Cinta Kania

Cinta Kania
Part 30


__ADS_3

Gaun dan kosmetik yang diberikan Selly ternyata sangat berguna. Saat Arya meminta Kania ke acara yang disiapkan oleh karyawannya, Kania bisa menyanggupi walau awalnya, Arya sempat ingin mengajaknya berbelanja gaun dan juga keperluan untuk ke acara itu.


Dengan gaun yang diberikan Selly, Kania terlihat anggun dan cantik. Kania yang memang pandai dalam hal merias, ternyata cukup mudah merias wajahnya sendiri hingga membuat wajahnya terlihat cantik natural tanpa harus ke salon kecantikan.


Di dalam mobil, Kania hanya duduk terdiam sambil memandangi jalan dari balik jendela mobil. Suasana hening di dalam mobil membuat keduanya seakan merasa canggung.


Dari balik kaca spion di depannya, Arya melihat Kania yang hanya diam terpaku. Rasa canggung yang tiba-tiba muncul membuat keduanya enggan untuk membuka kata, hingga akhirnya, Arya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.


Di depan sebuah toko perhiasan, Arya menghentikan mobilnya. "Ayo, kita turun." Arya kemudian turun dan segera membuka pintu untuk Kania. Dengan anggunnya, Kania berjalan di samping Arya dan memandangi toko perhiasan itu.


"Untuk apa kita kemari? Bukankah, kita akan ke perusahanmu?" tanya Kania yang terlihat bingung saat Arya mengajaknya masuk ke dalam toko.


"Masuklah." Ajak Arya sambil meraih tangan Kania. Tanpa menolak, Kania menerima genggaman tangan lelaki itu.


Seorang penjaga toko terlihat tersenyum saat melihat mereka. Dengan ramah, wanita muda itu lantas menawarkan beberapa perhiasan yang menurutnya cocok untuk Kania. "Istri Anda sangat cantik. Kalau Anda tertarik, mungkin kalung ini bisa membuat istri Anda terlihat semakin cantik." Wanita muda itu lantas menyerahkan sebuah kalung mutiara yang terlihat elegan dan mewah. Gaun putih yang dikenakan Kania tampak serasi dengan kalung mutiara itu.


Arya lantas mengambil kalung itu dan melihatnya. Memang benar, kalung mutiara itu terlihat sangat indah apalagi jika dipakaikan di leher jenjang Kania. "Pakailah kalung ini." Arya kemudian memakaikan kalung itu di leher Kania walau gadis itu sudah menolak, tapi Arya tetap memakaikan kalung itu padanya.


"Ini tidak perlu. Kalung ini sangat mahal dan aku tidak ingin memakainya," ucap Kania sedikit berbisik karena dia tidak ingin wanita penjaga toko mendengar ucapannya itu.


"Jangan khawatir, kalung ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebahagiaan keluargaku. Terimalah, dan jangan menolak pemberianku. Lagipula, aku melakukannya demi kita karena aku ingin istriku terlihat cantik di depan karyawanku." Arya tampak tersenyum sambil memandangi leher Kania yang terlihat cantik dengan kalung mutiara yang sudah melingkar indah.


Kania hanya terdiam dan melihat Arya yang begitu antusias memilih sepasang anting untuknya. Sebuah anting emas dengan mutiara kecil yang menjuntai indah menjadi pilihannya. Kembali, Kania menuruti lelaki itu saat dia memakaikan sepasang anting itu di telinganya.


Melihat sikap Arya padanya, Kania hanya bisa menurut dan tak bisa membantah. Kembali, Kania bisa mendengar embusan nafas lelaki itu yang terdengar merdu di telinganya. Bukan sekali ini Kania mendengar embusan nafsnya, tapi sudah beberapa kali dan itu membuat Kania gelisah.


"Istri Anda sangat cantik. Kalian pasangan yang sangat serasi." Puji wanita muda itu sambil tersenyum.


"Terima kasih." Arya tersenyum saat mendengar pujian itu.


Kini, Kania terlihat bak seorang putri bangsawan. Penampilannya yang sederhana, kini terlihat lebih mewah.


Setelah membayar semua perhiasan itu, mereka kembali bergegas menuju perusahaan di mana mereka sudah ditunggu oleh semua karyawannya.


"Aku tahu kamu canggung, tapi berusahalah untuk bersikap wajar. Aku tahu, ini tidak mudah bagimu, tapi sekali ini saja, bersikaplah selayaknya kita saling mencintai. Aku tahu itu sulit, tapi aku harap sekali ini saja kamu bisa melakukannya di depan karyawanku nanti."


Mendengar ucapan Arya, Kania lantas menatapnya. "Apa kamu tidak keberatan dengan hal itu? Apa kamu tidak merasa malu memperkenalku pada semua karyawanmu itu?"


Arya tertawa mendengar pertanyaan gadis itu "Untuk apa aku harus malu? Memanganya, apa yang membuat aku harus merasa malu?"


Kania menundukan wajahnya hingga membuat Arya menghentikan tawanya. "Kania, apa kamu pikir aku malu berjalan denganmu?"


"Aku hanya gadis biasa, tapi berjalan denganmu, aku merasa tak nyaman karena kamu ... "

__ADS_1


Arya tiba-tiba menghentikan mobilnya di sisi jalan. Lelaki itu kemudian menatap Kania yang sementara menundukan wajahnya. "Kania, bukankah kita sudah sepakat untuk saling membantu? Bukankah, kita sekarang sudah berteman? Lalu, kenapa aku harus malu berjalan dengan temanku sendiri?" tanya Arya sambil menatap ke arah gadis itu.


Perlahan, Kania mengangkat wajahnya. Terlintas, janjinya yang telah dia ucapkan waktu itu. Janji untuk membantu Arya dan menganggapnya sebagai seorang teman. Kania lantas mengangguk dan kembali memantapkan hatinya. "Baiklah, aku akan melakukan seperti apa yang kamu minta. Di depan mereka, kita adalah pasangan suami istri, tapi jika hanya kita berdua, aku akan menganggapmu sebagai teman." Kania tersenyum dan memantapkan hatinya.


"Begitu, dong. Ayo, kita pergi." Arya kemudian menjalankan kembali mobilnya dan tak lama kemudian, mereka tiba di depan parkiran sebuah perusahaan yang cukup besar.


Di depan pintu utama perusahaan itu, tampak para karyawan sudah berdiri menunggu mereka. Dengan tersenyum, mereka disambut dengan aneka ucapan dan karangan bunga yang diberikan karyawan-karyawannya itu.


Melihat Arya dan Kania, mereka terpana. Kecantikan yang dimilikki oleh Kania ternyata menarik perhatian mereka. Di mata mereka, kecantikan Kania begitu serasi dengan ketampanan bos mereka. "Istri Pak Arya sangat cantik. Aku tidak menyangka, akhirnya Pak Arya bisa menemukan wanita yang bisa membuatnya kembali jatuh cinta. Dan wanita itu memang pantas untuknya." Seoarang karyawan wanita tampak memuji dan pujiannya itu di benarkan oleh teman-temannya.


Kania tersenyum ramah saat satu persatu karyawan menyalaminya. Sikap Kania yang baik dan ramah membuat dirinya kembali disanjung oleh karyawan-karyawan itu.


Di depan mereka, Kania berusaha terlihat mesra dengan melingkarkan tangannya ke lengan Arya. Mereka berdua terlihat serasi hingga membuat beberapa karyawan mengambil gambar mereka.


Selly yang baru saja datang tampak berjalan mendekati mereka. "Wah, kalian berdua memang pantas diacungi jempol. Kalian berdua sangat serasi. Aku jadi iri dengan kalian." Selly lantas memeluk Kania sambil tersenyum.


"Mana Bastian?" tanya Kania yang belum melihat sahabat baiknya itu.


"Sebentar lagi baru dia datang. Katanya, dia sudah dalam perjalanan." Dan benar saja, Bastian terlihat memasuki ruangan. Pemuda itu terlihat tampan dengan paduan jas hitam yang dikenakannya. Sejenak, Selly terpana saat melihat Bastian yang berjalan ke arah mereka.


"Maaf, aku terlambat." Bastian lantas memeluk Arya. Melihat Kania di depannya membuat Bastian segera memeluk sahabatnya itu. "Kamu sehat, kan?" tanya Bastian sambil melepaskan pelukannya.


"Aku sehat." Kania tersenyum pada sahabatnya itu.


Suasana di aula perusahaan itu sangat meriah. Tawa dan canda terlihat di wajah-wajah karyawannya. Melihat mereka, Arya merasa bersalah karena selama ini karyawan-karyawannya itu hanya bekerja dan jarang merasakan saat-saat santai seperti sekarang ini.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kania saat melihat Arya terdiam sambil melihat karyawannya.


"Tidak, aku hanya melihat karyawanku saja. Ternyata, mereka begitu menikmati acara ini. Sepertinya, aku harus sering-sering membuat acara refresing buat mereka agar mereka tidak terlalu tertekan dengan pekerjaan di kantor."


Kania tersenyum mendengar ucapan pemuda itu. "Aku rasa itu bukan ide yang buruk." Arya mengangguk dan tersenyum karena ternyata usulannya itu didukung oleh Kania.


"Apa selama ini  kalian berdua mengalami kendala?" tanya Selly yang mencoba mencari tahu.


"Tidak ada, sejauh ini, kami masih aman," jawab Arya dengan percaya diri.


"Lantas, kapan ayahmu akan kembali ke Amerika?"


Wajah keduanya tiba-tiba berubah. Melihat ekspresi mereka, Selly menjadi khawatir. "Ada apa? Cepat katakan padaku!!"


"Ayahku tidak akan kembali lagi ke sana. Karena itu, kami berdua masih tidak tahu harus melakukannya sampai kapan."


Mendengar jawaban mereka, Selly berusaha menahan senyumnya, karena memang itu yang dia inginkan. Dia ingin, mereka tetap bersama dan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya, tanpa kebohongan, tanpa sandiwara.

__ADS_1


"Apa kamu senang dengan jawaban mereka?" bisik Bastian sambil meraih tangan gadis itu untuk menjauh dari mereka.


"Kenapa? Apa kamu tidak senang jika mereka tetap bersama?"


"Bukan begitu, tapi bagaimana dengan Ryan? Apa kamu tidak berpikir tentang dia?"


"Sudahlah, kalau dia memberitahukan Arya, itu mungkin lebih baik."


"Apanya yang lebih baik? Apa kamu tidak tahu kalau Arya sangat menyayangi Ryan dan jika dia tahu Kania lah gadis yang membuat adiknya itu terluka, apa dia akan memaafkannya?" Selly terdiam. Dia tidak berpikir sampai sejauh itu.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Kita lihat saja perkembangannya, tapi melihat ayahnya yang tidak akan kembali lagi ke Amerika, aku jadi bimbang." Bastian memandang Kania dan Arya yang terlihat tersenyum di depan karyawannya. Selly ikut melihat ke arah mereka, hingga tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang wanita yang berjalan ke arah Kania. Sontak, Selly lantas berjalan ke arah Kania dengan perasaan khawatir.


Wanita itu adalah Rina. Penampilannya yang tampak glamour membuat dirinya ditatap semua orang yang ada di tempat itu. Di depan Arya, wanita itu berhenti. Sementara Selly, sudah berdiri di samping Kania.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Aku rasa, kamu tidak diundang di acara ini. Iya, kan?" tanya Selly pada wanita itu, tapi dia hanya tersenyum sinis di depan mereka.


"Mas, kenapa Mas tidak mengundangku? Ayah dan ibu juga tidak tahu kalau sekarang Mas sudah menikah lagi. Kalau Kak Rani tahu, apa kakakku itu akan memaafkan Mas?" tanya Rina seakan ingin membuat Arya merasa bersalah.


"Itu bukan urusanmu, sebaiknya kamu pergi dari sini." Selly terlihat kesal.


"Tutup mulutmu!! Aku tidak bicara denganmu." Rina menatap Selly dengan tatapan matanya yang tajam. Selly mengepalkan kedua tangannya saat Rina membentaknya. Ingin rasanya dia menampar wajah wanita itu, tapi Kania menahan tangannya.


"Kalau kamu datang dengan maksud baik, aku akan menerimamu, tapi jika kamu ingin mempermalukanku, maka pergilah." Arya meraih tangan Kania dan berjalan meninggalkan Rina yang menatap kepergian mereka. Melihat dirinya di acuhkan, Rina tersenyum sinis dan berjalan mengikuti Arya dari belakang. Sontak, wanita itu kemudian memeluk Arya dari belakang hingga membuat Arya terkejut.


"Lepaskan!!" Bentak Arya sambil berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan wanita itu. Selly yang sudah tidak tahan dengan tingkahnya, dengan kesal berjalan ke arahnya. Selly menarik tangan wanita itu dan melepaskan tamparan keras ke wajahnya.


"Dasar perempuan murahan!!" Tamparan keras dari Selly cukup membuat Rina termundur ke belakang.


Rasa marah dan sakit hati yang dirasakan Selly karena perbuatan Rina membuat gadis itu tidak tahan. Melihat sikap murahan wanita itu, Selly menjadk geram. "Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum aku menyeretmu keluar. Dasar perempuan tidak tahu malu! Apa hobimu memang suka merusak hubungan orang?" Selly terlihat marah. Matanya memerah melihat Rina yang melakukan perbuatan hina pada sahabatnya itu.


"Aku akan pergi, tapi asal kalian semua tahu, wanita ini hanyalah wanita miskin yang tak punya apa-apa. Dia menikah dengan Arya hanya karena mengejar hartanya saja. Kalian tahu siapa ibunya? Ibunya adalah seorang pembunuh. Ibunya telah membunuh suaminya sendiri hingga dihukum penjara dan dia mati karena tekanan jiwa. Itu benar, kan?" Semua orang memandangi Kania.


"Kenapa diam? Apa kamu sengaja menikah dengan kakak iparku setelah itu kamu akan membunuhnya dan mengambil semua hartanya sama seperti yang dilakukan ibumu?" Kania tampak menahan air mata. Rasanya dia ingin menampar wanita itu, tapi dia tak mampu. Hingga tiba-tiba saja dia terkejut saat melihat Arya menampar wanita itu.


"Seret dia keluar dari sini dan mulai saat ini, dia tidak akan diizinkan masuk ke perusahaan ini lagi. Jika aku melihat dia berkeliaran di sini, maka kalian semua akan aku pecat!!" Arya terlihat serius dengan ucapannya. Dia begitu marah hingga membuatnya meraih tangan Kania dan pergi meninggalkan tempat itu. Sontak, suasana menjadi hening. Rina lantas diseret paksa keluar dari ruangan itu.


Sementara Bastian, hanya bisa memandangi Kania yang sudah pergi bersama Arya. Dan Selly tampak menangis karena kejadian tadi.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bastian pada gadis itu.


Selly mengangguk sambil menghapus air matanya. Dia menangis karena mendengar hinaan yang dilontarkan Rina pada Kania. Dia menangis karena kisah masa lalunya bersama Rina perlahan membuatnya kembali terluka.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pergi dari sini." Bastian meraih tangan gadis itu dan berjalan keluar menuju sepeda motornya. Sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bastian, Selly menangis dan menyandarkan kepalanya di punggung pemuda itu dan mereka pun melaju meninggalkan orang-orang yang masih memandangi mereka.


__ADS_2