol minuman yang ada di atas meja kemudian diambilnya dan meminumkan secara paksa di mulut Kania hingga bajunya basah karena berusaha untuk berontak.


"Ayolah, jangan menolak lagi karena aku akan memberimu uang dan juga kepuasan." Lelaki itu tertawa sambil menarik paksa tangan Kania dan mengajaknya naik ke lantai atas di mana terdapat beberapa kamar yang memang di sediakan bagi pelanggan untuk mereka bersenang-senang.

__ADS_1


Kania yang hanya bisa pasrah, terpaksa menurut dan mengikuti lelaki itu. Tanpa menolak, Kania menurut saat lelaki itu masuk ke dalam kamarĀ  dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dengan air mata yang mulai jatuh, Kania memejamkan matanya dan dia bisa merasakan tangan lelaki itu yang perlahan membuka kancing bajunya, hingga tiba-tiba dia membuka matanya saat melihat lelaki itu ditarik paksa dan jatuh terjerembab di lantai oleh dua orang lelaki yang kini berdiri di depannya.


__ADS_2